Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
ENAM BELAS


__ADS_3

...Bagaimana rasanya hidup setelah kehilangan seseorang yang pernah terpikirkan untuk kau ajak hidup bersama?...


...♡♡♡...







Dareel POV


Malam ini aku akan menemui wanita yang bekerja sebagai sekretaris bagian keuangan di perusahaan Surya Abraham, dia bernama sabrina. Sabrina mengajak ku bertemu karena Dion menawarkan kerja sama pada nya untuk memberiku bocoran informasi mengenai keuangan investor perusahaan itu.


Kesan pertama saat bertemu wanita ini ialah dia sangat mirip dengan wanita perhibur yang bekerja di luar sana, dan mengapa wanita ini memilih untuk bertemu di tempat yang seperti ini.


Selama jalannya diskusi, sabrina telah menyetujui semua ketentuan untuk bekerja sama dengan ku. Aku menyebutkan apa saja yang harus dia lakukan dan dia berikan padaku, seperti informasi maupun perkembangan keuangan perusahaan.


Dan selama diskusi itu pula, sabrina terus menggesekkan kakinya di pahaku. Astaga, apa dia mencoba untuk menggoda ku. "Okey, serahkan semuanya padaku. Aku akan menanganinya, dan iya siapa teman mu itu? Edwin? Ya aku akan mengirimkan semuanya pada edwin, kau bisa mengandalkan aku," Ucap sabrina mengibaskan rambutnya.


"Baiklah, kalau begitu kita sudahi pembahasan ini. Aku akan pulang," ucap ku mengulurkan tangan pada sabrina. Dia membalas uluran tangan ku, namun dia malah menarik ku untuk menari di tengah-tengah kerumunan orang mabuk.


Aku mencoba menjauhkan tubuh sabrina yang bergelayut di tubuh ku. Wanita ini menari dengan menggesekkan dadanya di dada ku. Aku tersenyum miring memikirkan betapa murahannya wanita ini, aku curiga, apakah dia pernah menjadi simpanan Surya Abraham.


"Berhentilah, urusan kita hari ini telah selesai." Aku memegang pundak sabrina dan akan segera pergi dari tempat ini. "Hey tunggu, ayolah.. Aku tau lelaki macam apa kamu, sekedar info ya, aku bisa buat kamu horny dalam sekali service." Ucap sabrina mengedipkan mata dan membuka kancing atas kemeja ku.


Aku tersenyum smirk menatap wanita gila di depan ku ini, yang sialnya akan bekerja sama dengan ku. "Benarkah? Dan aku juga bisa membuatmu mati dalam satu permainan saja." Balas ku, sedikit mendorong nya dan meneruskan langkah ku keluar dari club.


"Di mobil aku membawa beberapa berkas nama perusahaan dan segala perjanjian yang akan di adakan pada meeting minggu ini. Ikutlah dengan ku jika mau berkas itu," ucap sabrina mengigit bibir bawah nya, sangat menjijikkan.

__ADS_1


Aku mengikuti wanita ini sampai di area parkir, "Itu mobil ku, masuklah." Ucap sabrina memasuki mobil merah. "Aku tidak akan ikut pergi dengan mu, berhentilah main-main dengan ku." Aku memperingati sekali lagi wanita ini.


"Sepertinya kau memang ingin bermain dengan ku. Astaga, masuklah aku hanya memberikan berkas itu, tidak enak jika ada orang melihat ku memberikan map padamu. Itu akan mencurigakan bukan?" Ucap sabrina masuk ke dalam mobil.


Aku duduk di samping kemudi, "Serahkan padaku," saat aku akan mengambil berkas itu namun sabrina menjauhkannya, dia malah membuka tiga kancing atas kemeja yang dikenakanya. Aku melihat belahan dada yang begitu menonjol, aku tertawa dalam hati.


Sungguh, dada itu tidak menarik sama sekali, milik Alana lah yang sangat menarik. Buah dada sabrina terlalu besar untuk di genggam, namun milik Alana sangat pas untuk tangan ku. Memang apapun yang Alana punya sepertinya di takdirkan menyatu dengan ku.


Kenapa aku membandingkan Alana ku dengan Wanita gila ini, sungguh Alana lebih dan lebih baik dari wanita manapun. Aku sangat merindukan Alana hari ini.


"Kau lama sekali," ucap sabrina menarik kerah kemeja ku dan ******* bibir ku. Aku mengikuti permainan nya kali ini, namun aku tetap merapatkan bibir ku. Wanita ini terus ******* dan mengecapi bibir ku, bahkan kini dia mengarahkan tangan ku untuk meremas buah dadanya.


Aku memojokkan sabrina hingga punggungnya membentur pintu mobil dan menekan tangannya ke atas, lalu perlahan aku mengambil berkas yang dari tadi di genggamnya. Berhasil, aku melepaskan ciuman gila ini dan menyeka mulutku dengan tisu yang ada di dalam mobil wanita ini.


