Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
SEBELAS


__ADS_3

...Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak anak yang tidak beruntung akan sebuah keluarga, tapi aku bersyukur setidaknya aku bisa menjadi kuat dan tetap bertahan sampai di titik ini...


...♡♡♡...







Dareel POV


"Iya, sekarang gue sama Alana," Ucapku pada Nattali di telfon. "Emang ada apa reel, lo tiba-tiba tanya tentang Vano?" Tanya Nattali karna memang aku tadi menanyakan tentang lelaki yang dekat dengan Alana, ternyata Alana memiliki kekasih namun aku tau Alana tidak mencintainya karena itu sebuah perjodohan. "Enggak, gue cuma kayak pernah kenal aja sama Vano itu." Elak ku pada Nattali.


"Gue kemarin ada urusan sama Alana, tapi kemarin malem dia gak ada dirumah. Lo tau kemana dia pergi?" Aku memelankan suara ku saat bertanya pada Nattali, karena sekarang aku sedang berada tidak jauh dari Alana di taman belakang rumah ku.


"Oh kemarin malem? Dia pergi ke pesta apa ya gue lupa juga, dia pergi sama Vano itu," benar dugaan ku, pasti lelaki itu yang memberi Alana obat perangsang. Aku melirik kearah Alana yang masih sibuk bermain dengan lala dan kiki.


"Hmm gitu ya... Thanks Natt, kalau gitu gue tutup ya telfonnya," ucap ku menutup panggilan telfon setelah mendapat respon dari Nattali.


Aku berjalan menuju dapur untuk membuatkan Alana jus lagi, karna tadi jus nya tumpah karna tersenggol oleh lala dan kiki. "Lo sengaja ya, gunain lala sama kiki biar gue maafin lo." Ucap Alana di belakang ku.


Aku menghadapnya dan mengusap lembut pipinya, "Heemm, aku gak ada maksud sama sekali bilang gitu. Bagiku.. Apapun kamu, kamu tetep Alana ku." Ucapku mencium hidungnya, "Maaf, ya," lanjutku mengecup bibirnya.


Alana menjauh, berjalan ke meja makan. " Lo kira kehidupan gue bener-bener rusak ya?" Alana menatap ku. "Gue juga gak tau siapa yang masukin obat itu ke minuman gue," lanjutnya.


"Aku tau, Al. Apa kamu pergi dengan Vano?" Tanya ku dan memberikan segelas jus jeruk pada Alana. "Lo tau Vano?" Ucapnya setelah meneguk jus yang ku berikan. Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Iya gue ke pesta sama Vano, tapi selama dipesta gue gak sama Vano, dia sibuk sama temen-temennya yang lain," ungkap Alana menatap ku bingung. "Bodoh amatlah, mungkin orang iseng," lanjut Alana berbalik akan kembali lagi ke halaman belakang.


Aku memeluknya dari belakang, "Al, mulai sekarang tolong lebih hati-hati, jangan sembarang meminum alkohol. Aku khawatir Alana, itu sama sekali nggak sehat." Ucap ku mencium tengkuknya.


Alana melepaskan pelukan ku dan berbalik menghadap ku, "Kenapa lo gak mau tidur sama gue? Apa gue jelek saat mabuk?" Tanya Alana padaku, Aku tertawa mendengar pertanyaan nya ini.


"Apa kamu mau kita melakukannya sekarang? Melakukan **** saat sadar lebih normal daripada **** saat mabuk dengan begitu kita bisa saling menikmati." Ucap ku menggoda Alana. Dan sekarang ku lihat wajah Alana memerah dan dia menelan ludahnya, sangat menggemaskan.

__ADS_1


Alana POV


Sial, apa yang dia katakan.. menikmati ****? Apa dia tidak punya malu mengatakan itu di depan ku. "Apa maksud lo? Lo gak tau malu banget bicara gitu ke gue." Ucap ku mengalihkan pandangan ku darinya.


"Padahal siapa kemarin yang nyium aku dulu," ucap Dareel saat berjalan melewati ku menuju wastafel. "Eh lo tau kan gue gak sadar, maksud gue.. saat itu kan gue terpengaruh obat itu. Iisssh lo nyebelin banget," ucapku mengikuti Dareel di belakangnya.


Aku duduk di meja makan memperhatikan Dareel yang sibuk mencuci gelas di wastafel. Dia dan delapan tahun lalu tidak banyak berubah, sifatnya yang lembut dan semakin dewasa. Tidak Alana, jangan memberinya cela untuk memasuki hidup mu lagi, batin ku dalam hati.


"Hmm, lo tinggal disini sendirian?" Tanya ku pada Dareel, karna dari kemarin aku tidak melihat siapapun disini selain kami. "Sama paman, dia lagi ada urusan. Nanti siang dia pulang, ah iya kamu gak berangkat kerja? Tapi ini udah jam sepuluh lebih." Ucap Dareel menjukkan arlojinya pada ku,  Ooh ternyata dia tinggal dengan pamannya.


