Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
EMPAT PULUH


__ADS_3

...Bintang yang sama tidak akan datang untuk kedua kalinya. Jika datang pun, maka sinar nya tidak akan sama lagi...


...♡♡♡...








Alana POV


Aku menggeliatkan tubuh ku, kurasa ini sudah siang. Ah benar saja, sekarang pukul 10:15. Lama sekali aku tertidur, aah.. perutku sangat lapar. Aku turun dari ranjang dan menyadari kini aku memakai piyama, ah aku ingat sekarang.


Kemarin saat pulang dari pemakan papa, aku memasuki kamar dan kepala ku sangat pusing lalu semua menjadi gelap, ya aku pingsan. Lalu apakah dareel yang menggantikan pakaian ini.


Ah apa peduli ku, toh dia sudah melihat semuanya. Aku berjalan menuju kamar mandi. "Morning baby, ah maaf mungkin kemarin mommy kecapean. Tapi apa kamu baik-baik saja?" Aku mengusap perutku didepan lemari.


Entah mengapa mengobrol seperti ini sangat menyenangkan, meskipun belum nampak terlihat tapi dia benar-benar ada didalam tubuh ku dan aku merasakan itu.


"You strong baby," aku tersenyum memperhatikan perutku yang masih rata. Baiklah, setelah mandi aku akan kebawah dan mengatakan semuanya pada dareel. Dareel juga harus tau, baby adalah anak kami.


Aku mulai menyalakan sower dan membersihkan tubuh ku. Pagi, pa. Doa kan aku menjadi wanita yang kuat, aku sedang mengandung cucumu. Aku harap kau disana, memberkati cucumu. Ucapku dalam hati


*


Aku menuruni anak tangga dengan hati-hati, tunggu... bau apa ini? Aaah, sepertinya bau masakan ini berasal dari dapur. Aku berjalan menuju dapur dan benar saja banyak sekali berbagai makanan diatas meja makan.


"Pagi, bagaimana tidur mu? Apa masih mual?" Dareel memelukku dan menuntun ku untuk duduk di kursi. "Udah mendingan, Makanan sebanyak ini?" Aku menatap bingung dareel yang dengan semangat menuangkan sup untuk ku.


"Dareel.. kemarin malam--" Ucapan ku terpotong saat tiba-tiba dareel menatap ku tajam. "Makanlah yang banyak setelah itu jelaskan semuanya padaku, heemm." Dareel mengusap pipi ku.


"Jelaskan--" gumam ku pelan. Ap-- apa dareel tau kalau aku hamil? Bagaimana kalau dia marah, memikirkan itu membuat kepala ku berdenyut.


Setelah selesai makan kami berdua berada di ruang tamu. Saat ini aku duduk dihadapan dareel yang menatap ku intens seolah-olah menuntut ku. "Kamu gak tanya apa-apa gitu ke aku?" Aku memberanikan diri memulai pembicaraan.


"Tanya apa? Bukankah kamu yang seharusnya menjelaskan semua?" Dareel bertanya balik padaku. Baiklah, aku akan mengatakan semuanya. "Aku telat mendapatkan tamu bulanan-- maksud ku, sebelum keberangkatan kita ke amerika aku merasakan sesuatu yang berbeba. Lalu--" Bagaimana aku menjelaskan ini.


"Lalu?" Dareel mendekatkan wajahnya padaku. "Aku hamil, dareel." Ucapku setengah berteriak, dareel sangat menakutkan jika seperti. Aku membuka mata ku saat mendengar tawa dareel.

__ADS_1


"Maaf, maaf membuatmu takut. Kemarilah!" Dareel menepuk tempat kosong disampingnya. Aku menurut dan duduk disampingnya. "Kemarin malam saat kamu gak sadarkan diri, aku panggil dokter. Dan saat itu aku tau kamu hamil, bibi juga sudah mengatakan semuanya. Sebelum keberangkatan kita ke amerika kamu sudah mengetahui itu." Ucap dareel.


"Aku tau kenapa kamu gak langsung bicara tentang kehamilan ini. Tapi apapun itu alasannya, sekarang yang terpenting kesehatan kamu dan baby." Dareel mengusap rambut ku.


