Secret In The Lot Empire

Secret In The Lot Empire
Finally, Mate.


__ADS_3

Hyesun memandangi dirinya di kaca.


Tidak!


Kulitnya kembali memucat, seperti kejadian beberapa minggu lalu. Sebenarnya Hyesun juga tidak mengerti mengapa kulitnya bisa berubah memucat seperti itu. Setiap ia bertanya pada dokter pribadinya, dokter itu


hanya mengatakan bahwa Hyesun kelelahan sehingga kulitnya semakin pucat. Tapi, tidak seperti yang dikatakan oleh dokter. Gadis Kim itu tidak kelelahan saat menemukan dirinya memucat. Dan sekarang sindrom aneh itu muncul kembali.


Hyesun membasuh mukanya. "Aku harus berangkat hari ini."


Hyesun membuka pintu toilet, pandangan matanya bertemu dengan milik Hyemi.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hyemi. Hyesun hanya menganggukkan kepalanya. "Kau terlihat pucat Hye, lebih baik kau beristirahat saja."


"Aku tidak apa-apa."


Ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali.


"Biar aku yang buka." Ucap Hyemi yang beranjak meninggalkan Hyesun dan membukakan pintu.


Pandangan Hyemi bertemu pandang dengan Suho. Hyemi mengernyit heran, apa yang ia lakukan di depan toilet wanita. Apa dia hendak mengintip para gadis di kamar mandi.


Suho pun menunggu Hyesun keluar toilet. Suho memberikan senyuman manis, kedua gadis itu membalas sekenanya. Terutama Hyesun, gadis itu masih kebingungan dengan sindrom anehnya yang kambuh lagi.


"Kau sedang tidak sehat, Hye?"


Suho memandangi Hyesun khawatir.


"Iya, agak sedikit pusing."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke UKS. Kau sudah tahu di mana letak UKS?"


Hyesun mengangguk. Gadis Kim itu tersenyum kecil, memandang Suho yang perhatian sekali padanya. Ya, mungkin karena dia adalah putra dari kepala asrama.


"Aku sudah baikan kok, lagipula, aku tidak suka ruang UKS. Menakutkan!" Kata Hyesun.


"Kau ini, sakit tapi masih sempat bercanda." kata Hyemi heran. "Lebih baik Suho mengantarmu ke UKS."


"Ah, tidak, Aku masih baik-baik saja." Jawab Hyesun yang tetap pada pendiriannya.


"Kau ini keras kepala, Hye." Celetuk Hyemi.


Pria Kim itu memandangi Hyesun khawatir. “Serius?”


"Iya, kau tidak perlu mengkhawatirkanku Suho-ah, aku baik-baik saja.”


"Baiklah, kalau begitu ayo kita kembali ke Asrama." Ajak Hyemi.


Suho akhirnya membiarkan kedua gadis itu pergi menuju asrama mereka. Hyesun bilang ia baik-baik saja kan? Semoga saja benar, karena Suho tidak ingin teman barunya mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ia hanya khawatir murid night class berulah.


"Ya sudah, hati-hati ya."


“Iya.”


"Apa kau baik-baik saja, Hye?" Tanya Hyemi yang mulai khawatir. Hyesun hanya mengangguk. "Apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Hyemi bingung.


"Ti-tidak, Aku rasa hanya kurang enak badan saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku." jawab Hyesun berbohong.


"Ayo, aku antar ke UKS!" Ucap Hyemi.


"Tidak perlu, nanti juga sembuh dengan sendirinya."


"Mana ada penyakit bisa sembuh tanpa obat." Seru Hyemi kesal.


"Sudah. Bukankah kau harus pergi ke perpustakaan. Kau kan harus mengerjakan tugas tambahan dari guru Lee." Hyesun mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya, aku hampir saja lupa." Ucap Hyemi yang sudah lupa akan amarahnya kepada Hyesun. "Ya sudah, aku pergi dulu. Jika ada apa-apa jangan lupa menghubungiku!" Kata Hyemi bangkit dari sofa lalu pergi meninggalkan kamar.


"Jangan lupa beristirahat!" Serunya lagi sebelum menutup pintu Asrama. Setelah sepeninggal gadis Park itu, Hyesun beranjak dari ranjangnya untuk mengambil air minum beberapa langkah di samping lemari kayu jati miliknya.


Pandangannya mulai berkunang-kunang.

__ADS_1


Hyesun menyandarkan punggungnya ke lemari jati. Napasnya cepat sekali. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdegup dengan kencang, gadis itu meremas dada sebelah kirinya yang merasakan sakit tiada tara. Seperti


di tusuk dengan seribu jarum.


