
...Orang berkata,...
...Jika dia cinta, dia akan kembali...
...Aku berkata,...
...Jika dia cinta, dia tidak akan pernah pergi...
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
Tepat pukul 19.00 semua orang telah berkumpul di restaurant, tempat diadakan makan malam sebagai acara pertunangan Dion dan Nattali.
Di meja yang bundar ini semua orang sedang membicarakan tentang hal - hal yang akan di lakukan sepasang kekasih itu mendatang, Dareel dan Edwin hanya bisa mendengarkan, sesekali mereka menyahut bila ditanya oleh keluarga Natt maupun Dion.
"By, udah hampir jam 8 loh, Alana kok belum dateng." Bisik Nattali kepada Dion. Alana pasti datang, hanya saja Natt merasa khawatir karna tidak biasanya Alana terlambat di acara yang penting seperti ini.
"Coba kamu telfon dia, mungkin masih di jalan." Jawab Dion menenangkan Nattali.
Tiba - tiba semua mata tertuju pada seorang gadis yang kewalahan membawa buket bunga sangat besar dan beberapa hadiah yang di tentengnya.
...
...
Alana POV
Ya tuhan... Benar dugaan ku, cara nya sudah dimulai, aku datang terlambat. Tadi bunga yang ku pesan tertukar oleh pesanan orang lain, jadi aku harus mengurusnya dan akhirnya aku terlambat datang kesini.
"Alanaaaa... Ku kira kamu gak akan datang," rengek si empu yang punya acara.
"Iya maaf nih tadi ada masalah dikit." Sungguh aku tidak enak hati membuat semua orang menunggu ku. Nattali menghampiriku dan memelukku, Ya tuhan anak ini benar - benar... Aku sudah sangat keberatan membawa bunga besar ini dan hadiah yang ku tenteng. "Masalah apa? Semua baik - baik aja kan?," tanya Nattali padaku. "Aku sudah mengurusnya," jawab ku tersenyum dan mambalas pelukannya.
"Gapapa Alana sayang, Ayo semuanya acara makan malamnya sekarang ya." Sahut Tante Rosa, mama Nattali. Aku menaruh buker bunga besar itu di meja tempat hadiah - hadiah para tamu dikumpulkan.
__ADS_1
"Sumpah gaun ini cocok banget kamu pakai," benar, gaun ini adalah hadiah dari Natt saat usia ku menginjak 25 tahun. Aku tidak mau menyebutnya hari ulang tahun ku, karna memang aku terlalu tua untuk melakukan acara seperti itu.
...
...
"Gaun mana sih kak yang gak cocok aku pakai," seperti biasa aku selalu menggoda Nattali dengan kepercayaan diriku yang tinggi. Nattali memukul tangan ku dan tersenyum.
Saat kami berjalan ke arah meja makan, mata ku terarah pada seorang pria memakai kemeja putih. Ya tuhan..... Kaki ku terasa lemas, mataku menjadi sayu, dia..... Apa ini nyata.
Dareel POV
Kenapa acara ini tidak segera dimulai, apalagi yang mereka tunggu. Ku lihat sekeliling ku hanya ada Edwin, Kedua orang tua Dion dan Nattali. Lalu apakah mereka menunggu seorang wanita yang sering di ceritakan oleh Dion itu, sahabat Nattali. Apa dia harus melakukan ini, datang terlambat di acara yang pertunangan sahabatnya. Sungguh merepotkan.
Aku melihat sepasang kekasih yang bertunangan ini didepan ku, Dion dan Nattali. Mereka sangat serasi, setahun berpacaran mereka telah memutuskan untuk melanjutkan kehubungan yang lebih serius. Dion memang seperti itu, dia sangat baik, bertanggung jawab dan sangat mencintai Nattali. Tidak seperti ku.
"Eh kayaknya itu orang yang di tunggu - tunggu," celetuk edwin di samping ku, Aku melihat semua orang menatap wanita yang baru datang dengan membawa buket bunga besar dan beberapa hadiah yang tercentel di tangannya, dia terlihat kesusahan membawa buket besar itu bahkan wajahnya sampai tidak terlihat. Menggemaskan sekali.
"Alanaaaa..." Panggil Nattali sedikit berlari dan memeluknya, seketika pikiran ku menjadi tidak karuan lagi seperti kemarin setelah mendengar nama itu. Semua orang yang ada disini tersenyum hangat melihat kedekatan mereka berdua. Benar kata Dion, wanita bernama Alana itu sudah seperti adik bagi Nattali.
