
Tidak seperti yang hatinya katakan. Pikiran Indah terus memikirkan Akbar. Apa yang di ucapkan pria itu terus terdengar berulang-ulang di telinganya.
“Huh” ******* nafas keluar dari mulutnya.
Indah menatap ke arah langit-langit dengan tubuh yang terlentang di atas ranjangnya.
Sudah satu jam berlalu, namun matanya masih belum terpejam.
Ini, tidak berjalan sesuai dengan apa yang di rencanakan nya.
Di hari liburnya, seharusnya Indah bisa beristirahat dengan tenang agar bisa mengisi ulang tenaganya. Namun, hal itu tidak bisa di lakukan oleh Indah dengan mudah. Melihat kafe yang ramai membuat ia tak enak hati jika hanya akan terus berdiam diri di kamarnya. Permintaan Anton, juga sulit untuk ia tolak. Sebagai senior Indah berusaha membantu Anton sebisanya.
Di sisi lain, secara tidak terduga keduanya bertemu dengan Akbar dan seorang perempuan yang tidak di kenalnya.
Sepertinya, mereka memiliki hubungan yang cukup dekat. Itu, yang Indah pikirkan.
“Siapa dia?” tanya Indah mempertanyakan Jenny yang bersama Akbar sebelumnya.
“Apa hubungannya? Kenapa Anton tak bisa membiarkan keduanya? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?” pikir Indah, pertanyaan-pertanyaan baru terus bermunculan di kepalanya.
###
Keesokan harinya.
Akbar tiba di rumah sakit lima belas menit lebih awal.
Kedua lengannya bergerak melepaskan jas yang terpasang di tubuhnya. Lalu, ia menggantungkannya.
Langkah akbar bergerak, berjalan mendekat ke arah mesin kapsul kopi.
Trrrrk
Air berwarna hitam pekat terlihar mengalir, mengisi setengah cangkir.
Sruuup
Ia menikmati kopi, menambahkan kadar kafein ke dalam tubuhnya.
Tap
Akbar meletakkannya kembali di atas meja.
Lengannya bergerak menyentuh panel layar komputer menyalakannya.
Tring
Suara pesan masuk ke dalam ponselnya.
Dahi akbar mengernyit.
Melihat nama Icha tertera di layar ponselnya.
Ibu jarinya, mengusap layar ponsel membukanya.
Satu pesan dari Icha terlihat memenuhi layar ponsel.
“Kita harus bertemu. Secepatnya!!!” isi pesan dari Icha.
“Ok, gue mampir setelah pulang kerja” balas Akbar.
“Ngga” balas Icha kembali dengan cepat.
“Temui gue, jam istirahat makn siang” timpal Icha, menambahkan balasannya.
Akbar menganggu mengerti.
Ia mengiyakan permintaan Icha, tanpa membalas pesannya.
***
Pukul 12,30 wib
__ADS_1
Bagian belakang tubuh Indah terlihat, perempuan itu terlihat tengah berdiam di hadapan cermin yang ada di hadapannya.
Kedua legannya bergerak merapihkan rambut dengan sisir secara bergantian. Tak lama setelahnya, pergelangan tangannya memutar mengikat rambutnya dengan erat.
Indah kembali menatap wajahnya, memastikan riasannya tidak berlebihan.
Sama seperti biasanya, scrubs berwarna biru tua terpasang di bagian tubuhnya.
Krrrt
Indah mengeluarkan masker dari dalam laci. Lalu, memasangkannya di bagian hidung dan dagunya. Menutupi sebagian wajahnya.
Tak lama kemudian, Indah merubah posisinya, berdiri. Kedua lengannya sibuk memasangkan ransel yang ia gendong di belakang punggungnya.
Tap
Lengan Indah menutup pintu kamarnya dengan rapat.
“Berangkat sekarang ndah?’ tanya Icha yang berada di belakang kasir.
Indah mengangguk, membalas pertanyaan sahabatnya.
“Mau gue buatin kopi?” tanya Icha, kembali.
Indah menggeleng, menolak tawaran Icha.
“Yakin?” tanyanya lagi, memastikan.
Indah mengangguk, yakin.
Kedua lengannya terangkat, melambai ke arah Icha. Berpamitan, sebelum meninggalkannya.
“Huh” Icha menghela nafas lega.
Sesuai degan rencananya, Indah pergi sebelum Akbar tiba.
####
Sudah lebih dari empat jam ia berada di tempatnya. Duduk tanpa memindahkan posisinya, pandangannya terus fokus menatap ke arah layar. Memeriksa setiap halaman dari lembar kerjanya.
Tak lama setelahnya, terdengar suara ******* keluar dari mulut Akbar.
