
...Tidak semua orang layak ditunggu, dan Tidak semua orang layak mendapatkan kesempatan kedua...
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
Alana POV
Keesokan harinya aku merasa tubuh ku semakin membaik, jadi ku putuskan untuk kembali bekerja. Aku tidak bisa meninggalkan tugas ku sebagai manager disini, meskipun saat ini aku sangat enggan bertemu dengan dua orang itu.
"Selamat pagi bu, saya sangat senang mendengar kabar kondisi anda telah membaik." Ucap Mirai berdiri menyambut ku, dia asisten manager sekaligus rekan team ku.
"Pagi mirai, astaga... Sudah berapa kali aku bilang, panggil aku biasa saja. Panggil alana atau kakak, ya kali ibu." Aku tersenyum menggelengkan kepala. Mirai memang lebih muda dari ku tiga tahun, dia anak yang sangat formal dan pendiam karena sangat menghargai ku sebagai atasannya, mungkin.
Terkadang aku sampai geli sendiri melihatnya, namun Mirai anak yang sangat menyenangkan. Di perusahaan ini, dia lah yang paling sering ku ajak bicara maupun makan siang. Ya begitulah... aku jarang berbaur dengan yang lainnya dan aku tidak suka terlalu banyak bicara.
"Tapi saya sungkan kalau..." Aku melotot sebelum dia menyelesaikan ucapannya. "Baiklah, kak alana," lanjutnya tersenyum padaku. "Bagus, yasudah aku kedalam dulu. Ah iya nanti bantu aku untuk mengamati pengeluaran bulan ini." Ucap ku pada mirai. "Baik, kak." Jawab mirai.
*
Aaahhh.. Sangat melelahkan hampir empat jam aku berkutat didepan laptop ini tentunya dengan bantuan mirai juga, kalau tidak, bisa-bisa aku menyelesaikan ini hingga enam sampai tujuh jam.
Aku berdiri dari kursi ku dan mengecek ponsel ku, ah iya, kemarin malam setelah ethan pulang dari rumah ku. Aku memberanikan diri mengancam Vano, aku mengatakan bahwa aku memiliki bukti video asusila dirinya dengan kekasihnya itu.
Video itu adalah cara agar aku bisa terlepas dari perjodohan konyol itu. Namun aku masih ragu apakah vano si lelaki hidung belang itu benar-benar akan membatalkan perjodohan ini. Vano sangat takut pada papa nya, tidak mungkin dia akan membatalkan perjodohan ini secara sepihak.
Vano pasti memiliki cara lain, dia pasti mengincar video ini, tapi aku memiliki banyak salinannya. Namun tetap saja aku harus waspada, aku tau Vano itu lelaki seperti apa.
Ada panggilan tidak terjawab dari Nattali dan Dareel. Tiba-tiba aku teringat kemarin, Dareel bilang dia kan menemui ku lagi saat pekerjaannya di kampus selesai. Namun sampai malam dia tidak datang ke apartement ku, bahkan dia tidak menghubungi ku sama sekali.
Namun lebih baik begitu, karena kemarin Ethan di apartement ku sampai malam. Kami keasikan mengobrol dan bercerita tentang kehidupan ethan selama diamerika. Akan terjadi hal yang buruk bila Ethan tau bahwa Dareel telah kembal karena ethan tau segalanya mengenai Dareel,
"Ada apa kak? Maaf, aku tidak kedengaran kalau ada panggilan masuk tadi." Ucap ku saat menelfon Nattali.
"Ah kamu ini, bagaimana kabarmu? Apa demam mu sudah turun? Astaga Al, bagaimana bisa tidak mengabari ku." Ucap Nattali terdengar kesal disana.
__ADS_1
"Pasti kata Ethan ya kan?" Tidak ada jawaban dari Nattali
"Oke deh, maaf kak. Bukannya kaya gitu, kan udah ada bibi yang jagain aku. Kakak sekarang kan lagi sibuk banget, gak tega juga aku ganggu kakak. Lagian sekarang aku udah baikan kok, beneran." Ucapku pada Nattali, tidak mungkin aku mengatakan bahwa yang merawatku saat demam adalah Dareel.
"Beneran udah baikan? Syukur deh kalau gitu," Suara Nattali terdengar lega.
"Kak, Ethan udah mampir gak ke rumah kamu? Yuk kumpul-kumpul, yuk. Itung-itung buat acara penyambutan kepulangan dia," ajak ku
"Belum, kamu pasti yang pertama yang di samperin ethan saat pulang. Oke, ayo kapan? Kita bikin pesta bakar-bakaran gitu gimana?" Terdengar suara antusias Nattali di telfon.
