
Tap... Tap... Tap...
Suara hentakan kaki yang sedang berlari bergema di dalam Istana. Agler berhenti berlari karena dia melihat sosok seseorang yang sedang berdiri di tengah aula istana.
Sosok perempuan berpakaian maid atau pelayan, terlihat cantik dengan rambut merah mudanya sedang melihat-lihat ke sekeliling istana.
"Ram?"
Agler memanggil sosok ini tanpa sadar setelah melihat keseluruhan tampilannya.
Panggilan Agler terdengar, dan sosok ini mulai menoleh ke arah Agler.
Satu mata kanan tampak indah dan mempesona terlihat jelas di penglihatan Agler. Pupil mata merah muda yang cantik menatapnya sambil menoleh ke arahnya.
Wajah sosok ini berubah menjadi ekspresi senang, lalu dia berjalan menghampiri Agler dengan senyum indah di wajahnya.
"Tuan~"
Benar, ini adalah Ram. Ram mendekatkan tubuhnya hingga menempel ke tubuh Agler. Tangannya merangkak perlahan naik ke leher Agler dan mengalungkan tangannya. Sambil berjinjit dia menatap Agler dengan penuh godaan yang menggiurkan.
'Oh tidak. Adik kecilku terbangun. Baru bertemu sudah seperti ini, aku tidak mengerti dengan gadis ini,' batin Agler di dalam hati sembari menahan adik kecilnya terbangun dan tidak menjadi besar.
Namun sialnya, adik kecil Agler terbangun dan itu menyentuh perut Ram. Badan Agler terlalu tinggi, dia pun harus sedikit menunduk agar Ram bisa mengalungkan tangannya di lehernya.
Ram merasakan sesuatu seperti benda besar dan panjang seolah menabrak tubuhnya. Dengan penasaran dia menundukkan kepalanya untuk melihat benda tersebut.
Seketika ekspresinya berubah. Pipinya memerah dengan senyuman kecil di wajahnya. Dan tubuhnya mulai memanas serta gelisah tak karuan.
Benda panjang itu timbul dari tubuh Agler, dan Ram tahu benda apa itu. Tapi dia tidak tahu bahwa pria bisa memiliki benda yang ukurannya sebesar itu. Dia kembali memandang Agler dengan tatapan yang memiliki arti tersembunyi.
Satu alis Agler naik, dia menatap kembali mata Ram.
Pandangan Ram pada Agler terlihat berbeda, Agler paham dengan arti dari tatapan Ram. Dia sebenarnya sangat malu dengan kejadian adik kecilnya yang membesar ini, akan tetapi di sisi lain Agler juga ingin hal itu.
"Aku kasihan dengan milikmu, Tuan~"
"Izinkan aku untuk melayani-mu saat ini juga."
Ram berkata dengan nada yang menggoda. Melihat benda ini membuat Ram tidak tahan. Sebenarnya dia belum pernah melakukan hal itu, tapi kali ini dia sangat penasaran dan ingin mencobanya. Lagipula dia tidak keberatan melakukan hal itu dengan Tuannya sendiri, malah dia sangat senang jika melakukannya bersama orang yang dia suka.
Saat detik itu juga ketika dia memandang Agler, hati Ram menjadi berbunga-bunga dan merasa manis. Begitu cepat dia menyukai seseorang yang baru pertama kali ia temui, dirinya sendiri pun tidak tahu kenapa bisa seperti ini.
__ADS_1
Rasanya seperti dia ingin segera menyerahkan dirinya sendiri untuk pria di depannya. Tidak peduli apa yang akan dilakukan pria ini dengan tubuhnya, dia akan menerimanya tanpa keluhan.
'Ada apa dengan gadis ini! Aku tidak bisa menahan jika dia terus seperti ini!'
Di dalam tubuh Agler, pikiran dan keinginan sedang melakukan pertarungan yang begitu sengit. Pikiran Agler menolak melakukan hal itu, sedangkan keinginan Agler sebaliknya.
Selama beberapa detik berdiam diri memandangi Ram yang di depannya semakin gelisah, akhirnya Agler mengumumkan kemenangan bahwa Keinginannya berhasil mengalahkan pikirannya.
Tanpa aba-aba, Agler segera menggendong sambil memeluk tubuh mungil Ram dan membawanya ke kamar di Istana yang mewah ini.
Sepanjang Agler berlari membawa Ram, tidak ada gerak-gerik yang mencerminkan penolakan sama sekali dari pihak Ram. Alih-alih menolak, Ram membelai penuh kasih sayang punggung Agler dan sesekali menghembuskan nafas hangat ke belakang leher Agler.
Agler menahan diri dari godaan yang dilakukan Ram sepanjang jalan, hingga akhirnya mereka berdua sampai di kamar.
