Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

...Bagi dunia, mungkin kamu hanya seseorang...


...Tapi bagiku, kamu adalah dunia ku...


...~ Dareel Aldari ~...


...♡♡♡ ...








Alana POV


"Bi, bibi dengerkan kemarin yang aku sama dareel omongin? Menurut bibi gimana?" Tanya ku pada bibi. Saat ini kami berdua berada di halaman belakang.


"Bibi mendengarkan semuanya non. Bibi tidak bisa membela non atau tuan, karena menurut bibi diantara kalian berdua ada benarnya dan ada salahnya." Ucap bibi.


"Maksudnya bi?" Tanya ku lagi, aku tidak paham apa yang dimaksud bibi. "Gini.. sekarang bibi tanya, didalam hati non pasti non alana sangat sangat ingin memiliki keluarga yang bahagia. Pasti non alana ingin menjalani kehiduapan rumah tangga dengan sempurna, bukan begitu?"


"Non... bibi paham, non alana takut pernikahan akan berakhir tragis. Tapi tidak semua pernikahan seperti itu, pernikahan itu dimana dua orang akan terikat oleh janji yang suci. Pernikahan bukan hanya sekedar non alana dan tuan dareel saja, tapi mencakup semua orang yang ada di sekeliling kalian." Aku mendengarkan setiap kalimat yang bibi jelaskan padaku.


"Memang di sebuah hubungan pasti ada rintangan dan gangguan. Tapi coba non ingat-ingat lagi apa saja rintangan yang datang ke non alana sama tuan dareel, lihat sekarang kalian berdua mampu menghadapi semua itu." Bibi mengusap bahu ku.


"Bibi tau non, setakut apa non alana. Tapi kalau bibi boleh jujur, tuan dareel sangat berbeda dengan tuan surya. Bibi ini juga pernah muda non, bibi bisa melihat bagaimana seorang lelaki jika sudah memusatkan dunia nya pada satu wanita."


"Dan bibi bisa melihat tuan dareel lah lelaki seperti itu. Setiap tuan dareel menatap anda, tatapannya sangat memuja bahkan bibi tidak pernah melihat tuan dareel berhenti tersenyum saat disamping non." Tiba-tiba aku sangat ingin memeluk dareel.


"Non... selain itu, ada anak ini didalam perut non. Non juga harus memikirkan dia juga. Bibi sudah mengenal non alana sangat lama, bibi percaya non pasti akan mengambil keputusan yang benar." Ucap bibi


Aku mengangguk memikirkan apa yang di jelaskan oleh bibi. Memang benar, dareel telah membuktikan bahwa dia telah benar-benar berubah. Aku tersenyum lagi menoleh pada bibi.

__ADS_1


"Terima kasih, bibi." Aku memeluk wanita didepan ku ini. Kami begitu dekat, meskipun bibi sangat irit bicara tapi bibi selalu memberiku nasihat terbaiknya.


*


Sudah hampir dua hari ini dareel di sibukkan dengan pekerjaannya di kampus dan mengurus beberapa berkas pernikahan. Semuanya dareel yang mengatur, bahkan aku tidak di perbolehkan untuk memikirkan apapun. Kata dareel, tugas ku hanya mempersiapkan diri untuk menjadi Nyonya Dareel Alfarizi.


Aku tersenyum memikirkan itu, ah iya dua hari ini mual ku tidak separah hari-hari sebelumnya. Setiap pagi dareel selalu menelfon ku lalu ponselku, ku letakkan di perutku yang masih rata. Entah mengapa itu sangat membuatku relax, mungkin baby sangat menyukai suara papanya.


Dan selama dua hari ini pula, aku sengaja menghubungi semua teman-teman ku yang telah berkeluarga. Aku menanyakan sdikit banyak pandangan mereka tentang pernikahan. Dan semua jawaban mereka sangat positif, membuat ku semakin yakin dengan keputusan ku.


Sekarang aku berada didepan rumah seorang psikiater, Clarissa Amora. Sejak kepergian bunda tujuh tahun lalu, aku sempat mengalami depresi. Bagaimana tidak di usia yang masih mengijak 17 thn aku di hadapkan dengan kondisi seperti itu.


