Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

...Hal menyedihkan tentang cinta yang berawal dari persahabatan adalah ketika cinta berakhir, dia akan menghancurkan persahabatan yang ada...


...♡♡♡...







Ethan POV


Entah pukul berapa sekarang, namun sinar matahari terlihat terang menembus tirai jendela. Aku mengedipkan mataku dan memijit pangkal hidung ku, sangat pusing sekali.


Aku teringat kemarin malam aku sangat mabuk, bahkan untuk pulang ke apartement aku diantar oleh teman ku.


* Flasback on


Saat aku akan turun dari mobil untuk menemui Alana di apartementnya, aku melihat Alana berbicara dengan seorang lelaki.


Aku tidak tau pasti siapa lelaki itu, tapi sepertinya tidak asing untuk ku. Aku memperhatikan mereka berdua, Alana terlihat seperti menangis dan muram dan lelaki itu menenangkan dan mengusap air mata Alana.


Siapa lelaki itu, saat aku turun dari mobil dan berjalan kearah mereka, namun mereka berdua telah pergi berlalu menaiki motor. Tunggu... kemana mereka berdua malam-malam begini.


Aku menaiki lift dan menuju apartement Alana, ternyata disana ada paman surya yang terlihat sedang marah. "Paman, apa yang terjadi?" Tanya ku menghampiri paman surya yang terduduk di sofa.


"Ah, Ethan, rupanya kamu." Ucap paman menepuk pundak ku, aku melihat raut paman sepertinya telah terjadi sesuatu di antara mereka.


"Paman, apa yang terjadi? Maksud ku, dibawah aku melihat Alana pergi bersama lelaki..." Aku mengulang pertanyaan yang tidak dijawab oleh paman surya.


"Lelaki sialan itu, lelaki itu membawa Alana pergi. Dia menghasut Alana untuk melawan ku dan membatalkan pertunangannya dengan vano, sialan." Ucap paman terlihat menahan amarah.


Sebenarnya, mendengar bahwa Alana dan Vano membatalkan pertunangan mereka membuatku lega. Namun siapa yang dimaksud paman, lelaki sialan itu.


"Maksud paman siapa lelaki itu?" Tanya ku mencoba untuk menemukan jawaban dari paman, apakah lelaki ini sama dengan lelaki yang mengirim pesan pada Alana waktu itu.


"Dareel, lelaki yang delapan tahun meninggalkan Alana sekarang dia kembali lagi, entah rencana apa yang dia buat untuk memprovokasi alana agar melawan ku." Penjelan paman membuat ku terkejut, sekarang aku mengingat semuanya.


Dareel... ya, dareel lelaki yang delapan tahun lalu meninggalkan Alana, dia kekasih Alana. Alana selalu membanggakan lelaki itu, namun dia meninggalkan Alana tanpa alasan dan itu membuat Alana sangat hancur. Bahkan disaat kepergian bundanya, Alana masih berharap lelaki itu datang untuk menguatkan Alana.

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa Alana menyembunyikan fakta bahwa lelaki itu kini telah kembali. Kini yang ku takutkan adalah, Alana kembali terjebak oleh kebrengsekan dareel.


Tidak mungkin Alana sebodoh itu menerima dareel kembali, tidak mungkin. Tapi apa yang ku lihat di bahwa tadi, Alana... dia begitu dekat dengan dareel.


"Ethan.. Dareel lah yang membuat papa vano terkena skandal penggelapan dana dan dareel juga yang membuat perusahaan paman mengalami penurunan." Ucap paman menatap ku.


"Ku mohon padamu, Ethan, katakan pada Alana agar menjauhi lelaki itu. Kamu sahabat alana bukan, alana pasti mendengarkan mu. Jauhkan dareel dari alana, sungguh lelaki itu akan membuat hidup alana menjadi buruk." Lanjut paman.


Sampai sekarang aku tidak tau apa alasan dareel meninggalkan Alana delapan tahun lalu, tapi yang ku tahu pasti dia telah menyakiti Alana. Sebagai lelaki, aku tahu pasti, tidak seharusnya dareel melakukan itu.


