
Suga yang awalnya hanya mengawasi situasi tiba-tiba tergerak ketika ia merasakan ada yang janggal. Ia tak menemukan Jin dimanapun. Pria itu hanya tersenyum menemukan kejanggalan lain ketika Jin tak kunjung kembali saat mencari Kai.
Atau mungkin ia hanya berprasangka buruk?
Suga mencoba berjalan menuju luar asrama, seharusnya ia sadar. Satu hal mengenai Taeyeon dapat menimbulkan puluhan masalah yang lain. Ia terus berlari, hingga tak sengaja bertemu dengan Taehyung yang pergi menuju
halaman belakang asrama.
"Taehyung!" Seru Suga yang membuat vampire itu berhenti.
"Aku tak menemukan Kai maupun Hyesun." Kata Taehyung yang diangguki oleh Suga.
"Tae, aku merasa ada yang aneh." Kata Suga.
"Aku curiga dengan seseorang."
"Siapa?"
"Jin." Jawaban Suga.
Taehyung menatap Suga tak yakin. "Apa kau yakin?"
***
Darah segar mengalir keluar ketika Jin menancapkan sebilah pisau pada paha Hyesun, gadis itu menjerit ketika rasa sakit membuat tubuhnya semakinmelemah. Gadis itu merangkak menjauhi Jin.
"Ayo manis, kita masih harus bermain," Kata Jin. "setelah itu kau akan dapat tidur dengan tenang."
Hyesun hanya mengeleng ketika Jin medekatinya.
Jin yang mendekatinya membuat Hyesun tiba-tiba bangkit sembari menahan sakit.
"Ah, ternyata kau kuat juga," Kata Jin kagum. "Tak apa, itu semakin membuat ku senang."
Angela yang bergerak dengan beberapa murid night class lainnya hanya bisa terdiam ketika si kembar menghadang mereka.
Si kembar menatap mereka menyeringai, bawahan Taeyeon itu membawa masing-masing pedang yang siap diacungkan pada mereka. Seandainya Chanyeol dan Baekhyun berada disana, dipastikan mereka akan mengamuk.
Jimin hanya bisa berdecak menatapnya.
"Aku tak suka dengan hal ini." Kata Jhope membuat Angela tersenyum.
"Itulah alasan kami melarang Angela-ju menerima mereka, lihatlah! mereka tak tahu terimakasih." Ujar Chen.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Angela dengan tenang.
Kedua pria itu hanya tersenyum sebelum saling pandang.
"Tentu saja, nona menyuruh kami untuk pergi bermain." Kata Hans memancing amarah Jimin.
William disana tersenyum menatap lawan bermainnya satu persatu, walaupun ia akan mati ditangan Angela, setidaknya ia sudah membalas kebaikan Taeyeon saat menolong mereka.
Hans dan William kecil hidup sebatang kara tanpa siapa-siapa, tak memiliki kerabat maupun tempat tinggal, untuk makan mereka hanya bisa menjadi pencuri.
Pertemuan itu bermula, ketika Hans kecil tak sengaja menemukan seorang gadis yang duduk di kereta kudanya. Gadis itu terlihat bergelimang harta, William kecil yang tak sengaja melihat arah tatapan mata Hans hanya bisa menggeleng.
"Bagaimana jika kita mencuri suatu barang darinya?" Tanya Hans membuat William menggeleng, "Dia terlihat
sangat kaya."
"Kita sudah terlalu banyak mencuri." Kata William.
"Kita tidak akan bisa hidup jika tak mencuri. Ayo, kita ikuti gadis itu."
Akhirnya dua pria kecil itu mengikuti target mereka dengan cara bersembunyi, hingga gadis itu dihadang sekelompok perampok. Para pengawal tewas akibat tebasan pedang sekelompok perampok, Hans dan William yang bersembunyi di semak-semak hanya terdiam dengan kaku.
Kedua pria kecil itu tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Salah satu perampok menyeret gadis itu dan menusukan pedangnya ke perut si gadis.
"Di-dia mati." Kata Hans terkejut.
"Sebaiknya kita pergi." Ajak William yang diangguki oleh Hans.
Kedua pria kecil itu memundurkan langkahnya dengan pelan. Tapi, secara tak sengaja Hans menginjak ranting dan
membuat para perampok itu mengetahui keberadaan mereka.
