Sekian Kalinya

Sekian Kalinya
TIGA PULUH TIGA


__ADS_3

...Semestinya aku berhenti saat aku sadar saat tidak lagi menjadi pilihan, namun sadar ku juga terlambat. Dan sekarang aku harus menanggung rasa sakit dua kali lipat. Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku masih bisa tersadar....


...♡♡♡...







Dareel POV


"Apa mulai sekarang kamu memikirkan lagi ucapan ku tadi?" Tanya ku, membukakan pintu mobil untuk Alana. "Ucapan yang mana?" Alana tersenyum jahil padaku. "Ah, iya... yang tadi kan? Kamu mau aku mengganti pasword ponsel pakai nama kamu," ucap alana masih dengan senyum jahil nya itu.


"Dareel, please lah-- ini tahun berapa? Dan kamu masih bersikap kuno seperti itu?" Alana menggeleng, menatap ku heran. "Kuno kamu bilang? Malah anak jaman sekarang kalau pacaran ya kayak gitu, al. Mereka mengubah semua sandi menjadi nama pasangan mereka." Aku menjelaskan pada Alana.


Tidak, maksud ku tidak begitu, aku juga tidak mau melakukan hal seperti itu. Mengubah semua sandi menjadi nama pasangan kita, bukankah itu sedikit berlebihan? Namun, yang ku minta dari alana adalah dia mengubah nama ku di ponselnya.


Di ponsel alana, nama ku tersimpan bukan 'Dareel' namun 'Ayah lala&kiki'. Maksud ku-- tidak apa-apa menyimpan nomor ku dengan nama itu. Namun aku ingin nama ku tersimpan dengan nama yang manis.


Seperti pasangan yang lainnya yang memberi nama kontak kekasih mereka dengan 'Babe', 'Darling', 'My love' bahkan 'My future' atau semacamnya. Aku pun menyimpan nomor Alana dengan nama 'My world', sangat manis bukan.


Tapi... apa kalian tau yang dilakukan alana setelah melihat nomornya dengan nama yang manis itu? Dia malah menggantinya dengan nama biasa 'ALANA'. Astaga... bukankah itu sangat kaku?


"Lalu?" Jawab alana menghadap ku. "Ganti nama ku di ponsel mu!" Ucap ku menatap alana, dan beberapa detik kemudian alana tertawa begitu keras. "No, itu sangat berlebihan," jawab alana kembali berjalan memasuki rumah.


"Aku memberimu nama di kontak ku 'My World'--," ucap ku di belakang alana. "Dan aku sudah menggantinya, sungguh itu sangat menggelikan." Potong alana cepat, bergidik didepan ku.


"Itu sangat manis, alana. Kamu gak boleh curang, kamu tadi kalah dan sesuai kesepakatan kamu harus menuruti permintaan ku. Dan ini permintaan ku, ganti nama ku di ponsel mu menjadi 'My Boy'." Ucap ku mengingatkan alana bahwa dia harus menerima kekalahannya.

__ADS_1


"What? 'My boy'? Are you crazy, dareel?" Tanya alana dengan wajah gelinya, aku mengangguk sebagai jawaban. "Eeemm... bagaimana jika permintaan yang lain? Maksudku permintaan yang--" Alana mendekat padaku dan menggigit bibir bawahnya.


Astaga aku tau apa maksudnya ini. "Ciuman? Atau--" ucap alana mengedipkan matanya. "No, aku tau kamu masih capek karena kemarin malam." Aku mengusap pipi alana yang saat ini mengerucutkan bibirnya.


"Alana--" Suara seorang lelaki terdengar dibelakang tubuh alana. Alana menoleh kebelakang, "Kak ethan?" Ucap alana terkejut. Aku menatap sengit pada lelaki yang mengaku sahabat alana namun sangat mencintai alana.


Ethan tersenyum pada alana dan berjalan menghampiri kami. Aku menggenggam erat tangan alana, dan maju didepannya memberi batas antara ethan dan alana. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya ku sarkas pada ethan.


