
Seorang gadis masih berada di dalam kelas dengan wajah lesu, tak seharusnya ia berada di dalam kelas ketika jarum jam menunjukan pukul sembilan malam. Ia bersyukur karena kelas dan asramanya cukup berdekatan. Gadis itu masih berkutat dengan beberapa laporan kelas yang harus diserahkan kepada Guru Wu untuk keesokan harinya.
Ia berusaha mengerjakannnya dengan cepat, karena ia tidak ingin berpapasan dengan murid Night class -bukan tak ingin, hanya aturan tata tertib yang tidak memperbolehnnya-. Suasana kelas yang mencekam membuat bulu kuduknya berdiri, suasana kelas yang begitu sepi membuat perasaannya kalut, karena merasa ketakutan ia tidak peduli jika Guru Wu memarahinya besok, yang terpenting ia kembali ke asrama dan melanjutkan laporannya di asrama.
Dengan segera ia mengambil laporan-laporan itu dan menenteng tasnya, hingga terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. Minhee semakin ketakutan, seharusnya ia menurut saja, ketika teman-temannya menawarinya bantuan hingga ia tidak perlu untuk tinggal dikelas.
Suara langkah kaki itu kian mendekat dan 'kreeeekkk'
Suara pintu kelasnya terbuka dan-
AAAAAAAAAAAAAA
Minhee tanpa sadar menjerit karena ketakutan, ia menutup mukanya dengan laporan yang ia pegang.
Terdengar suara dehaman dari suara berat seseorang, seketika Minhee menghentikan teriakan dan menatapnya tanpa harapan. Ketika ia sadar siapa yang ada didepannya, seketika itu juga Minhee ingin merobek wajahnya jika ia bisa.
"Apa yang kau lakukan tengah malam begini?" itulah kalimat pertama yang dikeluarkan oleh Taehyung setelah melihat Minhee berteriak. "Dan kenapa kau berteriak seperti itu?" Tanyanya bingung.
Pertanyaan itu sontak membuat wajah Minhee menjadi seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari panci.
"Aku-- Aku kira akan muncul hal-hal yang mengerikan." Jawab Minhee dengan polos. Dan dibalas kekehan geli oleh pria yang berada di sebelah Taehyung.
"Apa kau mengira kami hantu?" Tanya Jhope yang tidak Minhee sadari.
"Ma-maaf, aku hanya--"
"Lebih baik kau kembali ke asramamu, ini bukan waktu yang tepat untuk murid Day class berkeliaran. Kau tahu itu kan?" Tanya V yang terdengar seperti suara perintah. Mendengar perintah V, Minhee hanya membalasnya dengan anggukan dan segera pergi meninggalkan kelas. Detak jantungnya tidak dapat terkontrol saat melihat V.
Mengapa? entahlah, Minhee tidak ingin mengingatnya untuk saat ini.
***
Langkah kaki Hyemi membawanya berjalan tanpa arah, pasalnya gadis itu sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Gadis itu baru dua hari berada di asrama dan mulai bosan. Itulah mengapa dia berjalan tanpa tujuan.
Sesaat, ia berhenti dan menatap kolam air mancur yang baru saja ia lewati. "Membosankan sekali. Tahu begini, aku tidak menuruti keinginan ayah."
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Belum lama ia menyendiri, terdengar suara laki-laki yang mengganggu aktifitasnya. Pertanyaan laki-laki itu sungguh membuat Hyemi terjengit kaget. Hyemi mencari sumber suara itu dan rupanya Ooh Sehun. Laki-laki itu benar-benar bertanya kepadanya? Ini sudah yang kedua kalinya Sehun bertanya kepadanya.
"Lebih baik kau cepat kembali ke kamar sebelum murid Night Class keluar dari kelas mereka." Kata Sehun memerintah.
"Kenapa? Apakah kau takut jika mereka menculikku?" Tanya Hyemi menggoda.
Sehun menatapnya sinis, "Ck, percaya diri sekali kau."
"Kalau begitu, bukan urusanmu jika aku berada di sini."
"Kau--"
"Apakah kau begitu mengkhawatirkanku?" potong Hyemi. Gadis itu menyeringai.
Kini gadis bermarga park itu melangkah mendekati Sehun. Napas Sehun tercekat ketika Hyemi hanya berjarak 5 centi dihadapannya.
"Kenapa? Apakah kau takut denganku? Bahkan yang seharusnya takut itu aku. Bisa saja kau yang membuntutiku." Kata Hyemi setengah berbisik. Gadis itu kini menatap Sehun dengan tatapan tak percaya.
'Membuntutimu? Hei, bahkan aku baru saja bertemu dengan mu' Batin Sehun.
Sehun, laki-laki itu hanya bisa diam ketika Hyemi begitu terlihat sekali menggodanya. Tidak, kini dia tidak bisa berpikir jernih. Bukan karena godaan yang gadis itu berikan, melainkan bau darah yang memanggil-manggil Sehun.
