
...Perjuangkan yang sudah ada, perbaiki hubungan dan pertahankan apa yang menjadi milikmu...
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
18+
Alana POV
Ethan mengantarku pulang, namun tidak bisa mampir karena dia juga harus mengantar Nattali yang terlelap.
Setelah perginya Ethan, tiba-tiba Dareel menerobos masuk. Kenapa dia ada disini, aku sangat malas melihatnya sekarang.
Dareel terus mengikuti, dan kami terlibat perdebatan. Seperti biasa Dareel yang tenang membuatku selalu ingin marah.
Boneka kucing, saat tadi dia masuk aku sudah menduga boneka kucing ini pasti untuk ku. Tapi aku tidak peduli pada boneka ini, Dareel membuat hati ku sangat hancur. Eh tunggu, siapa dia untukmu Alana? Batin ku dalam hati.
Benar, Dareel memberikan boneka lucu ini padaku. Lalu dia berpamitan untuk pulang, aku menatapnya turun melewati tangga. Kenapa rasanya tidak rela melihat Dareel pergi.
*
Saat Dareel akan pergi dan membuka pintu Apartement, "Gue punya hak kan atas lo? Kalau gitu bersihin mulut lo." Ucapku di belakang Dareel, dia berbalik menghadap ku.
"A-apa?" Tanya Dareel padaku, namun tetap menerima tisu yang ku berikan. Dareel segera mengelap bibir nya dan menatap ku bingung.
"Cium gue sekarang," ucap ku tiba-tiba di hadapan Dareel, ku lihat Dareel mengangkat alisnya dan terkekeh. Iiissh kenapa dia memasang muka menyebalkan itu, aku.. aku hanya tidak suka Dareel berciuman dengan wanita murahan. Maksud ku, Dareel bisa mencium wanita mana saja, tapi tidak dengan wanita itu.
Dareel berjalan menghampiri ku dengan muka menyebalkan itu. Kini jarak kami hanya sepuluh cm, Dareel mengacak rambutku dan mencium kening ku. Apa-apaan ini, kenapa dia malah mencium kening ku.
"Disini," ucap ku menjinjit dan menarik kerah kemeja nya. Aku mencium bibir Dareel, lalu menatap matanya, Dareel yang terkejut tidak membalas ciuman ku.
Saat aku melepas ciuman, tiba-tiba Dareel mengangkat tubuh ku dan menduduk-kan ku diatas meja bar mini lalu mencium bibir ku begitu dalam.
__ADS_1
Aku membelalakkan mata, bodoh, Alana kenapa kau memancing buaya. Lihatlah sekarang kau lah yang terancam, rutuk ku dalam hati.
Aku mendorong dada dareel dan mencoba turun dari meja, namun kaki dareel semakin menghapit kaki ku dan tangan nya di gunakan untuk menahan pinggang ku. Ya Tuhan..
Dareel terus ******* bibir ku, Jujur aku merindukan ciuman ini, delapan tahun terakhir kami berciuman namun tidak seintim ini. Ah tidak, saat aku mabuk dan terpemgaruh obat perangsang itu kami juga berciuman, namun aku tidak begitu sadar. Aku sedikit terhanyut oleh ciuman Dareel dan sedikit membuka mulut ku untuk memberinya akses.
Dareel tidak menyia-nyiakan itu, lidah nya berputar dan bermain didalam mulut ku. Lama, permainan ini berjalan lama, aku memukul lengan dareel karena kehabisan oksigen.
Dareel menjauhkan wajah nya dari ku, dengan segera aku menghirup udara sebanyak mungkin. Aah sial, kenapa saat berciuman dengan dareel ciuman ku menjadi kaku, biasanya aku lah yang memimpin permainan seperti ini. Aku melirik dareel yang kini menatap ku dengan tatapan yang... aah aku tidak tahu.
Mata ku turun di kemejanya, kedua kancing atasnya terbuka melihatkan sedikit dada bidang nya. Harus ku akui, ini membuat ku tergoda di tambah lagi rambutnya yang acak-acakan.
