Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
TUJUH


__ADS_3

...Bagaimana caranya agar aku bisa kembali seperti sediakala memperlakukan mu, setelah semua rencanaku kau buat berantakan sesukamu waktu itu...


...♡♡♡...







Dareel POV


"Win, kok bisa lo ada disini?" Tanya ku saat tiba di depan kantor polisi dan melihat Edwin akan menaiki motor sport nya. "Biasa reel masalah balapan," ucap Edwin, sesuai dugaanku tadi pagi.


"Sekarang lo mau kemana?"


"Ke apartement, gak mungkin lah gue pulang kerumah sekarang." Jawab Edwin, anak ini selalu bersikap seoalah-olah tidak terjadi apa-apa. Memang di antara kami bertiga, Edwin adalah orang yang paling tenang dan santai jika menghadapi masalah apapun itu.


"Gue balik ke kampus dulu, nanti sore habis rapat gue ke rumah lo, oke." Aku menepuk pundaknya, memang 1 jam lagi ada rapat di kampus tempat ku mengajar. Jadi aku tidak bisa menemani Edwin sekarang, nanti sore aku akan datang menemuinya lagi.


Di sinilah aku sekarang bersama para dosen lainnya dan beberapa Profesor. Seperti tahun-tahun sebelumnya, rapat ini membahas tentang Evaluasi Persiapan dan Pencapaian Mahasiswa baru. Sudah dua jam kami mendiskusikan tentang pembahasan ini, ku lirik arloji ternyata masih jam sebelas siang.


*


Tepat pukul dua belas siang kami keluar dari gedung rapat, semua dosen menuju ke kelas mata kuliah mereka masing-masing, termasuk Dion. Namun tidak dengan ku, Profesor meminta ku untuk membantunya menyiapkan materi seminar yang akan laksanakan dua hari lagi.


Setelah aku menyelesaikan tugas-tugas ku, ini waktunya aku pulang. Aku akan menamui Edwin, aku akan menelfon terlebih dahulu.


"Hmmm," terdengar suara deheman Edwin dan suara musik sangat keras dari sebrang telfon.


"Lo dimana sekarang?" Tanya ku pada Edwin

__ADS_1


"Gue? Gue di club biasanya," suara Edwin terdengar parau. Apa yang terjadi padanya, kenapa sore-sore begini dia sudah clubbing. Tidak biasanya Edwin seperti ini. "Gue kesana, lo jangan kemana-mana." Ucapku tidak mendapat respon dari Edwin, segera aku matikan panggilan dan bergegas pergi menemuinya.


Aku memasuki sebuah club, ku lihat Edwin duduk di sofa pojok dan didepannya terdapat beberapa botol minuman. Sepertinya dia sudah lama ada di tempat ini, aku menghampirinya "Lo udah habis berapa gelas, udah win." Aku meraih gelas berisi alkohol itu saat Edwin akan meminumnya.


Edwin menunduk meremas rambutnya frustasi. "Lo kenapa, cerita sama gue," ucapku menepuk punggungnya. "Kemarin malam gue balapan. Lo kenal Rion kan, yang pernah ada masalah sama Dion dulu. Dia ngefitnah gue, dia bilang gue pakek narkoba dan dia juga yang aduin ke kantor polisi kalo malem itu ada ajang balapan." Aku mengangguk sebagai respon, aku memang tahu siapa Rion itu. Dia memang selalu mencari masalah baik dengan ku maupun dengan Edwin dan Dion.


"Gue di tahan di kantor polisi, tadi pagi orang suruhan bokap gue dateng ngebebasin gue. Gue tau ini bakal panjang urusannya, gue cuma kepikiran sama nyokap gue pas denger berita gue di tahan karna kasus narkoba dan balapan liar itu." Lanjutnya menghembuskan nafas dan menyugar rambutnya.


"Gue pulang kerumah, dan lo tau apa yang gue liat? Nyokap gue nangis di hajar sama bokap gue karna ngebelain gue, saat gue mau nolong nyokap gue. Semua bodygauard bokap gue ngehadang, gue gak bisa ngelakuin apapun buat nolong nyokap gue," Edwin menutup mata dan memijit pangkal hidungnya.


"Lo tau kan gimana gilanya bokap gue, kesalahan kecil apapun itu selalu yang jadi pelampiasan nyokap gue. Dia gak pernah percaya sama gue dan nyokap gue, kenapa nyokap gue masih bisa bertahan sama lelaki yang kaya gitu," Ucap Edwin semakin parau. "Dan gue gak bisa berbuat apa-apa, reel," lanjut Edwin.


