Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

...Aku ingin menjadi egois untuk kali ini, aku lelah menutupi perasaan ku atas dasar persahabatan. Mencintai tanpa mengungkapkan...


...sangat membuatku lelah....


...~ Ethan D Emery ~...


...♡♡♡...







Dareel POV


"Edwin, edwin... " Aku mencoba menepuk pipinya dan memeriksa denyut nadi edwin, syukurlah edwin masih hidup. Dengan segera aku menghubungi ambulan dan juga dion.


Tapi aku terkejut lagi karena tidak jauh dari posisi ku saat ini. Ada rion juga yang bersimbah darah tergeletak dengan memegang pistol ditangannya. Apa yang sebenarnya terjadi... mengapa ada tiga orang tergeletak dengan luka yang parah disini.


*


Aku berdiri didepan ruang operasi menatap pintu yang tertutup. Tidak lama kemudian dion datang bersama tante mira, mama edwin.


"Dareel, dareel ada apa? Bagaimana edwin? Edwin, Ya Tuhan... " Tante mira terduduk dan menangis memandang kosong ruang operasi, tempat dimana edwin dan rion sedang kritis.


"Tante, tenanglah... Edwin sedang berjuang didalam sana, dia pasti selamat, edwin lelaki kuat. Jangan menangis tante... " Ucap ku memeluk tante mira, mencoba menenangkan.


Sungguh, aku tidak tahan melihat seorang ibu menangis pilu seperti ini. Aku dan dion sangat dekat dengan edwin dan tante mira, tante mira sudah seperti ibu untuk ku dan dion.


"Edwin.. Ya Tuhan, anakku." Isak tante mira. Aku terus mengucapkan kalimat-kalimat untuk menenangkan tante mira. Aku menatap dion yang kini berdiri disamping pintu ruang operasi, wajahnya terlihat sangat khawatir, sama seperti ku.


Saat ku rasa tante mira mulai membaik, aku berdiri dan menghampiri dion, "Ada lima orang yang udah ketangkep, mereka orang suruhan pesaing papa edwin diperusahaan. Tapi untuk masalah rion, gue belum tau, luka rion yang paling parah. Luka tembak di perut dan kehilangan banyak darah." ucap dion.


"Gue makin yakin, bukan rion pelakunya." Ucapku menatap dion yang kini menatapku juga dengan bingung. "Tapi ada pistol ditangan rion, apa mungkin rion salah satu orang suruhan itu?" Tanya dion, aku hanya diam, sungguh ini sangat membingungkan.


*


Hampir tiga jam operasi berjalan, saat pintu operasi terbuka keluar dokter, "Operasi berhasil, saudara edwin dan saudara rion akan dipindahkan ke ruangan inap. Namun untuk saat ini, kondisi saudara rion belum terlalu stabil jadi kami harus lebih sering memantau beliau." Ucap dokter itu pada kami.


"Baik dokter, terima kasih." Ucap tante mira disamping ku. Beberapa menit kemudian, edwin dan rion terbaring di tempat tidur yang akan dipindahkan ke ruang inap. Syukurlah masa kritis edwin telah berlalu.


Kini aku menatap tante mira yang berada depan rumah sakit sedang berbicara dengan beberapa polisi, tante mira sangat terpukul dengan kejadian ini.


Ditambah lagi kematian papa edwin, benar.. satu jam lalu papa edwin menghembuskan nafas terakhir karena kekurangan banyak darah dan luka tembak di dadanya. Tante mira sangat terpukul hingga tidak sadarkan diri, begitu besar tante mencintai lelaki yang terus menerus menyakitinya itu.


Ah iya, aku harus menghubungi alana, dari kemarin aku belum menghubungi nya. Tutt tutt.. kenapa dia tidak menerima panggilanku, sedang apa alana sekarang.


Alana POV


Aku sengaja tidak menerima panggilan telefon siapapun, termasuk dareel maupun papa. Papa hanya menelfon ku untuk mengurus keperluan kepergiannya ke luar negeri.


Namun sejak kemarin aku terus menghubungi ethan tapi dia tidak mengangkat panggilan ku sama sekali, bahkan tidak membaca pesan ku. Semarah itukah dia...


