
...Sewajarnya saja, karena yang selalu Hadir tak mesti harus menjadi Takdir...
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
Alana POV
Bibi menghampiri ku dan menepuk bahu ku pelan, "Non, mau bibi buatkan lemon tea?" tawar bibi setelah kepergian papa. "Boleh, makasih bi." Ucapku memegang tangan yang tak lagi muda itu, bibi tersenyum dan menuju dapur.
Aku melihat ponsel ku, ada pesan masuk dari Dareel. Tunggu... sejak kapan aku menyimpan nomer nya, ah iya dia sendiri yang menyimpannya.
Dareel
Maaf saat kamu bangun tadi aku nggak ada, aku ada urusan bentar. Nanti sore mau jalan-jalan nggak?
Dareel
Aku jemput jam 4 yaa, ada kedai martabak telor di persimpangan jalan. Ingetkan itu langganan kita waktu dulu, sekarang anaknya yang nerusin usaha itu.
Biar pun cicitnya sekalipun yang meneruskan usaha martabak itu aku tidak peduli, aku melempar ponsel ku ke sofa dan berbaring disana.
Drrrttt... ponsel ku berbunyi, aaah kenapa semua laki-laki ini menyebalkan. Papa, Dareel dan satu lagi makhluk aneh ini, Vano.
"Al nanti malam aku jemput jam delapan ya, jangan lupa pakai gaun yang aku kirim kemarin, oke." Ucap Vano di sebrang sana. "Hemm," balas ku malas, "Baiklah, aku mencintaimu." Terdengar suara kecupan dari Vano dan langsung ku matikan panggilan telfonnya. Mencintai ku? Dia hanya mencintai dirinya sendiri.
Aaahh aku malas sekali hari ini, aku mengecek ponsel ku dan menelfon Nattali. "Hallooo, benar ini dengan Nattali? Calon nyonya Dion Adelard, apa kabar? Sepertinya anda sedang sibuk sekali akhir-akhir ini," Ucap ku menggoda Natt.
"Berhenti menggoda ku Alana, ya aku sibuk tapi tidak sebanding dengan kesibukan Dion. Ada apa? Hari ini aku tidak ada jadwal apapun, mau keluar denganku?" Ajak Nattali. "Kemana?" Tanya ku semangat, aaah aku sangat ingin berbelanja.
"Terserah, kemana saja. Satu jam lagi aku jemput, bersiap-siaplah." Ucap Nattali. "Siap," akan ku manfaatkan waktu kali ini untuk sejenak melupakan semuanya.
Dareel POV
Sejak tadi pagi hingga sekarang aku berada di apartement Edwin. Kami bertiga terlibat sedikit masalah dengan Rion dan teman-temannya. Terutama Edwin dan Rion yang selalu menjadi saingan di ajang balapan liar itu.
"Lo bisa gak si nyuk nahan dikit emosi lo, perasaan di antara kita bertiga ini cuma lo deh yang paling tenang tapi akhir-akhir ini gue liat lo makin absur." Cerocos Dion panjang lebar, "muka lo tuh yang absur," Edwin melempar kacang kearah Dion.
"Gue juga bingung kenapa akhir-akhir ini gue jadi lebih sering ngerespon hal-hal yang gak penting, mungkin karna kesalah pahaman ini menyangkut nyokap gue jadi gue lebih sensitif aja," jelas Edwin membuka plester untuk luka di pelipisnya.
Ya, kami bertiga tadi sempat saling memukul dengan teman-teman Rion. Tapi tidak berlangsung lama karna mereka sudah babak belur lebih parah dari pada kami, entalah Edwin memukul mereka seperti orang kerasukan.
__ADS_1
"Nih betadin, bibir lo sobek." Dion memberi ku betadin, ah sial kenapa mereka memukul wajah ku.
"Win... lo belum cerita ke kita yang sebenernya, apa masalah lo sama Rion yang menyangkut nyokap lo?" Tanya Dion pada Edwin.