"Apa aku perlu mengatakan semuanya padamu apa yang harus ku lakukan disini?" Dia balik bertanya padaku, tapi tatapannya mengarah pada alana. "Alana? Apa kamu tidak ingin mengatakan apapun padaku?" Tanya ethan pada alana.


Aku menatap sorot mata ethan saat menatap alana. Aku juga seorang lelaki dan aku tau arti dari tatapan itu. Tatapan lemah saat berhadapan dengan wanita yang dicintai dan tatapan terluka sangat jelas dari mata ethan.


Alana melepaskan genggaman tangan ku dan berjalan menghampiri ethan. "Alana... " Aku meraih pelan lengannya, alana berbalik menghadap ku dan tersenyum memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.


"Baiklah aku akan memberi kalian waktu, telfon aku jika terjadi sesuatu." Ucap ku berbisik pada alana lalu menatap tajam sekilas pada ethan. Bukannya aku tidak mempercayai alana, aku sangat mempercayainya.


Hanya saja... aku terlalu takut kehilangan alana lagi. Ethan... dia lelaki yang selama lima tahun bersama alana saat aku tidak ada. Aku memijat pangkal hidung ku lalu menjalankan mobil, semoga alana benar-benar menerima ku.


Sungguh aku ingin memeluk alana, namun tetap aku harus ingat tujuan awal ku datang kemari adalah untuk meluruskan semua masalah. Aku juga tau bahwa dareel ada disini, tapi aku harus tetap datang untuk menyelesaikan semuanya.


"Kak--" ucap alana akan mengeluarkan suara. "Wait, aku dulu yang bicara. Kamu diam-- alana-- ya tuhan," aku terbata-bata saat akan memulai pembicaraan ini. Entah rasa bahagia karena bertemu dengan alana setelah hampir tiga bulan berlalu atau rasa sedih saat tau alana pergi karena keegoisan ku.


"Apa selama tiga bulan ini kamu baik-baik saja?" Pertanyaan pertama yang kuucapkan pada alana. "Ya, aku baik-baik saja. Kamu--" Jawab alana. "Tidak, aku tidak baik-baik saja. Keadaan ku sangat tidak baik-baik saja, alana." Ucap ku menatap alana sendu.


"Kak... maaf, maaf karena tidak mengatakan padamu kemana saja aku tiga bulan ini," alana menatap ku. "Aku tau, al. Alasan kamu datamg kesini dan tidak memberitahuku, aku tau semuanya, tapi-- ini semua membuat merasa bersalah." Ucap ku lirih.


"Benar katamu, tidak seharusnya aku merusak persahabatan kita demi cinta yang hanya akan berakhir bila di inginkan. Aku-- aku terlalu egois, aku telah membuat persahabatan kita menjadi renggang. Dan bahkan aku membuat mu terluka." Aku menatap alana yang hanya terdiam mendengarkan ku.


"Aku membuat mu menangis, alana. Aku di butahkan oleh cinta yang seharusnya tidak menjadi boomerang dalam persahabatan kita. Mungkin takdir membuatku bertemu dengan mu hanya untuk menjadi sahabat dan kakak mu. Tapi aku tau takdir tidak pernah salah, dareel... dia begitu mencintaimu." Aku tersenyum diakhir kalimat ku, mencoba  menerima apa yang terjadi ternyata sangat menyakitkan.


"Dareel mencintaimu sangat besar, kamu bahagia berada didekat nya. Dan aku percaya dareel lah lelaki yang selamanya akan membuatmu tertawa dan selalu melindungi mu." Karena aku terlalu pengecut hanya untuk mengatakan cinta padamu dan malah melarikan diri untuk menghilangkan rasa itu, lanjut ku dalam hati.


"Kak... ." Mata alana berkaca-kaca menunduk. "Alana, maafkan aku karena mencintaimu dan membuat semuanya berantakan. Namun, kumohon jangan meninggalkan ku dan jangan pernah menjauhi ku. Aku, kamu dan nattali, bukankah kita seperti keluarga?" Tanya ku pada alana yang kini mengusap matanya yang berair.

