Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
TIGA PULUH


__ADS_3

...'Siapapun yang spesial juga akan dipertemukan dengan sosok yang spesial'...


...Bukan untuk mencari yang spesial atau kurang, tetapi dengan satu tujuan untuk menyempurnakan...


...♡♡♡...







Alana POV


Kini aku berada didepan lelaki yang tengah menatap ku dengan tajam, lihatlah dareel sangat menakutkan jika seperti ini. Dari dua jam lalu setelah bangun tidur dareel tidak berbicara sama sekali dan kini kami berdua berada di kursi taman belakang.


"Aaah dingin banget cuacanya," ucapku mengusap lengan ku, mencoba mencairkan suasana namun dareel tetap diam menatap ku. "Berhentilah menatap ku seperti, sungguh itu menakutkan." Aku menatap dareel melas.


Aku melihat dareel menghembuskan nafas panjang, dan menggelengkan kepala. "Baiklah, aku tidak akan bertanya apapun, aku akan menunggu kamu sendiri yang menceritakan semuanya, salah satunya tentang kamu sama ethan." Ucap dareel.


Dareel berdiri dari duduknya dan berlutut didepan ku, "I know, kamu butuh waktu untuk sendiri setelah melewati semua ini. Tapi aku adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas luka mu itu, jika kamu pergi bagaimana aku bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki itu?" Ucap dareel pelan, memegang tangan ku.


Aku menatap dareel yang masih berlutut didepan ku, "Alana, aku sangat takut, mencari mu kemana-mana seperti orang gila. Bahkan setiap hari aku selalu melihat bayangan kamu, setiap hari aku berpikir 'apa ini hukuman untuk ku karena telah menyakitimu' sungguh itu membuat ku gila." Dareel menunduk dan kini ku rasakan tangan ku basah.


Dareel menatap ku lagi, tunggu... apa dia menangis? Ya Tuhan.... "Dareel..... Sorry." Aku tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi. "No, its not your fault. Im the one at fault, Im sorry alana." Ucap dareel.


Aku ikut berlutut didepan dareel, "Apa kamu benar-benar merasa seperti itu?" Tanya ku pelan mengusap air mata dareel, dareel mengangguk. "Baiklah, anggap saja rasa yang membuat mu tersiksa itu sebagai balasan karena telah melukai ku." Ucap ku mengusap rahang dareel.


"Tapi... aku sudah memaafkan mu. Aku pernah mengatakannya padamu, 'entah seperti apa takdir kita, kita lihat bagaimana hubungan kita kedepannya'. Dan ya... perlahan aku menerima mu, aku ingin mengulang semuanya seperti katamu. Dareel.. kamu tidak bisa memperbaiki apa yang telah hancur, tapi kamu bisa memulai kembali dan menciptakan yang lebih baik lagi." Aku menatap dareel.


Dareel menatap ku dan memeluk ku, aku mengusap punggungnya. "Kita bisa memulai semuanya dari sekarang," ucapku pelan. "Alana, aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintai mu bahkan rasanya aku hampir gila." Ucap dareel mencium pipi ku.


"Bukankah memang sudah gila?" Aku sedikit mendorong dada dareel, "No, jangan melepas pelukan ku, aku sangat merindukan mu, really." Dareel kembali memeluk ku erat dan mencium kening ku berulang kali.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan lala dan kiki, kenapa kamu tidak membawa mereka?" Tanya ku di selah-selah pelukan kami. "Tidak, mereka hanya akan mengacaukan momen kita nanti." Jawab dareel, aku menjabak pelan rambutnya.


"Rambut mu mulai panjang," ucapku mengusap rambut dareel. "Sengaja, biar kamu enak ngeremasnya." Dareel mengecup tengkuk ku. "Apaan sih, mesum." kami berdua tertawa, Ya... keputusan ku adalah memberikan kesempatam lagi kepada dareel. Dan untuk ethan, dia seperti kakak ku, aku sangat menyanyangi nya namun kami tidak bisa lebih dari sebuah sahabat.


*


"Ya, mungkin dua minggu lagi aku akan kembali ke indonesia."


"....."


"Dareel ada disini, semuanya baik-baik saja kak."


"....."


"Bagimana mungkin aku melupakan hari spesial mu, aku akan datang dipernikahan mu."


"....."


"Oke, oke, jaga juga kesehatan mu, Bey."


Aku menutup panggilan ku, barusan aku menelfon nattali, aku menceritakan bahwa dareel ada disini dan aku sudah menentukan tanggal untuk kepulangan ku ke indonesia.


Hemm, jawab dareel. "Hanya 'Hem'?" Tanya ku pada dareel tanpa menatapnya. "Aku ingin bertanya tapi ah sudahlah nanti saja," ucap dareel tiba-tiba.


Aku menoleh padanya, "Katakan," sahut ku masih fokus pada televisi. "Baiklah, dengarkan aku," Dareel mengambil remoot dari tangan ku dan mematikan televisi, aku menatap tajam pada dareel.


"Ethan... Dia mencintai mu." Dareel mematap ku serius. "Ya, aku tau. Lalu?" Jawab ku menatap dareel dan tersenyum, "Kamu gak tanya dulu gitu, siapa ethan dan bagaimana bisa dia mencintai ku?" Tanya ku lagi pada dareel.