Aku menepuk pundak Edwin, "Gue gak yakin bisa cerita masalah ini ke kalian, gue sendiri gak percaya sama semua ini. Ini terlalu rumit," ungkap Edwin. Jujur, ini baru kali pertama aku melihat Edwin seperti ini. Dulu Edwin pernah ada masalah tapi dia tidak oernah selemah seperti sekarang.
"Kalau sulit, gapapa lo jangan cerita dulu. Kita bisa ngerti keadaan lo, mungkin ini emang rumit tapi lo punya kita kan. Gue sama Dion udah kayak abang lo kan? Gue sama Dion bisa lo andelin." Ucap ku menenangkan Edwin.
"Bokap gue punya anak dari wanita lain sebelum nikah sama nyokap gue, anak itu adalah Rion. Nyokap sama bokap Rion udah meninggal dari dia masih kecil, dan dia di asuh sama neneknya. Selama itu bokap gue nyari informasi tentang keberadaannya. Bokap gue gak pernah cinta sama nyokap gue, mereka nikah karna perjodohan. Sebelum itu bokap gue punya pacar, ya ibunya Rion itu. Tapi bokap gue gak tau kalau saat itu dia hamil, dan sekarang Rion dendam sama nyokap gue. Menurut Rion nyokap gue penyebab kematian ibunya, nyokap gue penyebab dia hidup menderita. Padahal nyokap gue juga gak tau apa-apa, nyokap gue juga korban. Cuma satu kesalahan nyokap gue, dia cinta banget sama lelaki yang rusak kayak bokap gue." Edwin menjelaskan semuanya, sungguh? Ya Tuhan... Aku dan Dion saling pandang dan terdiam.
Ini membuatku sangat terkerjut, apa karena ini Rion selalu mencari masalah dengan kami terutama pada Edwin. Bahkan Rion selalu mencoba untuk mencelakai Edwin.
"Sejak kapan lo tau semua ini?" Tanya ku pada Edwin. "Gue tau baru dua bulan yang lalu, tapi Rion udah tau lima tahun yang lalu," Edwin menghela nafas panjang. "Dua bulan yang lalu lo tau ini? Bahkan lo gak ada cerita apa-apa ke kita? Bro, kita udah bareng-bareng 6 tahun dan lo? Masalah gini, lo gak percaya lagi sama kita?" Ucap Dion sedikit tersulut emosi. "Gimana lo bisa mendem ini sendiri, masalah nyokap, bokap, masalah balapan, masalah apa lagi yang selalu lo pendem sendiri?" Lanjut Dion, aku menatap Dion mencoba menenangkannya juga.
"Enggak, gue gak ada maksud buat nyembunyiin apapun dari kalian. Masalah ini... ini terlalu rumit, gue cuma gak pingin ada masalah yang melibatkan kalian berdua. Bahkan sekarang gue terlalu malu nyebut dia bokap kandung gue. Dan Rion, wajar dia marah, wajar dia benci sama gue. Dia kakak gue kan?" Ucap Edwin yang ku lihat dia berusaha untuk tersenyum.
"Iya dia kakak lo, gue seneng lo punya pemikiran yang dewasa. Sekarang gue bisa liat sedikit demi sedikit sikap lo yang petakilan mulai ilang, lo jadi lebih dewasa sekarang. Nyokap lo beruntung punya anak kaya lo," ucapku tersenyum pada Edwin.
"Seharusnya Rion juga harus bersyukur punya adek kayak lo, gue aja bangga punya sobat kaya lo. Gue sekarang iri sama Rion yang punya hubungan dara sama lo," ucap Dion pelan dan menepuk bahu Edwin. Aku tersenyum, memang Dion seperti ini, dia yang selalu pertama memarahi kesalahan Edwin namun dia juga orang pertama yang selalu mendukung Edwin.