__ADS_1


"Kita keluarga-- dan keluarga memang seperti ini kan, bertengkar lalu berdamai lagi." Aku berdiri dan merentangkan tangan ku. "Aku tidak peduli dareel melihat aku memeluk mu, karena dia juga membutuhkan restu ku sebagai kakak mu jika ingin berkencan dengan mu." Ucap ku tersenyum.


"Aku sangat merindukan mu tapi bagaimana aku mengatakan itu, aku takut di bentak lagi oleh mu." Ucap alana memeluk ku. "Maaf juga untuk itu." Alana mengangguk di tengah isakan nya.


"Berdamai?" Tanya ku pada alana yang kini mengusapkan ingusnya di kemeja ku, astaga anak ini. "Berdamai." Jawab alana mendongak dan menatap ku.


*


"Ini sudah larut malam, apa lo tidur disini?" Tanya lelaki yang sedari tadi mengibarkan bendera perang padaku. "Apa urusan lo? Ini rumah alana dan gue kakak nya." Jawab ku tidak mau kalah.


"Kakaknya?" Ulang dareel tertawa sinis. "Dengar.. gue gak mau debat sama lo di hadapan alana. Jadi jangan memancing, paham." Peringat ku menuangkan minuman ke gelas.


"Bahkan untuk bicara aja gue males, malah debat." Ucap dareel menyeruput minuman nya. "Oke, gue sekarang akan bicara serius ke lo. Gue harap lo akan jaga alana sebaik mungkin, buat alana ngelupain traumanya dan buat dia selalu tersenyum. Gue percaya lo bisa ngelakuin itu lebih baik dari gue." Aku menatap tajam pria beruntung yang ada didepan ku ini, yang mendapatkan cinta alana.


"Ini akan sulit untuk gue... tapi lo tenang aja, mulai sekarang gue akan berusaha untuk ngilangin perasaan ke alana. Gue akan tetep jadi sahabatnya dia, tapi gue gak akan bisa lebih dari itu. Lo gak akan ninggalin alana kan?" Tanya ku lirih pada dareel.


"Gue gak akan ninggalin alana lagi, gue juga berusaha memperbaiki semuanya. Ya meskipun kata alana, nggak ada yang bisa di perbaiki lagi. Tapi kita akan mulai semuanya dari nol. Gue akan selalu buat alana bahagia, gue akan lakuin apapun buat alana." Dareel menatapku serius, aku mengangguk sebagai respon.


"Gue pegang kata-kata lo. Dan lo tau kan apa akibatnya kalau alana nangis karena lo?" Aku menepuk pundak pundak dareel. "Dan lo juga tau kan apa akibatnya kalau lo deketin alana lagi? Dan gue rasa lo masih cukup ingat, terakhir kali alana nangis itu karena lo." Ucap dareel menyingkirkan tangan ku dari pundaknya.


Aku tersenyum miring menggoda dareel, aku tau dia type lelaki yang sedikit posesif jadi sedikit hiburan untuk mengejeknya. "Setelah pernikahan nattali, gue balik lagi ke amerika. Jadi ini kesempatan lo buat bahagiain alana. Tapi inget, kalau lo buat kesalahan lagi--" Aku berdiri dan menepuk pundak dareel lagi lalu tersenyum miring.


"Gue harap lo bakal selamanya di amerika dan jangan tinggal di indonesia kalau lo gak mau liat gue sama alana makin nempel, itu gak baik buat kewarasan lo." Dareel ganti menepuk pundak ku dan berjalan mendahului ku, menghampiri alana yang berada didapur menyiapkan makan malam. Dareel, sialan


...*****...


...TBC...


Like dan komen yaa guys, saran kalian berarti juga buat aku 😊🙂


Dan iya.. Sekali lagi maap yaa, aku telat lagi update nya 😭 akhir-akhir ini beneran ada urusan yang gak bisa di tinggal dan juga kepala rasanya mumet bangett 🥺


Happy reading yaa guys, terima kasih ♥️😊

__ADS_1


__ADS_2