Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
EMPAT


__ADS_3

...Pada akhirnya, aku hanya menjadi orang asing  yang mengetahui semua rahasiamu...


...♡♡♡...







Dareel POV


Benar kata Dion waktu itu, aku sudah akan mencari Alana, namun aku masih ragu saat itu.


Aku takut dia membenciku dan tidak menerimaku, bahkan yang lebih ku takutkan adalah Papanya akan menyakiti Alana dan Bundanya karna diriku.


Ah iya, sekarang bagaimana keadaan orang tua itu, Surya Abraham. Papa Alana.


Dia menepati janjinya mengirim ku dan Paman ke luar negeri, Kami berdua hidup aman disana. Tapi apakah dia juga menepati janji untuk menjaga keluarganya, Alana dan Bundanya.


Apakah seorang Surya Abraham telah berubah menjadi seorang Papa panutan untuk putrinya, apakah dia waktu itu telah meninggalkan selingkuhannya demi keluarganya, dan sekali lagi petanyaan yang ada pikiran ku. Apakah hidup Alana baik - baik saja selama 8 tahun ini, apa dia bahagia?.


Di depanku kini dia tertawa dan terlihat ceria, namun tidak ada yang mengenal Alana sebaik diriku. Alana yang ku kenal dia selalu menyembunyikan lukanya, didepan orang - orang dia akan terlihat ceria seoalah tidak terbebani oleh apapun tapi saat Alana sendirian, dia akan menangis diam - diam, dia tidak ingin seorang pun mengetahui kelemahannya.


Dia selalu ingin menjadi kuat didepan semua orang, dan satu lagi.. Alana sangat benci di kasihani. Namun itu tidak berlaku untuk ku, Aku adalah tempat dimana Alana meluapkan segala rasa yang dia pendam, hanya di depanku lah Alana bisa menangis dan menceritakan semua yang dia rasakan.


Tapi untuk sekarang apa aku masih sama menjadi tempatnya meluapkan segala rasa, apa aku masih menjadi orang yang selalu melihatnya tertawa dan menangis, sepertinya tidak. Aku sendirilah yang merusak posisi itu dan merusak kepercayaannya. Lihatlah, dia mengabaikanku bahkan dia enggan untuk menatapku. Aku bisa melihat di matanya, kecewa.. itu yang dia katakan melalui matanya.


*


Setelah selesai acara makan malamnya, Aku mengantar Dion dan Nattali sampai di halaman parkiran restaurant, Alana juga ikut mengantar mereka. Sepeninggal Dion dan Nattali, aku tidak bisa berhenti menatap wajah cantik ini. Wajahnya yang kecil namun berdagu lancip, mata yang bulat, hidung yang kecil dan menggemaskan, lalu bibir indah yang menjadi candu ku. Benar - benar sangat cantik.


Alana berjalan dan mendahului ku, seperti sebelumnya dia sama sekali tidak menatap ku.


Aku berjalan di belakangnya mengikuti langkah kaki nya, seperti 8 tahun yang lalu, Alana sangat suka mengikuti langkah kaki ku.

__ADS_1


Tunggu... Apa dia akan segera pulang, aku harus mengatakan sesuatu padanya. Tidak, tidak, aku tidak boleh membuatnya semakin membenciku. Lalu apa yang harus ku lakukan.


Tanpa sadar aku mencekal lengan Alana saat dia akan memasuki mobilnya. Alana langsung menoleh padaku dengan tatapan kaget lalu menjadi tatapan kebencian. "Bisa bicara sebentar, Alana,". Ucapku pada akhirnya.


Dia memalingkan wajahnya dan melepaskan cekalan ku, namun dia kembali berdiri didepan ku, "Katakan," Sungguh aku ingin memeluknya detik ini.


"Ka-kamu, maksudku bagaimana kabarmu? Kita belum sempat-" belum selesai aku bertanta, Alana tertawa sumbang.


"Kabar ku?" Tanya nya menunjuk dirinya sendiri. "Maaf itu bukan lagi urusanmu, jangan pernah tanya apapun soal hidup atau kabar gue." Gue? Alana berbicara dengan lo - gue dengan ku, dia berbicara aku - kamu ke semua orang. Aku tertawa miris, sekarang aku benar - benar orang asing baginya.


"Al, aku... sungguh delapan tahun ini sangat berat untuk ku. Demi tuhan, sekarang aku sangat bahagia dan bersyukur bisa bertemu kamu lagi," ucapku pada Alana. Dia tidak menjawab, hanya menatapku tajam. "Aku tidak memintamu untuk memaafkan ku, tapi setidaknya aku berharap akan ada pertemuan di antara kita lagi setelah -"


"Nggak, gue gak ingin ketemu sama lo lagi. Apapun situasinya apapun masalahnya, ini yang terakhir gue lihat lo. Apa? delapan tahun berat untuk mu? Bulshit, mana ada yang meninggalkan malah merasa seperti itu. Bagi gue delapan tahun adalah waktu yang sangat cukup buat gue lupain semua tentang lo," ucapnya menahan tangis, aku bisa melihat rasa kecewa dari mata alana.


