Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
SEPULUH


__ADS_3

...Tidak ada yang kebetulan dan tidak ada yang terjadi tanpa alasan, Semua punya sebab dan tujuan....


...♡♡♡...







Dareel POV


Sekarang pukul dua belas malam lebih aku menunggu di depan pintu apartement Alana, tepat dua jam lalu aku datang kemari namun tidak ada orang di dalam. Aku menelfon Alana tapi ponselnya tidak aktif, kemana dia pergi. Saat aku sedang memikirkan kemana perginya, tiba-tiba ponsel ku bergetar, panggilan dari Alana


"Hallo," Suara Alana terdengar lirih


"Al, kenapa gak angkat telfon ku tadi? Kamu kemana? Apartement kamu gaada orang." Astaga aku sangat kawatir, akan ku marahi dia nanti, kenapa tidak pernah mengangkat panggilan ku.  "Aku di club- kau bisa menjemput ku sekarang? Aku sedikit mabuk, kepala ku juga sedikit pusing." Kenapa dia selalu minum jika tidak tahan dengan alkohol. "Baiklah, tunggu aku," ucap ku bergegas menjemputnya.


Setelah sampai di club yang disebutkan Alana tadi, aku menepikan mobil ku dan berlari kearah Alana. Dia sedang duduk di sebuah kursi dengan wajah yang pucat dan mata yang berair, "Hey, Apa yang terjadi?" Tanya ku memegang pipinya. "Bawa aku pulang, jangan ke apartement. Ayo!" Ucap Alana menggenggam tangan ku.


Aku menuntunnya memasuki mobil. Alana tidak mau pulang ke apartementnya, jadi ku putuskan untuk membawanya pulang kerumah ku. Saat di perjalanan tingkah Alana tidak bisa diam, dia seperti sedang menahan sesuatu.


"Al, kau sedang apa? Apa yang terjadi?" Tanya ku khawatir karena ku lihat dia berkeringat dingin. Ku usap keningnya, dan Alana menggelengkan kepalanya. Aku melepaskan jaket ku dan memakaikannya di tubuh Alana.


Sungguh, aku sedikit jengkel. Kenapa Alana memakai pakaian kurang bahan seperti ini. Bukankah banyak sekali pakaiannya di lemari, kenapa harus memilih yang ini. Baju tanpa lengan, menampilan pahanya, dan ini sangat pres body, apa tidak sesak memakai baju seperti ini. Aku sangat ingin merobek baju ini.


Aku melirik lagi sekilas kearah Alana, dia masih bergerak tidak nyaman. Tingkah Alana sepertinya dia telah meminum sesuatu, sungguh siapa yang berani memberi Alana minuman seperti itu.


*


Saat sampai di depan rumah ku, ku lihat Alana semakin berkeringat. Aku turun dari mobil dan membuka pintu untuk Alana. "Al.. kita sudah sampai." Ucapku mengusap pipinya, namun tidak mendapat jawaban darinya.


Alana memegang erat kaos ku, "Dareel, ini panas. Rasanya aku menginginkan sesuatu, aku.. Dareel." Ucap Alana terbata-bata. Aku langsung menggendongnya menuju kamar ku.


Aku membaringkan tubuh Alana di tempat tidur, "Al apa yang kamu minum tadi?" Tanya ku pada Alana yang saat ini sedang duduk di depan ku. "Minum alkohol, tapi gak biasanya gue kayak gini," jawab Alana menggeleng dan melepas jaket ku.


Saat aku akan berdiri untuk membuatkan susu tiba-tiba Alana menarik tangan ku hingga aku terduduk lagi di atas tempat tidur. Dan lagi... Alana membuat ku terkejut, dia tiba-tiba mencium ku.


Alana POV


Apa ini yang ku rasakan, kenapa tubuh ku sangat panas dan rasanya aku ingin melakukannya. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, dan apa yang tadi ku minum. Sial.. apa ada seseorang yang memberi ku obat perangsang. Dareel melihat ku dengan tatapan khawatir, mungkin dia juga tidak tau apa yang terjadi padaku saat ini.


Entah ini menuju kerumah siapa, yang jelas bukan jalan menuju apartement ku. Saat tiba di halaman sebuah rumah kaca minimalis, Dareel membukakan pintu mobilnya untuk ku. Namun aku tidak mendengar dengan jelas dia berkata apa, tiba-tiba Dareel mengangkat tubuh ku dan membawa ku menuju sebuah kamar di lantai dua.


...



...

__ADS_1


Sepertinya ini rumah Dareel, karna ada foto wisuda Dareel di dinding. Dareel merebahkan tubuh ku di tempat tidur. Saat dia akan pergi, aku menarik tangannya. Demi tuhan aku tidak tahan lagi saat ini, aku tidak peduli apa yang terjadi setelah ini.