Aku tidak berhenti menatapnya, dia sedang begurau dengan Natt. Dia membelakangi ku, rambut hitam bergelombang itu di kuncir keatas, tubuh itu... sepertinya dia tidak asing bagiku.
Saat dia membalikkan tubuh nya menghadap meja makan, betapa terkejutnya aku.
Benar dia Alana, wanita yang ku kenal, Alana wanita yang sangat ku cintai. Ya tuhan.. aku bertemu dengannya disini, wanita yang sering di ceritakan dion selama ini ternyata itu adalah Alana ku.
Dia berjalan kearah meja makan, belum menyadari kehadiranku. Namun, saat matanya berpapasan denganku, dia berhenti. Raut muka yang sebelumnya sangat ceria menjadi sangat datar. Sebelumnya bibir itu menyunggingkan senyum, sekarang tertutup rapat. Dia sangat membenci ku, terlihat dari matanya yang berbicara menatapku penuh dengan kebencian.
Ya tuhan, benar dia Alana. Aku sangat merindukannya... Dia wanita yang sangat kucintai yang membuat hari - hari ku bagai surga, penuh warna dan kebahagian. Alana berjalan kearah meja makan, tempat kami memulai acara malam ini. Dia duduk tepat di depan ku. "Maaf semuanya, saya terlambat datang," Suara itu yang sangat kurindukan 8 tahun ini, aku tidak bisa berhenti menatapnya, aku sangat ingin memeluknya.
*
Acara pertunangan telah terlaksanakan, kini kami berbincang - bincang santai. Begitu pun dengan Alana, dia sama sekali tidak menatap ku seoalah - olah di hadapannya kini tidak ada orang.
Alana POV
"Al, ini loh orangnya yang sering aku ceritain kekamu, yang dosen itu temennya Dion," bisik Natt membuat ku terkejut. Ku mohon jangan membicarakan ini sekarang, aku masih tidak percaya dia ada di depan ku sekarang bahkan dari tadi dia tidak berhenti menatapku. Aarrgg rasanya aku ingin menyiramnya dengan jus jeruk ini.
"Yang mana orangnya?," Tanya ku dengan malas. "Depan kamu, kemeja putih itu. Ganteng kan, dari tadi aku perhatiin dia liatin kamu terus.".
"Aku kira yang pakai kemeja biru," sungguh aku tidak berniat membicarakannya. "Jangan mah, yang pakai baju biru itu playboy al, namanya edwin sahabatnya Dion juga sih itu. Liat aja cara dia senyum, nyebelin banget kan. Lah yang pakai kemeja putih itu Dareel, dia kalem kan. Banyak loh yang diceritain Dion tentang Dareel, dia tuh hebat. Pangket lengkap pokoknya."
Penjelasan Nattali membuat ku tertawa samar, bagaimana bisa Natt menilai Dion seperti itu. Nattali belum sadar bahwa Dion yang meninggalkan ku dan menghancurkan ku adalah Dion yang sekarang ada di depan ku yang dia puji dari tadi.
__ADS_1
"Reel, ini yang namanya Alana, yang sering gue ceritain ke lu. Al, ini dareel yang mau kita kenalin ke kamu," ****, situasi macam apa ini. Aaah kenapa Dion malah memulai pembicaraan seperti ini didepan semua tamu.
"Cantikkan," ucap Dion lagi kepada Dareel.
"Ya ampun kamu? Kamu Alana? Astaga beneran cantik banget, mirip yang diceritain Dion ke kita. Haii aku Edwin." Tidak itu bukan suara Dareel, aku menoleh ke sumber suara itu dan ternyata suara Edwin, si playboy itu. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya kepada ku, dan ku sambut pula uluran tangannya.
"Alana," jawab ku singkat pada Edwin.
Aku tidak sengaja melihat kearah Dareel, dia masih menatap ku. Kali ini dia juga tersenyum kearah ku, ku alih kan pandangan ku darinya. Sungguh senyuman itu yang sangat ku rindukan, senyum hangat yang membuat ku selalu merasa nyaman melihatnya, dulu.
Entah, apa yang kini aku rasakan.. Bahagia bertemu dengannya setelah 8 tahun lalu atau marah kepadanya karna meninggalkan ku dan mengingkari janjinya untuk selalu bersamaku atau juga aku membencinya, entahlah.
