
...Kebahagiaan sedang menunggu...
...Kasih sedang menunggu...
...Pelan-pelan semuanya akan berbalik...
...Usahaku tak akan sia-sia, air mataku,...
...Perjuangan ku, Semuanya akan terbayar...
...Aku akan bahagia, itu pasti. ...
...♡♡♡ ...
•
•
•
•
•
•
Alana POV
Aku menenteng tas dimana lala dan kiki ada didalam nya, sejak pulang dari tempat penitipan hewan aku mampir terlebih dahulu di pet shop mengingat stok makanan dan calimalan lala kiki hampir habis.
Saat akan menaiki lift tiba-tiba ponsel ku bergetar, dareel mengirim pesan. Aku berada di Taman tempat biasa kita berkencan, kemari lah, cepat! Ini sangat penting. Apa yang terjadi? Mengapa dareel sangat aneh hari ini.
Aku kembali memasuki mobil menuju tempat yang dimaksud dareel. Memang benar Taman Kota adalah tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama sejak SMA hingga sekarang.
*
"Dareel ada apa, kenapa menyuruh ku kemari?" Tanya ku pada dareel setelah turun dari mobil. Ternyata dareel menunggu ku di tempat parkir. "Kemarikan lala sama kiki," dareel menyerahkan lala dan kiki pada seorang lelaki yang tidak ku kenal.
Dareel berjalan di belakang ku dan tiba-tiba menutup mata ku dengan kain. "Dareel, mau apa?" Tanya ku terkejut memegang tangan dareel. "Pegang tangan ku, aku akan menuntun mu, oke." Ucap dareel mengusap tangan ku.
"Percaya padaku," ucap dareel sekali lagi saat aku tidak merespon ucapannya. Aku mengangguk dan mulai berjalan mengikuti arahan dareel. Beberapa kali kaki ku akan tergelincir namun dareel memegang tangan ku dan meraih pundak ku.
"Dareel, malam-malam seperti ini apa mau main petak umpet?" Tanya ku lagi pada dareel. "Sampai," dareel menghentikan langkahnya dan aku pun ikut menghentikan langkah ku.
__ADS_1
"Aku akan membuka kain penutup tapi jangan membuka mata mu sampai aku mengatakan 'buka'." Dareel perlahan membuka kain penutup ini. Terlihat sedikit kilauan lampu dan harum beberapa parfum yang familiar, tempat apa ini.
"Satu... dua... ti-- ga." Interupsi dareel, aku segera membuka mata dan betapa terkejutnya aku saat di hadapan ku berdiri orang-orang yang sangat ku sayangi. Bibi, Nattali, Ethan, Paman Arnold dan juga Dion serta Jihan.
Aku melirikkan mata ku menatap sekeliling, sangat banyak bunga lili sebagai hiasan dan nuansa putih klasik sangat terlihat menawan di bawah sinar rembulan. Aku tertawa saat menyadari beberapa bingkai foto di atas meja, foto ku bersama dareel saat kami masih sekolah.
"Alana," nattali berjalan menghampiri ku dengan bucket bunga lili. "Untuk gadis yang sangat bersinar di malam ini." Ucap nattali memberikan bucket bunga lili kepada ku. "Kak, kamu tau kan aku bukan gadis lagi." Aku berbisik pelan saat memeluknya, nattali memukul pelan bahu ku.
"Alana-- bunga ini jihan yang merangkai. Apapun keputusan mu, apapun yang membuat mu bahagia. Lakukan lah," ucap ethan memberikan bucket bunga mawar merah dan putih kepada.
"Kak.. terima kasih," aku memeluk ethan terharu. Aku melambaikan tangan kepada jihan agar mendekat. "Terima kasih jihan, bunga ini sangat indah." Ucap ku pada jihan setelah memeluknya. "Apapun yang kakak pegang pasti akan terlihat sangat indah karena kakak pun begitu indah dan cantik." Jihan tersenyum kepada ku.
