Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

...Saat ini adalah rangkaian dari perjalanan bersama seseorang yang membuatmu tersenyum dengan cara-cara sederhana yang tidak bisa dilakukan orang lain...


...♡♡♡...







Alana POV


Aku terbangun dari tidur ku saat sinar matahari menerpa wajah ku, aku melirik kearah jendela yang tidak tertutup tirai, Astaga aku lupa kemarin tidak menutup tirai.


Saat aku akan menuruni tempat tidur, suara serak dareel di belakang ku terdengar "Jam berapa?" Ucap dareel tetap memejamkan mata. "Sembilan," ucapku singkat dan berjalan menuju kamar mandi.


Sial, sakit sekali kewanitaan ku, dareel... dia seperti orang yang kerasukan, dasar. Aku membasuh wajah ku dan menggosok gigi, aku menatap pantulan diriku melalui cermin didepan ku.


Tanda merah di sekitar leher dan dada ku, perlahan aku menggosok pelan tanda merah itu. "Alana, ini sudah terlalu jauh," batin ku.


Tiba-tiba aku teringat ucapan dareel 'Kalau kita siap dari segi manapun dan kita mampu berkomitmen kita bisa menikah'. Kenapa kalimat itu selalu muncul di pikiran ku.


Menikah? Apa di usia ku yang telah menginjak dua puluh lima tahun ini sudah pantas untuk menikah? Tapi bukankah menikah bukan tentang berapa usia kita, namun tentang seberapa dewasa kita dalam menghadapi sebuah rumah tangga?


Aku membasuh wajah ku lagi, tapi aku takut bila pernikahan ku akan hancur maka anak ku kelak akan memiliki nasib yang sama seperti ku dan mereka akan merasakan apa yang aku rasa.


Bukannya aku tidak mempercayai dareel, bahkan aku sangat mempercayainya dia lelaki hebat, dia pasti akan menjadi ayah dan suami yang baik dan bertanggung jawab.


Tapi... entah, hanya saja aku terlalu takut untuk memulai. Namun jika seperti ini terus bukankah aku seperti wanita murahan yang di tiduri tanpa memiliki status yang jelas? Sial


*


Hampir satu jam aku barada didalam kamar mandi, melamun dan memikirkan banyak hal. Kini aku duduk didepan cermin, mengeringkan rambut ku.


Aku menatap dareel dari cermin yang terbangun dan memakai boxernya. "Pagi, alana," ucap dareel mencium pipi ku. "ini bahkan sudah siang," jawab ku masih sibuk mengeringkan rambut.


"Ah iya, tumben ya aku tidur lama banget." Dareel mengambil hair dryer dari tangan ku dan mulai membantu ku mengeringkan rambut.


"Kok diem aja? Kenapa, al?" Tanya dareel karena aku hanya menunduk, "Apa karena kemarin ya? Maaf-" aku segera berdiri dan menghadap dareel.


"Ayo makan diluar, aku laper." Dareel terkejut dan mengerjapkan matanya. "Apa?" Tanya dareel pelan, "Buruan mandi, aku tunggu didepan." ucap ku mencium bibir dareel lalu berlari pergi.


Aku tidak ingin mendengar topik tentang kemarin malam, sungguh itu membuat ku malu. Aku duduk di meja makan sambil memainkan ponsel.


Kurang dari satu jam dareel menghampiri ku, "ayo," ucap dareel menggandeng tangan ku. "Al, kenapa setiap hari kamu kelihatan makin cantik?" dareel mengedipkan mata kearah ku.

__ADS_1


"Apaan sih, buaya," jawab ku mengalihkan pandangan ku, "Loh kok buaya," jawab dareel dan memindahkan tangannya merangkul pundak ku. "Kenapa setiap hari aku jatuh cinta sama kamu?" tanya dareel lagi padaku.


Aku mengedikkan bahu ku, "Gak ada alasan lain, cuma mau bilang. Im grateful to have met a woman as great and beautiful as this." Ucap dareel mencium keningku.


"Dareel ih, malu di liatin bibi tuh," aku mendorong pelan dada dareel. "Hallo bibi," teriak dareel melambaikan tangan pada bibi yang sedang menata tanaman.


"Emang susah kalau ngomong sama buaya." ucapku melirik kearah dareel yang masih cengengesan disamping ku. "Buaya ini udah nemuin pawangnya, jadi aman." Jawab dareel mencium pipi ku.


"Dareel, stop, apaan sih." Ucap ku menjauhkan wajah ku dari dareel. "Kamu wangi banget, aku suka." Dareel kembali menciumi seluruh wajah ku, aku berlari dan memasuki mobil sebelum wajah ku terlihat semakin merah, astaga.


*


"Ini restoran yang dulu sering kamu ceritain itu kan?" Tanya Dareel saat kami memasuki restoran yang memang adalah tempat makan favorit aku dan bunda.


Aku mengangguk sebagai jawaban. "Kamu masih ingat?" ucapku duduk di kursi yang juga tempat dimana aku dan bunda biasa duduki dulu, didekat jendela.


"Aku mengingat semua yang kamu ucapkan dengan sangat baik, apapun yang kamu suka dan semua kenangan kamu sama bunda, aku sangat tau," ucap dareel tersenyum dan mengusap rambutku.


"Iisssh, jangan mulai." Aku menyingkirkan tangan Dareel dari kepala ku, yang dibalas dengan senyum menjengkelkan. "Susah emang ngajak kamu romantis," Dareel menyentil kening ku.