Lengannya bergerak melepas kacamata yang berada di bagian bawah matanya. Selanjutya, terlihat bagian belakang tubuhnya bersandar di kursi.
Untuk beberapa saat, ia memejamkan matanya. Beristirahat, sekejap.
Sepuluh menit berlalu.
Suara deringan telpon kembali berbunyi, membut Akbar terbangun.
Ia beranjak dari posisinya, dengan cepat mengangkat panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Perlahan kakinya bergerak berjalan-jalan di ruangan.
“Apa?” tanya Akbar, mengawali pembicaraannya.
“Ada hal yang harus disampaikan, sebaiknya kita ketemu sekarang” ujar seseorang bersuara laki-laki dari balik sambungan telpon.
“Gue gaada waktu. Kalau itu sangat penting. Lo bisa bicara sekarang!” balas Akbar menolak ajakan orang itu. Dan diikuti penawaran lain.
“Soal pak Atma” ujar pria itu.
Mendengar nama itu, membuat langkah Akbar berhenti.
“Teruskan” lanjut Akbar, kini suaranya terdengar bergetar.
“Bapak sudah mendengarnya?” tanya laki-laki itu dengan sopan.
Namun, Akbar tak membalasnya.
"Semua aset yang bapak berikan sudah disita oleh bank” lajut pria itu.
__ADS_1
Dahi Akbar mengernyit, tak mengerti arah pembicaraan yang di utarakna laki-laki itu.
“Apakah bapak mendengarnya?” pria itu, memastikan.
“iya, saya bisa mendengarnya” balas Akbar.
“Jelaskan secara singkat” timpal Akbar, meminta kejelasan.
“Dua tahun yang lalu, Pak Atma mengajukan pinjaman dan pihak bank menyetujuinya”
“Namun, selama setahun ini ia tidak bisa memenuhi kewajibannya. Dan bunganya semakin menumpuk. “
“Satu bulan yang lalu mereka resmi menyita apartemen” jelas pra itu.
"Wah” Akbar berdecak kesal, mendenganya.
Lengannya terlihat mengepal, menahan rasa amarahnya. Ia berusaha menahan semua kata kasar yang hampir keluar dari mulutnya.
“Sekarang dia dimana?” tanya Akbar. Memastikan apa yang Icha sampaikn kepadanya benar atau tidak.
“Dia kembai tinggal bersama putrinya. Indah, seorang dokter” jawab pria itu dengan cepat.
Kepala Akbar menunduk, ia berharap pa yang di dengarnya ini tidak benar.
“Sekarang bagaimana pak? Apakah tunjangannya akan terus di teruskan?” tanya pria itu.
Hening, akbar tak bisa menjawabnya sekarang.
Jari-jarinya terlihat mengetuk-etuk bagian atas kursi. Menandakan ia tengah berfikir.
“Untuk bulan ini, lanjutkan seperti biasa” balas Akbar.
"Hah?" tanya pria itu kaget mendengar jawaban yang tak terduga dari Akbar.
“Kirimkan seperti biasa.” tegas Akbar.
Kemudian ia mematikan sambungan telpon, diiringi ******* nafas yang terus keluar dari mulutnya.
"Apakah saya mengganggu?” tanya mardi, yang melihat Akbar.
Kedua bola mata Akbar membelalak melihat Mardi yang berada di depan pintu.
“Ngga kok pak” balas Akbar menyanggah ucapan mardi.
“Ada apa ya pak?” tanya Akbar.
“Ayo lunch bareng” ajak Mardi.
Akbar terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa karea sudah memiliki janji dengan Icha.
“Cepat, pak Tama sudah menunggu di mobil” lanjut Mardi.
Mendengar itu, sontak membuat Akbar langsung menganggukkan kepalanya.
Ia kembali memutar tubuhbya untuk meraih jas yang menggantung.
"Saya menyusul pak” balas Akbar dengan lengan yang terlihat sibuk merpihkan pakaiannya.
Mardi mengangguk setuju. Lalu, meninggalkan Akbar di tempatnya.
Akbar memperhatikan, ia memastikan Mardi sudah pergi dari ruangannya.
Lalu, lengannya terlihat tengah mengotak-atik ponselnya mencoba mengirim pesan kepada Icha untuk membatalkan pertemuan keduanya.
Jemari Akbar kembali bergerak, mengarahkan layar ponsel dan langsung memanggil Icha lewat sambungan telpon.
“Cha” ujar Akbar, seteah panggilannya tersambung.
“Sorry, gue ngga bisa dateng” lanjut Akbar meminta maaf.
“Yaaa” teriak Icha.
__ADS_1
Dengan cepat Akbar mejauhkan ponsel dari telinganya. Setelah mndengar teriakan keras yang dikuti kata umpatan yang Icha tujukan kepadanya.