"Al -" Saat aku akan memegang tangannya, dia mundur. "Stop, apapun itu sekarang, Jangan pernah ada didepan gue lagi." Setelah mengatakan itu Alana langsung masuk kedalam mobil dan pergi berlalu meninggalkan ku di area parkiran ini. Ya, aku memang pantas mendapatkan kebencian dari wanita sebaik Alana.


*


Keesokan harinya, seperti hari - hari biasa aku di sibuk kan dengan kegiatan ku sebagai dosen. Namun pikiran ku tidak bisa berhenti memikirkan Alana, apakah aku harus mencari tahu bagaimana kehidupan Alana saat ini, apakah aku harus menemuinya saja tapi dia tidak akan mau bertemu dengan ku. Baiklah, sudah ku putuskan untuk mencari tahu informasi tentang Alana.


Setelah semua pekerjaan ku hari ini rampung, aku segera pergi untuk menemui Dion di apartemen nya, ya hari ini Dion ijin cuti karna mengurus beberapa berkas untuk pernikahannya.


"Gue jalan sekarang ke apartemen lo."


"Oi, beli-in gue camilan sekalian boleh lah ya."


"Hmm," Aku langsung bergegas menemuinya, sungguh banyak sekali pertanyaan yang harus kutanyakan pada Dion.


"Masuk, bro. Mana camilan gue." Aku menyerahkan plastik besar berisi banyak camilan yang ku beli tadi. "Thank yee, emm mau apa lu tiba - tiba dateng kesini. Pakek acara bilang ini penting, sepenting apa coba," ucap Dion sambil mengunyah camilan yang dia pegang.


"Gue mau tanya, lo kan udah kenal lama sama Nattali dan pasti lo juga kenal siapa Alana. Lo seringkan cerita ke gue kalau Alana itu udah kayak adeknya Nattali, pasti lah Nattali sering cerita ke lo tentang Alana," jelas ku langsung pada intinya, ku rasa hari ini aku harus banyak bicara didepan manusia rakus yang sedang mengunyah 3 macam camilan sekaligus ini. "Apa?," jawab Dion dengan wajah cengoh nya.


"Hem ho.oh ho.oh gue paham nih model modus kayak gini, kenapa loh sekarang mau tau tentang Alana? Gue bilang apa kan kemarin, dia tuh cantik cocok sama lo, gue nih sama Nattali gak pernah salah memilihkan yang terbaik buat sahabat kita masing-masing. Waseekk," ucap Dion menggoda ku dan di akhiri dengan tawa terbahak. "Terserah lo, ceritain ke gue sekarang tentang Alana, atau gue ambil lagi camilannya," ancam ku karna Dion tidak kunjung memberitahuku tentang Alana.


"Oke oke Tuan Dareel yang terhormat, tapi nih sebelumnya gue mau bilang. Apapun yang gue ceritain ini ke lo, terserah kedepannya lo mau nerima Alana apa nggak yang penting ni gue udah kasih tau lo. Dan kalau lo mau nerima Alana, tolong jaga dia, lo ubah pemikiran Alana tentang semua cowok itu buruk," penjelasan Dion yang kudengarkan dengan serius. Tunggu, apa katanya tadi Alana berpikir semua cowok itu buruk. Apa yang terjadi dengannya selama ini.


"Alana pernah depresi saat usia 18 tahun, tapi itu gak berlangsung lama karna dia punya tante yang psikolog gitu ngebantuin dia. Lo tau pengusaha sukses Surya Abaraham yang punya gedung - gedung didepan kampus kita noh, ya itu papanya Alana. Sumpah ni reel gue denger ceritanya dari Nattali, tuh bapak gak pantes di sebut bapak. Dan karna masalah itu mungkin Alana kesepian, dan sebagai pelampiasan dia sering clubbing, main sama cowok terus akhirnya si cowok itu di buang sama Alana, mungkin dia ngelakuin itu karna saking bencinya sama papa nya," lanjut Dion membuat ku terkejut. Apakah selama delapan tahun ini Alana tersika dan tidak bahagia? Lalu bagaimana janji papanya itu kepada ku untuk memperbaiki masalah keluarga mereka? Pelampiasan? Tidak, Alana bukan wanita seperti itu. Batin ku dalam hati, sungguh ini membuat ku semakin terkejut.


"Gimana lo tau dia sering pergi clubbing?" Tanya ku pada Dion. "Dulu nih pas gue masih satu kota sama mereka, gue sering nganter Nattali ngejemput Alana karna dia mabuk dan gak mau pulang. Alana tuh kayak kertas putih yang sengaja di siram kopi sama bapaknya sendiri, paham kan lo maksud gue? Dia tuh anaknya baik banget, tapi salah ngambil cara pelampiasaannya. Siang sama Malemnya Alana tuh beda banget," sungguh aku semakin merasa bersalah.

