Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

...Aku mencintaimu bukan karena siapa dirimu...


...Tapi tentang apa yang kurasakan saat berada di dekatmu...


...Terima kasih, karena telah menjadi tempat ku untuk pulang. ...


...♡♡♡ ...







Alana POV


Alana


Aku melihat gaun yang sangat cantik saat mengantar nattali


Dareel


Benarkah? Coba aku ingin lihat


Alana



Dareel


Sangat cantik, tapi tetep gaun itu kalah cantik kalau sama kamu 😍


Alana


Udah kelar kerjaan kamu?


Dareel


Masih ngerjain ulang beberapa proyek buat praktik mahasiswa. Kalau udah kelar, aku jemput yaa


Alana


Jangan terlalu capek, nanti masuk angin lagi 😂


Dareel


Kan ada kamu, obatnya 😍


Ah, al. Tadi ada temen aku kerja bawah anaknya, lucu banget pipi nya gembul 😭


Alana


Terus kamu gendong gak anaknya?


Dareel

__ADS_1


Udah, aku beliin susu kotak juga. Tapi habis itu dia malah nangis, al. Lucu banget kalau nangis, tadi aku rekam juga pas nangis 😂


Alana


Usil sekali anda, daddy dareel 😬 Muka kamu nyeremin mungkin makanya dia nangis 😅


Dareel


Daddy? Gimana kalau mulai sekarang kamu panggil aku daddy? Terus aku panggil kamu mommy 😍


Alana


Gak aneh-aneh deh 😒


Dareel


Pingin 😭


Aku bayangin kalau kita punya dedek terus dedeknya nakal banget dan kita kewalahan😂 Aku pingin anak cewek yang mirip kamu, princess el and queen al 😁


Alana


Kan mulai lagi...


Dareel


Aku pasti jadi suami dan ayah yang paling beruntung punya keluarga kecil sama kamu, punya anak-anak yang lucu.


Alana


😐


Dareel


Alana


I love you too, nanti kamu jemput aku sekalian bawah lala sama kiki kan?


Dareel


Iya nyonya 💋


Aku segera keluar dari percakapan dengan dareel. Demi Tuhan, aku ingin memeluk dareel saat ini. Aku sangat menyukai anak kecil, mereka seperti malaikat kecil yang sangat mengagumkan.


Tapi... pernikahan? Aku mengusap wajah ku. A-- apa benar dareel akan benar-benar menunggu ku hingga aku siap. Namun jika dareel lelah dan muak karena menunggu ku, bagaima jika dia meninggalkan ku.


*


"Nanti aku telfon kalau udah kelar shopingnya." Teriak nattali pada dion yang mulai menjalankan mobilnya, kami melambaikan tangan.


Kami berdua berjalan memasuki mall untuk memulai rencana kami. Yaps, setelah memyelesailan vitting pakaian, aku dan nattali berencana untuk belanja dan menghabiskan waktu bersama.


Disinilah kami sekarang, salon langganan ku dan nattali. "Al, di butik tadi. Aku liat kamu sepertinya tertarik sama salah satu gaun disana." Ucap nattali padaku. "Heem, ada satu gaun warna putih. Bagus banget kak, gaun itu hampir mirip sama gaun pernikahan yang dipakai bunda dulu." Jawab ku menatap nattali dari pantulan cermin.


"Oh ya? Kenapa kamu gak ambil aja tadi? Aku telfonin brian yaa, biar sekalian sama gaun aku dan dion juga." Tawar nattali yang akan menelfon brian, desainer tadi.


"Enggak, kak, nggak usah. Buat apa juga, gaun model gitu kan buat mempelai wanita. Lah aku? Nanti yang ada kalau gaun itu aku pakai di resepsi mu, semua mata fokus nya ke aku. Nggak, nggak, aku gak mau buat hari spesial kamu berantakan." Ucap ku mengibaskan tangan, menggoda nattali.


"Tuh kan ngeselin banget, orang serius malah di ledekin. Sini gak!" Nattali hendak bangkit menghampiri ku. "Ya ampuun say, tahan dulu, jan kek bocil deh. Eke gak bisa fokus nih say." Ucap pegawai salon menahan bahu nattali lalu mengedipkan mata pada ku.

__ADS_1


Kami tertawa bersama, benar-benar saat seperti inilah yang membuat kami bahagia.


Setelah urusan di salon selesai, kami menuju pusat pakaian di mall ini. Kami memutari seluruh mall ini kesana kemari lalu memilah dan memilih beberapa pakaian, tas dan sepatu juga beberapa make up.


Sudah hampir lima jam kami menghabiskan waktu bersama berkeliling mall ini. Lihatlah... sangat banyak barang yang kami beli, tidak lupa juga kami bermain beberapa permainan di area game.


cukup untuk hari ini, malam ini nattali ada jadwal untuk pembahasan dekorasi dan katering. Jadi kami memutuskan untuk menyudahi acara pemborosan ini.


"Al, sepertinya kita terlalu asik belanja sampai-- lihat udah jam enam sore." Kami berdua tertawa. "Gapapa kak, dareel juga udah di jalan. Buruan sana masuk, kak dion udah nunggu dari tadi." Ucap ku mendorong pelan nattali.


"Kak dion, maaf loh nunggu lama. Jangan marahin kak natt, tadi aku yang keasikan main game di dalem." Aku menghampiri dion yang berdiri di samping mobil.