Bukankah rencana awalnya adalah menyuruh gadis itu kembali ke kamarnya.
"Ah, nampaknya kau terlihat tidak menarik sama sekali. Aku bahkan menjadi lebih bosan karenamu. Baiklah, aku mulai mengantuk. Selamat malam Guardian." Hyemi mengedipkan matanya.
Kini gadis bermarga Park itu berjalan kembali memasuki asramanya. Dan Sehun hanya bisa menatap punggung gadis itu.
***
__ADS_1
Gadis Kim itu menatap laki-laki yang sempat menggendongnya. Ya, mata biru itu. Park Chanyeol. "Cha-Chanyeol-sunbae, apa kau tidak ada kelas?"
Laki-laki Park itu tersenyum, "Aku membolos kelas."
Kim Hyesun memberikan tatapan datar. "Kau seharusnya kembali ke kelasmu."
Chanyeol merenggangkan kedua tangannya. "Aku tidak mau, aku bosan melihat Guru Lee mengajar."
Hening. Gadis itu tidak mengatakan apapun, dan berniat untuk kembali ke asramanya.
"Kau mau ke mana?"
"Kembali ke asrama, aku mengantuk." Kata Hyesun.
Lalu gadis Kim itu berjalan memasuki asrama, Chanyeol memberikan senyuman miring. Ia tahu jalan pintas masuk ke kamar gadis itu.
Seorang Kim Hyesun memandangi laki-laki dihadapannya dengan kaget. Ya, kaget. Bagaimana bisa Chanyeol sudah ada di atas kasurnya dan tengah membaca koleksi bukunya dengan santai. Oh, jangan lupakan kalau laki-laki itu tengah meminum wine dari gelas kaca yang seingat Hyesun tidak pernah ia miliki. Tunggu, laki-laki ini meminum wine di kamar seorang gadis? Apa itu wine milik Hyemi ?
Huh, dia pasti gila!
"Chanyeol-sunbae!" Serunya tak percaya.
Laki-laki itu hanya melirik Hyesun sepintas.
"Bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?"
Chanyeol menunjuk jendela, yang kini telah tertutup seluruhnya.
"Kau harusnya kembali ke kelasmu."
"Sudah kubilang aku tidak mau, nona." Jawab Chanyeol, kali ini pemuda vampire itu beranjak dari tidurnya menghampiri Hyesun.
Hyesun menghela napas kesal. "Mau tidak mau kau harus kembali, atau aku—"
"Kau apa?" potongnya cepat.
"Tidak bisa menjawab, atau tidak mau?" tanya Chanyeol dengan seringaian.
Bibir Chanyeol hanya berjarak dua centimeter dari bibir Hyesun. Benar-benar posisi yang sangat menyeramkan, bagi Hyesun tentunya.
Entah kenapa saat ini Chanyeol begitu ingin sekali memperhatikan Hyesun.
Hyesun memandangi Chanyeol, meskipun ia sedikit takut. "Kau—"
"Aku, apa?"
"Aku bisa saja melaporkanmu pada Suho." Kata Hyesun yang mencoba menatap Chanyeol dengan tajam.
Chanyeol bergeming, "Silahkan saja, aku tidak takut."
Bibir Chanyeol hanya berjarak berapa millimeter dari bibir Hyesun, dengan satu dorongan saja bibir keduanya akan bertemu.
Namun...
Pintu kamar Hyesun terbuka dengan kasar, seorang laki-laki berambut coklat masuk ke dalam kamar asrama Hyesun, menarik Chanyeol, dan membawa laki-laki itu keluar dari kamar Hyesun. Hyesun masih terpaku di
tempatnya. Gadis itu menghembuskan napas lega.
Terdengar suara langkah kaki, yang tak lain milik Hyemi yang baru saja kembali dan tak sengaja melihat kejadian di mana Chanyeol ditarik paksa. Hyemi menatap Hyesun dengan khawatir.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Hyemi melihat ekspresi terkejut Hyesun. "Kau tidak apa-apa?"
Tunggu, kenapa mereka berjalan cepat sekali? Sejujurnya dia masih shock. Namun yang terpenting adalah, ia tidak terjebak dengan Park Chanyeol lagi.
"Bagaimana dua orang tadi bisa kemari?" Tanya Hyemi menatap Hyesun.
"Aku-- tidak tahu, mereka begitu cepat dan itu terjadi begitu saja." Jawab Hyesun dengan keringat membasahi pelipisnya.
__ADS_1
"Mereka tidak melakukan hal buruk kepadamu bukan?" Tanya Hyemi.
Hyesun hanya menggelengkan kepala.
"Bagus.. jika mereka melakukan itu. Aku yang akan menghajar mereka." Kata Hyemi. "Sudah.. lebih baik, kita segera tidur! Ini sudah larut."