"Ah iya... Aku ya yang pilih menu makanannya, aku mau kasih tau kamu makanan andalan direstoran ini." Ucapku pada Dareel yang masih senyum-senyum menatap ku, sangat tidak jelas.


Dareel mengangguk menyetujui. "Aku mau pesen ini, semacam burger tapi pakai saus coklat namanya bof sandwich. Terus-- kamu-- ah ini aja, kamu kan suka yang bersayur-sayur sehat gitu." Ucapku menunjukkan gambar makanan pada Dareel.


"Oke, itu-- sandwich juga?" Tanya Dareel. "Iya sandwich, tapi kayak lebih ke toping berbagai olahan ikan laut gitu," Aku menjelaskan dan Dareel hanya manggut-manggut, sebenarnya dia paham atau tidak sih.


Eh, hari-hari sebelumnya aku juga memakan makanan seperti ini. Namun, sekarang aku memakannya bersama Dareel, ini akan terasa lebih nikmat. Astaga Alana, kenapa kau seperri gadis yang kasmaran, batin ku.


Baiklah, akan ku jelaskan sedikit tentang beberapa hidangan yang kami pesan. Pertama, bof sandwich ini yang tadi ku maksud seperti burger dengan roti daging sapi namun di lumuri saus coklat yang di beri cincangan ikan salmon.


...



...


Lalu, sandwich yang ku pesankan untuk dareel namanya smorebrod. Terdapat satu irisan roti dibawahnya, lalu diatasnya di beri selada dan beef serta sayuran lainnya. Smorebrod ini adalah salah satu makanan khas denmark yang sangat di sukai oleh bunda.


...



...


Dan iya... kami juga memesan hidangan penutup yang sangat di gemari oleh warga odense, termasum aku juga. Risalamande, puding nasi dengan bahan utama beras yang diolah dengan campuran krim almod, vanili, gula dan karamel.


Dan yang membuat puding nasi ini semakin lezat adalah siraman saus cherry, sangat cocok dimakan waktu pagi seperti ini.


...

__ADS_1



...


"Not bad," ucap Dareel menatapku dan memulai memakan hidangan. Aku tersenyum melihat dareel dengan lahap memakan masakan khas Denmark ini.


Setelah kami menghabiskan semua hidangan, yang kupikirkan adalah pulang. Namun dareel meminta untuk menaiki perahu di siang hari.


"Ayo, Al. Kamu kekenyangan kan, makanya gak mau gerak." Ucap dareel berjalan mendahului ku setelah keluar dari restoran. "Enak aja bilang aku gak mau gerak," jawab ku tak mau kalah.


"Yaudah kalau gitu ayo naik," Dareel menarik pelan tangan ku. "Dareel ih," sungguh, aku ingin tidur sekarang. Benar juga kata dareel aku kekenyangan. "Ayo, aku gendong," Dareel berjalan mendekatiku yang berjalan sangat lambat. "Nggak mau, aku jalan sendiri," ucapku berjalan sedikit cepat menghindar dari Dareel.


*


Aku melirikkan mataku sepanjang perjalanan menaiki perahu ini, ternyata juga sangat menyenangkan menaiki perahu siang hari seperti ini. Biasa nya aku dan bunda menaiki malam hari, tapi siang hari pemandangan warna warni khas kota odense semakin terlihat memukau.


...



...


"Alana... ." Panggil dareel disamping ku, aku menoleh. Cekreekk.. Dareel memotret ku, tunggu... aku baru sadar dareel membawa kamera.


Beberapa kali aku tersenyum dan berpose saat dareel mengambil foto ku. Kami juga berfoto berdua, banyak sekali foto yang kami ambil. Aku teringat ucapan bunda waktu itu.


Suatu saat kamu akan datang kemari bersama orang spesial yang sangat mencintaimu dan menaiki perahu disini, ucapan bunda saat itu. Dan disinilah kami berdua, aku dan dareel. Apakah orang yang dimaksud spesial itu adalah dareel?.


Aku menatap dareel yang kini tersenyum dan mengusap tangan ku. Semoga saja, aku berharap hubungan kami semakin membaik, aku membalas tersenyum kepada dareel dan menyenderkan kepala ku di pundaknya menikmati suasana yang sangat menyenangkan ini.


Ethan POV


"Ya... ." Jawab seseorang dari dalam rumah kaca bergaya minimalis ini. "Tu-tuan Ethan," ucap bibi setelah membukakan pintu untuk ku.


"Siang bi, bagaima kabar kalian berdua? Ah iya, bolehkan aku masuk." Tanya ku saat bibi tidak kunjung menawari ku untuk masum kedalam.


"Ah iya tuan, silakan. Ta-- tapi... sebelumnya saya minta maaf, bagaimana tuan ethan tau kalau non alana ada disinu?" Bibi menatap ku bingung.


"Kami bersahabat lima tahun lebih, aku tau dimana tempat alana menenangkan pikirannya. Belum terlambatkan untuk menjemput alana?" Ucap ku pada bibi.


...*****...


...TBC...


Jangan lupa vote dan comen yaaa teman-teman


Terima kasih 😊🥰


Dan iya.. Maaf banget aku jarang update akhir-akhir ini karena ada kepentingan juga yang gak bisa di tinggal, maaf yaa manteman 😁

__ADS_1


__ADS_2