Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
EMPAT BELAS


__ADS_3

...Tembok kalau kita pukul, kita yang sakit. Rindu juga begitu, kalau kita lawan, kita juga yang perih....


...♡♡♡...







Ethan POV


"Mau aku beliin permen coklat dari berbagai negara gak? Tapi ada syaratnya." Tanya ku pada Alana yang sibuk mencicipi coklat beraneka rasa itu. Masih sama seperti lima tahun lalu, coklat menjadi makanan favorit alana. Dan.. aku? Apapun yang ada pada alana adalah favorit ku.


"Mau, mauu.. Apa syaratnya?" Ucap alana menatap ku serius. "Menikah dengan ku," jawab ku spontan, Astaga... Apa yang ku ucapkan ini, bodoh Ethan. Aku mengatupkan bibir ku dan menatap alana yang kini sedang melongo di depan ku.


Namun, sedetik kemudian alana tertawa terbahak, dan mengibaskan tangan nya di hadapan ku. "Tuh kan, makin nyebelin isssh," ucap Alana masih tertawa. Aku tersenyum melihat alana tidak menganggap serius ucapan ku, tapi kenapa hati ku terasa sakit. Tidak Ethan, jangan membuat semuanya menjadi rumit.


"Kapan pulang lagi ke indonesia? Di amerika, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya alana mengganti topik, mulai serius. "Kemarin, kemarin aku baru dateng. Ya, semuanya baik-saja, perusahaan papa sedikit ada masalah makanya aku balik lagi kesini." Jawab ku menjelaskan pada alana.


"Apa yang bisa ku bantu? Aku bisa membantu kak." Tawar alana menatap ku sambil mengunyah permen coklat, menggemaskan sekali.


Aku menggeleng sebagai respon. "Tidak, kan udah ada kakak ku. Udah hampir selesai juga," jawab ku sekena nya. "Hem gitu ya, syukurlah kalau sudah membaik." Alana tersenyum lembut padaku. Tuhan.. senyum itu yang selalu ku rindukan setiap hari.


"Tapi kakak gak balik lagi kan ke Amerika? Maksud aku kan setelah tiga tahun, ini yang pertama kakak kembali ke indonesia. Jangan pulang dulu lah, Banyak yang pingin aku bicarain." Ucap alana.


Tunggu.. apa yang terjadi, aku melihat alana mengusap matanya. Apa dia menangis? aku berpindah duduk di sampingnya, "Hey, aku akan menetap beberapa hari. Al, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya ku mengusap punggungnya.


Alana mengangguk, "Baik-baik saja," jawab alana tersenyum lagi pada ku. Tidak, jika sudah seperti ini maka semuanya tidak baik-baik saja.


Memang selama tiga tahun di amerika aku tidak terlalu mencari tau keadaan alana di indonesia. Karena tujuan ku menetap di amerika untuk  menghilangkan rasa ini, aku hanya bertanya sedikit bagaima keadaan alana pada nattali.


"Aku sudah ada disini, al. Kakak mu sudah pulang, kapanpun kamu mau cerita, aku selalu siap. Semua yang terjadi padamu, katakan padaku." Benar dugaan ku, pasti telah terjadi sesuatu.


Dareel POV


"Lo yakin mau ngelakuin ini? Lo yakin minta tolong gue buat ngeretas keuangan perusahaan Surya Abraham?" Ucap Edwin menatap ku serius, yang ku balas dengan anggukan.


"Lo tau resiko apa yang bakal lo dapet, kalau lo gagal atau ketauan? Reel, gue tau lo hebat masalah beginian, tapi kan itu udah lama. Lo juga udah komitmen nggak mau lagi terlibat masalah kayak begituan. Gue takutnya nanti lo sama alana makin jauh, reel." Benar ucapan Dion, tindakan ini memiliki konsekuensi. Tapi aku tidak bisa diam melihat alana terluka setiap harinya, Apalagi hari pertunangan alana dengan vano semakin dekat.

