Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
DELAPAN BELAS


__ADS_3

...Apakah aku boleh menganggap dia milikku selamanya? Jangan, kau boleh mencintainya tapi dia bukan milikmu, berhentilah menyiksa hatimu!...


...♡♡♡...







Alana POV


Aku menatap Dareel yang kini sedang menyiapkan bahan-bahan didapur. Aku menunduk melihat bekas kemerahan di dada ku, aku telah melakukannya dengan Dareel. Aku memberikan hal terpenting seorang wanita kepada Dareel.


Bagaimana selanjutnya, aku juga tidak tahu. Aku juga tidak tahu apa yang kini aku rasakan, apakah aku menyesal atau malah bahagia karena memberikannya pada Dareel.


Bagaimana pun ini tidak benar, sedari awal hubungan kami tidak baik-baik saja. Mengapa aku percaya dengan Dareel, setelah dia meninggalkan ku dan datang kembali. Alana... kenapa kau mudah di kalahkan oleh perasaan mu, ingatlah, setiap kau hancur itu karena kau terlalu lemah dan perasaan mu lah yang bertanggung jawab. Rutuk ku dalam hati


"Al, bahan makanannya kurang, apa perlu kita belanja dulu?" Suara dareel dari dapur membuyarkan lamunan ku. "Ah ya, gue lupa memesan bahan masakan. Kemarin dan hari ini bibi sedang ijin, gue lupa." Ucap ku.


"Apa kita delivery saja?" Tanya dareel berjalan menghampiri ku. Aku hanya mengangguk sebagai respon,  "Baiklah, kamu mau makan apa?"


Setelah menunggu beberapa saat, makanan yang dipesan dareel telah sampai. Kini kami berdua berada di meja makan, aku melirik kearah dareel yang telah menghabiskan makanannya.


"Al, boleh aku meminta sesuatu padamu?" Tanya dareel saat aku telah menyelesaikan makan ku juga. "Apa?" Tanya ku meneguk air putih, "mulai sekarang panggil aku kamu ya, jangan lo gue. Aku bukan orang asing buat kamu, bahkan sekarang aku bertanggung jawab atas diri kamu. Bisakan?" Ucap dareel menatap ku.


Aku menggangguk dan melanjutkan memakan puding, "Bertanggung jawab atas diri gue? Maksud lo apa?" Tanya ku pada dareel yang sedari tadi tidak berhenti menatapku.


"Barusan kamu setuju panggil aku kamu, kok lo gue lagi?" Dareel balik menanya ku. "Kalau lo gak jelasin ya gue tetep gitu manggilnya" ucap ku tak mau kalah.


"Aku tidak pernah bermain-main dengan hubungan, Al. Kita telah sampai sejauh ini dan aku gak akan melepaskan mu semudah itu." Aku menatap dareel diam, tiba-tiba aku memikirkan papa, bagaimana jika papa tau apa yang terjadi pada ku dan dareel.


"Oke, aku kamu, mulai sekarang aku kamu, fine." Ucap ku melanjutkan memakan puding tadi yang tertunda. "Apa kamu menganggap ini lelucon?" Ucap dareel pelan, namun saat aku menoleh raut muka dareel seperti menuntut penjelasan.


"Enggak, aku gak bercanda." jawab ku menekan kata Aku. "Cuma sedikit bingung aja, hubungan seperti apa yang kamu maksud. Antara kita bukankah sudah berakhir delapan tahun lalu?" Lanjut ku balas menatap dareel.


"Aku sekarang disini dan aku akan memulainya lagi. Meskipun ribuan kali pertanyaan itu keluar dari mulut kamu, akan tetap menjawab dengan jawaban yang sama. Mau atau tidaknya kamu, aku akan tetap menjaga milik ku." Dareel berdiri dan berjalan ke dapur setelah mengatakan pernyataan panjang itu.

__ADS_1


Aku menyusul dareel, "Hubungan yang kamu maksud itu, hubungan yang kamu lakukan kepada siapa saja?" tanya ku pada dareel yang kini sedang mencuci tangan. "Kepada siapa saja?" Ulang dareel menatap ku bingung.


