Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
DUA PULUH SATU


__ADS_3

...Lucu rasanya, ketika aku merindukan "Rumah" padahal aku belum pernah "Pulang"...


...♡♡♡...







"Masuk lah," ucap ku mengecup bibir Alana. "Baiklah." Alana berbalik dan melambaikan tangan, namun saat aku menyalakan motor, alana meraih tengkuk ku dan mencium ku, "Terima kasih," ucap Alana berlari memasuki Apartement. Aku terkekeh dengan tingkah alana, kenapa harus malu dengan cium ku bahkan jika dia meminta lebih pun akan aku beri.


Tunggu, ponsel Alana tertinggal di saku hoodie ku. Aku mamakirkan kembali motor ku dan menuju apartement Alana.


Alana POV


Aku sangat menikmati hari ini, lebih tepatnya saat bersama dareel. Sepertinya hari ini aku akan lebih sering tersenyum, entalah hati ku sedang baik saat ini.


Saat aku baru membuka pintu apartement, PLAKK. "DARI MANA SAJA KAMU? KENAPA TIDAK MENGHADIRI ACARA KELUARGA VANO?" Papa berteriak didepan ku.


Aku memegang pipi ku yang terasa sangat panas, dibelakang papa juga ada Vano yang menatap ku dengan smirk nya. Sialan


"Sudah aku tegaskan dari awal, aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Menghadiri acara keluarga, persetan dengan itu, aku tidak peduli." Ucap ku menatap papa dan vano.


"SAMPAI KAPAN KAMU MEMPERMALUKAN PAPA SEPERTI INI HAH? PAPA TIDAK BUTUH PENDAPAT MU, SETUJU ATAU TIDAK, KAMU HARUS MENIKAH DENGAN VANO." Papa berteriak kembali di hadapan ku.


"Apa anda tau apa yang telah vano lakukan di belakang ku? Apa anda tau vano berungkali tidur dengan wanita yang berbeda? Apa anda tau itu? Tentu saja tidak, yang anda tau hanyalah uang, uang dan semua keuntungan milik anda. Papa? Bagaimana bisa aku memanggil mu dengan sebutan seperti itu?" Aku mengusap air mata ku yang perlahan jatuh, sesak sekali rasanya.


"Saat semua anak perempuan sangat mencintai papanya dan menjadikan papanya sebagai cinta pertama, tapi aku? Bahkan untuk memikirkan itu saja tidak mungkin. Kau... lelaki pertama yang membuat ku hancur, kau menghancurkan hidup anak dan istri mu. BAGAIMANA BISA KAU DI SEBUT SEBAGAI SEORANG AYAH." Teriak ku tepat di depan Papa.


Aku tidak bisa menahan marah dalam hatiku, aku tidak bisa menahannya lagi. Ya Tuhan.. ini sangat menyakitkan, begitu menyakitkan.


Saat papa akan menamparku untuk kedua kalinya, namun sesorang disamping ku menahan tangan papa. Aku menatap lelaki itu, Dareel..


"Berhenti, jangan membuat ku lupa bahwa anda adalah orang tua." Aku belum pernah melihat Dareel dengan raut menakutkan seperti ini, bahkan dengan tatapan yang begitu tajam.


"Kau?" Ucap papa terkejut, melepas cekalan dareel. Dareel menatap ku, "Kau kembali? Dasar keluarga penjudi, kenapa kau kembali, hah?" Papa menarik kerah Dareel.


Namun dareel dengan cepat mendorong papa, "Aku kembali karena kau tidak menepati janji mu. Kau berjanji untuk memperbaiki keluarga mu, kau berjanji untuk menjadi papa yang baik untuk Alana. Aku salah karena mempercayai orang yang tidak punya hati." Ucap dareel yang berdiri di hadapan papa, aku menurunkan pandangan ku, dareel menggenggam erat tangan ku.


"Berhenti ikut campur dan pergilah!" Papa hendak mendorong dareel, namun dareel menghindar. "Aku bisa menghancurkan perusahaan mu dalam satu perintah," ucap dareel menekan suaranya.


Tiba-tiba ponsel Vano yang sedari tadi menyaksikan perdebatan kami berdering.

__ADS_1


Ya, Hallo


.....


Apa?


.....


Bagaimana bisa? Papa bukan orang seperti itu, tidak mungkin papa menggelapkan dana perusahaan para inventor.


.....


Baiklah, aku akan kesana.


