
...Aku tak cukup berani untuk menahan mu pergi...
...Aku tak cukup lancang untuk memintamu datang...
...Melihat mu ada untuk diriku saja sudah tidak mungkin...
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
•
Dareel POV
Tadi pagi dokter mengatakan edwin telah sadar, aku berada didepan ruang inap menatap ibu dan anak yang kini sedang berbincang, terlihat sekali raut bahagia seorang ibu melihat anaknya telah melewati masa kritis, sungguh edwin beruntung memiliki ibu seperti tante mira.
Saat aku sibuk dengan lamunan ku, tiba-tiba tante mira menepuk pundak ku dan menyuruhku untuk menemui edwin didalam.
"Bro, bro, tolong ambilin minum itu." Ucap edwin saat aku baru memasuki kamar inap ini, lihatlah, kelakuam songongnya sudah kembali lagi.
"Thanks bro," Edwin meminum gelas berisi air yang ku berikan, "Gimana keadaan lo?" Tanya ku pada edwin yang terlihat sangat santai, bahkan dia tidak menunjukkan ketakutan di wajahnya, padahal kondisi saat aku menemukan dia sedang tergeletak seperti itu bersama papa dan juga rion.
"See, gue udah gapapa. Thanks banget reel, lo udah datang dan bantu kita meskipun bokap gue gak bisa di tolong. Terutama rion, mama gue bilang kalau aja dia gak di obati waktu itu mungkin rion juga gak ketolong." Edwin menatap ku.
"Kenapa lo malah khawatir sama rion yang udah celakain lo sama bokap lo?" Tanya ku pada edwin. "No, bukan rion pelakunya. Dia juga korban kaya gue, kalau nggak ada rion mungkin gue juga gak akan selamat." Ucap edwin menepuk pundak ku.
"Gue udah buat laporan sama polisi, bukan rion pelakunya. Kami berdua korban dari bokap." Aku semakin bingung dengan penjelas edwin, bagaimana bisa rion yang sangat membenci edwin malah menolongnya.
"Bokap lo? Maksudnya?" Tanya ku pada edwin yang kini duduk bersandar diatas tempat tidurnya. "Bokap gue di tipu sama temennya, karena dulu papa juga ngehalalin semua cara demi bisnisnga termasuk penggelapan dana. Gue juga kurang paham sih, tapi intinya kemarin itu gue di ancem sama rion, dia bakal celakai papa kalau gue gak dateng nyamperin dia."
__ADS_1
"Ternyata saat itu juga neneknya rion dateng dan bilang ke edwin kalau selama ini yang nyukupin keperluan ekonomi keluarga dia itu mama gue tanpa sepengetahuan papa, bahkan nenek rion bilang kalau mama gue dulu donorin ginjalnya waktu edwin kecelakaan." Aku terkejut mendengar penjelas edwin
"Dan saat itu pula gue dapet kabar kalau papa gue di sandra sama orang suruhan temennya itu, gue dateng ke alamat yang di searlock mereka. Dan ya lo tau kan gimana kondisi gue sama papa gue waktu lo temuin kita." Edwin menyugar rambutnya, terlihat dia masih syok karena kejadian itu.
"Papa gue di hajar dan gue coba nolongin dia, tapi gue gak bisa. Sampek akhirnya rion datang, yang gue inget waktu itu ada suara tembakan dan rion teriak manggil nama gue tapi gue udah gak sadar, eh sebelum itu gue inget rion bawah pistol dan dia nembak satu pelaku pakai pistol itu." Benar ucapan edwin, karena dari keterangan polisi tadi salah satu pelaku tertembak dibagian punggung.
"Reel, sebenci apapun gue semarah apapun gue sama papa. Beliau tetep papa gue kan? Rasanya gak adil aja dia meninggal kaya gitu, secara gue belum bales kesakitan mama gue ke dia." Ku lihat edwin menunduk menahan air matanya.
