
...Mereka bilang kamu hanya akan jatuh cinta sekali, tapi itu tidak benar...
...Setiap kali aku melihat mu, aku jatuh cinta lagi dan lagi...
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
Dareel POV
Saat alana mengikuti acara lempar bunga bersama jihan. Aku pergi keluar untuk menerima telfon dari edwin. Dari kejauhan aku melirik alana yang sepertinya mencari keberadaan ku.
Aku segera menyudahi panggilan ku dan menghampiri alana. Saat aku akan mendekati alana, tiba-tiba dia sedikit berlari dan menutupi mulut nya. "Alana... " Panggil ku, namun sepertinya alana tidak mendengarnya.
Aku mengikuti alana dari belakang, ternyata dia memasuki kamar mandi. Hampir lima belas menit aku menunggu didepan kamar mandi wanita. Apa yang terjadi pada alana? Apa semuanya baik-baik saja?
Karena sangat khawatir, aku tidak bisa menunggunya lagi. Aku berbalik hendak memasuki kamar mandi, namun alana telah keluar terlebih dahulu.
Dengan wajah yang pucat dan mata yang sayu alana berjalan dan duduk di sebuah kursi. "Hey, apa yang terjadi?" Tanya ku menyeka keringat yang ada di kening alana.
"Perut ku sangat mual, dareel. Aku mau makan kue disana tapi perut ku seperti di aduk-aduk saat melihat krimnya." Aduh alana padaku. Wajah alana benar-benar pucat, bahkan keringatnya terasa dingin.
"Ayo kita berpamitan pada nattali dan dion, setelah itu aku antar kamu ke dokter." Ucapku membantu alana bangkit. "Nggak, gak usah ke dokter. Dirumah aja, mungkin aku cuma butuh istirahat." Alana menggeleng, menolak untuk ke dokter.
"Apa kamu tadi makan makanan pedas? Mungkin ini lambung." Aku menatap alana tajam. Alana memang sangat susah untuk di nasehati bila sudah menyangkut makanan pedas, tiada hari tanpa makanan pedas.
"Akhir-akhir ini aku gak makan pedas, makan ku juga teratur kok." Ucap alana saat kami berjalan menghampiri nattali dan dion yang tengah berbincang dengan tamu lainnya.
"Ke dokter aja alana, lihat wajah kamu pucat." Paksa ku pada alana. "Dareel... aku bilang gak mau, ya gak mau ih." Alana melepaskan gandengan ku dan sedikit berteriak padaku.
"Yaudah iyaa," aku mengusap rambut alana, sikap pemarahnya muncul lagi jadi aku harus lebih bersabar. "Kamu mampir dulu di apartement?" Tanya alana kembali dengan suara lembutnya. "Boleh?" Alana mengangguk sebagai respon.
*
Setelah berfoto dan berpamitan dengan kedua pengantin, aku dan alana segera pulang. Kini kami berdua berada didalam mobil. Aku melirik alana yang sedang menatap jalanan luar jendela.
Aku mengusap kepala alana. "Apa mualnya masih terasa?" Tanya ku, alana menggeleng sebagai respon. Namun tiba-tiba alana meminta ku untuk menepikan mobil. Alana segera keluar dan berjongkok di samping jalan.
Uueekk..
Aku memasuki mobil untuk mengambil tisu dan minyak angin. "Al... pakai ini." Aku menyampirkan jas di bahu alana lalu menggulung rambutnya keatas dan mengoleskan minyak angin di area leher dan punggungnya.
"Perut ku sangat mual." Erang alana meremas tangan ku, tangannya bergetar. "Al, ayo sekarang ke dokter." Aku mengusap keringat dan mulut alana dengan tisu. "Pulang ke apartement aja," ucap alana, air matanya sudah mengumpul di pelupuk mata.
Aku menghembuskan nafas, bagaimana cara memaksa alana yang keras kepala ini. "Ayo, masuk mobil." Aku menggedong alana dan kembali mendudukkan di kursi depan.