__ADS_1


"Gue tau, gue udah janji ngejauhin tindakan kriminal kayak gitu. Tapi gue gak bisa liat alana terus-terusan di sakiti sama papanya. Kalau kehilangan harta bisa bikin surya abraham berubah, gue akan tanggung resiko nya." Ucap ku memberikan flasdisk berisi semua salinan dokumen keuangan perusahaan kepada Edwin.


"Oke, gue percaya sama lo. Gue akan bantu semaksimal mungkin, lo percaya sama gue. Lo tau kan gue ahlinya yang beginian, bobol sana bobol sini," ucap edwin tersenyum dengan gaya tengil nya.


Aku menatap Dion, "Percaya sama gue, kalo gue nggak ngelakuin ini alana gak akan bisa lepas dari permain bokap nya. Setelah masalah ini selesai gue akan bawa alana pergi jauh, gue akan ngelindungi dia." Ucap ku.


"Gue percaya, lo bisa jaga alana dan lo bisa beresin masalah ini, gue bantu apapun yang lo butuhin." Jawab Dion menepuk bahu ku.


"Oke, thanks win, thanks di. Gue butuh bantuan kalian, gue tau ini tindakan salah. Tapi cuma ini cara yang bisa gue lakuin buat alana. Win, lo bantu gue ubah semua dokumen perusahaan mereka. Masalah orang dalam, itu udah gue urus, disana ada beberapa orang yang akan nyalurin ke lo. Gue juga udah ada informan buat liat rencana-rencana surya abraham. Dan dion, lo bantu gue buat nyari investor yang berhubungan langsung sama perusahaan. Kita alihkan mereka ke perusahaan lain, gimana?" Ucapku menjelaskan pada Edwin dan Dion.


"Oke, serahin ke gue." Jawab Edwin menatap ku dan aku mengangguk sebagai respon. "Beberapa saudara gue jadi pemegang saham di cabang perusahaan, nanti coba gue nego, barang kali bisa ya kan. Dengan begitu mereka para investor mutusin kerja sama di perusahaan surya abraham. Selain itu kita perlahan juga buka kedok mereka dulu biar semua percaya kalau surya abraham mainin saham mereka." Ucap dion menjelaskan rinciannya padaku.


"Bener, bener. Gue mohon bantuan kalian, bro." Ucap ku menatap serius pada Edwin dan Dion bergantian, mereka balas dengan memeluk ku. Sahabat-sahabat ku ini.. memang tidak pernah berubah, aku tersenyum.


Dulu, saat sebelum kami menjadi dosen, kehidupan kami bertiga tidak jauh dari lingkungan kriminal. Sehingga sekarang tidak sulit bagiku  menggunakan sedikit cara kotor untuk melawan Surya Abraham.


Namun setelah kami dewasa dan memasuki perguruan tinggi, kami memutuskan untuk meninggalkan dunia kotor itu. Terutama Dion, setelah bertemu dengan Natt sikapnya sangat berubah dan sama sekali tidak tersentuh oleh dunia kotor itu lagi.


Berbeda dengan Edwin yang hingga kini masih mengikuti balapan liar, salah satu kegiatan dari lingkungan itu. Namun aku tau, itu hanya sebagai pelampiasannya. Edwin juga sudah banyak berubah, aku tersenyum mengingat sedikit momen kami saat dulu.


"Lo gak sikatan ya,? Mulut lo bau banget, sumpah." Ucap Dion pada Edwin dan melepas pelukan kami. "Ya kali mulut orang ganteng bisa bau, bego lu." Jawab Edwin mendorong Dion. Lihatlah, dua orang berusia dua puluh enam ini yang seperti bocah empat tahun jika sudah berdebat.


Aku duduk di kursi menyantap camilan, sambil menunggu kelas mata pelajaran ku di mulai. Dan pastinya juga mendengarkan Edwin dan Dion yang saling mengumpat, aku menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua.


"Sial, bagaimana bisa Alana merekam ku dan menyimpan video gila ini." Aku menatap layar ponsel yang menyala saat menampilkan pesan masuk.


Alana


Lo mau video ini amankan sama gue? Yaudalah, ikutin aja yang gue suruh. Gampang kan, tinggal bilang ke orang tua loh buat batalin perjodohan konyol ini.