"Mau meneruskannya di apartement ku?" Tanya sabrina merabah dada ku. "Aku akan menghancurkan mu dalam sekejap jika kau melakukan ini lagi, tidak peduli kerja sama apa yang kita sepakati." Balas ku menatap tajam sabrina dan keluar dari mobil wanita penggoda ini.


Saat aku memasuki mobil ku sendiri, aku menelfon Dion.


"Seperti apa? Ya dia memang cantik dan ya, seksi sekali. Namun dia sangat berambisi menghancurkan perusahaan surya abraham karena pernah menjadi simpanannya yang di buang. You know lah, si tua hidung belang itu, Dan aku memanfaatkan kebencian sabrina itu." Terdengar tawa meledek Dion dari telfon, sial apa ini saatnya bercanda.


"Terserah," Aku menutup panggilan dari Dion yang tidak berhenti tertawa.


Aku akan ke apartement Alana, aku sangat merindukan ibu dari lala dan kiki. Aku melirik boneka kucing yang ada di kursi belakang, aku membelinya untuk Alana saat akan berangkat tadi.


*


Setelah sampai, aku turun dari mobil dan menuju apartement Alana. Saat keluar dari lift aku melihat Alana berpelukan dengan seorang lelaki, siapa lelaki itu.


Sepertinya mereka sangat dekat, ku lihat lelaki itu berbicara santai dan mengusap kepala Alana. Begitu pula Alana, dia tertawa lepas dan menggenggam tangan lelaki itu.


Lumayan lama aku berdiri disini menyaksikan mereka berdua, akhirnya pria itu pergi. Dengan segera aku menerobos masuk apartemen Alana, "Ya Tuhan... Kau-" Alana mundur, sepertinya dia terkejut akan kehadiran ku.


"Siapa lelaki itu?" Tanya ku menutup pintu dan mengikuti Alana. "Apa urusan lo?" Alana malah betanya balik padaku. "Pergilah, apa lo gak tau ini udah malem. Gak sopan banget," ucap Alana menaiki tangga, menuju kamarnya.

__ADS_1


Aku mencium aroma alkohol dari mulut Alana, "Apa kamu habis minum-minum lagi?" Aku menarik lengan Alana dan menahannya didepan pintu kamar. Alana mencoba melepas cekalan tangan ku.


"Apa kau masih melampiaskan amarah mu dengan mempermain lelaki? Apa lelaki tadi adalah salah satunya?" Aku bertanya saat Alana hanya diam dan tidak mau menatap wajah ku.


"Lo tau apa tentang hidup gue? Gue gak pernah ya urusin masalah hidup lo. Lo.. urusin hidup lo sendiri," ucap Alana yang kini menatap ku dengan mata sendunya, sepertinya dia akan menangis.


Aku melepas kan cekalan tangan ku pada alana, "Hey, apa yang terjadi? Bukankah kemarin kita baik-baik saja?" Tanya ku mengusap lembut pipi Alana. Namun Alana menjauhkan wajahnya dari tangan ku.


"Baik-baik aja? Dari awal gak ada yang namanya baik-baik aja diantara kita. Kita, dua orang yang saling menyakiti, gak ada yang nama nya baik-baik aja saat kita merasa tersakiti," ucap Alana, menunduk.


"Katakan kalau aku nyakiti kamu, katakan apa yang aku lakukan. Aku akan meminta maaf," ucap ku mencoba untuk mengusap rambut Alana, namun lagi-lagi dia menghindar. Sungguh.. Kenapa Alana seperti ini.


"Udalah gue capek, ngapain juga gue marah sama lo, gak ada hak apapun." Ucap Alana membuka pintu kamarnya. Aku menahan pintu kamar nya, "Kalau kamu marah sama aku, gapapa. Tapi jangan marah sama boneka nya." Aku memberikan boneka kucing kepada Alana, dan dia menerimanya.


"Ah iya, semua yang ada pada diriku adalah hak mu. Kamu bisa marah padaku, lakukan apapun, karna aku milikmu." Ucapku mencium kening Alana dan pergi dari apartement nya. Aku menoleh kebelakang saat menuruni tangga, Alana masih berdiri didepan kamar nya menatap ku.


*


Saat aku akan membuka pintu Apartement, "Gue punya hak kan atas lo? Kalau gitu bersihin mulut lo." Alana berkata di belakang ku. Sejak kapan dia mengikuti ku turun kebawah, bukankah tadi dia ada didepan kamar.


"A-apa?" Tanya ku, menerima tisu yang Alana berikan. Aku segera mengelap bibir ku dan menatap Alana bingung, kini Alana menatap ku semakin tajam. Kenapa jika wanita marah selalu aura menyeramkan dan menggemaskan muncul sekaligus?


"Cium gue sekarang," Alana merentangkan tangannya. Aku mengangkat alis ku, aku sungguh bingung, apa yang terjadi pada Alana. Tadi dia marah, menangis lalu sekarang... Apa dia merajuk padaku?


Aku berjalan menghampiri Alana dan mencium keningnya. "Disini," Alana menjinjit dan menarik kerah kemeja ku. Dia mencium bibir ku singkat, lalu menatap mata ku sendu.


...TBC...


...*****...


Vote dan komen ya 🙂


Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2