"Gue tau seberapa gila bokap lo, gue tau. Bukan salah lo bukan salah nyokap lo, percaya sama gue pelan-pelan semua akan membaik. Gue tau lo mau ngelindungi nyokap lo tapi lo juga harus tahan emosi lo saat didepan bokap lo. Masalah narkoba itu lo udah tes? gimana hasilnya?" Ucap ku sedikit menenangkannya dan bertanya tentang hasil tes.


"Negatif lah, sebrengsek-brengseknya gue gak pernah pakek yang begituan," ungkapnya melirikku malas. Aku tersenyum, Edwin memang seperti ini. Orang-orang menganggapnya urakan, playboy dan petakilan. Tapi di sisi lain Edwin sangat baik, bahkan dia selalu menjadi temeng Mamanya. Dan iya... di antara kami bertiga Edwin lah yang memiliki IQ paling tinggi, tapi dia tidak memanfaatkannya dengan baik. Namun, dia menjadi dosen karena keinginan Mamanya. Edwin sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Pulang sekarang? Lo kesini naik apa?," tanya ku pada Edwin, "Gue bawa motor," jawabnya. "Telfon orang rumah lo biar ngambil motor lo disini, ayo gue anter ke apartement lo," ucapku dan berusaha membantu Edwin berdiri. "Udah gue telfon tadi,"


Saat aku membantu Edwin berjalan melewati orang-orang yang sedang menari dengan alunan musik, tiba-tiba mataku menatap seorang wanita yang duduk di meja bar tidak jauh dariku. Alana... Itu Alana, mengapa sore-sore begini dia ada disini, Pikirku.


*


Aku kembali lagi ke club tadi setelah mengantar Edwin pulang. Aku menuju meja bar tempat tadi aku melihat Alana ada disana, namun sekarang dia sudah pergi. Aku melirik kesana kemari dan mencarinya tapi tidak menemukannya. Sungguh kepala ku sangat pusing mendengar musik yang sangat keras ini. Kemana perginya Alana.. dengan cepat aku menekan nomernya, menelfon Alana. Sial, dia tidak mengangkat panggilan ku.


Aku kembali lagi ke meja bar dan bertanya kepada bertender yang ada disana, "Ah Alana ya? Setengah jam yang lalu dia pergi, biasa nya sih dia kesini malem-malem. Tumben juga dia tadi dateng sore gini." Ucap bertender itu, samar-samar aku mendengarnya. Baiklah aku akan mencoba ke apartementnya, mungkin dia sudah pulang.


Saat aku akan memasuki apartement Alana, bibi yang membantu pekerjaan rumah Alana itu keluar. Lalu aku bertanya padanya. "Bi, maaf apa Alana ada di dalam?"


"Non Alana? Dia ada dikamar, tapi maaf tadi nona pesan katanya nona tidak mau di ganggu," jelas bibi padaku. "Ah saya Dareel, teman Alana. Tadi Alana menghibungi saya, makanya saya kesini," ucapku berbohong pada bibi. "Oooh temannya ya.. yaudah masuk saja, saya permisi mau pulang," wanita paru baya itu tersenyum padaku dan ku balas dengan mengangguk.


Aku segera menaiki tangga menuju kamar Alana, saat aku memasuki kamarnya. Ku lihat Alana sedang tertidur membelakangi ku. Aku berjalan menghampirinya, aku duduk di tepat di depan wajah cantik yang tertidur itu. Tunggu... apa dia menangis? Alana terisak pelan dan matanya mengeluarkan air mata.


Aku segera mengelus kepalan Alana dan menenangkannya, perlahan dia membuka matanya. Dia mengerjap menatap ku, aku segera memberikan air putih yang ada di atas nakasnya. Alana duduk lalu menerimanya. "Apa kamu mimpi buruk?," tanya ku pada Alana.


Apa ini sering terjadi kepada Alana? Dia menangis dalam tidurnya. "Kenapa lo disini?" tidak menjawab pertanyaan ku, dia malah balik bertanya. Aku merapikan rambutnya yang berantakan dan tersenyum kecil, sungguh menggemaskan Alana ku ini.