Namun rasa yang ku tahu pasti adalah kecewa, kecewa yang sangat besar kepada Dareel. Karna setelah kepergiannya banyak sekali hal yang buruk terjadi di hidup ku, aku tidak memiliki siapapun yang bisa mengerti diriku selain Dareel, tapi dia pergi meninggalkan ku begitu saja. Bahkan aku mengejarnya, aku berteriak memanggil namanya saat itu.
Dia juga berjanji akan melindungiku saat Papa ku sendiri yang menyakitiku, tapi dia juga sama menyakiti ku. Lalu apa bedanya Papa dan Dareel, Aku sama - sama membenci mereka. Tidak sadar mata ku buram oleh air mata, aku segera mengusap air mata ku sebelum keluar dari tempatnya.
"Alana tuh anaknya dingin banget kalau di liat dari luar, tapi aslinya mah dia perhatian banget. Benar,kan?" ucap Nattali menyenggol lengan ku, yang ku balas dengan anggukan saja. Melihat respon ku seperti itu, Nattali tiba - tiba berucap menggoda ku. "Apa sebelumnya kalian saling kenal? Hemm, dari tadi aku perhatiin Dareel liatin Alana terus," seketika semua orang tertawa mendengar ucapan Nattali.
"Kenal apaan, kan baru 3 jam lalu ketemu," jawab ku singkat menatap Nattali, berharap untuk dia berhenti menggoda ku. "Terkadang waktu 3 jam perkenalan bisa membuat kita menghilangkan rindu terhadap seseorang, maksud ku, waktu tidak menjamin perkenalan diri, bisa saja kita sebelumnya pernah bertemu," sial, apa yang barusan dia katakan. Ya, yang bicara seperti itu adalah Dareel. Aku baru mendengar suaranya kali ini, dasar tidak tau malu, dia tersenyum setelah mengatakan kata - kata puitis itu. Memuakkan
"Hahaahha, tumben loh bicara panjang kali alas kali tinggi kali kuadrat. Jiwa puitis lo telah kembali bung," ucap Edwin terbahak memukul punggung Dareel yang ada disampingnya.Aku tidak menghiraukan ucapannya itu, semua orang kembali melanjutkan perbincangan mereka masing - masing. Ku lihat Dareel berhenti menatapku dan mulai mengobrol bersama tamu lainnya.
Rambut hitam tertata rapi, rahang yang sempurna, hidung yang mancung, tubuh yang tinggi, sungguh Dareel tumbuh dengan baik. Dia hanya bertambah tinggi dan semakin.... tampan, Sial apa yang ku pikirkan. Aku membencinya, delapan tahun lalu dia meninggalkan ku, kini dia kembali lagi setelah semua yang terjadi.
*
Tidak terasa aku melihat handphone ternyata sudah pukul 23.00 dan semua orang telah keluar dari restaurant. Tinggal Aku, Nattali, Dion dan Dareel yang ada di halaman parkiran.
"Kita pulang dulu yaa, makasih untuk hari ini." Ucap Dion tersenyum padaku dan Dareel. Aku mengangguk dan melepaskan pelukan Nattali.
"Al, makasih bunganya, Cantik bangett. Kan aku bilang gak usah bawak yang ribet - ribet, eh malah bawak bunga segedeh ini," kekeh Nattali, menggenggam tangan ku. Yang ku balas dengan tersenyum hangat padanya.
"Its oke, itu nggak ribet sama sekali. Kak Dion nganter pulang Kak Natt kan? .. Dahh sana buruan pulang," ucap ku pada Nattali dan Dion akhirnya, setelah kulihat mata Natt ingin menangis. "Siap adik ipar. Reel, thanks ya, gue balik dulu," ucap Dion. Mereka berdua masuk kedalam mobil dan pergi berlalu.
Aku menghembuskan nafas panjang melihat mobil Dion meninggalkan area parkiran, hari ini hari yang melelahkan dan tidak terduga. Aku melirik Dareel dan dia sedang menatap ku dengan mata sayu nya. Aku berbalik dan berjalan tidak memedulikannya, aku terus berjalan kearah mobil ku, kurasa dia telah pergi karna aku tidak mendengar langkah kakinya.
Sesampainya di mobil ku, aku membuka pintu mobil. Saat aku akan masuk ke mobil, lengan ku di cekal oleh seseorang. Dareel, ucapku dalam hati.
"Bisa bicara sebentar, Alana,"
...******...
...TBC...
Vote and Comen please 😊
__ADS_1
Thaks all 🤗