
...Sesekali, jangan paksa dirimu untuk terlihat baik-baik saja. Menangis dan bersedih itu wajar, artinya hati masih berfungsi dengan baik....
...♡♡♡...
•
•
•
•
•
Dareel POV
"Alana... apa yang terjadi?" Aku memasuki kamar alana dan segera memeluknya. Papa alana kini koma dirumah sakit akibat serangan jantung. Entah apa yang sebenarnya terjadi tapi kini alana bersiap-siap untuk terbang ke amerika.
Tentunya bersama dengan ku, aku tidak bisa meninggalkan alana begitu saja. Keadaan alana kemarin malam sangat membuatku takut. "Aku takut terjadi sesuatu... pa--papa, dia akan baik-baik saja kan?" Alana menangis dipelukan ku.
"Alana... dengar-- semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah, kamu juga belum sembuh sepenuhnya, aku ada bersama mu. Jangan takut, alana." Ucapku mencium kening alana.
*
Aku menatap alana yang terlihat sedikit pucat. Kami baru sampai di Boston, Amerika Serikat setelah menempuh perjalanan pesawat kurang lebih dua puluh satu jam.
Aku menggenggam tangan alana yang terasa dingin. "Al... apa kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?" Tanya ku memastikan. Alana hanya menggeleng dan tersenyum sebagai respon.
Kami berdua memasuki rumah sakit massachusetts general hospital. Dari ujung terlihat seorang lelaki berpakaian hitam berjalan menghampiri kami. "Non... ." Sapa lelaki itu membungkuk pada alana.
"Han, apa yang terjadi sama papa?" Tanya alana menahan tangis, aku mengusap lengan alana menenangkan. "Teresa menipu tuan surya, wanita itu menjadikan semua uang tuan surya dan seluruh aset yang tersisa sebagai jaminan untuk permainan judi. Sekarang teresa melarikan diri karena menjadi buronan disini." Yohan menjelaskan pada kami.
"Karena itulah tuan surya menjadi stres dan serangan jantung." Alana menutup matanya rapat-rapat. Bukankah ini balasan yang setimpal untuk surya abraham? Namun, selain itu dia tetap ayah dari alana.
Aku sangat mengerti bagaimana perasaan alana sekarang. Meskipun hubungan mereka tidak baik-baik saja, tapi keluarga tetaplah keluarga. Alana berdiri didepan kaca sebuah ruangan, didalam sana terbaring lelaki dengan bantuan alat pernafasan.
Aku memeluk alana dari belakang. "Alana... ." Ucapku pelan. Alana berbalik dan memelukku, tangisan alana sangat membuat hatiku sakit.
Tiga hari papa alana masih belum sadarkan diri, kondisinya semakin melemah. Dokter menyarankan untuk bersiap-siap menerima apapun yang akan terjadi, karena semua yang terbaik telah dilakukan hanya Tuhan yang bisa menentukan.
__ADS_1
Kini alana bersandar di bahu ku. "Dareel... " Alana bergumam pelan. "Ya," jawab ku. "Aku ingin mengatakan sesuatu--" belum sempat alana menyelesaikan ucapannya, dokter dan beberapa perawat berjalan memasuki ruangan tempat papa alana di rawat.
"Dareel ada apa? Apa yang terjadi dengan papa?" Tanya alana panik. "Tenanglah, papa mu akan baik-baik saja. Kumohon tenanglah... " ucapku memeluk alana yang menangis.
Setelah menunggu setengah jam, beberapa perawat keluar di susul oleh dokter yang menangani papa alana. "Sorry I have to say this, the patient's heartbeat has stopped. We are sorry for the passing of Mr. Surya." Ucap dokter itu.
"I hope you can release it sincerely," sambung dokter itu, berlalu meninggalkan aku dan alana yang kini menatap tubuh kaku tertutup kain didepannya.
"Pa-- papa?" Ucap alana pelan berjalan disamping ranjang. Alana menangis dan memeluk tubuh tak bernyawa itu. "Papa... alana disini, papa... alana disini," ucap alana berung kali.