Aku... aku sangat mencintai Alana, melihat alana tersakiti membuatku begitu murka. Karna dareel juga, membuat alaana tidak percaya akan sebuah hubungan.


Aku berjalan kearah kamar tidur Alana, barangkali aku menemukan tanda dimana tempat tinggal dareel atau semacam petunjuk tentang hubungan mereka berdua.


Aku begitu terkejut saat berada di dalam kamar Alana, di kursi Alana terdapat jaket dan kemeja pria. Apa ini milik dareel? Tidak mungkin, pasti hubungan mereka tidak mungkin sejauh itu, aku menggeleng menghilangkan pikiran buruk.


"Bibi, kemeja siapa ini? Maksud ku siapa lelaki yang akhir-akhir ini datang kemari?" Tanya ku pada bibi, saat melihat beliau lewat di depan kamar alana.


"Akhir-akhir ini tuan dareel sering berkunjung kemari, tuan. Nona alana juga juga sering pergi dengan beliau." Ucap bibi padaku, aku memejamkan mata ku menetralkan amarah yang tiba-tiba memuncak.


Sialan, sialan... teriakku dalam hati, apa yang terjadi padamu Alana.


Flasback off


Aku baru tersadar bahwa aku tertidur di sofa, saat aku memiringkan tubuh ku, aku terkejut ternyata Alana tertidur dengan posisi duduk dan tangannya menjadi bantal untuk  kepalanya yang berada di meja.


Aku terkejut melihat Alana, sejak kapan dia ada disini? Apakah alana melihat ku mabuk? Semoga aku tidak mengatakan apapun pada Alana.


Aku menatap wajah lelah alana sangat terlihat, Ya Tuhan... Aku kecewa dengan apa yang Alana lakukan, tapi aku tidak bisa marah kepadanya, hati ku sangat sakit melihat Alana seperti ini.


Aku mencoba duduk dan pergerakan ku menimbulkan suara, membuat Alana terbangun dari tidurnya. "Kak, ah maaf aku ketiduran disini," ucap Alana menggulung rambutnya keatas.


"Kak, semalam kamu mabuk, tidak biasanya kamu seperti ini. Ada apa?" Tanya Alana mengikuti di belakang ku. "Kak, apa yang terjadi? Kenapa mendiamkan ku?" Ucap Alana menggoyangkan lengan ku.


Alana terus mengikuti ku didapur dan mencoba membantu ku membuat susu. Sungguh melihatnya semakin membuatku marah, aku tidak marah padanya namun aku marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menghilangkan cinta ini.


"Apa karena yang kamu ucapkan kemarin?" Tanya alana pelan di belakang ku. Namun aku tetap diam, aku takut jika menatap Alana akan membuat ku tidak terkontrol.


"ETHAN, LIAT AKU JANGAN MENDIAMKAN KU SEPERTI IN!" Teriak Alana menarik tangan ku. "KENAPA AKU TIDAK BOLEH DIAM, HAH? APA HANYA KAMU YANG BISA DIAM SAJA, BEGITU? BUKANKAH AKU ORANG ASING BAGIMU?" Jawab ku membentak Alana.


Aku merasakan dada ku naik turun, dan aku mencoba untuk menatap Alana. Kini Alana menatapku dengan pandangan bingung dengan mata berair.


"Kenapa kamari? Bukankah bersama dareel lebih menyenangkan, hah? Bersama dengan lelaki yang membuangmu dan meninggalkan mu. Kenapa malah kemari, bukankah aku orang asing yang tidak tahu apapun tentang kamu? Ah, lebih tepatnya kamu yang menganggap ku orang asing, kamu Alana." Aku menatap alana lemah.

__ADS_1


"Pulanglah, melihat mu disini semakin membuatku semakin merasa bahwa kamu bukan lagi Alana yang dulu." Ucap ku pada Alana yang sama sekali tidak menyelah perkataanku. Aku berbalik dan menuangkan susu hangat kedalam gelas.