"Nggak gue capek, gue masih pingin main sama lala kiki. Kenapa? Lo ngusir gue?" Ucap ku menatap sewot Dareel yang tersenyum lembut padaku. "Aku seneng kamu disini, seneng banget malah," ucapnya berjalan menghampiriku. "Lo sendiri gak ke kampus?" Tanya ku pada Dareel, dia menggeleng. Terserahlah, bukan urusan ku juga, batin ku.


"Mau jalan-jalan keliling rumah? Aku tau kamu suka rumah kaca," Dareel mengenggam tangan ku dan menuntun ku berjalan berkeliling melihat lihat rumah ini. Rumah ini sangat indah, bernuansa hitam putih, jika di lihat dari luar rumah ini tidak terlalu besar namun saat berada di dalam sungguh ini menakjubkan, rumah ini sangat luas.


"Sangat indah," gumam ku di samping Dareel. "Tapi tidak seindah rumah kamu," balas Dareel mengusap kepala ku. "Apaan, itu bukan rumah gue, Itu rumah Bapak Surya Abraham yang terhormat." Ucapku, memang benar kan itu rumah papa bukan rumah ku. Lebih tepatnya setelah kepergian bunda, rumah itu bukan lagi tempat untuk ku pulang.


"Dareel, paman beli pizza sama spageti." Teriak seorang pria mengagetkan ku, sepertinya dia paman Dareel. Aku tersenyum menunduk padanya sebagai sapaan.


"Siapa wanita cantik ini? Apa dia teman mu hemm?" Tanya paman Dareel tersenyum pada ku dan menatap Dareel dangan tatapan menggoda. "Dia Alana... Alana ini paman ku," ucap Dareel pada ku dan aku tersenyum mengulurkan tangan ku, paman Dareel menerima uluran tangan ku "Alana, Saya paman nya Dareel, Arnold. Dareel tidak pernah membawa wanita kerumah jika tidak benar-benar spesial, apalagi meminjamkan mu pakaiannya." Penjelasan paman membuat ku tersenyum malu. Semoga dia tidak berpikiran yang tidak-tidak kepadaku.


"Ah apa yang paman bawa? Ayo kita makan," ucap Dareel mengambil ahli bungkusan makanan dari paman arnold tanpa melepas genggamannya padaku. "Hey, apa kau tidak punya baju yang berukuran sedikit kecil? Lihatlah Alana pasti kegerahan memakai pakaian yang sangat kebesaran itu." Ucap paman arnold membuat ku tertawa mendengarnya.


*


Aku menengok saat lala menendus kaki ku, "Hey, kemarilah... ." Ucapku menggendong lala di pangkuan ku. Lalu aku melihat kiki berlari kearah ku, "Kau juga, kemarilah... ." Aku mengelus bulu lembutnya.


Aku memperhatikan interaksi Dareel dan Pamannya, sungguh ini pemandangan yang menurut ku sangat indah. Mereka bermain game dan saling berteriak jika salah satu dari mereka kalah, bahkan mereka tidak sungkan untuk saling mengejek. Mereka berdua seperti teman, rasanya pasti sangat menyenangkan memiliki keluarga seperti ini.


Tiba-tiba aku teringat dulu saat kami bertiga hidup bahagia, sebelum Papa naik jabatan sebagai maneger. Papa, bunda dan aku, kami bertiga selalu mengadakan kompetisi memasak setiap akhir pekan. Aku selalu menjadi juri dalam perlombaan ini, yang selalu di menangkan oleh bunda, bahkan papa selalu mengalah dan berakhir dengan kalah.


Tanpa sadar aku meneteskan air mata, dengan cepat aku mengusapnya. Aku tersenyum melihat Dareel yang kini kalah dan sedang mencoba mengganggu permainan Paman.


"Alana.. lihatlah betapa curangnya anak ini, dia memang selalu seperti itu." Ucap Paman Arnold padaku. "Hey, lihat kau sekarang kalah di depan kekasih mu. Sudahlah berhenti untuk menutupi, kau tidak jago dalam permainan ini." Ucap Paman yang di tujukan pada Dareel.


"Tidak, kami bukan kekasih." Aku mengatakan pada paman karena memang aku bukan kekasih Dareel, aku melihat Dareel menatap ku lama. Ku ahli kan pandangan ku saat aku merasa canggung, "Hmm baiklah, lala kiki kemari. Akan ku buatkan kalian susu, ikut dengan ku." Ucap Paman menggendong lala dan kiki, meninggalkan kami berdua.


Dareel tersenyum menggenggam tangan ku, "Aku akan berganti pakaian dan pulang," ucap ku melepaskan genggaman Dareel. "Akan aku antar," jawab Dareel.


*

__ADS_1


Saat ini aku berada di kamar tidur Dareel, bibi sudah mengantar pakaian ganti untuk ku, jadi aku harus segera pulang. Setelah aku berganti pakain aku berdiri di depan cermin, kenapa tiba-tiba aku ingin pulang kerumah. Aku sangat merindukan suasana rumah, sudah hampir 2 tahun aku tidak berkunjung sama sekali.