Adapa apa lagi ini, "Om, saya permisi dulu," ucap Vano pada papa dan berlari keluar apartement. "Vano, apa yang terjadi? Penggelapan dana? Apa maksudnya? Vano, vano." Papa berteriak memanggil vano namun tidak dihiraukan.


Ku lihat papa mengacak rambutnya, "See? Perusaahan yang akan menolong mu pun sekarang terjerat masalah, bagaimana bisa kau menjadikan anakmu sebagai jaminan?" Dareel berjalan kearah papa yang kini duduk di ujung sofa.


"Apa semua ini perbuatanmu?" Aku mendengar papa berbicara pelan pada dareel. "Anda begitu pandai, tentu saja. Sedari awal sudah ku katakan, membuat Alana menangis sama saja kau dengan menghancurkan hidup mu sendiri." Ucap Dareel lirih di telinga papa.


Dareel berbalik dan menghampiri ku yang mematung dengan ucapan Dareel, apa dareel terlibat dengan masalah yang terjadi diperusahaan keluarga vano.


"Ku mohon jangan seperti ini, berhentilah, ku mohon. Aku merindukan papa yang dulu, tidak bisakah kita mengulang semuanya seperti sepuluh tahun yang lalu? Kau yang begitu menyayangi ku dan menjaga ku, tidak bisakah kita kembali ke masa itu? Ku mohon." Ucap ku parau menatap lemah papa, berharap papa bisa memperlakukan ku seperti putri kecil kesayangan nya.


"Alana, kau itu naif sama seperti bunda mu. Kau terlalu mengikuti hatimu, kau mudah rapuh. Kau sangat mirip dengan bunda mu, membuatku muak." Ucapan papa membuatku sangat sesak, apakah aku dan bunda tidak ada artinya sama sekali. Demi Tuhan ini sangat menyakitkan.


"Menginaplah dirumah ku, bukankah tadi kamu bilang merindukan lala dan kiki." Ucap dareel mengusap rambut ku. "Alana, ini perintah papa, menjauh dari lelaki sialan itu!" Papa berteriak di belakang Dareel.


"ALANA, ALANA... " Papa berteriak di belakangku namun Dareel menahan bahuku agar tidak menengok kebelakang. Aku menatap wajah dareel yang juga menatap ku dengan senyuman hangat.


Dimana raut menakutkannya 10 menit yang lalu, dengan mudah berganti ekspresi dan kini dia kembali dengan wajah yang terukir senyuman favorit ku.


"Apa sangat sakit?" Tanya dareel mengusap pipi bekas tamparan papa, aku menggeleng. Sangat sakit tapi aku sudah terbiasa dengan ini, bahkan saking terbiasanya sampai aku tidak merasakan apapun lagi. Namun, entah mengapa tadi membuatku begitu terluka.


"Nanti dirumah akan ku kompres," ucap dareel memakaikan helm di kepala ku.


Sepanjang perjalanan, aku hanya menunduk. Kau sangat mirip dengan bunda mu, membuatku muak. Perkataan papa membuatku ingin menangis, aku memukul dada ku berulang kali untuk menahan agar air mata ku tidak menetes.


*


"Mau aku buatkan susu?" Tanya dareel padaku setelah sampai dirumahnya. Aku hanya menggeleng, kini aku tidak menginginkan apapun aku hanya ingin istirahat, sangat melelahkan.


"Kemarilah..." Dareel menarik tangan ku dan memelukku. "Menangislah, Al. Jangan menahan tangisan mu, itu akan semakin menyesakkan." Dareel mengusap kepalaku dan mencium kening ku lama.


"Jangan bersikap seolah kamu kuat. Aku disini, menangislah didepan ku, tidak ada orang lain disini." Lanjut dareel mengusap punggung ku yang mulai bergetar karna tangisan.


Aku menangis di pelukan dareel, kurasa kini pakaian dareel basah oleh tangisan ku. "Apa aku tidak berarti untuk papa?" Ucap ku lirih, "Apa aku dan bunda hanya boneka dalam hidupnya?" Sesak sekali rasanya.

__ADS_1


Dareel mengusap punggung ku, "Aku sangat menyayangi papa, aku sangat ingin papa kembali seperti sepuluh tahun lalu. Ini sa-sangat menyakitkan dareel." Aku menumpahkan semuanya dipelukan dareel.


Aku tidak peduli apa yang kini dareel pikirkan, mungkin dareel berpikir aku rapuh dan cengeng, aku tidak peduli. Sekarang, yang ku butuhkan hanya tempat untuk menangis.