Aku tersenyum mengalihkan pandangan ku, "One night stand? Pernah dengar? Apa hubungan seperti itu yang kamu maksud?" Aku bertanya pada dareel yang kini menatap ku tajam.


"Yang kita lakukan kemarin apakah aku terlihat seperti mempermainkan mu? Apa kamu tidak merasakan bagaimana aku memperlakukan mu?" dareel menggeleng dan berlalu meninggalkan ku.


Aku mengusap wajah ku, lagi-lagi aku melukai perasaannya. Namun ini yang harus ku lakukan, dareel serius mengatakan bahwa tidak akan melepaskan ku lagi. Tapi bagaimana jika papa tau semua ini, aku tidak mau dareel dan pamannya tersakiti lagi seperti delapan tahun lalu.


Aku melihat dareel turun dari lantai dua, dia mengambil kunci mobilnya yang ada dikamar ku. Sepertinya dareel akan pulang, "Aku pulang, dan perkataan mu tadi, aku menganggap kamu tidak mengatakan apapun tadi. Jangan mengatakan itu, bahkan untuk melihat wanita lain saja aku tidak tertarik." Ucap dareel mencium kening ku dan pergi berlalu.


Aku melihat ponsel ku yang bergetar, Cepat datanglah ke kantor, ini penting. Dan bawahlah semua data inventor saham kita, Tulis isi pesan tersebut. Ada apa papa mendadak menyuruh ku datang di hari minggu seperti ini.


*


"Apa ada masalah? Apa yang terjadi?" Ucap ku setelah sampai di kantor. Ku lihat ada 7 orang yang datang dari beberapa bagian di perusahaan ini, dan kulihat papa sedang berjalan kesana kemari dengan gelisah.


Papa melemparkan beberapa berkas dokumen di meja hadapan ku. Aku duduk dan membaca satu persatu dokumen itu, aku tercengang, mengapa dalam satu bulan ini saham perusahaan menurun, bagiamana bisa.


Sebelumnya tidak pernah terjadi masalah semacam ini, apalagi menurunnya saham dan di tambah lagi beberapa kolega menarik lagi perjanjian kerja sama, apa yang sedang terjadi sesungguhnya.


Aku menatap satu persatu karyawan yang ada di ruangan ini, "Tidak mungkin masalah seperti ini bisa terjadi tanpa terlibatnya orang dalam, ini masalah yang terperinci dan hanya orang di perusahaan ini yang mengetahui saham dan rencana kita kedepannya, pasti ada kesalahan." Ucapku memikirkan kemungkinan ada yang membocorkan beberapa informasi kepada perusahaan pesaing.


*


"Apalagi?" Tanya ku dengan malas, "Kenapa melibatkan ku dan menjadikan ku jaminan? Apakah aku selalu menjadi boneka yang harus menuruti semua mau mu, begitu?" Tanya ku, saat papa akan mengatakan sesuatu aku segera keluar dan pergi.


Rasanya sakit sekali mengingat aku tidak pernah bisa menentukan jalan hidup ku sendiri.


Ethan POV


Aku tidak sengaja melewati perusahaan Alana, dan ku lihat alana berjalan hendak menyebrang jalan. "Alana," Teriak ku melambaikan tangan.


Aku berhenti di samping jalan dan Alana menghampiri ku, "Kak, dari mana?" Tanya Alana tersenyum padaku. "Masuklah, kamu gak bawah mobilkan?" Aku menyuruh alana masuk kedalam mobil dan mengantarnya pulang.


"Cuma jalan-jalan aja sih, gak sengaja tadi liat kamu. Daripada naik taksi, mending aku anterin pulang," kata ku setelah alana masuk dan memakai sabuk pengamannya.


"Jalan-jalan apa habis ketemu pacar nih? Ceritain dong udah punya pacar kan." Ucap alana tersenyum mendekatkan wajah nya pada ku.


"Pa-pacar apa? Udah duduk yang bener, kayak bocah." Ucap ku mendorong kening Alana. "Ya ya," Alana menyilangkan tangan dan menghadap depan namun masih melirikku.