Aku adalah orang pertama yg menyaksikan tubuh bunda tergantung dengan lilitan tali di lehernya. Bahkan aku mencoba untuk memutuskan tali itu, namun aku tidak bisa. Aku hanya bisa berteriak dan menangis dibawah kaki bunda. Saat itu aku sangat ketakutan dan merasa bersalah karena tidak bisa menolong bunda.


Kepergian bunda sangat-sangat membuatku trauma. Dan sebelum itu pula, papa selalu menyakiti kami. Bahkan setelah kepergian bunda, papa tetap sama. Lalu, Clarissa inilah seorang psikiater yang membantu ku untuk menghilangkan semua trauma dan ketakutan ku.


Segalanya aku ceritakan pada clarissa, selama hampir enam bulan dari kejadian itu dia membantuku untuk menenangkan diri. Sampai sekarang pun kami masih sering mengobrol, membicaran semua kesibukan kami.


Aku memejamkan mata dan mengatur nafas ku, mengingat semua kenangan itu membuat tubuh ku lemas. Aku segera menuruni mobil dan berjalan menuju pintu rumah clarissa.


Ting tung


"Baik, kak. Aku baik-baik saja, kakak apa kabar? Terakhir kita bertemu tiga tahun lalu, bukan?" Ya, aku memanggilnya kakak, karena usia kami terpaut sebelas tahun.


"Aku baik-baik saja, al. Bener, tiga tahun lalu terakhir kita ketemu. Kalau gak salah waktu itu kamu ada perjalanan bisnis ke Denmark dan aku lagi honeymoon sama suami ku, iya gak sih?" Kami berdua mulai mengobrol dan menceritakan semuanya.


Aku menceritakan semuanya pada clarissa, mulai dari awal kedatangan dareel hingga apa yang ku rasa sampai saat ini. Dan aku mengungkapkan semuanya tentang kekhawatiran ku tentang pernikahan ku. Clarissa mendengarkan semua apa yang ku ceritakan.


"Katakan apa yang kamu rasakan setelah menceritakan semuanya padaku?" Tanya clarissa pada ku. "Lega, aku rasa aku telah membagi kisah ku pada orang yang tepat. Kakak yang selama ini selalu membantu ku dan menghilangkan rasa takut ku." Jawab ku.


"Baiklah, saat ini aku akan mengatakan bahwa kamu menyikapi ini dengan benar. Sebelum kamu berkonsultasi padaku, kamu telah bertanya pada orang-orang yang lebih berpengalaman tentang pernikahan. Dan pasti kamu telah mempertimbangkan itu dengan benar."


"Sekarang aku tanya ke kamu? Seburuk apa definisi dari pernikahan menurut sudut pandang kamu?" Lanjut clarissa bertanya. "Aku berpikir bahwa semua pernikahan itu sama saja, karena yang aku lihat adalah bagaimana hancurnya keluarga ku saat itu. Aku selalu berpikir seperti ini, takut jika suatu saat pernikahan ku sama seperti pernikahan papa dan bunda lalu pada akhirnya anak-anak ku akan merasakan apa yang aku rasa." Aku menjawab pertanyaan clarissa berdasarkan sudut pandang ku saat itu.


"Tapi..." Ucap clarissa pelan, menatap ku lekat. "Tapi sekarang... setelah aku melewati hari-hari bersama dareel dan menyaksikan bagaimana interaksinya bersama paman arnold membuat hati ku sangat hangat. Dareel adalah keponakan paman arnold tapi beliau sangat menyayangi dareel begitu pun sebaliknya. Jika paman dan keponakan saja bisa setulus itu, maka aku berpikir pasti kedua orang tua dan anak bisa menyanyangi lebih tulus lagi." Ucapku pada clarissa.