Ah anak ini.. suatu hari aku akan mengajaknya jalan-jalan, sepertinya jihan dan aku sangat cocok untuk berteman. "Bibi, apa ini?" Tanya ku saat menerima sebuah bingkisan dari bibi. "Non, bibi tidak bisa memberikan hadiah yang mahal tapi bibi merajut baju hangat dan topi untuk bayi non. Bibi juga membelikan album untuk foto-foto non alana agar tidak berserakan di laci, bibi juga menghiasnya dengan nama non." Ucap bibi.
"Bibi... pasti baju nya sangat bagus. Aku akan membukanya dirumah, bibi sangat pandai merajut. Terima kasih bi, terima kasih." Aku memeluk bibi dengan erat.
"Alana.. terima kasih telah merubah hidup dareel setelah kamu memaafkannya. Benar kata dareel, kamu adalah wanita hebat, tolong jangan tolak ponakan ku yang tampan itu, oke." Aku mengerutkan kening mendengar ucapan paman arnold. 'Jangan menolak dareel' Apa maksudnya itu?
"Terima kasih, paman arnold." Ucap ku setelah menerima bucket bunga mawar dari paman arnold. "Alana... " Aku memutar tubuh ku saat mendengar dareel menyebut nama ku.
Dareel POV
Hari ini adalah hari aku akan melamar alana, memang ini sedikit terlambat karena satu minggu lagi pernikahan kami akan dilaksanakan. Namun tetap saja, aku ingin seperti pasangan yang lainnya. Melamar pujaan hati ku secara romantis, meskipun aku sendiri tidak tau hal romantis itu seperti apa.
Yang aku tau, Alana pernah berkata bahwa dia ingin suatu saat nanti akan di lamar di sebuah taman dengan ribuan bunga lili dan di bawah sinar rembulan. Ya... disinilah kami sekarang, di taman beratapkan langit malam dengan bintang-bintang yang sangat indah.
"Alana... " Aku berdiri di belakang alana dengan jarak dua meter. Alana memutar tubuhnya menghadap diriku yang kini memegang mic untuk berbicara. Astaga... aku semakin gugup saat di pinggiran tempat kami mengadakan acara ini banyak para pemuda sedang menyaksikan kami.
Namun suasana menjadi hening seketika, saat aku memanggil nama Alana. "Heem, alana-- dengarkan aku. Mungkin ini sedikit terlambat, tapi tidak apa-apa kan aku menyampaikan nya hari ini?" Tanya ku pada alana yang di jawab dengan anggukan antusias dari alana.
"Alana.. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tidak sempat di ucapkan oleh kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya begitu ternilai.
Alana, hari ini aku berjanji dengan segenap hati aku dan ketulusan hati ku untuk menjaga kamu.
Menjadikan kamu satu-satunya wanita di hidup ku.
Alana Lovata, bersediakah kamu untuk menjadi istri aku? ."
__ADS_1
Ucap ku menatap lurus wanita di hadapan ku yang kini mengusap air matanya. Aku berjalan menghampiri alana dan bersimpuh di hadapannya. "Menikalah dengan ku, alana. Hanya ada dua pilihan, iya atau iya." Ucap ku mengeluarkan cincin.
...
...
"Jika itu pilihannya, maka aku akan memilih iya." Jawab Alana mengarahkan jari nya di hadapan ku. "Cepat pasangkan dan berdirilah." Ucap Alana masih mengusap air matanya. Semuanya bersorak dan bertepuk tangan setelah aku memasangkan cincin di jari manis alana.
Aku berdiri dan memeluk erat alana, aku menatap semua orang yang menyaksikan kami. Bibi menangis terharu di pelukan nattali dan dion yang mengacungkan jempol kearah ku.
"Terima kasih, dareel." Ucap alana di pelukan ku. Saat aku akan mencium bibirnya, namun alana. "Jangan mencium ku, lihatlah banyak anak sekolah melihat kita." Ucap alana sedikit mendorong dada ku. Dengan cepat aku mencium kening alana.
