Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
DUA PULUH


__ADS_3

...Terkadang yang susah dilupakan itu bukan orang nya, tapi janji dan rencana baik yang sudah di susun bersama...


...♡♡♡...








Dareel POV


Tepat pukul 19.00 aku berada didepan apartement, seperti kata ku tadi siang, aku mengajak Alana berkeliling dan mengunjungi pasar malam yang diadakan mingguan.


Tidak begitu lama, terlihat Alana berjalan kearah ku menenteng helm putih dan memakai hoodie putih serta sepatu putih, seperti yang ku pakai saat ini. Bedanya hoodie Alana berwarna putih, sedangkan milikku berwarna hitam namun dengan model dan motif yang sama.


"Lama banget," ucap ku membenarkan hoodie Alana yang sedikit kebesaran. "Sengaja," jawab Alana, dengan gemas aku mengacak rambutnya.


"Coba hadep sana." Aku membalikkan tubuh Alana, "Eh ngapain," Alana menoleh kebelakang, menatap ku. "Mana karet rambut kamu?" Alana mengulurkan tangannya, aku mengambil kuncir rambut yang ada di pergelangan tangannya.


"Lah kok di kuncir? Kan percuma aku tadi nata rambut." Ucap Alana saat aku merapikan rambutnya. "Aku lebih suka rambut kamu di kuncir daripada di gerai, soalnya kalau di gerai cantiknya nambah bikin banyak yang ngelirik, gak boleh." Ucap ku mengecup singkat bibir Alana.


Aku memakaikan helm di kepala Alana, "Pengangan yang kenceng, nanti mental." Ucap ku menggoda Alana. Alana memukul pelan helm ku namun dia memasukkan tangannya di saku hoodie ku, aku tersenyum pelan.


Sepanjang perjalanan, aku beberapa kali menatap wajah Alana lewat kaca spion. Dia terlihat sangat bahagia, bahkan berulang kali Alana tersenyum dan menutup matanya.


"Al, kedinginan nggak?" Tanya ku setengah berteriak. "Dingin, tapi seru banget reel." Ucap Alana, aku mengusap tangan Alana yang ada didalam saku hoodie ku.


"Tunggu disini, aku mau beli tiket nya." Pintah ku setelah sampai di halaman pasar malam pada Alana yang di jawab anggukan saja. Aku segera mengantri kebarisan loket untuk membeli tiket kami berdua.


Alana POV


Malam ini seharusnya aku pergi dengan Vano untuk menemui keluarga besar nya. Namun aku sengaja pergi dengan Dareel, aku tidak mau menemui keluarga Vano dan aku juga tidak mau melihat wajah mesum Vano.


Aku tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, yang terpenting sekarang aku bisa merasa bebas meskipun hanya tiga sampai empat jam kedepan bersama Dareel.


Non dimana? Tuan Surya marah non, cepet pulang, ada Tuan Vano juga.  Aku membaca pesan dari bibi, aku tidak peduli, kemarahan papa tidak sekali dua kali namun berkali-kali dan itu membuat ku sangat terbiasa.


Dengan cepat aku mematikan ponsel ku agar tidak ada yang mengganggu. Dareel berjalan kearah ku dan membawah beberapa lembar tiket dan juga coca cola kesukaan ku.  "Ayo," Dareel menarik tangan ku.

__ADS_1


Saat pertama kali masuk, aku begitu tepesona dengan aneka wahana disini. Kata Dareel ini pasar malam mingguan, namun bagiku ini lebih dari pasar malam biasanya, ini seperti tempat bermain aneka wahana luar biasa.


Ya Tuhan.. aku ingin menaiki semua wahana disini. Hey Alana, berhenti besikap seperti tidak pernah menaiki wahana ini, jagalah image mu alana dan juga tutup mulut mu yang terbuka itu. Memalukan sekali, rutuk ku dalam hati.


Aku menoleh pada Dareel yang ternyata juga menatap ku, "Aku beli delapan tiket, kita bisa menaiki semua wahana yang ada disini." Ucap Dareel mengusap rambut ku. "Hari ini, hari yang sangat kita inginkan delapan tahun lalu, bukan?" Lanjut Dareel menatap ku, aku mengangguk sebagai jawaban.


"naik itu?" Aku menunjuk wahana yang ku maksud pada Dareel. Lalu kami berdua mengantri untuk mendapat giliran menaiki wahana ombak banyu yang ku maksud tadi.