Gadis itu mengambil ponselnya yang bergetar dari saku blazernya. Dari ponsel gadis itu dapat melihat pantulan dirinya. Matanya sempat memerah sekejap sebelum kemudian berubah kembali menjadi hitam kecoklatan.


Hyesun menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Ini pasti faktor kelelahan, hingga ia jadi berhalusinasi seperti ini.


"Argh!"


Teriakan gadis itu terdengar sampai ke telinga Chanyeol yang sedang meminum pil darah dari gelas kaca. Gelas kaca itu secara tiba-tiba membeku. Chanyeol tidak mengerti, mengapa kekuatannya bisa tidak terkendali seperti itu. Apa karena teriakan tadi?


Tunggu!


Chanyeol harus memastikan ini.


Sementara di kamar asrama day class, Hyesun mulai tidak sadarkan diri. Gigi taringnya seolah memanjang, hingga menyebabkan bibirnya berdarah karena tertusuk gigi tersebut. Tapi setelah gadis itu menutup matanya dan terbuka setelahnya, ia memeriksa keadaan bibirnya, masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada darah yang mengucur dari bibir merah mudanya. Halunsinasi yang menakutkan. Hyesun hampir menangis karenanya, matanya mulai berkaca-kaca.


Tiba-tiba rasa sakit di dadanya datang lagi, jantungnya berdegub begitu kencang. Berpacu dengan detik. Oh, Hyesun rasa jantungnya akan meledak saat itu juga.


Pada saat itu, Chanyeol menggunakan kekuatannya yang lain, berteleport menuju kamar asrama Hyesun. Entahlah, feeling laki-laki vampir ini mengatakan bahwa teriakan tadi berasal dari kamar asrama Hyesun.


Benar saja, sedetik ia sampai di kamar asrama Hyesun. Gadis itu tengah melepas kancing teratas seragamnya. Wajah gadis itu memerah. Bukan hanya wajahnya, tapi Chanyeol bisa melihat mata gadis itu yang memerah sesaat. Belum lagi kalung mawar merah darah yang kini berubah warna menjadi kehitaman. Uh, Chanyeol tahu ini gawat. Ia harus segera menyelamatkan Hyesun.


Sementara itu, Hyesun tidak sadar sepenuhnya. Dirinya di bawah kendali sesuatu. Ia melihat Chanyeol yang berjongkok di hadapannya, menatapnya khawatir. Tapi, ia tidak tahu hal apa yang membuatnya merangkak mendekati Chanyeol, memandang wajah Chanyeol seolah-olah Hyesun akan memakannya saat itu juga. Dan Hyesun lebih tidak mengerti hal apa yang membuatnya dengan sembarangan mendorong Chanyeol hingga tubuh laki-laki itu terjengkang ke belakang.


Hyesun yang tidak sadarkan diri itu menempatkan dirinya di atas tubuh Chanyeol, menduduki perut Chanyeol. Chanyeol tentu saja kaget, laki-laki itu menahan napasnya. Tidak mengerti mengapa gadis ini berubah menjadi seagresif ini. Belum lagi laki-laki vampir ini melihat dengan nyata penampakan paha putih mulus gadis Kim tersebut.


Well, Chanyeol juga seorang laki-laki yang harus menahan hasrat bila melihat seorang gadis memperlakukannya seperti ini!


Yang lebih membuat Chanyeol terkejut adalah, Hyesun menciumnya, ******* bibir Chanyeol. Gadis itu meletakan tangannya di dada bidang milik Chanyeol, lalu tangan itu menjalar ke atas mengelus leher Chanyeol membuat si empunya harus menahan hasratnya dalam-dalam. Hyesun tentu saja sedang tidak sadar, pikir Chanyeol.


Dengan tidak rela, laki-laki itu melepaskan tautan bibir keduanya. Lalu mendorong Hyesun menjauh darinya. Pria itu segera meletakan ponsel miliknya diatas lemari kayu milik Hyesun, ia melakukan ini, ya untuk berjaga-jaga.


Jangan berpikiran jika Chanyeol akan mengabadikan kegiatan mereka saat ini.


Hyesun yang dikuasai oleh kekuatan kutukannya memberengut tidak suka. Ia kembali mendekati Chanyeol, memerangkap Chanyeol dalam pelukan posesif gadis itu, lalu bibir gadis itu mencium Chanyeol penuh dengan gairah. Chanyeol masih belum membalas ciuman gadis itu meskipun Chanyeol sangat menginginkannya. Yang ingin ia ketahui adalah, apa yang membuat Hyesun sampai melakukan hal-hal berbau dewasa ini padanya?


Apa gadis ini terkena kutukan ayahnya?


Kalau begitu berarti Chanyeol harus melakukannya. Ya, untuk menghentikan kutukan ini sesaat, sebelum ia cari jalan keluar untuk membebaskan Hyesun dari kutukan tersebut.