"Apa kamu mabuk?" Tanya Dareel membuyarkan lamunan ku. Aku hanya menggeleng, sedetik kemudian dia kembali mencium ku namun kali ini lebih buas dari sebelumnya. Tangan tangan dareel menahan tengkuk ku dan satunya lagi meremas paha ku.
Aku memejamkan mata menikmati permainan ini, aku mengalungkan tangan ku di leher dareel dengan sedikit meremas rambutnya. Tangan dareel yang di gunakan untuk menahan tengkuk ku kini turun dan masuk kedalam kaos ku, dia mengusap pelan punggung ku.
"Kita lanjutkan?" Tanya dareel melepaskan lumatannya dan menatap tajam mata ku. Entah apa yang aku pikirkan, namun aku mengangguk sebagai responnya.
Dareel langsung menggedong ku menuju kamar, setelah sampai dareel membaringkan tubuh ku di tempat tidur. Aku melihat dareel melepas satu persatu kancing kemeja nya, Astaga... Aku menelan ludah. Dada bidang dan perut kotak-kotaknya itu membuat pikiran ku kembali memikirkan hal kotor.
"Kemarilah," Dareel menarik tangan ku agar aku duduk di pangkuannya, Kami kembali berciuman. Dengan posisi seperti ini aku meraba dada dareel dan ku lihat dareel memejamkan matanya.
Perlahan dareel mengangkat kaos ku dan melemparnya kesembarang arah, lalu membaringkan ku di tempat tidur. Dareel mencium leher ku lalu turun ke dada ku, Ya Tuhan, apa yang dareel lakukan, dia bermain-main di area pagudara ku, aku memiringkan kepala ku tidak mau melihat apa yang dareel lakukan.
"Tidak apa-apa aku melakukannya?" Gila, kenapa dia baru bertanya sekarang. "Kalau gue jawab gak, gimana?" Jawab ku malas. "Demi Tuhan, Alana, aku gak bisa berhenti." Ucap dareel kembali mencium bibir ku, namun kali ini tangan nya tidak bisa diam.
Aku terkikik geli di tengah ciuman kami, "Apa yang lo lakuin?" Tanya ku pada Dareel. "Apa kau suka?" Dareel memperlambat elusannya pada area sensitif ku, Aku mengangguk sebagai jawaban.
Dareel menjauh dari tubuh ku dan melepas celana kainnya, lalu kembali menciumi wajah ku. Kami berdua tidak memakai sehelai benang pun, dareel terus membuat dada ku berdetak kencang. Entalah apa yang kurasakan, namun aku menikmati semua yang dareel lakukan pada tubuh ku saat ini.
"Al, ku lakukan sekarang?" Dareel bertanya padaku, dan mengusap lembut pipiku. Aku mengangguk, "Tidak apa-apa mencakar ku kalau kamu kesakitan." Ucap dareel melingkarkan tangan ku di punggungnya.
"Apa akan sangat menyakitkan?" Tanya ku pelan pada Dareel, Astaga kenapa aku mendadak takut. Aku menggigit bibir dalam ku, namun dareel tersenyum dan segera mencium bibir ku lagi.
Perlahan tapi pasti aku merasakan sedikit demi sedikit milikku penuh, Dareel masih mencium bibir ku dan mengusap punggung ku menenangkan.
Sial, ini perih sekali, aku meneteskan air mata. Tangan Dareel berpindah untuk meremas payudara ku, perlahan aku mulai tenang dan mencoba untuk membiasakan.
"Aku boleh bergerak?" Tanya dareel menatap mata ku, "Hemm," jawabku memeluk punggung Dareel. Kurasakan dareel mulai bergerak pelan, dan kami terus mengulanginya, rasa perih itu telah hilang dan berganti dengan rasa yang entalah, aku tidak paham.
Aku tidak tau apa yang saat ini terjadi diantara kami, namun yang ku tau saat ini kami sama-sama menikmatinya. Aku juga tidak tau apakah aku telah menerima Dareel lagi ataukah aku hanya penasaran dan membutuhkannya.