Saat menaiki ombak banyu, aku melihat ada sepasang pemuda yang memakai seragam SMA yang menaiki wahana ini, mungkin mereka sedang berkencan.



Aku menoleh pada Dareel yang dari tadi tidak bisa diam "Kenapa?" Tanya ku. "Ini nggak ada sabuk pengamannya ya? Serem juga." Dareel menatap ku dengan wajah yang melas. Aku mengalihkan pandangan ku tidak menghiraukan ocehannya, ribet sekali.


Aku tidak berhenti tertawa melihat tingkah dareel sejak turun dari wahana ombak banyu. Mungkin ini yang pertama dareel menaiki wahana tersebut. "Apa masih mual?" tanya ku mengusap punggung nya, dareel hanya mengeleng.


"Dareel, aku mau naik kora-kora itu, kamu duduk sini aja gapapa aku naik sendiri, oke." Ucap ku pada dareel. Namun dareel langsung menarik tangan ku menuju wahana kora-kora, aku tersenyum di belakang daree



"Waaaahhh... Dareel buka mata kamu, seru tau, waaaahhh." Aku berteriak kencang merasakan sensani menyenangkan menaiki wahana ini, namun sejak wahana berjalan dareel menutup mata dan menggenggam tangan ku sangat erat.


Saat menuruni wahana, ada segerombol anak kecil yang salah satu dari mereka berceloteh. "Om itu dari tadi diem aja dan gak mau buka matanya, kalah sama tante yang disampingnya itu." Anak kecil itu menunjuk dareel dan semua teman-teman nya ikut tertawa.


Aku tau dareel memang takut dengan ketinggian, tapi aku sudah melarangnya untuk tidak mengikuti ku menaiki wahana-wahana disini, namun dareel tetap memaksa menemani ku.


Dan iya, kapan lagi aku bisa membuat dareel seperti ini. Melihat wajah nya melas membuat ku tidak berhenti tertawa dari tadi. "Kamu mau main apa lagi?" Tanya dareel pada ku.


"Itu, ayo kesana." Aku melihat permainan meletuskan balon dengan melempar paku kearahnya. "Halla kalau gini gampang banget, biar aku yang main," ucap dareel membanggakan dirinya.


Hadiah dari permainan ini bukan boneka, namun aneka snack dan minuman botol ada juga berbagai macam permen. Aku melihat kantung plastik yang ada di tangan ku, ada empat snack, dua coca cola dan satu kotak susu coklat. Ini semua hadiah yang ku dapat dari permainan ini. Ah, lebih tepatnya dareel yang bermain dan aku yang memilih hadiah.


"Dareel ini udah banyak, ayo cari yang lain." Ucap ku pada dareel yang masih asik bermain. "Oke, oke," jawab dareel mengusap rambut ku.


"Al, ada rumah hantu, ayo masuk." Ucap dareel menarik tangan ku. "Nggak, nggak, kan kamu tau aku takut sama begituan. Pasti serem, kalau di dalem ada yang beneran gimana? Nggak ah." Aku berbalik meninggalkan dareel dan duduk di kursi taman.


"Yaudah kalau gak mau masuk, padahal dari rumah tadi aku udah pingin banget masuk rumah hantu, tapi yaudalah gak apa-apa." Dareel menatap ku dengan wajah melas nya itu.


Aku terdiam sejenak, mengamati dareel yang kini sedang menikmati snack. Sedari tadi dareel menuruti ku menaiki beberapa wahana disini, namun aku sangat takut memasuki rumah hantu itu.


"Oke, siapa takut, lets go." Aku berdiri dari kursi dan diikuti dareel yang tersenyum di samping ku, senyum nya sangat menyebalkan.


Saat kami berdua mengantri untuk menunggu giliran memasuki rumah hantu ini, aku mendengar teriakan pengunjung lain yang ada didalam. Aaah ini sangat menakutkan, aku takut sekali.


Dareel POV

__ADS_1


Aku tau dari awal Alana mempunyai rencana untuk mengerjaiku, dia tau kalau aku mudah mual saat di ketinggian. Alana menyuruh ku tidak mengikuti nya menaiki wahana-wahana ini, lalu bagaimana bisa aku membiarkan dia sendirian dan banyak laki-laki yang ikut menaiki wahana disini.


Kini kami berdua sedang mengantri memasuki rumah hantu yang ku pilih, Alana sangat takut dengan hal berbau mistis. Namun di luar dugaan ku, alana mau masuk bersama dengan ku meskipun kini aku melihat wajah nya yang ketakutan.