*
"Cincin ini sangat cantik, sangat indah." Aku menatap alana yang sedari tadi tidak berhenti memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Cincin itu adalah cincin pernikahan mama, semacam cincin turun temurun. Saat mama meninggal, cincin ini di titipkan ke paman untuk istri ku kelak. Lihatlah cincin ini sangat pas di jari manis mu." Ucap ku menjelaskan kepada alana.
"Ah semacam cincin leluhur?" Tanya alana lagi. "Entahlah, aku baru mengetahui nya kemarin. Tapi aku sangat ingat bahwa memang cincin ini milik mama." Aku mengusap kepala alana. "Aku akan menjaga cincin ibu mertua ku, pasti mama sangat cantik di hari pernikahannya dengan cincin ini." Ucap alana mengusap berlian yang ada pada cincin itu.
Namun tiba-tiba raut alana berubah nampak murung. "Ada apa, al?" Tanya ku mendongakkan wajahnya. "Mau aku belikan cincin yang lain?" Tanya ku lagi, dengan cepat alana menggeleng. "Aku sangat menyukai cincin ini." Jawab alana lirih.
"Lalu?" Tanya ku lagi menatap mata alana, bahkan air matanya hampir menetes. "Andai orang tua kita disini bersama dan berkumpul dengan kita pasti rasanya akan sangat sangat istimewa. Papa, bunda, papa kamu dan mama kamu. Mereka pasti bahagia kan dengan apa yang kita lakukan hari ini?." Aku mengusap air mata alana.
Ini pasti sangat berat untuk alana. Kepergian papanya bulan lalu masih membekas di hati alana. Dan benar kata alana, orang tua kami telah berpulang sebelum kami bersama seperti sekarang. Aku pun merasakan apa yang di rasa alana, namun aku harus tetap kuat untuk menguatkan alana.
"Pasti, al. Mereka pasti bahagia, mereka juga merasakan apa yang kita rasakan. Lihat itu--" aku menunjuk langit dengan bintang yang menyala indah. "Mereka melihat kita dari sana. Papa kamu, bunda kamu, papa ku dan mama, mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk kita disini dan mereka pasti tau apa yang kita lakukan sekarng. Begitu pun dengan kita, kita disini selalu mendoakan mereka." Ucap ku memeluk alana.
"Ayo ikut dansa sama mereka." Aku menarik pelan tangan Alana menuju tengah, tempat nattali bersama dion dan ethan bersama jihan sedang berdansa. "Aku tidak bisa berdansa," alana menggeleng saat aku memegang pinggulnya.
"Tidak apa-apa injak kaki ku." Aku sedikit mengangkan tubuh alana agar berdiri di atas sepatu ku. "Dareel--" Ucap alana namun dengan cepat aku memotongnya. "Diamlah, atau aku akan mencium mu."
Alunan musik klasik dan di bawah sinar rembulan kami berdansa, suara tepukan tangan dari bibi dan paman arnold serta ocehan nattali yang tiada henti menambah hangat suasana malam ini.
"Terima kasih alana telah mengijinkan ku untuk memasuki hidup mu lagi, aku tidak bisa menyebut ini kesempatan kedua tapi-- sungguh aku berterima kasih telah menerima ku." Ucap ku mencium bibir alana.
...~THE END~ ...
Yeeyy, akhirnya end jugaa 😁
Menurut aku ini ending yang paling cocok untuk Alana maupun Dareel, mungkin sebagian dari kalian ada yang kurang srek atau bahkan bingung sama endingnya. Tapi dari sudut pandang aku ini ending yang adil untuk Alana, Dareel maupun Ethan.
__ADS_1
Dan iya maaf yaa manteman lagi dan lagi aku up nya telat, tunggu yaa untuk next chapter nya.
Terima kasih 😊🥰