Di sana, Agler benar-benar lepas kendali. Ram sangat tidak tahan dengan gerakan Agler. Dia telah mengeluarkan air sucinya berkali-kali, padahal Agler melakukannya hanya memakai jari-jari tangannya. Tapi, dia merasa jari Agler begitu nikmat seperti jarinya itu seperti sesuatu yang sangat ajaib.
Melihat ekspresi lelah dan sayu Ram, Agler siap untuk memulai sesi utama dalam permainan ini.
"Kamu siap?" tanya Agler sembari mendekati mukanya ke depan muka Ram.
Respon Ram hanya mengangguk lemah dengan senyum kecil di mulutnya.
"Lakukan sesukamu Tuan~"
Setelah itu, Agler sedikit demi sedikit memasukkan adik besarnya ke lubang kenikmatan, diiringi suara erangan seksi Ram yang membuatnya menjadi lebih bersemangat.
Jujur saja, Agler merasakan kesempitan yang terasa sangat nikmat dengan rasa hangat di dalam tubuh Ram.
Pada awalnya, Agler menduga bahwa Ram memiliki boba yang begitu kecil, dia kira milik Ram hanya memiliki boba sekecil bola pingpong, tapi nyatanya berbeda sekali.
Ini bukan bola pingpong, akan tetapi bola basket.
Pandangan Agler kembali kepada Ram. Ia bisa melihat wajah Ram sekarang nampak seperti kesakitan.
Merasakan tatapan Agler, ekspresi wajah Ram berubah menjadi senyuman yang menyenangkan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Aku bisa menahannya..."
Ram berkata seperti itu agar Agler tidak mengkhawatirkannya di saat momen seperti ini.
Tubuh Agler sedikit membeku, dia masih menatap Ram mengandung rasa kekhawatiran di matanya. Detik berikutnya Agler mencium Ram dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Mmmhhhh~"
Hal ini tidak terduga, Ram sedikit terkejut dengan yang dilakukan Agler ini. Dia segera menarik Agler hingga tubuh mereka berdua saling berdempetan.
Setelah adegan ini, Agler mulai bergerak untuk merasakan kenikmatan untuk dirinya sendiri dan diri Ram.
Beberapa jam berlalu, hampir semua gerakan mereka berdua lakukan. Entah itu di kasur, berdiri, gendong, Ram di atas dan Agler di bawah, semua telah mereka lakukan. Berkali-kali Ram memohon ampun pada Agler, tapi Agler tidak mendengarkannya. Ini membuat Ram benar-benar kewalahan.
Pikiran Ram kosong, dia benar-benar menikmati sekali permainan ini. Dia tidak menyangka akan senikmat ini.
Agler menggendong mesra tubuh Ram yang lemas tak bertenaga ini, membawanya ke ruang kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka berdua.
Entah karena tidak puas, Agler sekali lagi bermain di kamar mandi bersama Ram. Kali ini Ram tidak merasakan sakit seperti saat pertama kali, tubuhnya sekarang merasakan sesuatu yang begitu nikmat dan enak, sehingga membuatnya ketagihan ingin melakukannya lagi dan lagi.
Dua jam berselang saat mereka melakukan permainan itu. Agler dan Ram merapihkan tubuhnya, memakai baju seperti awal mereka bertemu.
Meraih tangan Agler, mereka berdua keluar dari dalam Istana menuju taman bunga. Ram sangat lengket dengan Agler setelah melakukan itu, tampak dia tidak ingin berpisah dengan Tuannya.
"Ayo kita kembali. Apa kamu sudah siap bertemu saudarimu?" tanya Agler sambil menatap Ram di samping kirinya.
"Aku siap," balas Ram sambil mengangguk kepala.
Kemudian Agler memfokuskan pikirannya, dan sosok mereka berdua menghilang dari Istana Dewi.
....
Sebuah cahaya bersinar di depan Rem, sosok Agler dan Ram muncul di hadapan Rem.
Mata Rem terbuka lebar, mulutnya membentuk huruf o kecil, Rem tercengang berlebihan.
"Ram?"
Rem melangkah maju ke arah Ram, sambil memanggil nama saudarinya.
"Apakah ini kamu?"
"Ini aku, Ram. Wahai saudariku," jawab Ram berjalan mendekati Rem.
Segera mereka berdua berpelukan begitu hangat. Mereka berdua menangis mengeluarkan air mata.
Saat ini Rem benar-benar bahagia, pasalnya dia tidak menyangka Agler akan membawa Ram ke tempat ini.
__ADS_1
Kerinduannya yang telah dia rasakan dan ditabung selama ini, telah ditebus lunas hari ini. Dia benar-benar sangat senang sekarang.