"Al, makanlah... " Ucap nattali menghampiriku dengan nampan berisi nasi goreng dan jus jeruk. "Mungkin ethan membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya lagi, sudahlah al, jangan terlalu dipikirkan. Seperti tidak mengenal ethan saja." Nattali mengusap lengan ku.


Kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan dareel, berungkali dareel menelfon ku namun ku abaikan, aku tidak ingin berbicara dengannya saat ini. Bahkan aku tidak pulang ke apartement, aku menginap dirumah nattali.


*


Saat aku akan tidur, aku mendemgar seperti suara ethan dibawah. Dengan cepat aku turun kebawah dan benar, ethan sedang berbicara pada nattali.


"Apa luka dikaki alana sudah membaik? Aku begitu khawatir, tapi aku tidak bisa menemuinya." Ucap ethan yang terdengar oleh ku, sepertinya mereka berdua tidak menyadari kehadiran ku di belakang mereka.


"Bego banget sih lo, lo tau kalau kaki alana melepuh, tapi lo biarin dia jalan dari apartement lo sampe depan pager. Dia tidur dikamar gue, dari kemarin dia nangis mulu." Ku lihat nattali memukul lengan ethan, aku tersenyum, ternyata ethan masih mengkhawatirkan ku.


"Kaki ku udah sembuh, udah kering." Ucap ku dari belakang dan menghampiri mereka. Namun ethan malah berdiri dan akan pergi, "kak, mau kemana? Menghindari ku terus?" Aku menghentikan ethan dengan merentangkan tangan didepannya.


"Kenapa mengkhawatirkan ku dan datang kemari kalau nggak mau ngomong sama aku?" Aku menatap ethan sengit yang kini tengah mengalihkan pandangannya dari ku.

__ADS_1


"Aku nggak perlu permintaan maaf dari kakak, tapi ya tolong lah, angkat telfon aku. Seenggak nya tuh balas pesan aku, berapa sih umur kita masih ngambek-ngambekan kaya gini?" Aku berbicara sendiri tanpa ada jawaban dari lelaki didepan ku ini.


"Siapa yang akan meminta maaf ke kamu?" Jawab ethan singkat lalu berjalan melewati ku. "Its oke, kaki aku yang melepuh gak sesakit saat kakak bentak aku kemarin." ucap ku setengah berteriak.


"Kamu tau kan aku paling takut sama orang yang bicara keras-keras, kakak bahkan gak ijinin aku buat ngejelasin semuanya." ucapku lirih dibelakang ethan.


"Maafkan aku, karena aku membuatmu terluka selama ini. Aku tidak pernah tau perasaanmu, aku tidak pernah bisa memahami perasaan kakak, tapi sungguh.. kakak seperti saudara kandung ku, kamu penting untuk ku," aku menatap ethan yang kini terpaku.


"Saudara kandung?" ethan tertawa keras didepan ku, "Alana... untuk saat ini, bisakah aku berharap lebih padamu? Bisakah aku memintamu untuk mencintaiku?" Tanya ethan, memandang ku dengan sayuh.


"Bolehlah aku memintamu untuk menatap ku dan belajar mencintaiku? Beri aku satu ruang dihatimu, apa kau bisa melakukan itu?" Ethan menatapku seolah menuntut jawaban.


"Lihat... kamu hanya diam saja, karena kamu sudah sepenuhnya menjadi milik dareel." ucap ethan menekan kata sepenuhnya, aku tidak tau harus menjawab apa.


"Aku ingin menjadi egois untuk kali ini, aku lelah menutupi perasaan ku atas dasar persahabatan. Mencintai tanpa mengungkapkan sangat membuatku lelah, sekarang aku ingin kamu tahu semuanya meskipun persahabatan akan hancur setelah ini." Ucap ethan menatap mataku dengan tatapan kecewa.


"Kak... " aku kembali meneteskan air mata. "Tidak perlu meminta maaf atau menjelaskan apapun, cintailah aku atau kehilangan aku." ethan berbalik memunggungi ku, hendak pergi.


"Tidak bisakah kita tetap menjadi sahabat dan bersama tanpa menggunakan perasaan yang kamu maksud?" Tanyaku memegang tangan ethan yang terasa sangat dingin.