Aku merengkuh tubuh alana dan mencoba menenangkannya. "Papa... papa harus memperbaiki hubungan kita, bangunlah... ku mohon bangun lah. Kau harus berbicara padaku, ku mohon... " Tubuh alana meluruh ke lantai dengan pandangan kosong.
*
Kami langsung pulang ke indonesia, karena bukan warga negara amerika jadi papa alana memiliki kendala untuk di makamkan disana. Alana memutuskan untuk memakamkan papanya di indonesia.
"Non, ayo bibi bantu berdiri." Ucap bibi mengusap punggung alana. Sejak satu jam lalu semua tamu dan kerabat yang menghadiri proses pemakaman papa alana telah pulang. Namun alana masih terduduk di samping nisan bertulisakan 'Surya Abraham'.
"Alana, aku percaya kamu bisa ngelewatin semua ini. Kamu harus ikhlas, al." Nattali berbicara pada alana, namun tetap saja alana tidak mengeluarkan suara sama sekali. Air matanya terus menetes namun pandangannya tetap mengarah pada tempat terakhir papanya beristirahat.
"Al.. Kita pulang, udah mulai gelap. Kamu juga belum bener-bener fit." Aku merengkuh kedua bahu alana. "Papa pergi saat hubungan kami nggak baik-baik saja. Papa gampang banget kena flu saat musim hujan." Ucap alana lirih.
"Setelah ini akan turun hujan, papa-- pasti disini sangat dingin." Alana mengusap matanya dengan bahu yang bergetar. "Mulai sekarang, setiap hari minggu alana akan datang kesini dan bawah dua bunga. Bunga untuk bunda dan pa--pa." Lanjut alana.
Aku menatap alana yang menatap kosong keluar jendela. Wajah alana kembali pucat, aku menepikan mobil saat alana memberiku isyarat untuk menghentikan mobilnya.
"Non... " Panggil bibi saat alana turun dari mobil. "Al... apa masih sangat sakit?" Aku mengusapkan minyak angin di leher dan punggung alana. "Ini non, di minum dulu." Bibi menyodorkan air mineral lalu dengan cepat alana menegaknya.
Aku membawa tubuh alana kembali masuk ke dalam mobil. Alana menolak untuk di bawa kerumah sakit, bahkan kami akan berdebat jika aku memaksanya. Tapi nanti malam aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya, tidak peduli dia setuju atau tidak.
*
"Dareel, aku mau istirahat. Kamu bisa pulang, terima kasih." Ucap alana pelan padaku saat memasuki apartementnya. Aku tau ini sangat sulit untuk alana dan dia butuh waktu untuk sendiri. Tapi tetap saja aku tidak meninggalkannya di saat seperti ini.
"Non.. bibi buatkan susu ya," Alana mengangguk lalu berjalan menaiki tangga. "Alana" panggil ku. "Aku gak akan pergi, saat kondisi kamu seperti ini. Kamu pasti butuh waktu, its oke aku disini." Aku mencium kening alana.
Alana tersenyum tipis lalu berjalan lagi menuju kamarnya. Aku berjalan menuju dapur namun mata ku teralih kan pada kertas struk yang tergeletak tak jauh dari tempat sampah.
Aku mengambil kertas struk untuk membuangnya, namun aku mengernyitkan saat membaca apa yang telah di beli 'Tespack'. Saat aku hendak bertanya oada bibi, namun bibi pergi mengantar susu pada alana.
__ADS_1
Siapa yang membeli tespack? "TUAN DAREEL... NON ALANA PINGSAN." Teriakkan bibi dari kamar alana membuatku terjingkat kaget. Aku berlari menaiki tangga dan memasuki kamar alana.
Alana tergeletak di lantai dengan wajah yang sangat pucat. "Bi, cepat panggil dokter." Pintah ku pada bibi. Dengan cepat aku menggendong alana dan menidurkannya di tempat tidur.