Vano


Lo gue? Semenjak kapan kamu pakai bahasa gitu ke aku? Aku calon tunangan kamu!


Alana


Eh lo pikir gue gak tau yang lo lakuin malam itu di pesta, lo kan yang masukin obat itu ke minuman gue. Tapi keburu pacar lo dateng, jadi lo mainnya sama pacar gak jelas lo itu.


Vano


Pokoknya hapus video itu, kamu taukan minggu ini presentasi perusahaan kamu menurun. Kamu gak mau kan papa kamu tau masalah ini?


Alana

__ADS_1


Lo juga pasti gak mau kan semua orang tau kelakuan lo , anak tunggal keluarga kaya tapi kelakuannya absur banget? Terutama bokap lo


Vano


Al.. apa kamu harus melakukan sejauh ini?


Alana


Ya tergantung, semua ada di tangan lo, gimana keputusan lo. Gue punya banyak salinan video ini, cepet batalin pertunangan minggu depan kalau lo gak mau ini tersebar!


Aku membanting ponsel ku, ah sial. Berani sekali Alana melakukan ini, dia mengancam ku. "AAARRGGG" Teriak ku mengacak rambut, sial sial sial.


Bagaimana caranya aku bisa membatalkan pertunangan ini dan video itu tidak boleh sampai tersebar. Aku harus memikirkan cara agar bisa menghilangkan video itu, bagaimapun caranya.


Alana POV


Keesokan harinya aku merasa tubuh ku semakin membaik, jadi ku putuskan untuk kembali bekerja. Aku tidak bisa meninggalkan tugas ku sebagai manager disini, meskipun saat ini aku sangat enggan bertemu dengan dua orang itu.


"Selamat pagi bu, saya sangat senang mendengar kabar kondisi anda telah membaik." Ucap Mirai berdiri menyambut ku, dia asisten manager sekaligus rekan team ku.


"Pagi mirai, astaga.. sudah berapa kali aku bilang, panggil aku biasa saja. Panggil alana atau kakak, ya kali ibu." Aku tersenyum menggelengkan kepala. Mirai memang lebih muda dari ku tiga tahun, dia anak yang sangat formal dan pendiam karena sangat menghargai ku sebagai atasannya, mungkin.


Terkadang aku sampai geli sendiri melihatnya, namun Mirai anak yang sangat menyenangkan. Di perusahaan ini, dia lah yang paling sering ku ajak bicara maupun makan siang. Ya begitulah... aku jarang berbaur dengan yang lainnya dan aku tidak suka terlalu banyak bicara.


"Tapi saya sungkan kalau... ." Aku melotot sebelum dia menyelesaikan ucapannya. "Baiklah, kak alana," lanjutnya tersenyum padaku. "Bagus, yasudah aku kedalam dulu. Ah iya nanti bantu aku untuk mengamati pengeluaran bulan ini." Ucap ku pada mirai. "Baik, kak." Jawab mirai.


*


Aaahhh.. Sangat melelahkan hampir empat jam aku berkutat didepan laptop ini tentunya dengan bantuan mirai juga, kalau tidak, bisa-bisa aku menyelesaikan ini hingga enam sampai tujuh jam.


Aku berdiri dari kursi ku dan mengecek ponsel ku, ah iya, kemarin malam setelah ethan pulang dari rumah ku. Aku memberanikan diri mengancam Vano, aku mengatakan bahwa aku memiliki bukti video asusila dirinya dengan kekasihnya itu.


Video itu adalah cara agar aku bisa terlepas dari perjodohan konyol itu. Namun aku masih ragu apakah vano si lelaki hidung belang itu benar-benar akan membatalkan perjodohan ini. Vano sangat takut pada papa nya, tidak mungkin dia akan membatalkan perjodohan ini secara sepihak.


Vano pasti memiliki cara lain, dia pasti mengincar  video ini, tapi aku memiliki banyak salinannya. Namun tetap saja aku harus waspada, aku tau Vano itu lelaki seperti apa.


...TBC...


...*****...


Vote and Comen yaa guys 😊


Terima kasih 🙂

__ADS_1


__ADS_2