"Siip, ide bagus. Yaudah nanti aku bilang ke ethan, kakak juga bantuin bilang ke dia. Tau sendirikan ethan susah banget di ajak pesta," Ucap ku tekekeh.
"Siaplah, itu mah gampang".
Kami berbicara panjang di telfon, namun tiba-tiba "Alana, apa kamu pikir papa sudah menyerahkan semua aset kepadamu sehingga kamu bisa bekerja sesuka mu, begitu?" Teriak papa saat memasuki ruang kerja ku.
Aku mematikan telfon ku, "Aku tidak butuh aset apapun darimu, bahkan jika kamu memecat ku detik ini, aku tidak peduli sama sekali." Ucap ku kembali duduk dan menyesap jus jeruk.
"Berhenti bersikap konyol Alana, kamu harus memeriksa semua dokumen. Minggu ini keuangan perusahaan menurun, dan para inventor juga sedang memprotes kerja kita." Papa terlihat sangat khawatir dengan perusahaan ini, aku tersenyum.
"Apa baru sekarang merasa khawatir dengan perusahaan? Bukankah hari-hari biasanya hanya bermain dan bermain dengan semua wanita? Tidak perlu repot-repot memikirkan semua ini, karena perusahaan ini berawal dari sebuah kesalahan pasti akan berakhir juga dengan kesalahan. Begitulah hukum alam berkerja," ucap ku enteng, memainkan ponsel ku.
Papa merebut ponsel ku dan memelemparnya ke sofa, "Pertunangan mu akan papa ajukan, empat hari lagi kamu akan bertungan. Perusahaan ini membutuhkan kekuatan untuk menampung semua kerugiannya, dan kekuatan itu adalah perusahaan keluarga vano. Persiapkan dirimu dan berhenti membuat ulah." Ucap papa lalu meninggalkan ruangan kerja ku.
*
Suara musik sangat terdengar bising, aku melihat Nattali menuangkan minuman ke gelas. Astaga.. padahal di antara kita bertiga, Nattali lah yang tidak bisa minum terlalu banyak. Tapi lihatlah sudah minum hampir satu botol, aku menggelengkan kepala.
Ya, kami bertiga berada di club untuk merayakan kepulangan Ethan ke indonesia. Ethan, aku dan nattali sudah berada di tempat ini tiga jam lalu, sangat tidak terasa kami keasikan mengobrol.
"Yok, yok gaes, chers." Ucap Nattali mengakat gelas minuman, aku hanya terkekeh melihatnya seperti ini. "Apa selama ini sikap nya tidak berubah? Sok banyak minum, padahal juga gak kuat mabuk." Ethan menyentil kening Nattali yang kini setengah sadar.
"Eh kalian tau, akhir-akhir ini tuh aku sibuk banget. Ya kerja lah, belum lagi nyiapin persiapan pernikahan. Dion juga sibuk banget dia, mana sempet ada waktu buat happy happy gini." Ucap Nattali tersenyum lebar.
"Udah kak, udah tiga gelas loh. Awas nanti pulang kalo ngerepotin aku." Aku mengambil gelas nattali saat dia akan menuangkan minuman lagi.
"Yaudah, nyemil aja deh, noh sambil liat orang joget." Nattali melirik ku malas, yang ku balas dengan gelengan kepala.
"Kamu gak minum? Dari tadi perasaan cuma pesen minuman biasa," ucap Ethan memberiku gelas berisi minuman yang tadi akan nattali minum.
"Minum sih, cuma ngurangi sedikit aja kebiasan minum." Jawab ku menerima minuman yang Ethan berikan pada ku, dan meminumnya. "Al, sejak kemarin aku lihat, banyak yang berubah. Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?" Tanya Ethan lagi.
Aku melirik Nattali yang sekarang terlelap di sofa samping ku. "Aku tau apa yang terjadi sama kamu, masalah papa kamu dan masalah pertunangan itu kan?" Tanya ethan lagi, kali ini menatap ku serius.
__ADS_1
"Hmm, aku memikirkan bagaimana cara aku mengakhiri pertunangan sialan itu." Ucap ku pada ethan. Aku menuangkan minuman lagi ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis, aku sangat kesal bila membahas tentang ini.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan, Al. Aku akan melakukan apapun, aku bisa melakukan apapun untuk menghentikan pertunangan itu." Ucap Ethan.
Tidak, aku tidak boleh melibatkan Ethan dalam masalah ini. Setelah dua tahun akhirnya dia kembali ke indonesia, itupun karena ada masalah dengan perusahaan papanya. Aku tidak busa membuat Ethan semakin susah dan terbebani oleh masalah ku.