"Karena kamu cantik, aku memaafkan mu. Tapi ku mohon, setelah ini katakan semuanya padaku. Sekecil apapun itu masalahnya, aku ingin menjadi orang pertama yang mendengarkan mu." Ucap dareel lagi.


"Pernikahan kit--" Ucapan dareel berhenti saat aku melepas genggaman tangannya. "Pernikahan?" Ucapku tanpa sadar memotong perkataan dareel.


"Why alana?" Tanya dareel. "Apa kamu masih takut? Apa kamu masih berpikir bahwa pernikahan itu menakutkan?" Lanjut dareel menatapku lekat-lekat.


"Bahkan setelah ada baby diantara kita dan kamu masih berpikir untuk tidak terikat oleh pernikahan?" Tanya dareel lagi. "Dareel... bukan itu maksud ku." Aku menggelengkan kepala dan memalingkan wajah dari dareel.


"Lalu apa lagi alana?" Dareel menatapku tajam. "Aku tidak akan menerima alasan apapun jika itu sudah menyangkut anak ku, aku akan menikahi kamu-- secepatnya." Ucapnya mengusap pipi ku.


"Aku juga tidak akan memberikan alasan apapun jika menyangkut anak ku." Ucapku. "Aku ingin yang terbaik untuk kamu dan anak ku." Ucap dareel menatap ku.


"Kamu dari tadi bilang 'anak ku' terus, baby juga anak ku, dareel." Aku bergeser menjauhi dareel, seharusnya dia menyebut 'anak kami' tapi dari tadi dia terus berkata 'anak ku', sangat menyebalkan.


"Karena aku yang membuatnya," dareel mengusap perut ku. "Tapi aku yang akan mengandungnya, tunggu-- aku juga ikut membuatnya." Ucapku tak mau kalah, dareel benar-benar sangat menyebalkan.


"Tapi aku yang lebih banyak bergerak, kamu--" ucap dareel lagi. "Bergerak? A-- aku juga banyak bergerak." Dareel tersenyum mengacak rambutku.


"Tetap saja, aku yang mengeluarkan nya dan akhirnya jadilah baby." Ucap dareel menekan pipiku dengan kedua tangannya.


"Aku yang akan mengandungnya, aku akan membawanya kemana-mana. Baby akan ikut memasak dengan ku, balanja, olahraga, tidur dengan ku, bahkan mandi pun baby ikut bersama ku. Kamu mau apa?" Ucapku dengan satu tarikan.


Aku menatap dareel sewot dan itu semakin membuat dareel tertawa keras. "Besok kita pergi kedokter buat cek kehamilan setelah itu aku akan urus keperluan pernikahan kita."


"Besok?" Tanya ku, dareel mengangguk sebagai jawaban. Bahkan aku belum mengatakan setuju, tapi bagaimana pun pernikahan ini tetap terjadi. Aku harus menyampingkan rasa takut ku dan aku pun harus mengubah pandangan ku tentang pernikahan.


"Alana... ." Panggil dareel disamping ku. "Ya," sahut ku tersenyum pada dareel. "Percayalah... semua akan baik-baik saja. Aku berjanji, akan selalu menjagamu dan baby." Ucap dareel mencium bibir ku.


"Jangan takut dan jangan memikirkan apapun, fokuslah pada baby. Dia merindukan daddynya--" Dareel mengedipkan matanya padaku. "Kenapa dia merindukan mu?" Tanya ku kurang paham maksud dareel.


Dareel mengusap lengan ku dengan pandangan yang-- "Dareel... " Aku segera mendorong badan dareel dari hadapan ku, sangat mesum. "Astaga alana... " Lagi-lagi dareel tertawa karena berhasil membuatku kesal.


"Aku gak sabar liat kamu dengan perut yang besar, kamu bakal minta ini minta itu. Apa namanya?" Tanya dareel. "Ngidam," Jawabku singkat. Lihatlah... dareel mengatakan itu dengan ekspresi yang sangat antusias.