__ADS_1
Dareel POV
Aku melihat Alana tertidur di tangan ku, aku memeluknya dan tidak berhenti menatap wajah cantik ini. Sejak satu jam lalu kami mengakhiri kegiatan itu, aku tidak berhenti tersenyum memikirkan bahwa aku lah lelaki pertama untuk Alana.
Aku melihat ponsel, pukul 02.25, masih sangat pagi. Aku kembali memeluk tubuh Alana, Aku tidak akan melepaskan mu lagi setelah ini, bertahanlah sebentar lagi lalu kita berdua akan hidup bahagia, batin ku dalam hati.
*
Aku terbangun dari tidur, ku lihat Alana masih tertidur pulas. Aku menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik nya.
Perlahan alana membuka matanya, namun langsung memejamkan lagi. Aku terkekeh melihat tingkah Alana, "Apa yang terjadi? Apa masih sakit?" Tanya ku mengusap rambut Alana.
Alana berbalik memunggungi ku dan menggeleng, aku berbaring lagi dan memeluk Alana yang membelakangi ku. "Al, aku tau kamu sudah bangun," ucap ku mencium pundak Alana, "Hadaplah kemari dan berbicaralah padaku." Aku memutar badan Alana.
Kini kami berdua berhadapan dalam posisi menyamping, namun Alana tetap tidak membuka matanya. "Al, jangan berpura-pura tidur." Aku mencium matanya, namun tidak ada respon darinya.
"Kemarilah, aku ingin melakukannya lagi." Ancam ku mulai menindihi tubuh Alana. "Aaah Dareel, iya iya nih gue melek." Alana melotot pada ku menunjukkan matanya yang terbuka, aku tersenyum dan mencium bibirnya.
Aku turun dari tempat tidur, memakai boxer dan kemeja ku kemarin. Ku lihat Alana duduk di atas tempat tidur dan menutupi tubuh polos nya dengan selimut.
"Al, kemarin kita melakukannya dalam keadaan sama-sama sadar. Tidak ada yang terpaksa diantara kita, dan iya... Terima kasih telah mempercayai ku menjadi yang pertama untuk mu, aku tidak akan meninggalkan mu lagi demi Tuhan. Mulai sekarang bisakah kita memulai semuanya dari nol?" Ucap ku pelan menggenggam tangan Alana.
"Kenapa sih gue selalu goyah saat didepan lo, gue selalu tegesin ke diri gue sendiri kalau gue benci sama lo tapi kenapa saat didepan lo gue gak bisa benci, kenapa saat gue mikirin delapan tahun lalu hati gue sakit banget tapi pas gue denger suara lo, ketemu sama lo semuanya jadi tenang. Dareel, kenapa lo bikin gue kayak gini." Alana menangis menutupi wajahnya.
Alana tidak benar-benar membenci ku, "Hey, jangan menangis. Look at me, look at me, Alana." Ucap ku menghadap wajah Alana. "Kamu tidak benar-benar membenci ku, Al. Kamu masih mencintai ku, Al, beri aku kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya, dan kita sudah melakukannya, demi Tuhan aku gak akan pernah ninggalin kamu." Ucap ku meyakinkan Alana.
Lama Alana terus menatap mata ku dengan tatapan sendu, "Gue gak tau, reel, apa ini yang lo sebut kesempatan kedua tapi saat ini gue ngerasa kalau gue butuh lo." Jawab Alana pelan.
Aku kembali mencium bibir Alana, namun tidak lama Alana mendorong tubuh ku. "Punggung gue sakit, lo kaya orang kerasukan tau kasar banget." Ucap Alana melotot padaku.
Aku tertawa mendengar protesnya, "Yaudah besok pelan-pelan aja. Tapi kayak nya kalau kasar gitu malah seneng, siapa kemarin yang minta dicepetin?" Tanya ku membuat wajah Alana memerah seketika.
"Gak ada besok-besok. Si-siapa yang kayak gitu hah," jawab Alana berjalan kekamar mandi.
"Ngapain?" Tanya Alana saat aku hendak ikut memasuki kamar mandi. "Mandi berdua, menghemat waktu." Ucap ku menutup pintu dan menggendong Alana.
...TBC...
...******...
Vote dan komen ya gais 🙂
__ADS_1
Terima kasih 😊