Edwin tersenyum menatap ku dan Dion. "Dah lah ngapain kalian liatin gue kayak gitu. Lo tau kan gue udah lewati semua masalah, gue pasti bisa ngelwati masalah satu ini. Selama itu nggak ganggu pesona ketampanan gue, gue tetep kuat." Lihatlah Edwin kembali lagi ke sikap yang seperti ini.
*
Aku dan Dion memutuskan untuk pulang setelah keadaan Edwin sedikit temang, dia juga butuh istirahat. Dion pun masih banyak urusan, "Reel, gue balik dulu ya. Lo pulang ati-ati, eh iya lo belum cerita ke gue. Gimana sama Alana? Ada kemajuan?" Tanya Dion padaku.
Aku mengecek ponsel ku, benar dia hanya membaca pesan ku tapi tidak membalasnya. Tidak apa-apa, setidaknya dia telah membacanya. Aku memasuki mobil dan sekarang aku akan pulang kerumah, aku merindukan paman ku.
"Paman, apa yang paman lakukan," ucapku saat memasuki rumah dan melihat paman membersihkan kotak kandang. "Hey kau sudah pulang? Paman memasak tumis daging sapi, makanlah. Ah iya, ini paman membersihkan kandang ini untuk kucing. Tadi paman menemukan kucing kecil ini di jalan dekat mini market, entalah siapa yang tega membuang hewan manis ini," jelas paman, menunjukan dua ekor kucing kecil yang ada di dalam kardus itu.
...
...
Aku menghampiri paman, dan melihat dua ekor kucing itu. Aku teringat, Alana sangat menyukai kucing, bahkan dulu dia memiliki keinginan untuk memelihara kucing sebanyak mungkin. "Apa paman akan memelihara kucing-kucing ini?" Tanya ku pada paman yang sibuk membersihkan kandang itu.
"Ya, paman akan memeliharanya. Itung-itung juga paman akan sedikit menyibukkan diri dirumah agar paman tidak sering datang ke club." Bagus, akhirnya paman punya keinginan untuk berubah sedikit demi sedikit. Aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Aku akan membelikannya susu dan beberapa makanan khusus kucing, aku pergi dulu," pamit ku pada paman. "Dareel.." panggil paman, "Ya."
"Paman sudah membelikan mereka susu dan beberapa makanan, apa kau bisa memandikannya? Tadi paman juga membawa anak-anak kucing itu ke dokter hewan, dokter bilang usia mereka belum genap dua bulan. Jadi harus di mandikan dengan pelan, apa kau bisa?" Pintah paman padaku.
"Ya, akan ku coba," ucap ku menggendong dua anak kucing ini ke wastafel. Aku tidak pandai dalam masalah hewan ini, tapi aku sedikit paham karena dulu Alana sering menceritakan kucing peliharaannya padaku.
Alana POV
Setelah sore tadi aku baru selesai berjalan-jalan dengan Natt kini waktu nya aku bersiap-siap untuk ikut dengan Vano menghadiri sebuah acara.
__ADS_1
...
...
Aku suka ruffle tube dress ini, warna yang kalem dan model yang simple. Tapi kenapa harus Vano yang memberikan dress ini, mengingatnya membuat ku kesal.
Aku merias wajah ku senatural mungkin dan membiarkan rambut ku tergerai, ah rupanya lelaki itu telah sampai dan menungguku di bawah.
"Ayo..." Ucapku saat memasuki mobil Vano. "Wow Alana, kamu terlihat sexy and always beautifull." Puji Vano dan mencium tangan ku. Astaga ini sangat memuakkan, batin ku.
"Bisakah kita segera pergi?" Sungguh aku tidak ingin berlama-lama mendengar ocehannya. "Tentu, queen." Aku hanya mengangguk sebagai respon. Di perjalanan menuju pesta aku selalu menatap kaca mobil, suasana malam sangat menyenangkan. Aku sangat suka suasana malam dimana sebagian orang bebas melakukan aktivitas masing-masing.