"Peluk aku aja kalau hantunya nyamperin kamu, hantu nya gak galak kok cuma nyeremin aja."  Ucap ku berbisik di telinga Alana. Alana mendorong dada ku dengan wajah kesalnya, aku tertawa pelan melihat tingkah Alana.


Kami berdua memasuki rumah hantu, Alana berada di samping ku namun kepala nya menempel pada dada ku. Pelan-pelan kami berjalan menyusuri ruangan di rumah hantu ini dan tidak henti-hentinya Alana berteriak, padahal dia sama sekali tidak mau melihat kedepan.


"AAAHHHH, KAKI KU, KAKI KU ADA YANG PEGANG." Alana berteriak dan menghentak-hentakkan kakinya, astaga menggemaskan sekali. "Ayo, ayo jalan pelan-pelan," ucap ku memeluk Alana dan menuntunnya berjalan.


"Coba deh, sekali aja kamu buka mata kamu, beneran gak seseram itu alana." Aku mencoba menurunkan telapak tangan alana yang digunakan untuk menutupi wajah nya.


"Beneran?" Tanya alana pelan padaku, perlahan alana membuka matanya namun tanpa ku sangka ada tuyul bohongan langsung datang dan memeluk kaki Alana.


"DARREEEEELLL, AAHH LEPASIN, INI ANAK SIAPA. BUNDAAAA, DAREEL." Alana menutup matanya rapat-rapat dan tangannya menarik-narik hoodie ku.


Aku tertawa terbahak melihat reaksi alana, dengan segera aku memeluk dan menuntunnya melanjutkan perjalanan menyusuri setiap ruangan agar kami cepat keluar.


"Dareel, masih lama?" Tanya alana merengek. "Kayak nya bentar lagi," jawab ku, fokus melewati ruangan yang penuh dengan kertas-kertas ini. Namun karena sedikit gelap membuat ku tidak jelas melihat sekitar, aku terkejut saat terasa kaki ku menginjak tangan sesorang dan aku semakin terkejut ternyata itu tangan suster ngesot.


"Eh, eh maaf sus." Aku melanjutkan jalan ku namun tas alana tersangkut di gagang pintu. "Dareel kok kamu gondrong?" Saat aku menoleh kebelakang, Alana sedang memegang rambut genderuwo.


"Ini tas aku nyangkut," ucap alana lagi, aku membenarkan tas Alana dan berbisik "Itu bukan rambut aku, kamu lagi megang rambut genderuwo," Ucap ku menarik tangan Alana menjauh.


Alana merengek memukul lengan ku, "udah sampai, hey, kita udah diluar," ucap ku menyekah keringat yang ada di kening dan leher Alana. Astaga melihat alana berkeringat seperti ini saja membuat ku... aaahh lupakan.


"Lo sengaja ya bikin pita suara gue putus gitu, capek banget teriak-teriak." Alana berjalan dan meminum susu kotak nya. "Seru kan? Hantu nya gak ada yang nyeremin, semua biasa aja." Ucap dareel menggandeng tangan ku.


"Iya soalnya hantu-hantu itu temen kamu." Ucap alana menyodorkan susu kotak nya padaku. Dengan cepat aku mencium bibir alana, "Lebih enak langsung minum dari mulut kamu," ucap ku tersenyum pada alana.


"Tuh kan, kamu cocok jadi temen nya tuyul tadi, sama-sama nyebelin main nyosor aja." Alana menatap ku kesal. Aku tertawa mendengar keluhan Alana tentang rumah hantu tadi.


Rasanya aku tidak mau kehilangan momen seperti ini, menggenggam tangan alana, tertawa bersama alana, melihat ekspresi lucu wajah alana, mendengar alana berteriak, mendengar makian alana padaku.


Dan untuk kesekian kalinya aku merasakan seperti dunia ku kembali lagi setelah bertahun-tahun hilang, Alana, dunia ku. Aku menatap alana yang kini sedang memangku kucing liar yang sedari tadi mengikuti kami.


Aku memotret alana dari samping secara diam-diam, sangat cantik. Tidak pernah sekalipun aku melupakan wajah ini di pikiran ku dan aku tidak pernah berhenti mengagumi sosok yang ada disamping ku ini. Aku mencintaimu, Alana Lovata, sangat mencintaimu.


...TBC...


...*****...


Vote dan komen ya teman-teman 😊


Terima kasih 🙂

__ADS_1


__ADS_2