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengusap pipi alana, selama perjalanan hampir tiga puluh menit alana sama sekali tidak bersuara. Aku benar-benar khawatir, aku menatap alana yang kini sedang menatap jalanan samping.
"Apa yang kamu pikirin, hem?" Tanyaku menggenggam tangan alana, lagi-lagi dia menggeleng. Baiklah... mungkin ini bukan saatnya untuk bertanya. Alana pasti kelelahan karena selama satu minggu ini dia membantu segala keperluan pernikahan nattali.
*
Aku memakirkan mobil ku saat tiba di apartement alana. Aku keluar dari mobil dan membuka pintu alana. Sangat cantik, batin ku menatap alana yang tertidur. Aku tidak tega membangunkan nya.
"Bi, tolong bantu untuk membuka kamar alana. Dia tertidur, aku tidak tega membangunkannya." Pintah ku pada bibi. Dengan perlahan aku membaringkan tubuh alana diatas tempat tidurnya.
"Bi, tadi alana mual-mual, badannya juga berkeringat dingin. Bibi bisa buatkan sup hangat dan teh hangat untuk mengurangi mualnya?" Pintah ku pada bibi.
"Iya, tuan, saya akan buatkan. Ah iya... tadi pagi bibi juga melihat non alana seperti mual-mual begitu dikamar mandi." Ucapan bibi membuatku semakin khawatir.
Aku melirik jam dinding yang menunjukkan angka pukul 02:25 pagi. Alana masih tertidur dan belum terbangun sejak tadi. Aku memeriksa keningnya lagi, tidak.. alana tidak demam.
Tiba-tiba ponsel ku bergetar, nama paman terpampang nama paman di layar. Perlahan aku turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar untuk menerima panggilan paman.
Paman meminta ku untuk datang kerumah, karena ada beberapa berkas yang harus ku tanda tangani. Ya Tuhan... sepagi ini, sepenting apa berkas itu. Aku memasuki kamar alana, aku tidak tega meninggalkan alana.
Tapi berkas itu berkaitan dengan perusahaan papa alana, surya abraham. Aku mengusap rambut alana dan menciumnya beberapa kali. Aku akan kembali lagi setelah urusan ku selesai.
"Bi, tolong jaga alana. Jika dia terbangun, beri sup dan teh tadi tapi tolong hangatkan lagi. Dan iya... katakan pada alana untuk istirahat jangan melakukan apapun." Ucapku pada bibi.
"Baik, tuan dareel." Sekali lagi aku menatap alana yang terlelap. Dengan segera aku berjalan meninggalkan apartemen alana, aku harus segera menyelesaikan urusan ku agar cepat menemani alana lagi.
*
Alana POV
Aku merenggangkan otot ku setelah tertidur cukup lama. Kata bibi, dareel menemani ku tadi pagi tapi dia pamit untuk sebuah urusan dan akan datang lagi nanti. Baiklah, aku akan mandi sekarang.
Aku teringat lagi kejadian tadi malam, perut ku yang mual, kepala ku pusing dan... aku telat datang bulan. 'Tidak, alana, tidak. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, mungkin aku hanya kelelahan,' ucapku dalam hati.
Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit untuk mandi, aku segera mencari sebab mengapa wanita telat datang bulan dan beberapa gejala tentang kehamilan. Dengan tangan gemetar aku membaca setiap kalimat yang tertulis di layar laptop.
Pikiran ku kembali mengingat saat kami berdua melakukan hubungan, pertama dareel memakai pengaman namun setelah itu dia tidak memakainya. 'Bodoh alana... kenapa bisa terlupakan'. Rutuk ku dalam hati.
Ya Tuhan... semoga apa yang ada di pikiran ku ini tidak benar. Semoga semuanya baik-baik saja, aku sangat takut.
Aku mengamati tiga tespack yang beberapa jam tadi ku beli. Aku mengusap wajah ku berulang kali, aku akan memeriksa dan membuktikan apa yang ada di pikiran ku itu salah. Tapi.... bagaimana jika itu benar, aaaahhh aku ingin menangis saat ini.