"Apa?" Tanya ku saat dia tidak berhenti menatap ku, "Kata Nattali, kakak mau kenalin pacar kakak ke aku. Kapan?" Ucap Alana. Sial, apa yang nattali katakan pada alana.

__ADS_1


"Apa yang nattali katakan padamu? Benar-benar biang onar," ucap ku, namun alana malah tertawa. Aku melirik alana dari kaca, aku juga ikut tersenyum dan tanpa sadar aku mengusap rambutnya.


"Habis ini waktu untuk makan siang, mau makan masakan jepang? Teman ku dari amerika menikah sama orang jeoang dan buka restoran di sekitar sini." Aku menjelaskan pada Alana, ku lihat dia sangat tertarik karena alana menyukai masakan jepang.


"Wah, aku baru tau loh kalo ada restoran baru di daerah ini. Mau... Ayok, kak," ucap Alana tidak bisa diam, aku menggeleng melihatnya.


"Terlalu sibuk bekerja juga baik, sampai gak tau kalau ada restoran favorit kamu di sekitar sini." Ucap ku pada Alana. "Kakak juga, di amerika sibuk kerja banget sampek lupa sama negara sendiri." Ucap Alana menatap ku sinis.


Benar, aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan saat di amerika namun aku tidak pernah bisa melupakan negara ini, lebih tepat tepatnya aku tidak bisa melupakan salah satu warganya yang kini duduk disamping ku.


*


"Kamu yang pilih mau pesen yang mana." Aku memberikan buku menu kepada Alana. "Oke," ku lihat Alana tampak bahagia, namun aku tau saat ini dia sedang memikirkan banyak hal salah satunya adalah penurunan perusahaannya dan pertunangan yang di adakan lusa.


Setelah menunggu beberapa menit, makanan yang kami pesan datang. Alana memesan Washoku, makanan khas tradisional jepang yang terdapat nasi, sayur, sup, salad dan aneka acar. Begitu juga dengan ku yang memesan makanan yang sama, karena aku dan alana sama-sama pecinta Washoku.


...



...


"Kak, bentar ya aku kekamar mandi." Alana berdiri. "Hemm, oke," jawab ku mengangguk, namun tiba-tiba ponsel Alana yang berada diatas meja bergetar dan menampilkan nama yang tidak asing untuk ku.


Dareel, aku mencoba mengingat nama itu namun sepertinya aku benar-benar lupa. Aku mengabaikan panggilan pada ponsel Alana meskipun aku sangat ingin tahu, kenapa lelaki ini menelfon Alana berulang kali.


Ku berani kan diri untuk melihat pesan masuk pada ponsel Alana yang di kirim oleh lelaki bernama Dareel itu. Sepertinya nanti aku tidak bisa datang ke apartement mu, maaf, Al. Tapi aku sudah mengirimkan hadiah dan beberapa camilan untuk mengisi kulkas. I love you more than anything


Apa yang lelaki ini bicarakan, datang ke apartement? Hadiah untuk Alana? Dan I love you? Ada hubungan apa diantara mereka berdua, mengapa dari kemarin Alana tidak mengatakan apapun padaku.


Tidak selesai aku memikirkan apa yang terjadi, lelaki bernama Dareel itu mengirimkan pesan lagi. Dan tolong jangan mengabaikan telfon ku, aku ingin menjadi bagian dari hidup mu lagi. I miss you 😚 


Dareel, dareel, dareel... siapa lelaki ini, namanya seperti tidak asing. Seperti aku pernah mendengar namanya, dengan cepat aku menyalin nomer telfon dareel ke ponsel ku.


Aku melihat alana berjalan mendekat kearah ku, aku tersenyum dan meletakkan ponselnya lagi. Al, apa yang kamu sembunyikan dari ku, apa kamu sudah memiliki kekasih? Apa kepulangan ku kini menjadi sia-sia?. Tanya ku dalam hati


...TBC...


...*****...


Vote dan komen ya gaiss 🙂

__ADS_1


Terima kasih 😊


__ADS_2