
srrrrt
Pintu lobi rumah sakit terbuka.
seperti biasa Indah datan sepuluh menit lebih awal dari jam kerjanya.
Dahinya mengernyit, melihat Anton yang tengah berdiri mematung di hadapannnya. matanya terlihat focus ke arah sesuatu.
indah memutur tubuhnya, menjadi sejajar dengan anton.
pandangannya beralih menatap ke arah yang Anton tuju.
“Ishh” Anton berdecak kesal. melihat Akbar yang memasuki mobil kakeknya.
“Mau kemana mereka?” tanya Anton di dalam hatiya.
mendengar decakan yang anon keluarkan membuat Indah kembali menatap pria itu. terlihat dengan jelas bahwa ia sangat kesal.
“Lo baik-baik aja?” tanya Indah.
Anton mengalihkan pandangannya, mencari sumber suara.
Sudut bibirnya terangkat, tersenyum. Menyapa kehadiran Indah yang berada di sebelahnya.
“Baru datang?” ujar Anton bertanya sembari mengalihkan pembicaraan.
Indah mengangguk, mengiyakan.
“Udah makan?” tanya Anton lagi.
“Belum” jawab Indah, santai.
“Ishh” anton kembali berdecak.
lengannya bergerak menyentuh pergelangan tangan Indah.
“Ayo, makan siang bareng” ajaknya.
Indah menepis lengan anton, dan melepaskan tangannya diiringi dengan sebuah gelengan. menolak ajakan anton.
“Kenapa?” tanya anton lagi, merengek.
“Ngga usah gue udah beli makan di jalan tadi” balas Indah.
“Duluan ya!” timpal Indah, sembari menepuk bahu Anton kemudian meninggalkannya.
seusai kepergian Indah, terdengar suara Anton yang terus berdecak kesal.
lagi dan lagi ia kembali menerima penolakan dari Indah.
untuk beberapa saat mata Anton terpejam, mencoba mengingat sesuatu.
“jangan-jangan dia masih marah gara-gara kejadian kemarin?” ia bertanya kepada dirinya sendiri.
kejadian tentag tadi malam, kembali masuk ke dalam ingatannya. Dimana ia yang lebih memiih untuk mengantar Jenny dan meningalkan Indah bersama Akbar di pekarangan Mall.
####
Sebuah mobil sedan berwarna putih, terlihat memasuki gerbang utama restoran.
Nuansa adat sunda terlihat begitu jelas dari tampilan pertama.
__ADS_1
Mardi yang berada di kemudi setir terlihat mengarahkan mobil menuju pintu utama restoran.
“Agar tidak terlalu jauh, Bapak bisa turun disini” ujar Mardi mempersilahkan Tama keluar dari mobil.
“Kalau begitu, biar Akbar aja yang parkirin pak” ucap Akbar mengajukan diri.
“Ngga usah Bar. nanti, bapak menyusul” balas Mardi, menolak.
“Biarkan saja, ayo!” ucap Tama, sebelum melangkah keluar.
Akbar kembali menatap kea rah Mardi, merasa kurang enak.
****
bruk
Indah menatap ke arah seseorang yang tiba-tiba duduk di hadapannya. lengan Indah bergerak melepas sendok yang berada di genggamannya.
“Apa lagi?” tanya Indah, melihat Anton.
anton tersenyum, membalas Indah.
“Kak Indah masih marah?” tanyanya ragu.
dahi Indah mengernyit, mendengar kalimat yang keluar dari mulut Anton.
“Gue marah? buat apa?” tanya Indah dalam hatinya.
“Siapa? gue?” tanya Indah, heran.
Anton mengangguk, yakin.
“Kenapa?” tanyanya lagi, tak mengerti kenapa ia harus marah.
“Ngga tahu kenapa. Gue bingung, marah sampai ngga tahu udah ngelakuin hal yang benar apa ngga” lanjut Anton dengan tatapan matanya yang kosong.
Indah kembali menatap itu, melihat reaksi yang keluar dari tubuh Anton. membuatnya semakin yakin bahawa memeang ada yang terjadi di antara Akbar dan Anton.
“Entah apa? tapi, itu pasti sangat melukai Anton” Indah membuat asumsi sendiri.
“Tapi, dia ngga ngapa-ngapain kakak kan?” tanya Anton, penasaan.
Indah menggelengkan kepalanya.
“Benar?” tanya Anton, kembali memastikan.
###
Suara dercikan air terdengar.