Aku terkejut saat Dareel ada di belakang ku dan mengisir rambut ku, dia mengambil tali di pergelangan tangan ku dan mengikat rambut ku. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun?" Tanya Dareel padaku. "Enggak ada," jawab ku berjalan ke tempat tidur.


"Vano... apa kau mencintainya?" Tanya Dareel tiba-tiba. "Jika tidak setuju dengan perjodohan ini, kau bisa menolaknya. Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?" Lanjut Dareel menarik lenganku agar aku menghadap padanya.


"Andai gue bisa nentuin hidup gue sendiri, gue juga pasti akan nolak perjodohan ini." Aku tertawa miris, sungguh aku ingin tertawa sangat kencang. Menertawakan hidup ku yang seperti lelucon ini. "Alana, katakan semuanya padaku, ceritakan semuanya.. Aku disini, aku akan datang ke Papa mu dan-" ucap Dareel.


"Lo gak perlu ngelakuin ini, lo bukan lagi bagian dari hidup gue. Bukan berarti lo kemarin nolong gue dan sekarang lo mau menyelesaikan masalah gue. Ini urusan gue, Stop,  berhenti merasa bersalah dan gue gak mau di kasihani sama orang asing." Ucap ku memotong perkataan Dareel.


Aku tau perkataan ku kasar dan menohok, tapi aku juga tau Papa bisa melakukan apa saja untuk menghancurkan seseorang yang menghalanginya. Setelah aku melihat kebahagiaan Dareel dan Pamannya, aku tidak mau menjadi penyebab kesedihan keluarga ini.


"Orang asing?" Dareel tersenyum miring. "Oke, anggap saja aku bukan lagi bagian dari hidup mu. Tapi aku sangat mencintaimu, sudah ku katakan berulang kali, aku akan melakukan apapun untuk mu, bahkan jika itu harus mengahancurkan diriku sendiri. Aku masih sangat menginginkan mu seperti delapan tahun lalu, kamu masih menjadi orang yang ku harapkan untuk bisa bersama." Ucap Dareel terdengar sangat tulus, apa dia benar-benar mengatakan ini? Tidak, aku tidak mau menatap matanya.


Jika benar aku adalah orang yang dia inginkan untuk hidup bersama lalu kenapa dia meninggalkan ku karna sebuah ancaman. Bahkan dia kembali saat hati ku sudah tidak merasahkan apapun pada sebuah hubungan, bahkan aku hampir tidak percaya lagi yang namanya cinta.


"Aku akan mengantar mu, aku tunggu di bawa," ucap Dareel setelah beberapa menit aku tidak menjawab ucapannya, ku lihat Dareel keluar dari kamar dengan wajah kecewa. Alana... seharusnya ini tidak terjadi, seharusnya kau tidak semakin dekat dengan Dareel sepeti ini. Aku menghembuskan nafas panjang dan berjalan turun, Setelah berpamitan dengan paman, aku akan pulang.


*


Aku menoleh pada Dareel yang saat ini sedang fokus mengemudi. Dari tadi Dareel tidak berbicara sama sekali, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah ku. Terserah, aku tidak peduli.


Saat telah sampai di depan rumah ku, Dareel turun dan membukakan pintu mobil untuk ku. "Aku tau pertunangan mu di lakukan dalam waktu dekat ini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milik ku." Ucap Dareel menatap mata ku.


"Gue bukan milik lo setelah delapan tahun lalu, dan berhenti ikut campur urusan gue. Pada akhirnya kita juga yang akan hancur." Ucap ku mendorong sedikit tubuh besar Dareel agar aku bisa keluar dari mobil.


"Aku tidak akan melakukannya setengah-setengah, Alana. Aku sudah memulainya, jika harus hancur maka biarlah. Bukankah kehancuran lebih baik daripada hidup seperti ini?" Baru pertama kali aku melihat Dareel tersenyum dengan ekspresi sangat mengerikan seperti ini.


"Memulainya? Maksud lo?" Tanya ku bingung dengan ucapan Dareel. Dareel hanya tersenyum dan mencium kening ku, "Masuklah," ucapnya seteleh itu. Aku segera berbalik untuk meninggalkan Dareel dan masuk kerumah yang telah lama ku tinggalkan ini.


Setelah memasuki gerbang, aku teringat tali rambut ku tertinggal di mobil Dareel. Saat aku akan mengambilnya, aku melihat Dareel dari gerbang yang sedikit terbuka, dia sedang menelfon seseorang.


Sepertinya masalah serius yang sedang diperbincangkan Dareel dengan lawan bicaranya di telfon, dengan mata tajam menatap dan tangan mengepal. Apa yang sedang dia bicarakan, mengapa Dareel terlihat sangat marah, batin ku dan menutup gerbang kembali.


...******...


...TBC...


Vote and Coment Pliss 🙂

__ADS_1


Thanks All 😊


__ADS_2