"Gimana aku bisa marah sama my queen." Ucap dion mengacak rambut nattali, mereka sangat serasi. "Baiklah, baiklah. Jam delapan kan kalian mau ada pertemuan, buruan masuk. Bey bey," aku melambaikan tangan pada nattali dan dion.


"Alana... ." Teriak dareel dibelakang ku. "Haaaiii... " Aku memeluk dareel, aah rasanya sangat menenangkan mencium aroma dareel. "Lala sama kiki?" Tanya ku pada dareel yang kini menciumi kening ku.


"Di dalem mobil," ucap dareel masih sibuk menciumi kening ku. "Dareel, iiissshh." Aku mendoring pelan dada dareel dan memasuki mobil. Aaah aku sangat merindukan lala dan kiki.


Ah iya... tujuan ku dan dareel saat ini adalah membawa lala dan kiki mengecek kesehatan dan kebersihan tubuh mereka. Lihatlah lala dan kiki sekarang berumur tujuh bulanan, mereka semakin besar dan menggemaskan.


"Oh iya, dareel--" Saat aku akan membuka suara. "Call me daddy," Ucap dareel memotong ucapan ku. "Kalau gitu aku gak mau ngomong sama kamu, mulai saat ini!" Aku melirik tajam pada dareel.


"Iya, iya, al.. terserah deh kamu manggilnya apa." Ucap dareel terdengar pasrah, Astaga menggemaskan sekali. Aku menarik pipi dareel yang terlihat sedikit cubby dari pertama dia menyusul ku ke denmark.


"Lala kiki, lihat tuh. Ayah kamu gemesin banget, tapi masih gemesan kamu. Ya ampuunn, kalian berdua makin ganteng." Ucapku mengusap kepala lala dan kiki bergantian. Mereka terlihat nyaman berada didalam mobil, bahkan kini mereka tertidur.


"Mulai sekarang aku bakal marah kalau kamu bilang gantengan mereka daripada aku." Ucap dareel tersengar kesal. Astaga, orang ini kenapa lagi? Iri sama kucing? Menggemaskan sekali.


Aku menarik lagi pipi dareel, kali ini aku menarik pelan telinganya. "Alana... aku serius." Aku tertawa mendengar dareel mulai merengek seperti ini. "Gak mau, lala sama kiki emang yang paling ganteng." Ucap ku menggoda dareel lagi.


Dareel diam dan fokus menyetir, hampir dua puluh menit dia diam saja bahkan saat aku menarik telinganya lagi dareel tetap diam. Tunggu... apa dia benar-benar marah?


"Lala lihat tuh ayah kalian lagi ngambek." Ucapku berbicara dengan lala namun aku menatap dareel. "Dareel..." Ucapku pelan mengusap rambutnya. "Dareel, cium sini." Aku mencium pipi dareel, namun dia tetap diam saja.


"Dareel... " Aku membuka dua kancing kemeja ku, namun dia masih fokus menatap depan. Kenapa dia seperti ini, moodnya sangat berubah-ubah. Serius dia cemburu dengan lala dan kiki?


"Panas banget padahal AC nya hidup loh." Aku mengibaskan rambut ku dengan dua kancing kemeja yang terbuka. "Dareel, kamu kepanasan gak?" Tanya ku dengan sengaja mengusap sensual paha dareel.


Tiba-tiba dareel menepikan mobilnya. "Kena--" Saat aku melirikkan mata ku tiba-tiba dareel melepaskan sealbetnya dan mencium bibir ku. "Kenapa kamu sangat suka memancing ku heem?" Ucap dareel melepaskan pautan bibir kami.


"Maaf membuatmu marah," aku menatap dareel. Dareel kembali mencium bibir ku, kali ini sedikit kasar. Setelah beberapa menit dareel melepaskan ciumannya. "Kancingkan kemeja mu, jangan membuat ku untuk melakukannya disini." Dareel melirik kemeja ku yang terbuka.


"Apa masih marah?" Tanya ku mengalungkan tangan ke lehernya. "Kapan aku pernah marah sama kamu? Meski kamu nyebelin tapi aku cinta." Jawab dareel mengacak rambut ku.


"Apa liat-liat?" Tanya dareel sewot pada kiki yang dari tadi menatap kami berdua. Astaga... benar kan, dia cemburu dengan kucing. Ingin sekali aku menjambak rambut lelaki disamping ku ini, tapi aku mencintainya.


*


Setelah selesai memeriksa kesehatan lala dan kiki, kami berdua memutuskan untuk kembali pulang. Dareel mengantar ku sampai didepan apartemen.


"Mau masuk?" Tawar ku pada dareel yang kini tersenyum padaku. "Udah jam sepuluh, kamu harus istirahat. Pasti capek, seharian ini keluar." Dareel menggeleng dan memeluk ku.


"Heem," aku mengangguk dan membuka pintu apartemen. "Dareel... ." Panggil ku saat dareel akan memasuki lift. "Tunggu sebentar lagi, aku akan menyiapkan diri. Apa kata mu tadi siang? Princess el? Aku menyukai panggilan itu." Ucap ku pada dareel. 


Sebelum menutup pintu, aku menatap dareel yang masih belum memahami ucapan ku. Terlihat dari mukanya yang terlihat bingung, aku melambaikan tangan dan mengedipkan mata lalu memasuki apartemen.


...*****...


...TBC...

__ADS_1


Like dan komen yaa teman-teman 😊


Terima kasih 🙂


__ADS_2