Beberapa bangunan saung terlihat berdiri mengelilingi sebuah danau buatan
sudut bibir Akbar tersenyum melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, ia datang ke tempat seperti ini.
Melihat hal seperti ini membuat pikirannya terasa jernih dan tenang.
Akbar duduk dengan kaki yang menyila, di depannya terlihat sebuah meja panjang menggelar memisahkan dirinya dengan Mardi yang duduk berdampingan dengan Tama.
Tiga orang pelayan terlihat datang dengan kedua lengan yang penuh membawa pesanan ketiganya.
__ADS_1
satu bakul nasi, satu paket Iga bakar, Ayam bakar, dan sop Iga terlihat di suguhkan. diikuti dengan cah kangkung, tempe mendoan, tahu goreng yang di lengkapi dengan lima macam sambal. sambal cabe ijo, sambal matah, sambal terasi, sambal rujak dan sambal dabu-dabu.
“Wahh” Akbar berdecak kagum melihat berbagai hidangan yang ada di hadapannya.
“Bukankah disana, tidak ada makanan seperti ini?” ledek mardi.
“Meskipun ada, rasanya tetap beda pak” balas Akbar.
Tama tersenyum, mendengar komentar yang Akbar berikan.
“Silahkan dinikmati” timpal Tama mempersilahkan.
“Pasti pak,” balas Akbar ingkat dan yakin.
Akbar menikmati makanannya dengan lahap. setiap giitan lembut iga masuk ke dalam mulutnya, bumbunya terasa meresap ke dalam lidahnya. membuat selera makannya kembali tergugah.
#
Disisi lain terlihat Icha yang tengah terdiam di depan kasir. Tubuhnya terdiam, namun tidak dengan isi kepalanya yang riuh.
Saat ini, ia sangat-sangat mengkhawatirkan keadaan Indah, sahabatnya.
Icha yang paling tahu apa yang terjadi dengan Indah. Entah itu keadaan hati atau fisiknya.
Mendengar Akbar kembali datang membuat Icha arah. apa yang di pikirkan pria itu? setelah apa yang Indah alami. Kenapa ia harus kembali dan untuk apa?
Tidak hanya itu, akbar dengan jelas mendekati Indah. dengan tanpa rasa bersalah ia juga melamar pekerjaan di tempat Indah bekerja.
Icha tidak tahu. hal gila apa yang kini di pikirkan Akbar?
###
Berbeda dari sebelumnya, kini Akbar berada di belakang kendali mobil menggantikan Mardi yang kembali lebih dulu ke rumah sakit karena ada urusan penting yang harus segera di tanganinya.
Sementara Akbar, bertugas mengantarkan Tama pulang ke kediamannya.
Setelah lima belas tahun berlalu, ini kali pertamanya akbar pergi kesana.
“Apakah kamu sering bertemu Jenny?” tanya Tama memecah keheningan yang terjadi di anatara keduanya.
Akbar mengangguk.
“kemarin kami baru bertemu” balas Akbar singkat.
“Di banding dengan bertemu saya. sepertinya dia lebih sering menemui kamu” ucap Tama.
Akbar mengiyakan, tak bisa mengelak dari komentar yang di berikan tama kepadanya.
Sejak awal kedatangannya, Jenny selalu menemaninya. ia menjemput Akbar dari bandara, menyiapkan pakaian di hari pertama bekerjanya. bahkan, sekarang ia juga menemani Akbar mempersiapkan grand opening usaha barunya.
“Jangan salah paham pak dia sedang menyiapkan tesis untuk s2nya dan saya hanya membantu” ujar Akbar member penjelasannya
“Kamu lihat itu bar. bahkan apa yang sudah saya siapkan. Terkesan tidak terlalu penting untuk anak-dan cucu-cucu saya. Mereka focus dengan tujuan mereka, tanpa memikirkan bagaimana perasaan saya” lanjut Tama, bercerita.
“Setidaknya Bapak masih memiliki Anton dan ayahnya” balas Akbar.
Tama terdiam, ia tak yakin bisa memberikan semua kepercayaannya kepada Anton. Menurutnya, Anton masih terlalu muda untuk mengemban beban yang sangat besar
Berbeda dengan Akbar, jam terbang dan pengalaman yang ia miliki sudah sangat cukup hinga taka da sedikit keraguan dalam memilihnya.
“Pekan depan, bisakah kamu membawa jenny untuk makan malam bersama?” tanya Tama.
__ADS_1
“Saya akan mencobanya” balas Akbar, menjawab permintaan yang Tama ajukan kepadanya.