"Gue sama dion turut berduka, win. Gue tau ini berat banget buat lo, tapi gue juga tau lo itu kuat dan lo punya mama yang super baik ditambah lagi sekarang lo punya kakak, Rion itu." Aku tersenyum dan menepuk pelan pundak edwin.
"Kakak apaan?" Edwin tersenyum, "Mana dion? Tuh bocil gak kesini apa pangeran baru sadar ini," ucap Edwin menanyakan keberadaan dion, aku terkekeh, bagaimana bisa orang yang baru sadar bertingkah menyebalkan seperti ini.
Saat ini rion belum siuman, aku bersyukur karena rion dan edwin telah berbaikan, lebih tepatnya mereka adalah saudara. Ah iya... sekedar info, mulai hari ini rion beserta rion tinggal dirumah edwin.
Tadi pagi tante mira memerintah orang suruhannya untuk mengemasi semua barang-barang nenek rion dan rion untuk dipindahkan kerumah nya, sungguh baik bukan hati tante mira.
*
Dua bulan kemudian
Sejak pulangnya edwin dan juga rion dua bulan lalu, aku selalu menghubungi Alana namun ponsel nya tidak aktif. Aku juga datang setiap hari ke apartemen nya namun sepi tidak ada orang, bahkan bibi tidak ada disana.
Selama satu bulan ini aku tidak ingin melakukan apapun, hanya berangkat ke kampus lalu pulang kerumah atau mencari informasi dimana Alana.
Aku menatap lala dan kiki yang tertidur di ranjang ku. "Hey, kenapa kalian malah tidur santai seperti ini? Apa kalian tidak khawatir kemana ibu kalian?" Aku berbicara pada lala yang kini menatapku.
"Jangan-jangan kalian tau kemana perginya Alana, makanya kalian santai-santai saja hmm?" Sial, aku bahkan berbicara terus kepada kucing-kucing ini.
Aaahh, aku mengacak rambut ku frustasi, berjalan kearah balkon dan menatap lagit. Aku mengingat ucapan Alana delapan tahun lalu, jika kita merindukan seseorang maka tataplah langit malam lalu pejamkan mata dan bayangkan bila kalian ada didepan orang yang kalian rindu itu.
"Alana, aku sangat merindukan mu, sangat sangat merindukan mu." Aku menutup mata erat-erat, aku tidak ingin bayangan wajah Alana menghilang dari pikiran ku.
"Dareel, makanlah, paman sudah menghangatkan makanan mu." Aku berbalik menghadap paman dan mengangguk. "Hey, kenapa akhir-akhir ini kamu jarang sekali makan dirumah? Apa kamu ada acara dan makan diluar?." Tanya paman menghampiri ku.
"Ya paman," jawab ku bohong, aku tidak ingin paman mengetahui apa yang terjadi saat ini. "Anak nakal," paman menonyor kepala ku. "Kamu ini gak bisa bohong, dareel. Apa kamu pikir paman tidak tau apa yang terjadi?" Ucap paman di samping ku.
"Maaf, paman...." Aku berbicara lirih, menatap paman yang kini menyalakan rokok dan menghisapnya. Paman menggeleng dan menepuk pundak ku. "Alana... dia tidak pergi meninggalkan mu, dia hanya ingin menenangkan dirinya. Sebagian wanita memang seperti itu, saat dia dilemah dia akan pergi ke suatu tempat dan akan menjauh dari orang terdekatnya." Ucap paman.
__ADS_1
"Tapi kenapa Alana melakukan itu? Bahkan dia tidak berbicara atau menceritakan apapun padaku dan terakhir kali kita berbicara juga semuanya baik-baik saja." Aku menatap paman, dan memang itu yang ku rasa kami baik-baik saja.
"Kau ini bodoh atau apa, reel? Pahamilah perasaan wanita, jika Alana bilang dia baik-baik saja pasti itu berlawanan dengan yang diucapkan." Paman menatap ku heran, "Paman heran, kau ini tidak peka atau memang bodoh hah?" lanjut paman, membuang putung rokok nya.