Tidak, tidak, alana... aku mengambil ketiga tespack itu dan berjalan menuju kamar mandi. Jantung ku berdetak sangat cepat, berulang kali aku berdoa, semoga ini tidak benar.
Aku duduk di atas closet dan membaca pengarahan cara menggunakan tespack ini. Tangan ku begetar, aku memejam kan mata dan mulai melakukan sesuai pengarahan yang ku baca.
Setelah satu menit menunggu, aku semakin takut. Menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali. Aku mengecek tiga tespack dan detik itu juga kaki ku lemas, aku terduduk di lantai kamar mandi.
...
...
__ADS_1
Aku menatap tespack dengan dua garis merah itu, aku-- aku hamil. Berulang kali aku menggeleng, namun inilah kenyataannya. Entah berapa menit aku hanya diam menatap kosong tespack didepan ku.
Tiba-tiba air mata ku menetes mencoba menghilangkan segala pikiran buruk. Aku berdiri dan mengusap air mata ku dengan kasar.
'Tidak alana, jangan seperti ini. Janin ini tidak bersalah, janin ini adalah anugerah. Aku tid
ak boleh menyesalinya atau menangisinya. Tapi... aku takut, sekarang aku sangat takut' Aku kembali menangis.
*
Aku mengusap perut ku yang masih terlihat rata. "Hay, berapa usia mu saat ini? Ini mommy." Ucapku berbicara pada janin yang ada dalam perut ku. Mommy? Astaga mommy, aku tertawa mendengar panggilan itu.
Ya benar, aku tadi menceritakan semuanya pada bibi. Bibi memberi ku nasehat dan menyemangati ku agar aku tidak larut dalam kesedihan karena anak adalah sebuah anugerah dari tuhan.
Dan.. mungkin ini lah cara agar aku berani untuk membangun sebuah keluarga. Tapi.. bagaimana aku mengatakannya pada dareel.
"Heem, mommy atau bunda ya? Tapi aku akan memanggilmu baby el, ayah mu yang memberikan panggilan itu." Ucapku lagi mengelus perut ku.
Namun tiba-tiba bibi mengetuk pintu kamar dan berkata. "Non, ada telfon dari amerika. Orang suruhan non untuk menjaga tuan surya, ini." Bibi memberikan telfon rumah padaku.
"Hallo,"
"....."
"Papa?"
"....."
"La--lalu bagaimana keadaannya?"
"....."
"Aku sekarang akan kesana, ku mohon tetap disamping papa sampai aku datang"
"....."
Segera aku menutup panggilan dan berkemas. "Non, biar saya bantu." Ucap bibi membantu ku mengemas barang-barang.
'Alana tenanglah, jangan panik, semua akan baik-baik saja. Papa pasti akan baik-baik saja, ingat alana di dalam tubuh mu ada kehidupan, kamu harus berhati-hati' aku menarik nafas beberapa kali.
Dareel? Ya, aku harus menghubunginya. Aku mengambil ponsel dan menekan nama dareel.
"Hallo, dareel..... "
...*****...
...TBC...
Haiii guyss, mau ngobrol bentar nih hehhe 🤗👐
Cerita ini udah hampir mendekati ending, aku harap kalian tetap memberikan dukungan ke aku yaa 😊 Dukungan seperti motivasi, saran, vote atau apapun itu aku sangat berterima kasih 🥰 Dan aku berdoa semoga kita semua sehat selalu dan bahagia. Aamiin
Dan kedepannya aku punya rencana untuk bikin kisahnya ethan sama jihan tapi masih bimbang sih hehhe, belum pasti yaa 😁🤭
__ADS_1
Tapiiiii... aku mau bikin cerita tentang kisah cinta remaja gitu, ini udah aku rencanain sejak lama dan aku udah ada alur bahkan endingnya pun udah aku pikirin dengan matang 😊 Ini sih udah pasti, tinggal tunggu aja yaa kapan mulai updatenyaa 😉
Terima kasih ☺