Aku memegang tengkuk Dareel dan mencium bibirnya, aku melihat mata Dareel melebar dan dia belum merespon ciuman ku. Mungkin dia terkejut atas tindakkan ku, tapi bagaimana lagi, ini sangat menyiksa ku.


Perlahan Dareel mulai membalas ciuman ku, Darel ******* bibir ku dan menekan tengkuk ku. Aku mengalungkan tangan ku di lehernya, lidah kami beradu. Tangan Dareel turun ke pinggul ku dan mengangkat ku untuk duduk di atas pangkuannya. Sangat lama kami berciuman, aku terengah-engah melepaskan ciuman. "Dareel... ." belum selesai aku mengucapkan kalimat ku, Dareel kembali ******* bibirku.


Kami berdua terlentang di tempat tidur, Dareel berdiri melepaskan kaos yang dia pakai. Lalu kembali memeluk ku dan mencium kening ku, Aku melepaskan dress yang ku kenakan, hanya menyisahkan bra dan ****** ***** ku.


Dareel menatap mata ku, dan ku balas dengan tatapan memohon. Sungguh aku tidak peduli sekarang betapa murahannya diriku di depan Dareel, yang ku tahu sekarang aku membutuhkannya. Dareel kembali ******* bibir ku bahkan lebih liar dari sebelumnya, tangannya meraih pengait bra ku.


Dareel mencium seluruh area wajah ku, lalu turun ke leher ku dan mengecapi dada ku. Tuhan... ini salah, maafkan aku, mafkan aku Tuhan.


Saat Dareel akan membuka celana jeans nya, tiba-tiba dia berhenti dan memberi jarak pada tubuh kami. Sial, apa yang dia lakukan, Aku sangat menginginkan ini. Dareel meraih selimut di sampingku dan menutup tubuh ku dengan selimut itu.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa berhenti?" Sentak ku dan akan menghampirinya. Dareel menahan tubuh ku agar tetap di atas tempat tidurnya, dia menggeleng "Tidak Alana, aku tidak akan melakukan apapun yang akan membuatmu menyesal. Kita akan melakukannya jika kita saling mencintai, bukan karna paksaan atau hasrat." Dareel mengusap rambut ku.


"Apa mungkin kita membicarakan cinta saat ini,? Dareel... ini menyiksa ku," ucap ku terisak. Dareel mendekat dan memeluk sangat erat, tubuh ku terbalut selimut tebalnya, rasanya sangat hangat sekali. "Aku akan membuatkan susu untuk menghilangkan sedikit efek obat itu." Ucap Dareel dan ku balas dengan anggukan. Aaah ini benar-benar sangat menyiksa.


Sekitar sepuluh menitan Dareel kembali membawa dua gelas susu. "Minumlah," pintahnya padaku, aku segera meraih susu itu dan meminumnya. Dareel kembali memeluk ku dan tidak berhenti mencium kening ku. Rasanya nyaman sekali berada di pelukan Dareel seperti ini, tiba-tiba aku memejamkan mata perlahan karna rasa ngantuk ini dan aku merasakan Dareel membaringkan ku di tempat tidur.


*


Aku menggeliat merasakan seseorang mengelus pipi ku, saat aku membuka mata, Dareel tersenyum di hadapan ku. Astaga... apa yang dia lakukan di sini, aku segera duduk dan menutupi tubuh ku dengan selimut. Aku melihat tubuh ku sendiri, tunggu.... kemarin seingat ku, aku memakai dress berwarna salem lalu kenapa sekarang aku memakai kaos oblong berwarna hitam dan celana training berwarna putih yang sangat kebesaran ini, apa pakaian ini milik Dareel?


Aku menatap horor pada Dareel yang tersenyum lebar di depan ku, "Apa yang kau rasakan saat ini? Apa semuanya sudah membaik?" tanya Dareel mengusap rambut ku. "Yang ku rasakan? A-aku lapar," jawab ku jujur, tapi benar memang saat ini aku sangat lapar.


"Basuh muka mu dan turunlah ke bawah, aku sudah memasak semur untuk mu." Ucap Dareel padaku lalu meninggalkan ku di kamar ini sendirian. Aku memukul pelan kepala ku mencoba untuk mengingat apa yang terjadi pada kita tadi malam.


Aah tunggu, aku pelan-pelan menginggat kejadian kemarin malam. Aaahh sial, sial, sial... aaah apa yang ku lakukan, ini sangat memalukan. Aku memukul bantal dan berguling-guling di tempat tidur Dareel, bagaimana aku akan mengahadapi Dareel saat ini. Aku meremas rambut ku frustasi, bodoh Alana, bodoh.