"Paman... aku hanya takut, bagaimana jika Alana benar-benar pergi? Sampai saat ini alana belum sepenuhnya menerima ku, bagaimana jika dia lelah dan menjauh dari ku? Maksud ku, aku benar-benar tidak bisa kehilangan Alana lagi." Aku mengepalkan tangan, tidak, Alana tidak boleh meninggalkan ku.
"Dengar dareel, percayalah pada paman, Alana... dia pasti akan kembali padamu. Alana, dia mencintaimu nak, saat dia tersenyum lagi padamu itulah saat dimana dia telah menerima mu. Jangan menyiksa dirimu seperti ini, bagimana jika Alana kembali dan kau semakin kurus seperti ini?" Paman tersenyum dan menepuk pundak ku.
Aku tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih, paman.". "Masuklah dan tutup jendelanya, angin malam tidak baik untuk kesahatan," ucap paman berjalan pergi.
"Ah iya, dareel... Paman juga tau apa yang telah terjadi antara kamu dan alana, jika dia kembali segera nikahi alana. Apa kau tidak bisa menjaga ***** mu hah? Si kecil bodoh ini benar-benar," ucap paman di ambang pintu, aku melebarkan mata ku, Sial bagaimana paman bisa tau.
*
Aku berjalan menuju ruangan ku, siapa yang ingin menemui ku siang-siang begini. Aku membuka pintu dan terlihat seorang lelaki duduk didepan meja kerja ku dengan tatapan tajam mengarah padaku.
"Ah, benar kau dareel aldari." Ucapnya berjalan kearah ku dan tiba-tiba memukul rahang ku. Sialan, siapa dia, aku mencengkram kerah lelaki ini dan balik memukulnya.
"Lo siapa brengsrek?" Tanya ku mendorong lelaki ini, "Kemana lo bawah Alana pergi, hah?" Tanya nya berteriak didepan ku. Aku menatapnya bingung, dia mengenal Alana.
"SIALAN," teriaknya melepas cengkraman di kerah kemeja ku. Dia berjalan dan kembali duduk di kursi, "Lo siapa? Darimana lo bisa kenal Alana?" Tanya ku pada lelaki ini.
"Gue? Gue lelaki yang sejak lima tahun lalu mencintai Alana, ya.. gue sahabat Alana, Ethan." Ucapnya menatap ku tajam, Ethan... sepertinya Alana pernah menceritakan lelaki ini padaku
"Gue kesini karena gue yakin pasti lo tau kemana Alana pergi." Ucapnya masih menatap ku sinis. Aku menggeleng berjalan kearahnya, "Dua bulan ini gue setengah mati nyari kemana alana pergi, dan lo? Mending lo pergi, daripada lo tewas disini." Ucap ku mengibaskan tangan di depan lelaki ini.
Aku benar-benar marah sekarang, dia bilang dia sahabat Alana tapi dia juga mencintainya. Sungguh sekarang aku berhadapan dengan orang yang benar-benar akan menjadi saingan ku.
Aku menatapnya dari atas sampai bawah, ethan nama lelaki ini. Dia juga tampan tapi tidak sebanding dengan ku dan jelas lebih tampan aku, aku tersenyum miring didepan nya. Dan ya... dia hanya sahabat alana, tapi aku? Aku lelaki yang di cintai alana bahkan hubungan kita sudah sejauh itu, aku tidak bisa menganggap lelaki ini saingan ku karena jelas aku berada di atasnya.
Aku terkekeh, "Lo, akan terus gue awasi, dan lo setelah alana kembali kita bertiga akan memperjelas semuanya siapa yang alana pilih." Ucap lelaki gila ini.
"Whatever," Aku mengibaskan tangan ku lagi, setelah lelaki ini pergi aku menutup pintu ruangan, sial bibir ku sobek karena pukulannya.
...*****...
...TBC...
__ADS_1
Vote dan komen ya teman-teman, mohon kasih saran yang terbaik dan bila ada typo mohon koreksinya yaa 😊
Terima kasih banyak 🤗