Clarissa tersenyum hangat pada ku. "Benar, al, Itu yang aku maksud. Satu contoh keluarga yang berantakan bukan berarti semua keluarga memiliki akhir yang buruk juga. Bagiku, di usia mu yang masih muda ini kamu sudah begitu dewasa untuk memahaminya. Dan aku yakin dareel pun begitu, kalian berhasil melewati semuanya."


"Jadikan kehidupan rumah tangga orang tua mu sebagai pembelajaran agar kalian tidak terjebak dalam hubungan yang buruk. Bunda mu adalah wanita yang hebat, aku sangat mengenalnya. Hanya saja terlalu sakit untuk menerima semua kenyataan itu." Perkataan clarissa membuatku semakin merasa bodoh karena aku salah dalam mendefinisikan sebuah pernikahan.

__ADS_1


"Kamu juga hebat, alana, bahkan sangat hebat. Tapi tetap saja kamu dan bunda mu berbeda. Kamu mampu selalu berhasil menyelesaikan semua masalah dan orang-orang di sekitar mu sangat mendukung mu." Clarissa mengusap pundak ku.


"Dareel... setelah aku mendengar semua tentang dareel dari mu, aku yakin dareel adalah pria hebat yang mampu membuat mu jatuh cinta lagi padanya. Aku semakin bersyukur dareel selalu ada disamping mu, ya meskipun dia juga salah satu penyebab rasa sakit mu. Tapi dia benar-benar berubah, dia menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik." Ucap clarissa tersenyum menepuk tangan ku.


"Kak... terima kasih. Aku selalu bersyukur di kelilingi orang-orang yang baik. Kamu selalu membantu ku, terima kasih." Ucap ku memeluk clarissa. "Eh, kamu nangis?" Clarissa melepaskan pelukan ku mungkin dia merasakan punggung ku bergetar.


"Aku akan banyak belajar dari mu. Aku akan berusaha dan membuktikan bahwa aku mampu menjadi istri dan ibu yang baik." Aku mengusap air mata ku. "Aku percaya, kamu pasti mampu menjadi istri dan ibu yang baik. Bahkan sangat baik, alana." Ucap clarissa kembali memeluk ku.


"Ah iya... mau aku kasih buku primbon?" Tiba-tiba clarissa menatap ku serius. "Primbon? Buku apa itu kak?" Tanya ku bingung. "Buku tentang pernikahan, cara memuaskan suami dan--" Dengan cepat aku memukul lengan clarissa.


Aku benar-benar salah selama ini dan sekarang aku semakin yakin untuk memulai kehidupan baru bersama dareel. Ya, aku siap menjalani kehidupan bersama dareel, membangun rumah tangga dengan anak-anak kami yang sangat lucu.


*


Setelah empat jam lebih bersama clarissa membicarakan semua hal, bercanda bersama dan mengingat kenangan tiga tahun lalu saat kami bertemu di denmark. Aku memutuskan untuk pulang, namun aku baru sadar saat memasuki mobil bahwa dareel mengirim banyak pesan padaku.


Tumben sekali dareel mengirim pesan sebanyak ini, biasanya dia langsung menelfon.


Dareel ♥️


Al, kamu dimana?


Masih dirumah clarissa?


Jangan pulang dulu yaa, tolong kamu mampir ke tempat penitipan lala sama kiki. Aku lupa ambil mereka, nanti aku mampir kerumah kamu.


Terima kasih, sayang 💋


Ingat yaaa, jangan pulang dulu


Sayang? Kenapa saat dareel memanggil ku sayang, rasanya seperti menggelikan. Dan iya... bukankah lala dan kiki seharusnya di jemput besok? Ah entalah. Aku segera menghidupkan mobil dan menuju tempat penitipan lala dan kiki.


...******...


...TBC...


Pagi guyss, kalian apa kabar? Udah satu minggu lebih gak up, maaf yaa manteman. Bener-bener lagi banyak kegiatan dan akhir-akhir ini juga mood agak kurang baik 🥲


Terima kasih banget buat kalian yang masih mau ngikutin cerita ini, aku harap kita bisa sama-sama memberikan yang terbaik yaa 🥰

__ADS_1


Thanks You 🥰😍


__ADS_2