Pria itu terlihat sangat marah, pria yang menarik Chanyeol keluar tidak lain adalah Baekhyun, sepupunya sendiri.
"Chanyeol, apa yang sebenarnya kau pikirkan, huh?"
Baekhyun—laki-laki berambut coklat—mendorong Chanyeol hingga tubuh kurus laki-laki Park itu terbentur kerasnya tembok asrama Night Class. Tatapan tajam dengan mata berwarna merah darah memandang Chanyeol. Jenis tatapan mata yang serius, tetapi ada sedikit pancaran kekhawatiran di dalam tatapan tersebut. Ya, Baekhyun sangat khawatir akan keadaan Chanyeol.
Jikalau ia tidak cepat tanggap, bisa-bisa Chanyeol sudah dibunuh oleh Angela Kim. Kepala asrama Kim itu, tidak main-main dengan ancamannya. Kalau saja tadi Baekhyun menurut perintah Angela agar Jimin saja yang menjemput Chanyeol. Saudara sepupunya itu pasti sudah tinggal nama.
"Kau ini apa-apaan, Baek."
"Kau yang apa-apaan, bodoh. Kau tidak takut dengan ancaman Angela Kim, huh?"
"Tentu aku takut. Tapi--"
Baekhyun menyisir rambutnya kasar menggunakan tangan. "Dengarkan aku Yeol. Kau, tidak boleh dekat-dekat dengan gadis itu atau Angela akan membunuhmu menggunakan tangannya sendiri."
"Aku tidak bisa."
Baekhyun melototi Chanyeol.
Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. "Kau ingat cerita kalung mawar berwarna merah darah, Baek?"
Laki-laki vampire bermarga Byun itu memandangi Chanyeol, kesal. Ia tidak mengerti mengapa Chanyeol membahas hal lain. Padahal masih ada hal yang lebih penting dibahas dibanding 'cerita kalung mawar berwarna merah darah' yang sedang ingin Chanyeol bahas.
"Gadis itu, memilikinya." Ucap Chanyeol.
Baekhyun yang tadinya hendak berbicara langsung menutup mulutnya. "Apa? Bagaimana bisa?"
Chanyeol terkekeh, "Bisa saja, dia anak dari Kim Hongbin. Kau ingat laki-laki itu, kan?"
"Tentu saja, dia masih hidup rupanya."
Chanyeol tersenyum. "Ya, dan anaknya adalah mateku. Jadi Angela tidak punya hak untuk memberiku perintah untuk menjauhinya."
***
Kim Hongbin memandangi foto putrinya. Tatapan matanya melembut dan berkaca-kaca. Laki-laki paruh baya itu teringat akan pesan mendiang istrinya. Untuk selalu menjaga Hyesun. "Putriku, andai saja kau tahu hal apa yang membuat ibumu meninggal." Lirih laki-laki itu.
Hongbin membuka lacinya, mengambil sebuah surat lusuh. Membacanya kembali. Ia masih tidak bisa menerima hal ini. Tentang alasan mengapa ibu Hyesun meninggal, dan tentang mengapa putrinya selalu mengalami sindrom aneh dalam dirinya.
Hongbin, suamiku.
Jagalah putri kita. Sayangilah dia seperti kau menyayangiku.
Meskipun, ia mengalami hal-hal aneh dalam dirinya. Tolong sayangi dia, seperti dahulu, sebelum hal aneh itu terjadi padanya.
Tolong jangan salahkan dia mengenai hal yang sudah menjadi keputusanku. Dia, tidak bersalah. Justru akulah yang bersalah padanya. Kalau saja aku tidak egois dan memilih untuk menerima perjodohan itu, pasti ia tidak akan mengalaminya. Tetapi, ini adalah pilihanku. Aku memilih untuk menikah denganmu, bukannya dengan laki-laki dari keluarga Park itu. Dan karena itulah aku harus meninggalkan kalian berdua sekarang. Ini semata-mata agar tidak terjadi hal yang lebih parah pada putri kita.
Bila aku tidak melakukan hal ini, ia akan semakin menderita.
Kutukan itu, akan terus berlaku. Meskipun aku memilih untuk melakukan hal ini.
Hal yang aku lakukan ini, hanya akan meringankan kutukan itu.
Katakan pada putri kita, aku menyayanginya. Aku akan selalu melindunginya. Bagaimanapun caranya. Dan katakanlah semuanya pada waktu yang tempat. Aishiteru (aku mencintaimu).
Hongbin menangis. Ia tidak dapat membendung lagi rasa penyesalannya.
"Maafkan aku Himeko, aku malah melemparkan putri kita ke dalam masalah ini. Seharusnya aku memilih untuk melindunginya. Aku tidak ingin ia mengalami hal yang sama denganmu. Biar bagaimanapun, cara ini yang terbaik
untuk menghilangkan kutukan itu, Himeko."
__ADS_1