"Aku sudah memiliki beberapa cara untuk menghentikan ini, jangan terlibat apapun dengan mereka, kak. Apalagi papa, jangan menyentuh apapun yang telah menjadi keputusannya. Percayalah, aku akan menyelesaikan ini secepatnya dengan baik. Tetaplah berada disini, kamu dan nattali." Ucap ku menatap sendu Ethan.
Ku lihat Ethan menghembuskan napas, "Al, kamu selama ini sudah melewati semuanya sendiri. Sekarang aku disini, aku bisa melakukan apapun untuk membantu mu."
"Berjanjilah untuk tidak terlibat dengan masalah ku ini!" Ucap ku mengarahkan jari kelingking ku di depan Ethan. "Apaan," Ethan mendengkus mengalihkan tatapannya.
Aku tertawa melihat Ethan yang merajuk seperti ini. Saat aku sedang menggoda Ethan, mataku tidak sengaja mengarah kepada dua orang yang sedang menari. Terlihat wanita itu sedang mabuk dan sepertinya aku mengenali lelakinya.
Mereka berdua berjalan keluar meninggalkan club, entah apa yang membuatku begitu penasaran hingga aku mengikuti mereka berdua. "Bentar, aku ke kamar mandi," ucap ku pada Ethan.
Saat berada di luar aku tidak menemukan mereka berdua, kemana perginya mereka. Aku menggaruk kepalaku, aku pasti tidak salah lihat, sepertinya aku mengenali lelaki itu. Tapi siapa ya? Dareel? Apa mungkin itu Dareel? Tidak, tidak. Dareel sangat anti berada ditempat seperti ini, batin ku.
Aku berjalan menuju mobil Ethan yang terpakir di area club ini, aku akan mengambil jaket Nattali yang tertinggal disana. Saat aku sampai didepan mobil Ethan, ternyata dua orang yang aku lihat tadi berada di dalam mobil yang terparkir tepat di samping mobil ethan.
Aku mendekati mobil berwarna merah itu. Benar dugaan ku, lelaki itu Dareel. Hati ku rasanya seperti di pukul melihat Dareel berciuman dengan wanita itu di dalam mobil tepat didepan ku. Bahkan tiga kancing atas pakaian wanita itu terbuka menampilkan belahan dadanya, lalu mata ku melihat Dareel mencium wanita itu dengan mata tertutup.
Tidak alana, kau seharusnya tidak melihat ini. Kau seharusnya pergi, cepat alana pergilah. Otak ku berkata demikian, namun kaki ku masih terpaku melihat adegan berciuman ini. Tanpa terasa air mata ku menetes, dan dengan cepat aku menghapusnya.
Aku berbalik dan dengan segera berjalan kembali memasuki club. Persetan dengan siapa Dareel berciuman, apa yang mereka lakukan aku tidak peduli, itu bukan urusan ku. Bagiku Dareel hanyalah masalalu, dia orang asing bagiku. Dia yang membuatku hancur, seharusnya aku membenci Dareel. Ya, aku sangat membencinya, namun kenapa rasanya sangat sesak melihatnya berciuman dengan wanita lain. Sial.
"Kak, ini sudah malam, apa kita akan pulang sekarang?" Tanya ku pada Ethan setelah sampai. "Kau mau pulang? Baiklah ayo, aku akan mengantar kalian." Ucap Ethan menarik tangan Nattali dan membantunya berjalan. Aku memakaikan jaket di bahu Nattali, pikiranku masih terpaku pada kejadian tadi.
Dareel, lo bilang lo tetep dareel yang dulu. Setiap lo ada di samping gue, gue ngerasain rasa delapan tahun lalu. Semua perhatian yang lo beri ke gue akhir-akhir ini mulai membuat gue goyah dan bikin gue perlahan sedikit melupakan rasa sakit yang dulu lo beri.
Tapi, apa yang gue lihat barusan itu? Apakah selama delapan tahun ini membuatmu berubah? Apa lo deketin gue lagi karena rasa bersalah lo?
Bodoh Alana, seharus sejak awal jangan membiarkan Dareel masuk lagi di kehidupan lo. Lo mau hancur lagi untuk kesekian kalinya? Sekali brengsek akan tetep brengsek, ingat itu alana, Ucapku pada diriku sendiri.
Aku melirik Ethan yang tengah fokus menyetir di samping ku dan Nattali yang tertidur di kursi belakang. Kau memiliki dua sahabat, kau bisa bahagia dengan kedua sahabat mu ini, jangan mengingat apapun yang membuatmu hancur. Ucapku lagi dalam hati, aku memejamkan mataku berharap sesak ini akan berakhir.
...TBC...
...*****...
Vote dan komen yaa teman² 🙂
Terima kasih 😊
__ADS_1