"Biar aku bantu, kak," ucap Alana saat aku kesusahan menutup teremos. "ALANA, SUDAH KU KATAKAN PERGILAH! DEMI TUHAN, JANGAN MEMBUAT KU SEMAKIN MARAH." Teriak ku didepan Alana namun tanpa sadar tangan ku membuat teremos itu terjatuh dan membuat susu panas tercecer dilantai.


"Apa semarah itu kamu kepada ku? Kamu tidak bertanya mengapa malam itu aku pergi dengan dareel dan menghindari papa?." Tanya Alana mengusap air matanya, aku hanya diam mengalihkan pandangan ku dari alana.


"Baiklah, kakak bisa marah padaku, aku akan menunggu kakak berbicara padaku lagi." Alana tersenyum mengusap air mata yang terus mengalir, sangat ingin aku memeluk wanita ini namun aku tidak bisa.


Aku menatap alana yang berjalan dengan sedikit terseok-seok, aku melirik bagian kakinya yang melepuh. Apakah susu panas itu mengenai kakinya. Saat aku akan mengejarnya, Alana telah memasuki lift. Sial


Alana POV


Aku menangis terisak didalam lift, kaki ku sakit terkena susu panas. Namun hati ku lebih sakit, aku tidak pernah melihat Ethan semarah ini, bahkan membentakku.


Ethan sangat kecewa padaku, aku menyakitinya, apakah dia tidak mau lagi berbicara padaku. Aku menatap kaki ku yang sedikit melepuh karena air panas.


Aku ingin menjauh dari semuanya, Nattali, Ya nattali... aku akan kerumah nattali. Dan iya, aku juga belum menceritakan tentang dareel pada nattali. Semoga nattali tidak kecewa padaku, aku sangat takut.


*


"Alana, masuklah, Astaga apa yang terjadi? Apa kamu habis menangis?" Nattali menuntunku untuk duduk di sofa. "Astaga kaki kamu kenapa? Bentar aku ambilkan air hangat dan salep," ucap nattali berdiri meninggalkan ku di ruang tamu.


Aku melihat ponsel ku yang terus berdering, dengan cepat aku menon-aktifkan ponsel ku. Aku tidak mau berbicara dengan dareel maupun siapapun sekarang, aku hanya ingin bersama Nattali.


"Kemarikan kaki mu, aku sudah meneteskan antiseptik. Mungkin sedikit perih, jangan menangis oke." Ucap Nattali mengusap kulit ku yang melepuh dengan lap dan air hangat.


"Kak, mana biar aku sendiri." Aku mencoba mengambil kain lap dari genggaman Nattali. "Alana, diam lah." Nattali melotot padaku dan melanjutkan membersihkan luka ku lalu mengoleskan salep juga.


"Sudah," Nattali menyingkirkan baskom dan lap tersebut. "Terima kasih, kak." Aku memeluknya dan menyandarkan kepala ku di pundaknya.


"Hey, apa yang terjadi? Al? Kau menangis?" Tanya nattali saat aku mulai menangis dipelukannya. "Aku akan menceritakan semuanya tapi jangan memarahi ku dan..  Dan jangan membenciku, berjanjilah." Ucap ku semakin terisak dipelukan Nattali.


"Katakan, Al, apa yang terjadi?" Nattali menahan pundakku dan menatapku dengan tajam. Aku mengusap air mata ku dan mulai menceritakan semuanya, mulai dari  perjodohan ku dengan vano yang telah berakhir , tentang dareel yang ternyata sahabatnya dion, dan tentang penyebab dareel meninggalkan ku delapan tahun lalu.


Aku menceritakan semuanya pada Nattali, termasuk apa yang terjadi padaku dan Ethan, tentang apa yang aku dengar dari mulut ethan saat dia mabuk kemarin.


...TBC...


...******...


Vote dan komen ya teman-teman 😊


Terima kasih 🙂

__ADS_1


__ADS_2