__ADS_1


"Udah sih itu aja yang gue tau, gue berharap setelah lo dengerin semua ini lo gak akan mundur deketin Alana," ucap Dion menepuk bahu ku dan melanjutkan kegiatan memakan camilannya.


"Di, lo tau kan wanita yang 8 tahun lalu gue tinggalin, yang buat gue ngerasa kalau gue ini pengecut. Yang bikin gue selama 8 tahun ini berusah keras biar gue bisa setara sama dia, dan bisa sama - sama lagi kaya dulu. Lo tau siapa dia?," Aku memberanikan diri mengatakan ini kepada Dion, karna hanya Dion yang aku percaya, dan juga edwin tentunya.


"Jangan bilang... ."


"Alana, dia Alana Lovata yang selama ini lo ceritain ke gue. Sahabat Nattali, yang kemarin hadir di Acara pertungan kalian. Alana, Alana gue," Ucap gue menutup mata.


"A-apa? Alana yang- itu Alana yang lo tinggalin delapan tahun lalu? Dareel.. lo geblek banget sih, lo pikir lo ninggalin Alana itu dia bisa hidup bahagia? Lo percaya sama apa yang papanya janjiin ke lo?" Ungkap Dion yang merasa terkejut dan berapi - api mendengar pengakuan ku.


"Gue tau gue salah, percaya sama gue, gue akan perbaiki semua kesalahan gue. Kalau pun gue gak bisa perbaiki seenggak nya gue bisa ngebuat dia bahagia lagi," ucapku meyakinkan Dion yang masih tidak percaya padaku. "Reel, bukannya gue gak percaya. Alana, dia udah hancur reel. Dan penyebab kehancurannya dia itu lo sama papanya. Gue gak bisa bantu banyak, tapi gue yakin kalau niat lo tulus tuhan pasti ngebatuin lo. Terlepas dari semua kesalahan lo," Dion tersenyum padaku, aku tidak mengharapkan ini terjadi pada Alana. "Thanks di." Memang Dion yang tau apa yang aku alami selama ini.


Benar, Surya Abraham tidak menepati janjinya pada ku 8 tahun lalu. Dia menyakiti Alana dan keluarganya, Aku berjanji akan membahagiakan Alana lagi dan akan memperbaiki kesalahanku. Tidak peduli apakah Surya Abraham setuju atau tidak, aku tidak takut lagi padanya. Karna yang terpenting bagiku sekarang adalah Alana ku.


*


Sekarang aku berada didepan gedung tempat Alana menjabat sebagai manajer di perusahaan milik Papanya. Ku lirik arloji, sudah pukul 19.30 kenapa dia tidak keluar juga, aku sudah menunggu sekitar 1 jam. Apa dia baik - baik saja, pikir ku.


Saat pikiran ku entah berantah tiba - tiba Alana keluar bersama seorang pria, siapa pria itu. Mereka memasuki mobil, itu bukan mobil Alana.


Aku terus mengikuti mobil mereka. Tidak sampai 1 jam mobil itu berhenti di sebuah apartemen, apa ini tempat dimana Alana tinggal? Kenapa dia tidak tinggal dirumah mewah bersama Papanya. Ku lihat lelaki itu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Alana, aku terus mengawasi mereka.


Mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu. Tunggu, lelaki itu mengelus kepala Alana dan Alana tersenyum menanggapi. Baru saja aku akan keluar dan menghampiri mereka, tapi apa yang ku lihat sekarang. Mereka berdua berciuman di samping mobil dan tepat di depan ku. Sial, ini mebuatku marah.


Brengsek apa yang mereka lakukan, aku akan menghampiri mereka. Tidak, tidak. Cukup lama mereka melakukan hal gila disana, akhirnya mereka menyudahi kegiatan ******* itu. Lelaki itu juga pergi dengan mobilnya.


Aku keluar dari mobil ku dan menghampiri Alana. Dia berjalan dan aku menarik lengannya menghadapkan padaku. Bibirnya terlihat basah, sial ini pasti kelakuan lelaki brengsek tadi. Aku mengelap bibirnya dengan tangan ku, dia membelalak tak percaya. "Apa yang kamu lakukan?" Dia mundur dan mengelap bibirnya juga.


"Kamu tidak boleh berciuman dengan lelaki lain, selain aku," ucapku sangat serius, sungguh ini membuat ku marah.


"Apa lo gila? Kan gue udah bilang jangan muncul didepan- emmpph," apa dia tidak tau kalau aku marah, dia tidak akan berhenti bicara jika aku tidak menciumnya.


...******...


...TBC...


Vote and Comen please 😊


Thank you all 🙂

__ADS_1


__ADS_2