Aku jadi membayangkan, jika aku ngidam nanti pasti dareel menuruti permintaan ku. "Kalau aku ngidam nanti, kamu pasti turutin kemauan aku?" Tanya ku menyenderkan kepala ku di bahunya.


"Tentu, al. Apapun itu, apa yang enggak buat baby and mommy nya, heem." Dareel mengusap perut ku. Entah kenapa saat dareel mengusap perut ku seperti ini, rasanya sangat menenangkan.


"Kalau aku lagi ngidam pingin ketemu lucas sama taeyong, kamu ijinin gak?" Tanya ku pada dareel, kini dareel menatap ku dengan pandangan bingung.


"Eh, gak cuma ketemu aja. Tapi aku pingin peluk mereka terus aku mau bilang gini ke mereka 'oh my god, you are so handsome, so very handsome guys, i love you' didepan mereka." Aku melirik dareel yang kini menatap ku tajam.

__ADS_1


"Tae-- yong? Lucas? siapa mereka?" Tanya dareel masih dengan nada yang santai namun matanya menatapku tajam. Sungguh aku sangat ingin tertawa, yang benar saja dareel tidak mengenal lucas dan taeyong.


Baiklah aku akan mengenalkan mereka pada dareel. "Mereka mantan-mantan ku--" Belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku, dareel ******* bibir ku.


"Alana, kamu masih mau bilang i love you ke mantan-mantan kamu dan mau peluk mereka?" Ucap dareel setelah melepaskan lumatannya. "Aku bahkan punya banyak foto mereka, mau lihat?" Aku meraih ponsel yang ada di meja.


"Gak usah," jawab dareel dengan nada malas. "Gapapa dareel, lagian juga udah mantan. Tapi masih sayang sih," ucap ku tersenyum melirik dareel yang melotot kearah ku. "Alana," ucap dareel dengan nada-- yang mulai menakutkan, ah aku suka ini.


Aku mengarahkan beberapa foto yang ada di galery ku.


...



...


...



...


"Tuh kan, mereka tuh ganteng banget. Pinter nyanyi, pinter dance, jago ngerap juga. Gilaa keren banget deh," aku mengacungkan jempol didep


an dareel. Lalu menaruh ponsel ku ditempat semula.


"Aku juga ganteng, kaya, keren juga. Dan ini yang paling penting... aku bisa bikin kamu teriak-teriak keenakan manggil nama ku." Ucap dareel membuat ku melotot, astaga mulut dareel kelewat frontal.


Aku tidak menjawab ucapan dareel, namun kini aku menatap dareel yang sedang mengotak atik ponselnya. "Aah.. mereka boy groub korea, nct?" Dareel tertawa lalu mengacak rambut ku.


"Yaapss, kenalin aku nctzen." Aku mengulurkan tangan didepan dareel yang kini menaikkan alisnya. Dareel hanya diam menatap ku bingung. "Lucas? Taeyong? Kayaknya badan kamu masih anget, sini aku cek." Ucap dareel menyentuh kening ku.


"Dareel, ih kok gitu." Aku mengibaskan tangan dareel yang ada di keningku. "Aku akan turutin semua kemauan kamu, kecuali ketemu sama mereka. Dan iya.. jangan sebut mereka ganteng didepan aku." Aku tertawa kencang mendengar ucapan dareel.


Salah siapa, dia duluan yang membuat ku kesal. Sekarang lihat ekspresi wajah dareel, bibirnya menipis saat dia kesal, lucu sekali.


"Iya, iya. Cuma dareel yang ter the best, i love you." Ucapku mengusap rahang dareel. "I love yo--" dengan cepat aku memotong ucapan dareel. "Tapi beneran, mereka itu keren banget." Dareel segera menangkup wajah ku dan mencium bibir ku.


Aku tertawa ditengah ciuman kami, dua kali aku melihat dareel kesal seperti ini. Pertama karena aku mengatakan lala dan kiki sangat tampan, sekarang karena taeyong dan lucas.


...*****...


...TBC...


Jangan lupa, vote dan beri saran juga yaa manteman 😁

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2