__ADS_1


"Sore tadi aku melihat mu di Club tapi saat aku datang kamu udah pergi," jawab ku yang tidak mendapat respon dari Alana. Alana kembali membaringkan tubuhnya di kasur dan menutup matanya, tidak memperdulikan ku yang duduk di sampingnya.


"Al kamu mau makan apa? Aku masakin ya apa aku delivery aja?" tanyaku pada Alana. Alana membuka matanya dan bergeleng "Kenapa lo balik lagi?" Tanya Alana padaku.


"Lo tau kan lo sama papa yang buat hidup gue hancur, lo ninggalin gue dan buat gue berfikir apa salah gue ke lo. Lo janji bakal jagain gue, tapi saat papa nyakitin gue lo udah gak ada lagi," ucap Alana terisak pelan menatap ku dengan matanya yang merah karna menahan tangis.


"Al, sekarang aku disini. Kamu bisa marah i aku, maki-maki aku, kamu bisa melakukan apapun padaku. Tapi percayalah, aku benar-benar telah kembali sekarang. Iya aku meninggalkan mu, itu adalah kebodohanku. Seharusnya aku tidak percaya pada Papa mu waktu itu.. tapi, maaf Al." Aku menggenggam tangannya, dan Alana tidak menolak.


"Gue tau papa ngancem lo, tapi seharusnya apapun itu loh jangan ninggalin gue. Sekarang gue takut kalo lo bakal ninggalin gue lagi. Sorry reel, sulit bagi gue nerima semua ini." Alana melepaskan tangan ku dan berbalik memunggungi ku.


"Aku tahu ini sangat menyakitkan Al.. tapi aku sudah ada disini, aku akan melakukan apapun yang membuatmu bahagia meskipun itu nggak bisa mengembaliin semuanya. Perlahan, Al.. Perlahan kamu akan menerima ku." Ucapku mengelus kepalanya dan membenarkan selimut yang dikenakan Alana.


Saat aku akan keluar dari kamarnya, tiba-tiba Alana memanggilku. "Dareel," aku datang kepadanya, dia bergeser memberi ku tempat di kasurnya. "Gue gak bisa bohong, gue kangen sama lo, tapi lo jangan macem-macem," Ucapnya sambil menepuk kasur yang kosong disampingnya, menyuruh ku untuk tidur.


"Kalau gue udah tidur lo boleh pergi," ucap Alana memasang guling sebagai pembatas di antara kami. Aku tersenyum melihat tingkahnya, ternyata dia belum berubah. Ini yang sangat ku rindukan dari Alana.


Alana perlahan mulai menutup matanya... menatap wajah Alana yang tenang seperti ini membuatku hatiku nyaman, membuatku melupakan semua masalah yang terjadi.


*


Ku rasa Alana sudah tidur, aku menggerakkan tangan di depan wajahnya. Benar, dia tertidur dengan nyenyak. Aku tidak bisa berhenti tersenyum, bagaimana bisa dia menggemaskan sekali bahkan saat tidur begini.


Aku melihat ponsel ku yang dari tadi bergetar, ada sembilan panggilan tak terjawab empat puluh lima menit yang lalu. Lima panggilan dari Dion dan empat panggilan dari Edwin, lalu ku buka pesan masuk.


Apa kau menginap dirumah teman mu malam ini? Apa terjadi sesuatu?, Tulis pesan yang dikirim oleh Paman. Aku lupa tidak mengabarinya kalau malam ini aku tidak pulang. Ya aku tidak pulang, aku menginap dirumah teman. Maaf membuat mu khawatir paman, jawab ku pada pesan Paman.


Lalu aku membuka pesan lainnya dari Dion. Reel, buruan kesini Edwin di jebak sama gengnya Rion. Gue searloc lokasinya. Ada apa lagi ini, kenapa Rion dan teman-temannya itu selalu mencari masalah dengan kami. Bukankah kami sudah terlalu tua untuk masalah perkelahian yang dilakukan anak muda. Merepotkan saja.


Aku menatap Alana lagi yang tertidur sangat pulas, aku mengelus rambutnya, benar-benar sangat indah. "Aku pergi yaa," pamit ku lirih dan mencium hidungnya. Lalu perlahan aku turun dari tempat tidur agar tidak membangunkannya. Aku harus menemui Dion dan Edwin, mereka sahabat ku dan sedang membutuhkan ku.


...*****...


...TBC...


Vote and Comen Please! 😊

__ADS_1


Thanks all 🙂


__ADS_2