Yang Chanyeol lakukan selanjutnya adalah membalas pelukan Hyesun dan juga membalas ciuman gadis itu, Chanyeol bahkan ******* bibir Hyesun.


Chanyeol yang mendorong Hyesun menuju kasur gadis itu tanpa melepaskan tautan bibir kedua insan tersebut. Mereka berdua tidak menyadari perubahan warna dari kalung mawar merah darah Hyesun yang semula hitam pekat berangsur-angsur berubah warna menjadi merah darah.


Chanyeol menurunkan ciumannya dari bibir Hyesun menuju leher gadis itu memberikan ciuman-ciuman lembut di sana. Hyesun mengalungkan tangannya di leher Chanyeol. Lalu saat Chanyeol hendak membuka kancing seragam gadis itu, warna kalung milik Hyesun berubah seperti semula, merah darah.


Dan tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya.


PLAK!


"Apa yang kau lakukan padaku, dasar mesum!”


Ya, Chanyeol berakhir dengan mendapatkan tamparan kasar dan pukulan-pukulan membabi buta dari gadis Kim itu. Mata gadis Kim itu mulai berkaca –kaca. Chanyeol juga harus merelakan pantatnya bersentuhan kasar dengan lantai kamar asrama gadis itu. Well, Chanyeol pantas menerimanya.


"Aku bisa menjelaskannya, Hye. Ini tidak seperti aku akan mem—"


Ugh.. akibat tadi, Chanyeol sudah berani memanggil Hyesun dengan nama panggilannya. Bukankah mereka tidak saling kenal? Kau sungguh brengsek Park Chanyeol.


"Apa lagi yang harus dijelaskan Park Chanyeol! Ini sudah lebih dari jelas! Kau jelas-jelas akan meniduriku! Dasar brengsek!" Seru Hyesun yang mulai berkaca-kaca.


Chanyeol menghela napasnya dan berjalan mendekati Hyesun


"Ya, aku tahu aku memang kelewat batas dan hendak menidurimu sebelumnya. Tapi, itu semua juga karena kau! Kau menggodaku duluan. Oh, kau bahkan menciumku duluan." kata Chanyeol sambil menghapus aliran air mata Hyesun.


Hyesun mendelik.


"Apa? Lelucon apa yang kau lemparkan padaku Park Chanyeol?! Menciummu dan menggodamu? Kau pasti bercanda! Mana sudi aku melakukan hal itu denganmu!"


Chanyeol tak suka jawaban gadis itu, "Kalau kau tidak percaya kau bisa lihat rekaman dari ponselku." Nampaknya tindakan Chanyeol tadi tidak sia-sia dan membuahkan hasil, hingga dia tidak perlu mendapat amukan dari Hyesun lagi.

__ADS_1


Hyesun menatap ponsel milik Chanyeol yang tergeletak di atas lemari jati. Gadis itu memeriksa ponsel itu dan menemukan benda itu memang masih merekam video. Gadis itu menghentikan rekamannya sekaligus menyimpannya, kemudian melihat hasil rekaman di ponselnya.


Ia membelalak tidak percaya. Ternyata yang dikatakan oleh Chanyeol adalah benar!


Rona pipi Hyesun muncul sendiri begitu saja. Oh bahkan saat ini Chanyeol ingin sekali mencium kedua pipi itu.


"Mengapa wajahmu seperti itu nona Kim?"


Chanyeol memberikan Hyesun senyuman miring dan tatapan kemenangan. Sementara itu Hyesun hanya bisa memberengut kesal. Menatap kembali ponsel milik Chanyeol dan segera menghapus video itu. Ia tidak mau jika video itu tersebar nantinya.


"Intinya yang tadi itu aku tidak sadar! Sesuatu mendorongku dan mengendalikanku! Aku sama sekali tidak sadar telah melakukan hal-hal menjijikan denganmu!"


"Menjijikan? Tadi kau bahkan tidak memaksaku berhenti. Itu tandanya, kau menikmatinya bukan? Apa kita perlu melanjutkan hal-hal yang tertunda tadi?"


Chanyeol hanya menggoda Hyesun, dan gadis Kim itu tentu saja tidak terima, ia memukul Chanyeol dengan kepalan tangannya. Chanyeol terkekeh.


"Tapi, mengapa warna kalungku sempat berubah saat aku tidak sadar?"


Gadis itu masih mengingatnya, perubahan warna kalungnya pun terekam dalam ponsel Chanyeol sebelumnya.


Chanyeol memberikan Hyesun senyuman tipis sambil mengusap kepala gadis itu sekilas. "Kau ingin mengetahuinya? Malam nanti temui aku di halaman asramamu."


