Secret In The Lot Empire

Secret In The Lot Empire
Agreement


__ADS_3

Hyesun heran mendapati seorang gadis yang tiba-tiba memperkenalkan diri padanya. Ia hanya melihat Taeyeon


tanpa berkedip hingga gadis yang menyapanya itu membuyarkan lamunannya.


"Apakah kau- hmm murid night class?' Tanya Hyesun ragu.


Taeyeon menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Aku siswi baru. Salam kenal."


"Ah ya, aku Kim Hyesun. Senang bertemu denganmu." Balas Hyesun.


"Sedang apa kau disekitar sini?" Tanya Taeyeon seraya mengedarkan pandangannya.


"Ah, aku hanya berjalan-jalan di area asrama." Jawab Hyesun sekenanya.


"Kau murid day class bukan?" Tanya Taeyeon yang membuat gadis itu heran. Bagaimana ia bisa mengetahui Hyesun murid day class jika ia baru saja pindah. "Ah itu karena aku tidak melihatmu di night class, jadi aku mengira kau adalah siswi day class. Benar tidak?" Tanya Taeyeon membenarkan.


Hyesun menganggukan kepala, mungkin ia terlalu curiga kepada gadis yang berada didepannya. "Apakah kau juga salah satu dari mereka?" tanya Hyesun yang langsung memandang Taeyeon dengan serius.


"Jika aku bukan salah satu dari mereka, tidak mungkin aku berada di dalam asrama yang berbeda denganmu.” Balas Taeyeon yang diangguki oleh Hyesun.


***


Semenjak terakhir kali ia berbicara kepada Hyemi, pria itu tidak pernah keluar dari kamarnya. Kesedihan yang begitu mendalam karenakematian Kris membuatnya tidak ingin melakukan apapun termasuk membolos.


Suho telah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya dan berakhir diabaikan. Suho mulai putus asa, ia pernah meminta bantuan pada Hyemi dan hasilnya sama.


"Apa yang sedang kalian lakukan didepan kamar Sehun?" Tanya Ahreum yang mendapati kedua muridnya berdiri di depan pintu kamar Sehun.


"Sehun tidak ingin keluar dari kamarnya." Jawab Suho yang mendapat tatapan bingung.


"Sudah berapa hari?" Nada pertanyaan Ahreum berubah. Wanita itu mulai curiga.


"Du-Dua hari." Jawab Suho.


"Kenapa tidak kalian buka saja pintunya?"


"Pintunya terkunci." Jawab Hyemi terlihat cemas.


"Kau! Pegang ini. biar Sehun aku yang mengurusnya." Kata Ahreum sambil memberikan buku yang ia pegang kepada Hyemi. Wanita itu melangkah mendekati pintu kamar Sehun.


Ahreum mencoba mengetuknya beberapa kali namun tak ada respon. Guru night class itu pun mencoba membuka pintu, namun tidak ada hasil.


"Hun, buka pintunya!" Seru Ahreum yang tidak sama sekali mendapat respon, hingga Ahreum terdiam sejenak dan menatap kedua murid yang dibelakangnya.


"Ku sarankan kalian untuk mundur." Ucapnya yang mendapat anggukan.


Setelah Suho dan Hyemi mundur beberapa langkah, Ahreum memasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu itu. Wanitaitu menendang pintu itu kuat-kuat hingga merusak pintu kamar Sehun.


Pintu terbuka dan kamar Sehun begitu gelap dan tanpa ada cahaya sekali. Sementara Sehun sendiri duduk membelakangi beberapa langkah dari pintu kamar.

__ADS_1


"Hun." Panggil Hyemi.


Sehun tetap tidak bergeming hingga Ahreum berdeham. Dehaman Ahreummembuat Sehun menoleh. Semuanya


terperanjat ketika Ahreum mengumpat.


Mata merah Sehun menatap mereka dengan nyalang, apalagi tatapan Sehun tertuju pada Hyemi. Sehun sudah kembali menjadi vampire level E.


Suho terlihat panik tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mungkin meminta bantuan Ayahnya mengingat ayahnya terlalu sibuk dengan urusan keluarga vampire itu.


Ahreum yang melihat tatapan Sehun, seketika berbalik menatap Hyemi. "Apa kau memakai gelang itu?" Tanya Ahreum panik.


Hyemi menggelengkan kepalanya. "Aku lupa memakainya."


"Seharusnya kau selalu memakainya. Kalau begini Sehun akan terus meminum darahmu." Sahut Ahreum. Seandainya saja jika Kris masih ada, mungkin pria itu masih bisa menghentikan Sehun.


Semua semakin terkejut ketika melihat Sehun berdiri, Ahreum berusaha melindungi Suho dan Hyemi. Wanita itu membawa Hyemi untuk bersembunyi dibelakangnya.


"Sehun sadarlah!" Seru Ahreum saat melihat Sehun yang terus melangkah mendekati mereka. Hyemi dibelakangnya terlihat takut tak tahu harus melakukan apa, ketergantungan Sehun pada darah Hyemi tidak bisa membuat pria itu meminum sembarangan darah.


"Suho, tolong panggil Heechul. Biar Sehun aku yang urus untuk sementara." Perintah Ahreum yang langsung membuat Suho meninggalkan kamar Sehun.