"Apa yang kau pikirkan?" Aku tersentak saat Vano menyentu paha ku yang terbuka. Aku menyingkirkan tangannya dan menutup paha ku dengan tas kecil yang ku bawa, "Tidak ada," ucap ku sekenah nya.
*
Kami telah sampai di pesta yang di maksud Vano, benar.. disini banyak tamu yang tidak lain adalah teman-temannya. Ya Tuhan kumohon percepatkan lah waktu, aku tidak mau berada di sekitar orang-orang ini.
"Hai Alana, Apa kabar?" Tanya wanita berbaju biru laut itu, teman Vano. "Baik," jawab ku singkat, "Astaga, Cantik sekali. Aku iri dengan body mu, Vano sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu." Ucap lelaki yang bertingkah seperti perempuan itu, yang ku balas dengan tersenyum saja. Ku lihat Vano bergabung dengan teman laki-lakinya di meja bar, dan aku duduk di meja ini bersama dengan beberapa teman wanita Vano.
Sudah hampir pukul dua belas malam tapi pesta ini belum berakhir, bahkan di antara para wanita ini ada yang sudah sangat mabuk. Dan lihatlah di depan ku sepasang kekasih sedang bercumbu saling *******, mual sekali melihatnya.
Aku mencari Vano kesana kemari tapi tidak menemuinya, aku menelfonnya tapi tidak di angkat, dimana lelaki ini. Lalu aku berjalan kearah lorong belakang club ini, tunggu... sepertinya aku mengenal bayangan lelaki di depan ku ini. Bukankah itu Vano...
Aku mengintip dari sela tirai yang sebagai penutup ruangan itu, Astaga... benar itu Vano. Dia sedang melakukan hubungan intim dengan seorang wanita berambut pirang itu, menjijikkan sekali.
Bahkan mereka berdua tidak memakai selehai kain pun, Ya Tuhan.. Apa mereka tidak mampu menyewa hotel untuk melakukakan ****? Mengapa di tempat berisik seperti ini, Astaga memalukan sekali. Batin ku, aku tertawa kecil.
Ah iya... Aku memiliki ide berlian. Aku mengambil ponsel di dalam dompet, lalu aku memotret beberapa foto mereka berdua saat melakukan hubungan intim itu, aku juga mengambil vidio sebentar.
Aku tersenyum lagi, aku akan menunjukkannya pada Papa. Jika Papa tidak meresponnya, aku bisa menggunakan rekaman ini untuk ancaman agar bisa terbebas dari pertunangan sialan ini. Alana selain cantik dan sexy kau juga sangat pandai, Astaga diriku. Batin ku membanggakan diriku sendiri.
Setelah melakukan aksi ku, aku segera pergi dari tempat ini. Aku tidak tahan mendengar ******* wanita itu, euuiww.
Ini sudah sangat larut, bagaimana aku akan mencari taksi. Tunggu... ah aku lupa, di ponsel ini aku tidak punya aplikasi transportasi online. Lalu bagaimana sekarang aku akan pulang. Dareel... iya Dareel, Ah tidak tidak, kenapa namanya terlintas di pikiran ku. Tapi....
"Hallo," ucapku saat Dareel menerima telfon dariku.
"Al, kenapa gak angkat telfon ku tadi? Kamu kemana? Apartement kamu gaada orang." Cerocos nya panjang lebar. "Aku di club- kau bisa menjemput ku sekarang? Aku sedikit mabuk, kepala ku juga sedikit pusing." Aku memang tidak minum banyak tadi didalam, tapi entah minuman apa itu yang membuatku tubuh ku begitu panas seperti sekarang padahal aku hanya meminum satu gelas. "Baiklah, tunggu aku," ucap Dareel lalu mematikan panggilan telfon. Apa yang ku minum tadi, tubuh ku sangat panas dan rasa apa ini yang ada di tubuh ku.
...*****...
...TBC...
Vote and comen please 🙂
Terima kasih 😊
__ADS_1