Aku duduk diatas tempat tidur ini, bagaimana bisa bra ku berada di atas sofa kamar ini. Aku memikirkan banyak hal saat ini, memang kemarin kita tidak melakukannya. Tapi lelaki itu, Dareel telah melihat semua aset ku, aku menghembuskan nafas panjang. Aku melirikkan mata ku di penjuru kamar ini, kamar yang bagus dengan nuansa klasik.


...



...


Aku tidak ingin turun kebawah tapi perut ku sangat lapar dan aku sangat haus. Baiklah... aku akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan Dareel. Semoga Dareeljuga tidak membicarakan masalah kemarin.


Aku menuruni tangga pelan-pelan mencari dimana sosok Dareel, "Al.. kemarilah" Teriak Dareel membuat ku terjingkat kaget, astaga. Aku menghampiri Dareel dan bersikap sesantai mungkin, "Duduklah, aku sudah menyiapkan untuk sarapan." Dareel mendorong kursi di hadapan ku dan mempersilahkan ku untuk duduk. "Terima kasih," balas ku sedikit salah tingkah, Ya Tuhan aku masih memikirkan hal itu.


Kami makan dengan tenang, begitu pula dengan Dareel. Aku meliriknya, ku lihat dia sedang menikmati makanannya, syukurlah dia tidak membahas masalah itu. Aku melanjutkan kegiatan ku lagi, memakan masakan Dareel. Sejak kapan dia bisa masak dan seenak ini masakannya, aku tersenyum kecil.


"Al.. Dengan siapa kamu pergi ke pesta kemarin malam?" Tanya Dareel membuat ku tersedak, "A-apa? Heemm, sama temen gue." Jawab ku sekenah nya. "Teman siapa? Bersama Nattali?" Tanya Dareel menatap ku tajam.


"Nggak, gue gak sama Nattali. Lagi pula itu- itu bukan urusan lo, maksud gue, lo gak tau kan temen gue." Semoga Dareel tidak memberiku pertanyaan yang membuat ku malu. Namun saat aku melirik kearah Dareel, dia sedang menatap ku tajam. Apa dia sedang marah?


"Bukan urusan ku? Apa kamu ingat apa yang terjadi kemarin malam? Seandainya kemarin bukan aku, apa yang terjadi padamu? Bisakah kamu sedikit lebih berhati-hati? Apa kamu tidak bisa mengurangi kebiasaan minum dan berpesta mu itu?" Aku menatap Dareel yang berbicara sedikit membentak kepada ku.


Aku tersenyum sinis, "Emang kenapa kalau seandainya lelaki itu bukan lo? Kalau pun bukan sama lo, gue akan tetep lakuin itu. Lagian itu juga menguntungkan buat kita kan," ucapku menatap Dareel.


"Alana, bersikap lah dewasa.. Ku mohon, berhenti melakukan hal membuat kamu menyesal. Apa dengan bermain dengan semua lelaki membuat mu puas? Apa itu sebagai pembalasan karna kebencian mu padaku dan papa mu?" Ucapan Dareel kali ini sangat menohok hati ku, apa dia berpikir aku sering melakukan **** dengan banyak pria?

__ADS_1


"Maksud lo apa? Lo judge gue, seolah-olah gue mau ada di posisi gue sekarang. Lo pikir gue cewek murahan? Ooh gue sekarang tau kenapa kemarin malem lo gak mau nyentuh gue, karna lo jijikkan? Lo suci, gue kotor, gitu maksud lo?" Jawab ku menatap mata Dareel, tangan ku bergetar, ternyata Dareel juga berpikir seperti itu.


Dareel POV


Ya Tuhan.. Apa yang aku katakan barusan. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud menyakitinya. Ah kenapa aku tersulut emosi dan mengatakan itu, lihat Alana sekarang bergetar seperti akan menangis.


"Al, gak gitu. Maksud ku-" Ucapan ku terpotong saat Alana mengatakan, "Lo tau kenapa gue kayak gini? Itu karna lo sama papa, kalian yang bikin gue hancur. Dan sekarang lo dateng lagi seolah-olah semuanya baik-baik aja. Dareel, lo pikir lo siapa? Bukan berarti gue memohon untuk tidur sama lo dan lo bisa lakuin ini ke gue." Ucap Alana menatap mata ku sayu. Dareel, bodoh sekali apa yang kamu katakan, batin ku.


Aku menghampiri Alana yang duduk di depan ku, saat aku akan memegang bahunya dia berkata "Lo itu munafik, bukannya lo juga suka sama tubuh gue? Kalian, semua lelaki sama." Alana berjalan meninggalkan ku dan menaiki tangga menuju kamar. Sial, aku membuatnya menangis.