"Hun! Jika kau tidak mendengarkanku, maka terpaksa aku akan menggunakan cara kasar." Ahreum mengancam, ia mengeluarkan tongkatmiliknya. Benda itu adalah benda yang sama dimiliki oleh Sehun dan juga Suho untuk menghukum murid night class.


Tongkat listrik miliknya.


***


"Ayah!" Seruan Hyesun membuat Hongbin menoleh menatap wajah putrinya. "Kenapa ayah disini?" tanyanya senang.


Gadis itu merindukan ayahnya, sangat merindukannya.


"Ada yang ingin ayah katakan kepadamu." Kata Hongbin. Wajah ayahnya terlihat serius.


"Ada apa?"


"Apa kau masih menyimpan diary milik ibumu?" Tanya Hongbin yang langsung diangguki oleh putrinya, tanpa menjawab Hyesun membuka laci kamar miliknya dan mengambil diary itu.


"Apakah kau sudah membaca semuanya?" Tanya Hongbin yang diangguki oleh putrinya.


"Tapi ayah, ada beberapa lembar yang tersobek. Jadi aku tidak bisa membaca semuanya."


Hongbin tersenyum. "Ayah sengaja menyobeknya agar kau tidak membacanya."


"Tapi kenapa?" Seru Hyesun sambil mendudukan diri disamping ayahnya.


"Ayah harus menunggu waktu yang tepat agar kau membacanya. Seperti saat ini." Jelasnya.


Tanpa banyak bicara, Hongbin hanya memberikan secarik kertas yang sudah usang, corak kertas itu sama dengan corak diary milik Himeko -ibu Hyesun- dan memberikannya kepada Hyesun.

__ADS_1


"Bacalah!" Pinta Hongbin seraya menyerahkan kertas itu.


Untuk Hyesun


Putri kesayangan ibu.


Hyesun, Ibu hanya berharap setelah kau membaca diary milik ibu pada bagian ini. kau tidak marah kepada ibu.


Syndrom yang sebenarnya terjadi padamu adalah sebuah kutukan yang dibuat oleh Park Joongi yang seharusnya diperuntukan ibu. Karena kehamilan ibu, kutukan itu berpindah padamu dan kau yang menanggungnya.


Ibu sungguh sangat menyesal dengan apa yang terjadi padamu saat ini. ibu tidak bermaksud seperti ini.


Ibu sengaja bunuh diri karena kematianku dapat meringankan kutukan itu, kutukan mu tidak bisa dihilangkan oleh siapapun. Tapi kutukan itu juga bisa sirna jika kau dan putra Joongi saling mencintai.


Mungkin lebih tepatnya kalian harus menikah agar kutukan mu semakin ringan.


Sebenarnya ini bukan yang ibu inginkan. Ibu benar-benar minta maaf karena kau harus melakukan ini. ku harap kau mengerti, ibu tidak ingin kau menderita lebih lama hanya karena kutukan ibu yang terjatuh padamu.


Setelah membaca sobekan diary milik Himeko, Hyesun hanya terdiam. Gadis itu tidak harus berbuat apa. Menikah? Yang benar saja, bahkan umurnya masih tujuh belas tahun walau dalam waktu beberapa hari lagi ia akan berumur delapan belas tahun.


"Ibumu menulisnya sebelum ia bunuh diri. Dan ayah menemukan diary itu disaat ibumu selesai dimakamkan."


"Apakah ini sungguhan?" Tanya Hyesun yang ditatap sendu oleh Hongbin. "Tapi kenapa?" tuntut Hyesun.


"Hyesun, maafkan ayah."


"Jadi aku harus menikah dengan Park Chanyeol?" Tanyanya bingung.


Hyesun tahu jika suatu saat ia akan menikah dengan Park Chanyeol, tapi jika itu berhubungan dengan sindrom anehnya. Maka, ia harus segera menikah dengan Chanyeol.


"Ayah! Jawab aku-"


"Ya benar, kau harus menikah dengan putraku." Sahut Joongi yang mendapat tatapan bingung dari Hyesun. Gadis itu tidak mengenal siapa pria yang membalas perkataannya. Tapi dilihat dari jawaban yang pria tua itu berikan, Hyesun yakin bahwa pria itu adalah ayah dari Park Chanyeol -Matenya-


"Tapi kenapa?" Hyesun mengulang pertanyaannya sekali lagi.


"Seharusnya kau tanyakan pada ayahmu, jika ia tidak merebut mateku. Kau tidak akan mengalami hal ini." Jawaban Joongi mendapat tatapan benci dari Hongbin.


"Cukup!" Bentak Hongbin.


"Dia perlu tahu yang sesungguhnya." Sahut Joongi santai.


"Aku bilang cukup! Jika kau terus-"


"Hentikan!"


Kedatangan Chanyeol membuat argumen kedua pria paruh baya itu terputus. Hyesun semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi disini. Sudah cukup kekacauan dari ketiga pria yang ada dihadapannya.


Park Chanyeol terus melangkah mendekati Hyesun tanpa memperdulikan kedua pria paruh baya itu hingga-

__ADS_1


"Hye, menikahlah dengan ku!"


__ADS_2