"Tidak ada namanya persahabatan yang di jalani dengan saling mencintai, aku tidak bisa mencintaimu lagi atas dasar persahabatan, aku ingin mencintaimu seperti layaknya kekasih. Dan mulai sekarang... Aku akan memperjelas semuanya, kita mulai untuk belajar saling mencintai atau kita akhiri semuanya." Ethan melepaskan genggaman tangan ku dan pergi.


Aku berusaha mengejarnya dan memanggil ethan namun nattali menahan ku, "Alana, stop, alana... biarkan ethan pergi, jangan mengejarnya." Nattali memelukku dan mengusap punggungku menenangkan


"Bagaimana bisa aku memilih dua hal yang tidak mungkin bisa ku pilih..." Aku menangis di pelukan nattali, mengakhiri persahabatan dengan ethan? Demi Tuhan... aku tidak pernah membayangkan itu, aku tidak ingin kehilangan sahabat seperti ethan.


Dan untuk mencintainya, bagaimana bisa aku bersama dengan ethan, saat aku begitu mencintai dareel. Itu hanya akan membuat ethan semakin terluka. Aku tidak bisa mencintai ethan tapi aku juga tidak bisa mengakhiri persahabatan dengannya.


Aku kembali memasuki kamar setelah menenangkan diri bersamaa nattali, ah iya.. aku mengecek ponselku, benar ada banyak sekali panggilan dari dareel yang tidak ku jawab. Baiklah aku akan menelfonnya, tidak.. suara ku masih terdengar sesenggukan, mengirim pesan saja kalau begitu.


Alana


Kamu dimana?


Dareel


Aku diluar kota, ada urusan penting. Ada apa, Al?


Alana


Dareel


Mau aku telfon?


Alana


Nggak, jangan


Dareel


Apa semuanya baik-baik saja?


Alana


Ya


Dareel


Ya? Cuma itu saja? 😥


Katakan kamu merindukan ku


Alana


🐒💨💨


Daeeel


Ah aku juga sangat merindukan mu 😉


Alana


Apaan? Aku gak bilang kalau aku kangen kamu 🦧

__ADS_1


Dareel


I love you too alana


Alana


Kan nyebelin banget 👊🏻


Kenapa suka banget bikin orang emosi? 😑


Dareel


Kalau bikin kamu njerit keenakan itu beda lagi ceritanya, Al 😚


Alana


Mau baku hantam gak? 🔪


Dareel


Iya, aku juga suka banget pas kamu bukain kemeja aku, apalagi pas kamu teriakin nama aku, candu banget


Alana


SHUT UP DAREEL!!!


Dareel


Apa? Iya, aku juga suka pas kamu bilang 'Dareel lebih cepet' 😚


Alana


****, kapan aku ngomong gitu? Gak pernah dareel


Dareel


Sering banget kamu ngomong gitu, kamu lupa?


Alana


Sering gimana? Kita ngelakuin itu cuma sekali, gilaaa 💩


Dareel


Oh gitu, jadi kurang nih? Yaudah besok lagi ya, biar sering ❤


Alana


Gue pernah denger ada orang mesum matin karna titid nya di potong saat berhubungan. Lo mau mati kayak gitu?


Dareel


Iiihh serem banget, Al. Kita besok jangan kayak gitu ya, kan sayang kalau adeknya di potong


Alana


Bener-bener gila nih orang 🖕🏼🖕🏼🖕🏼


Dareel


I miss you too 💋


Aaahhh, sial... lagi-lagi seperti ini, chat dengan dareel hanya membuat ku malu. Aku melirik ponsel ku yang masih saja menyala karena darel terus mengirimi pesan tidak berfaedah, tapi ku akui... ini sedikit membuat ku terhibur dan melupakan pertengkaran ku dengan ethan.


****, tapi aku masih memikirkan ucapan dareel, apa benar saat itu aku mengatakan 'dareel lebih cepat'. Aaaahhh... memalukan sekali alana, kau seperti wanita yang sangat menginginkan cumbuan. Sial


...*****...


...TBC...


Vote and comen yaa guyss 🙂


Thanks all 😊

__ADS_1


__ADS_2