Aku menyusul Alana di kamar, aku melihatnya sedang memainkan ponsel di atas tempat tidur. Hidungnya memerah, apa dia habis menangis?


Ah iya.. Aku teringat sesuatu, Alana sangat menyukai kucing.


Aku kambali lagi ke atas dengan membawa dua kucing milik paman ini, ku lihat Alana masih sibuk dengan ponselnya. Aku langsung masuk ke dalam kamar, Alana tampak terkejut.


"Apa?" Ucap Alana tanpa melirik ku. "Gue udah telfon bibi, bentar lagi gue pulang setelah baju gue dateng," lanjutnya masih belum menatap wajah ku.


Aku meletakkan kedua kucing ini diatas tempat tidur, tepat didepan Alana. Seketika raut muka Alana berubah sangat ceria. "Haaayyy... Astaga lucu sekali," ucap Alana menatap ku semangat, aku tersenyum menatapnya.


*


Sekarang kami berempat ada di halaman belakang rumah. Ya benar, aku, alana dan dua kucing ini.


Aku sedang mengerjakan beberapa laporan hasil observasi mahasiswa, dan mereka bertiga sedang bermain-main bahkan Alana dengan sangat cepat merubah moodnya saat bertemu kedua kucing itu.


"Heyy kiki, kenapa nakal sekali. Lala kemarilah, sayang," apa? Siapa lala dan kiki itu?. Sepertinya seru jika bergabung dengan mereka, "Mau minum jus jeruk?" Tawar ku pada Alana, namun dia hanya menatap ku sinis lalu sibuk kembali dengan kucing abu-abu itu. Menggemaskan sekali Alana ku ini.


Aku berjalan ke dapur dan kembali lagi mambawa dua gelas jus jeruk dan benerapa biskuit lalu bergabung dengan Alana.


"Maaf.. maaf berkata kasar padamu, Demi Tuhan aku tidak pernah memiliki pikiran seperti itu." Aku memeluk Alana, dia diam saja tidak menolak. "Gue gak peduli apa yang ada dipikiran lo," jawabnya menatap ku. Aku tersenyum mengusap rambutnya, "Jangan pulang dulu oke, mereka berdua jinak banget sama kamu. Siapa lala sama kiki?" Tanya ku pada Alana.


Alana mengambil kucing berwarna kuning, "Ini kiki," lalu Alana menggendong kucing yang berwarna abu-abu, "Ini lala,". Aku tertawa mendengarkan Alana memberi nama dua ekor kucing itu.


"Tapi mereka itu laki-laki, Al. Kenapa lala sama kiki? Kenapa gak ronal sama Alan aja, kan keren." Usul ku pada Alana saat menggendong Kiki, si kucing berwarna kuning ini. Astaga.. kucing berwarna kuning ini tidak bisa diam sama sekali, memang dia lebih aktif dari si lala, kucing abu-abu.


"Ronal? Alan? Ih apaan gak ada lucu-lucunya tuh nama. Lala dan Kiki, aah lucu banget kan namanya cocok sama mereka." Ucapnya bangga karena memberi nama pada kucing-kucing nakal ini.


"Kamu bisa sering kesini buat main sama mereka, boleh banget kalau mau nginep juga. Lala sama kiki pasti seneng ada temennya," Ucap ku mengambil kesempatan agar aku bisa sering bertemu Alana, Kucing ini ada manfaatnya juga. Aku tersenyum pelan.


"Gue nya yang gak mau sering-sering ketemu sama lo." Alana menatap ku sengit. Aku tertawa dan mengacak rambutnya, "Lala Aldari sama Kiki Aldari, gimana baguskan?," tanya ku pada Alana.


"Aldari? Nama lo? Bagusan juga Lala Lovata sama Kiki Lovata. Pasti nih jadi kucing dengan nama tercantik di dunia." Alana tertawa dan menciumi perut gembul lala dan kiki bergantian.


Ini baru pertama kali dari pertemuan kita awal itu aku melihat Alana tertawa lepas seperti ini, di depan ku. Dan ini juga pertama kali aku dan Alana berbicara santai tanpa mengingat masa lalu. Inilah yang aku inginkan, selalu melihat tawa Alana dan menatap wajah cantik ini.


"Al, jangan di cium terus, nanti bulunya masuk hidung kamu. Lala kiki, sini... ." Ucap ku mencoba mengambil Lala dan kiki dari Alana. Astaga... Alana menyembunyikan lala di dalam kaos yang dia pakai.


...*****...


...TBC...


Vote and comen, please 😊

__ADS_1


Terima kasih 🤗


__ADS_2