"Kamu kuat, alana, bertahanlah sebentar lagi," gumam dareel, yang sedikit ku dengar. Aku terus menangis entah sampai berapa jam, hingga tidak terasa aku tertidur dibahu dareel.


Pelan-pelan aku membuka mata, aku merasakan dareel menggendong ku menaiki tangga. Ah, mungkin menuju kamarnya, aku kembali menutup mataku dan mengeratkan pelukannku di pundak dareel.


Dareel POV


Aku menatap wajah cantik yang terlelap disamping ku, sangat cantik. Matanya sedikit bengkak dan hidung yang kemerahan karena menangis kemarin malam.


Aku mengusap matanya dan hidungnya bergantian, mata ini tidak boleh mengeluarkan air mata lagi. Aku mendekat dan mengecup kening dan bibir alana.


Perlahan alana membuka matanya lalu mengusap matanya dan menguap, astaga menggemaskan sekali. "Morning," ucap ku mencium bibirnya, namun di dorong oleh Alana.


"Eehmm, jangan deket-deket." Alana menutup wajahnya dengan selimut. "Aku jelek banget kalau habis nangis, jangan dilihat." Ucap alana pelan di dalam selimut.


Aku tertawa melihat kelakuan menggemaskan ini, "Alana..." belum selesai aku berbicara. "Tunggu, kenapa kamu gak pakai kaos?" Alana membuka selimutnya dan menatap ku heran. "Astaga, kan kemarin aku pakai hoodie. Ini kok pakai kaos oblong?" Alana melotot kearah ku.


Aku tersenyum menarik hidungnya, "Aku kalau tidur gak pernah pakai kaos, biar seksi aja, apalagi kalau ada kamu." Aku mengedipkan mata didepan Alana yang kini semakin melotot.


"Iya, iya, kemarin kamu tidurnya gak nyaman karna pakai hoodie sama celana jeans ketat gitu. Jadi aku ganti kaos sama training," ucapku turun dari kasur.


"Kenapa sih di ganti segala, biarin napa. Gak sopan tau," ucap Alana melempar bantal padaku. "Gak sopan gimana? Lagian aku udah tau semuanya, udah liat semuanya." Aku tertawa terbahak melihat wajah merah Alana.


"Tau ah, mesum." Ucap Alana kembali berbaring dan memainkan ponselnya. Namun ponsel alana terus berdering, saat aku melihat siapa yang menelfon ternyata itu papa alana dan ku lihat raut alana berubah murung lagi.


Dengan cepat aku mengambil ponsel alana dan mematikannya, "Ayo turun, temenin aku masak. Mau makan apa?." Aku menggandeng tangan alana menuju dapur.


"Teserah, apa aja." Ucap Alana duduk disamping wastafel, "Duduklah di meja, Al." Aku mengusap rambut Alana, namun dia hanya menggeleng. Baiklah, mungkin suasana hatinya masih tidak membaik.


Kini aku akan memasak nasi goreng saja, simpel dan cepat. Memotong sosis, pentol, udang, sawi dan menyiapkan bahan-bahan lainnya, lalu aku melirik Alana yang ternyata kini merekam ku dengan ponsel ku.


"Apa yang kamu lakukan, hmm?" Ucap ku menoleh pada alana. "Ngerekam kamu masak," jawab alana yang masih sibuk merekam ku, kini kaki nya menendang-nendang kaki ku.


"Apasih, Al, Aku lagi masak. Dari pada kamu gangguin aku, sini bantu aku masak." Ucap ku menoleh lagi pada alana yang kini telah berhenti merekam ku dan berjalan menuju kulkas.


"No, aku nggak mau masakin orang selain suami aku," Ucap alana enteng setelah meminum jus jeruk. "Apa?" Jawab ku terkejut, "Kenapa begitu?" Tanya ku pada alana, sambil memindahkan nasi goreng yang telah matang ke piring.


"Cuma suami ku aja lah yang bisa makan masakkan aku. Orang lain mah gak boleh, rahasia. By the way, enak banget tau masakan aku, mantab." Ucap alana mengambil ahli piring berisi nasi goreng ini dan memindahkan ke meja makan.


"Menikalah dengan ku, dan jadikan aku satu-satunya lelaki yang boleh memakan masakkan mu." Ucap ku tepat disamping telinga Alana.


...TBC...


...*****...

__ADS_1


Vote dan komen ya teman-teman 😊


Terima kasih banyak 🙂


__ADS_2