__ADS_1
"Lihat, kita memiliki saksi." Seru salah satu perampok yang membuka semak-semak tempat persembunyian kedua
bocah cilik itu.
"Kau bunuh saja mereka."
Hans dan William terdiam dengan tubuh bergetar. Mereka tak ingin mati.
Perampok bertubuh besar itu siap menghunuskan pedangnya. "Kalian akan mati-"
Arrghh
Perampok bertubuh besar itu menghentikan aksinya ketika melihat kawanannya berteriak. Mereka tewas dengan darah mengering dan bekas gigitan pada leher mereka.
"Sial! Siapa kau?"
Gadis itu hanya tersenyum dan melempar tubuh kawannya yang lain.
Pria lain geram melihat gadis yang sebelunya mereka kira mati bangkit lagi, mata gadis itu berkilat merah dan tertawa mendengar pertanyaan si perampok.
Ia hanya menyeringai, memperlihatkan dua taring kecil dengan sisa darah di mulutnya.
"Kalian bodoh!" Kata gadis itu, "Kenali dulu mangsa kalian sebelumnya menghabisinya."
Perampok itu geram dan siap menghunuskan pedangnya. Namun, gadis yang berada di depannya menghilang.
Pria berbadan besar terus mengayunkan pedangnya. "Jangan mempermainkanku!"
"Aku disini." Kata gadis itu berbisik membuat pria bertubuh besar itu terdiam. Bagaimana mungkin ia berpindah secepat itu.
Siapa gadis itu sebenarnya.
"Kau selanjutnya."
Arrghhhh
Hans dan William kecil hanya bisa menyaksikan sambil menahan tangis. Gadis yang menatap keberadaan dua bocah kecil itu segera menghampiri mereka.
Ketakutan dua pria kecil semakin menjadi saat gadis itu mendekatinya.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya gadis itu membuat kedua pria kecil itu mengangguk kaku. Ia tersenyum, setidaknya dua manusia kecil itu tidak tewas.
Gadis itu baru akan meninggalkan kedua pria tersebut jika perut mereka tak mengeluarkan suara, ia tertawa sementara kedua pria kecil itu merona saat ditatap seperti itu.
"Ikutlah denganku," Kata gadis itu. "aku tahu kalian lapar."
Hans dan William mengikuti gadis itu, mereka tak percaya jika akan ditolong oleh seseorang yang ingin mereka curi. Gadis itu membawa mereka ketengah hutan. Disana, terletak rumah besar dan cukup mewah. Hans dan William tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rumah mewah ditengah-tengah hutan.
Ia membuatkan kedua pria kecil itu makanan, mereka memakannya dengan lahap dan membuat si gadis tersenyum
menatapnya.
"Makannya pelan-pelan," tuturnya membuat kedua pria kecil itu mengangguk. "Perkenalkan, namaku Kim Taeyeon. Aku adalah pendatang baru."
Pria yang bertubuh sedikit lebih tinggi itu meletakan mangkuknya dan menatap Taeyeon dengan malu. "Aku William dan dia adalah Hans."
"Dimana rumah kalian, aku akan mengantar kalian dan memberitahu orang tua kalian mengenai hal ini," Kata
Taeyeon. "mereka harus tahu supaya kalian tak membuntuti orang asing lagi."
Kedua wajah pria kecil itu merah padam dan malu, mereka ketahuan.
"Orang tua kami sudah tiada."
Mendengar jawaban William membuat Taeyeon tersenyum pedih. "Jika kalian mau, kalian bisa tinggal disini."
Ucapnya membuat kedua pria itu terkejut.
"Jika kalian sudah besar, apakah kalian ingin bekerja untukku?" Tanya Taeyeon yang membuat kedua pria kecil
tersenyum senang.
"Baiklah, mulai sekarang kalian adalah bagian dari rumah ini."
"Baik, nona Taeyeon." Jawab kedua bocah itu serempak.
__ADS_1
"Kalian sungguh menggemaskan."
***
Situasi saat ini benar-benar rumit, Hyesun menghilang, Sehun menjadi murid night class, dan parahnya Minhee tiba-tiba tak berada disampingnya.