"Dan kamu tidak mengatakan apapun padaku tentang ini?" Dareel masih menatap ku tajam. "Bagaimana aku bisa menceritakan kerumitan ku dengan ethan, saat hubungan kita juga belum menemukam titik jelas? Aku sendiri tidak tau bagaimana ethan bisa mencintai ku." ucap ku pelan menatap dareel lemah.


"Kami bertiga bersahabat kurang lebih enam tahun, aku, ethan dan nattali. Tapi dua tahun lalu ethan menetap di amerika dan baru kembali akhir-akhir ini." Aku mencoba menjelaskan pada dareel.


"Kami bertiga sudah seperti keluarga, ethan.. dia seperti kakak kami. Dia mengatakan bahwa aku harus memilih, hidup bersama ethan atau menghancurkan persahabatan kita." Ucap ku tersenyum tipis dan menatap dareel.


"Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan diri dan berpikir lagi tentang kamu dan ethan, kalian berdua... Aku mencintai kalian dengan radar yang berbeda. Dan bagimana bisa aku memulai hubungan dengan ethan jika aku masih sangat mencintai mu?" Ucap ku pada dareel yang hanya diam saja.


Namun tiba-tiba dareel mencium bibir ku, untuk beberapa detik aku hanya terdiam karna terkejut dan perlahan-lahan aku membuka mulut ku. Dareel tidak menyia-nyiakan itu, lidah kami beradu hingga aku sedikit mendorong dada dareel karna kehabisan oksigen.

__ADS_1


"Jangan di teruskan cerita itu," Ucap dareel mengusap bibir ku yang basah. "Why?" Tanya ku terengah-engah. Tidak menjawab pertanyaan ku, dareel melanjutkan mencium bibir ku dan memojokkan ku di tepi sofa.


"Dareel stop," ucap ku saat tangan dareel membuka pengait bra ku dari balik kaos yang ku kenakan. Namun lagi-lagi dareel tidak mendengarkan ku dan kini malah menciumi leher ku.


Aku menggeliat pelan saat tangan dareel mengusap paha ku pelan, dan bodohnya aku malah mendongak dan meremas rambut dareel seakan aku menerima erangannya ni. Sial


"Apa kita akan melakukannya disini?" Tanya ku pelan pada dareel yang kini sibuk mengecup i area wajah ku. "Mau di kolam?" Astaga eksi sekali suara itu, bodoh alana sadarlah.


Tidak, jangan alana... Jangan biarkan dareel melakukan itu untuk kedua kalinya, sadarlah bodoh, sadarlah kau terlihat seperti wanita yang sangat mendambahkan sentuhan dareel. Tapi ku akui aku sangat menyukai kegiatan ini, tidak, tidak, aku menggelengkan kepala.


"Dareel.... Aaah," tanpa sadar aku endesah saat ku rasakan tangan dareel mulai meraba area sensitif ku. "Dareel, kamu pernah bilang- aku- jika aku tidak menginginkannya maka kamu tidak akan- melakukan itu," ucap ku terengah-engh.


Berhasil, kini dareel diam dan menatap ku untuk beberapa detik. Lalu dareel menarik ku edalam pelukannya dan membenarkan pakaian ku yang terbuka sana sini akibat ulahnya, "Maaf, aku hampir memaksa mu." Ucap dareel mengusap rambut ku.


Aku mengangguk dan tersenyum, "Tapi... ini menyiksa ku al, dia sudah berdiri." Ucapnya memejamkan mata, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Aku menatapnya bingung, apanya yang berdiri? Ah sudahlah, aku kembali menyalakan televisi dan melanjutkan menonton drama tadi.


Dareel POV


Aku keluar dari kamar mandi setelah mengontrol hasrat ku, Sial, aku hampir memaksa alana. Ada apa dengan ku, karna nama lelaki itu aku menjadi emosi.


"Kenapa lama sekali?" Aku terjingkat saat suara lantang alana berada di belakang ku. "A- anu, perut ku sakit. Ya, perut ku sakit," jawab ku bohong. "Hemm, aku lapar, bibi sedang membeli beberapa perabot. Masaklah untuk ku," ucap alana menarik pelan tangan ku.


Aku tersenyum merangkul pinggang rampingnya, "Bohong, bilang aja kamu kangen masakan ku." Ucapku menggoda alana. "Apaan? Biasa aja," jawab alana, aku mengacak rambutnya gemas.


"Mau makan apa, hem?" Tanya ku masih terus mengacak rambutnya. "Bakso ikan?" Jawab alana ragu. "Oke, Siap." Alana tersenyum lebar padaku. "Aku sangat merindukan lala dan kiki, berapa sekarang usia mereka?" Tanya alana padaku. "Eehmm, tujuh bulan mungkin." Jawab ku ragu, karena aku sendiri tidak yakin berapa usia mereka.


...*****...


...TBC...


Vote dan komen ya guys 🙂


Barangkali mau kasih saran, silakan guys aku sangat berterima kasih untuk itu 😊


Oh iya, sekedar kasih info nih, insyaallah 'Sekalian Kalinya' akan tamat sampai di part sekitar 35 atau 36 an yaa 🙂


Ada sequelnya apa enggak? Rencananya sih ada tapi belum tau kapan mulai nulisnya hehhe 🤭

__ADS_1


Pokoknya ikutin terus aja yaa, terima kasih 😊🥰


__ADS_2