"Alana... bangun, al." Aku menggoyangkan tubuh alana panik. Sungguh ini membuat ku sangat takut, berulang kali aku merapalkan doa agar tidak terjadi apa-apa pada alana.
*
"Tuan... dokter siska sudah datang" Ucap bibi padaku. "Sis, tolong lo periksa alana." Aku segera bangkit dari tempat tidur agar siska bisa memeriksa alana. "Lo tenang aja, ini sering terjadi saat kecapekan." Ucap siska tersenyum dan memulai untuk memeriksa alana.
Aku menatap khawatir pada alana yang terbaring tidak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat. "Eemm-- reel lo bisa keluar sebentar? Ada beberapa hal yang harus gue cek." Ucap siska berbalik menatap ku.
Aku mengangguk mengiyakan perintah sista. Setelah menunggu hampir dua puluh menit siska keluar dari kamar alana. "Sis... " aku segera menghampiri siska yang memasang wajah sumringah.
Kenapa dengan ekspresi itu, mengapa dia menatap seperti menggoda ku. "Gue udah tulis beberap vitamin dan resep makanan sehat yang harus ibu hamil konsumsi." Ucap siska menyodorkan selembar kertas.
"A-apa?" Aku mengernyitkan kening saat siska mengatakan tentang ibu hamil. "Aah iya.. gue juga udah tulis disini hal yang gak boleh dilakuin sama ibu hamil. Dan usia kehamilan alana masih sangat muda, tolonglah reel lo bisa kan lebih ngejagain dia." Aku membulatkan mata mendengar ucapan siska.
"Al-- alana hamil?" Ucapku menutup mulut. Siska mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Perkiraan gue usia kandungannya enam minggu, lo bisa bawa alana kerumah sakit buat cek up lebih detailnya. Alana kelelahan dan banyak pikiran, nanti gue kirim ke email lo beberapa penjelasan tentang kehamilan, lo bisa baca itu sama alana nanti." Ucap siska menepuk bahu ku.
"Lo masuk sana, sebentar lagi juga udah bangun." Siska tersenyum padaku. "Saya antar kedepan, dok." Bibi mempersilakan siska. "Sis, thank you." Aku memeluk siska dan segera masuk ke kamar alana.
Ya Tuhan... mungkin beberapa minggu ini aku mual-mual dan terasa seperti berbeda itu efek dari baby yang di kandung alana. Ah tidak.. alana juga mual-mual bahkan lebih parah dariku.
Aku segera duduk disamping alana yabg masih memejamkan matanya. Perlahan aku menyingkapkan atasan yang dikenakan alana, memperlihatkan perutnya yang masih rata.
"Hay baby," sapa ku meraba perut alana. "Baby, apa kamu didalam? Say hi to papa." Aku mencium perut alana pelan. Aku tidak bisa berhenti tersenyum, aku membenarkan kembali atasan alana dan menatap wajah alana.
"Al... ada kehidupan didalam tubuh kamu. Kalian adalah tanggung jawab ku, terlepas kamu setuju atau tidak dengan pernikahan. Aku akan tetap memaksa mu, mungkin inilah salah satu cara merubah sudut pandang mu tentang keluarga." Aku mencium bibir alana pelan.
Aku mengusap air mata ku yang tanpa terasa keluar dari sarangnya. Aku tidak bisa merasakan apapun sekarang selain kebahagian. Alana segeralah bangun, aku ingin memeluk mu.
...*****...
...TBC...
Hallo manteman.. Maaf yaa udah sampir satu minggu ini aku gak bisa update 🙏. Maaf bangett yaa, karena emang bener² lagi sibuk di real life apalagi akhir² ini mood lagi kurang baik juga 😭. Makasih buat yang masih ngikuti cerita 'Sekian Kalinya' ini, bener² love youuu deh ♥️♥️♥️
__ADS_1
Jangan lupa Vote sama comen yaa, biar aku makin semangatt lagi hehhe 😁 Kasih saran juga bisa gais 😊
Bayy bayyy sampai ketemu di next chapter, Terima kasih 🤗🤗