Apa-apaan mereka, apa mereka semua baru saja memiliki kekuatan untuk menghilang dengan begitu cepat.
Hyemi yang terus mengomel tanpa sengaja bertemu dengan ayahnya, ayah Hyesun dan pria yang mirip dengan Chanyeol. Baik ketiga pria paruh baya itu dan Hyemi hanya bisa terdiam sesaat.
"Bagus, apalagi sekarang." Kata Hyemi sinis.
"Hyemi." Panggil Seunghwan menatap putrinya dengan heran.
Gadis itu hanya menatap ayahnya dengan heran. Apa yang dilakukan ayahnya disini, dan kenapa pria tua itu tak menghubunginya terlebih dahulu.
"Apa yang ayah lakukan disini?" tanya Hyemi membuat kedua pria lainnya terkejut.
"Ia putrimu?" Tanya kedua pria itu yang tak mendapat respon.
Seunghwan tak menjawab pertanyaan dua pria disebelahnya, ia lebih fokus menatap putrinya yang menatap dirinya heran. Sudah belasan tahu ia mencoba menyembunyikan hal ini dari putrinya dan sekarang, putrinya menatapnya
dengan pandangan heran. Lebih baik, ia berbohong untuk sementara waktu.
"Ayah hanya datang ke acara ulang tahun putri sahabat ayah." Jelas Seunghwan membuat Hyemi menaikan alisnya.
"Sahabat? Dasar pembohong ulung." Kata Hongbin membuat Joongi tertawa.
"Ayah mengenal Hyesun?" tanya gadis itu lagi. "Aku tak yakin apakah acara ini akan berlangsung, lebih baik ayah pulang saja." Kata Hyemi yang sukses membuat ketiga pria paruh baya itu terdiam.
"Apa maksudmu, nak?" Tanya Joongi membuat Hyemi mengigit pipi dalamnya.
"I-itu- Hyesun menghilang, dan seluruh siswa night class sedang mencarinya."
Tatapan ketiga pria itu berubah, tiba-tiba Hongbin terlebih dahulu masuk ke dalam asrama night class diikuti oleh Joongi.
"Ayah, bisa kau jelaskan ada apa ini?"
Seunghwan menghela napas mendengar pertanyaan dari putrinya. "Kurasa ini akan menjadi cerita yang panjang."
***
Chanyeol yang berpencar dengan Baekhyun terus mencari dimana matenya berada. Ia berharap Hyesun masih berada di sekitar asrama. Ia sudah mengelilingi asrama besar itu namun, tak juga menemukan Hyesun.
Tiba-tiba tubuhnya meremang, ia mencium bau darah Hyesun. Matanya berkilat merah penuh amarah.
Bau darah Hyesun membuatnya berpikiran buruk.
Kyaaaaaaa
Teriakan itu?
Ya, ia hafal suara teriakan siapa itu.
Suara Hyesun.
Pria itu terburu-buru menuju asal suara. Ia mencoba mengikuti bau darah milik hyesun hingga menuju ke gudang bawah tanah asrama. Suga dan Taehyung menemukan bau darah, bukan bau darah manusia. Melainkan bau
darah sesama jenisnya.
Kedua vampire itu saling menganggukan kepala, sebelum mendobrak sebuah pintu yang terletak dibawah tanah itu. Sisi bawah tanah yang lain.
Mereka terkejut menemukan Kai dalam keadaan buruk, tubuhnya dipenuhi luka dan tak sadarkan diri. Kai sendiri masih duduk diatas kursi dengan tangan dan kaki yang terikat tali.
"Sialan, siapa yang melakukan ini?" Geram Suga membuat Taehyung terdiam.
Taehyung dengan cekatan segera membuka ikatan Kai.
Kai yang merasa adanya pergerakan terbangun dengan mata sayu. Ia tersenyum tak jelas membuat Suga berdecak.
"Akhirnya kalian menemukanku juga, apa aku ketinggalan pestanya?"
"Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Taehyung dengan nada menuntut.
Kai tersenyum. "Seseorang menyerangku."
__ADS_1
"Kau tahu siapa pelakunya?"
"Tentu saja, bahkan ia yang menyuruhku kemari dengan alasan persiapan pesta." Mendengar jawaban Kai membuat mereka semakin yakin. "Jin yang melakukannya."