"Dan satu hal lagi yang perlu kau ingat, Hyesun."


Hyesun menatap Chanyeol penasaran. "Kau jangan pernah berkeliaran sendirian. Ajak Suho atau Sehun jika ingin berpergian. Lalu, jangan lupa menelponku jika kau merasakan tanda-tanda dari sindrommu itu. Aku akan datang membantumu."


Hyesun mendelik, "Da-Darimana kau tahu sindromku?"


Chanyeol membisu dan keluar lewat jendela gadis itu, melompat ke pohon dan menuruninya. Hyesun mengamati Chanyeol yang melompat dari jendela kamarnya.


Ia harus mengetahui alasan mengapa kalung mawarnya berubah warna, harus dengan segera!


***


Hampir satu jam Hyemi berkutat dengan tugas-tugas guru Lee dan ia pun baru menyadari jika perpustakaan mulai sepi. Ya, sejujurnya hanya dia adalah satu satunya siswi yang masih betah berada diperpustakaan. Itu pun jika bukan karena tugas dari Guru Lee, dia tidak akan pergi ke perpustakaan.


Kesunyian perpustakaan menghilang ketika Hyemi mendengar suara langkah kaki yang sepertinya berjalan menuju perpustakaan. Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan rak buku yang ada dihadapannya.


‘Terlihat dari pakaian yang ia kenakan, wanita itu adalah guru Night class’ – batin Hyemi. Sementara wanita yang diperhatikan oleh Hyemi hanya tersenyum tanpa diketahui olehnya. "Sudah puas melihatku nona?" Tanya guru itu tersenyum.


Buru-buru Hyemi mengalihkan pandangannya. Tanpa diketahui oleh Hyemi, wanita itu mengambil bangku tepat di depannya. wanita itu hanya tersenyum ramah menatap Hyemi yang sedang melihatnya dengan wajah cengo miliknya.


Ahreum semakin tersenyum setelah melihat name tag gadis itu -Park Hyemi.


'Ini dia salah satu dari gadis itu'- Batin Ahreum.


"Tak baik menatapku seperti itu." Ucap Ahreum tersenyum jenaka.


"Ma-maaf Mrs-"


"Eits, cukup memanggilku dengan nama panggilan Ahreum! Aku tidak suka dipanggil dengan sebutan guru. Membuatku semakin terlihat tua." Jelasnya sambil membuka beberapa buku yang ia ambil sebelumnya.


Hyemi masih terkejut dengan ucapan Ahreum barusan, yang benar saja. Tidak sopan jika memanggil guru dengan sebutan nama walaupun ia tahu jika Ahreum terlihat lebih muda dari guru-guru yang ada.


"Aku tahu yang kau pikirkan." Kata Ahreum sambil menutup bukunya dan tersenyum menatap Hyemi. "Jangan terlalu dipikirkan! Namamu Park Hyemi ya?" Tanya Ahreum.


"Bagaimana anda-"


Tanpa menjawab, Ahreum hanya menunjuk nametag milik Hyemi yang sangat jelas terpampang di seragamnya. "Salam kenal ya! Aku harap kita dapat bekerja sama suatu saat nanti." Ucap Ahreum menyeringai.


Hyemi masih tidak bergeming dengan ucapan-ucapan Ahreum. Pasalnya ia baru saja bertemu dan dengan mudahnya guru itu mengajaknya bekerja sama, tapi dalam hal apa.


Saat ia kembali pada dunia nyata, ia baru menyadari jika guru muda itu sudah menghilang dari hadapannya.


'guru aneh'– Batin Hyemi.


***


Di ruangan kepala asrama, Kris masih meminta alasan kenapa Heechul seenaknya menjadikan Ahreum sebagai guru untuk murid Night class. Sementara pria yang dibutuhkan alasannya hanya menanggapinya dengan santai.


"Apa kau benar-benar yakin dengan hal ini? Bagaimana jika saat pembelajaran berlangsung, Ahreum membunuh mereka?"

__ADS_1


"Tenang saja, Ahreum sudah mengetahui tugasnya dengan pasti, ia hanya cukup menjaga putri Kim Hongbin dan putri dari Park Seunghwan. Dan yang paling penting saat ini adalah bagaimana jika putri dari Kim Hongbin tidak menyadari perubahannya." Jelas Heechul menerawang.


Kris hanya mendengar arahan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Jika ada sedikit saja kesalahan, itu dapat mempengaruhi yang lainnya. "Ah ya dan satu lagi, pastikan kau mengawasi cara pembelajaran Ahreum pada murid Night class. Kita membutuhkan cara Ahreum untuk membantu murid Night class menjadi kuat." Jelas Heechul memandang datar Kris.


__ADS_2