Semesta 2

Semesta 2
Cha


__ADS_3

06.00 am


Suasana jalanan terpantau sangat ramai, banyak kendaraan yang berlalu lalang. Seperti biasa sudah menjadi rutinitas pagi bagi setiap orang untuk berangkat bekerja atau sekolah lebih pagi.


Hal itu, juga Indah rasakan ia harus berangkat lebih awal agar bisa datang tepat waktu ke rumah sakit. Perempuan itu terlihat berdiri, di halte bus bersama beberapa orang yang juga ikut menunggu.


Cit


Sebuah mobil terhenti, beberapa orang terlihat bergunjing setelah melihat sosok pria yang berada di kendali mobil.


“Indah” panggil Akbar dari dalam mobilnya.


Indah terdiam, ia mendongakkan kepalanya melihat ke arah sumber suara.


“Ayo, cepat naik” perintah Akbar.


Indah terdiam, tak bereaksi. Matanya masih focus melihat tubuh Akbar dari jendela memastikan.


“Bukannya pagi ini ada operasi?” tanya Akbar, memastikan.


Indah mengangguk, mengiyakan.


“Kenapa Akbar mengetahuinya?” tanya Indah dalam hatinya.


“Cepat naik” ucap Akbar kembali memerintah.


Indah menggeleng, enggan.


tin-tin


Suara klakson bus terdengar, membuat Indah menoleh kea rah bus yang semakin dekat.


“Ayo” ajak Akbar, berulang.


Indah melangkahkan kakinya, ragu. Perasaan malu membaluti hatinya karena menjadi pusat perhatian orang-orang.


Bug


Ia menutup pintu mobil dengan keras, menandakan bahwa ia tidak suka dengan cara Akbar yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Kenapa sikapnya berbeda? Bukankah, kemarin-kemarin Akbar sengaja menjauh darinya? Tapi kenapa sekarang ia tahu apa yang akan di lakukannya?” gumam Indah dalam hatinya.


“Sudah sarapan?” ucap Akbar mengajukan sebuah pertanyaan.


“Fokus saja menyetir” balas Indah, menolak menjawab pertanyaan yang Akbar ajukan.

__ADS_1


Akbar mengangguk mengerti, Ia memperhatikan Indah dengan sudut matanya.


Dari pandangan Akbar terlihat Indah yang tengah memasangkan earphone di telinganya. Hal itu sengaja Indah lakukan agar bisa mengurangi interaksinya dengan Akbar.


“Apa gue se menyakitkan itu buat Indah?” tanya Akbar dalam hatinya.


“Lima puluh meter dari rumah sakit, turunin gue” ujar Indah mengajukan sebuah permintaan.


Akbar diam, tidak mengiyakan permintaan yang Indah ajukan.


Lampu merah menyala, membuat perjelanan Akbar harus terhenti untuk sementara.


Pandangan Akbar kembali menoleh ke arah Indah. Kali ini, terlihat ia yang tengah membawa buku catatan miliknya.


Akbar beranjak, menoleh ke jok belakang mobil dan mengambil dua bungkus sandwich gulung memberikan salah satunya ke arah Indah.


Indah menatap tajam ke arah Akbar, sembari bertanya apa yang di rencanakan pria itu terhadapnya.


“Jangan salah paham” ucap Akbar, dengan lengan yang terlihat membuka bungkus sandwich miliknya.


“Aku ngelakuin ini karena kita se arah”


“Soal sandwich, Kamu juga tahu kan aku suka bawa lebih” lanjut Akbar menjelaskan, agar Indah tidak salah mengartikan tindakannya.


Indah mengalihkan pandangannya, tak tertarik dengan penjelasan yang Akbar berikan kepadanya.


Indah menatap heran ke arah Akbar.


“Pastikan kamu memakannya”


“Penuhi tenaga kamu full, biar bisa kutuk aku dan perlakuin aku seburuk apapun yang kamu bisa” lanjut Akbar, nada suaranya terdengar kosong.


Indah menghela nafasnya, rasa sesak muncul di dadanya.


Akbar tahu keadaanya dengan Indah tidak mungkin bisa kembali seperti sebelumnya dengan mudah. Namun, sesuai dengan apa yang telah ia janjikan kepada dirinya sendiri untuk membuat Indah selalu berada dalam jangkauannya.


Mobil kembali melaju, dengan keheningan yang mencekam keduanya. Akbar menghentikan ucapannya, menahan setiap kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Sementara Indah sejak tadi ia memang tidak banyak bicara dan berusaha menghiraukan semua kata yang Akbar sampai kepadanya.


Cit


Akbar kembali menginjak pedal rem, membuat mobil kembali berhenti.


Indah mengernyitkan dahinya kembali.


“Kenapa Akbar berhenti? Bukankah jarak dari sini ke rumah sakit mencapat waktu setengah jam?” Indah bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


“Aku harus mampir ke suatu tempat” ujar Akbar menjelaskan.


“Kamu bisa pergi dan bawa mobil ini” lanjutnya meminta Indah membawa mobilnya.


Indah diam, dan hanya memberikan umpatan lewat matanya kepada Akbar.


Bibir Akbar tersenyum senang karena Indah tidak menghindar dari tatapan matanya.


“Jangan menolaknya, Cepat pergi ke rumah sakit dan siapkan ruang operasi” timpal Akbar, menegaskan.


Lengannya bergerak menurunkan seat belt yang melingkar di tubuhnya. Lalu, ia menekan kakinya, menahan tubuhnya yang terlihat menggeliat ke belakang untuk mengambil jas dan tas miliknya.


“Terakhir, surat kelengkapan mobil ada di dashboard” ujar Akbar, memberitahu Indah.


“Disini” lanjut Akbar dengan lengan yang terlihat membuka sebuah tempat yang berada di antara jok supir dan penumpang sebelah kiri. Dari dalamnya terlihat dua kaleng kopi, satu botol minuman isotonic dan tiga dus susu berukuran 250 mili.


“Ada minuman, Silahkan di pilih yang sesuai dengan selera kamu. Habiskan sandwichnya juga” lanjut Akbar ia tetap memperlakukan Indah dengan baik dan mengingatkan agar ia tak melewatkan sarapannya. Meskipun yang di terimanya hanya tatapan tajam yang Indah berikan.


“Basi tahu ngga?” gerutu Indah dalam hatinya, ia tak bergeming dengan perlakuan yang Akbar berikan kepadanya.


Bug


Akbar berjalan keluar dari mobilnya. Pria itu terlihat berjalan melewati mobil dengan lengan yang terlihat menenteng jas dan tas yang berada di belakang punggungnya.


“Cepat” ujar Akbar kembali meminta Indah segera beranjak.


Indah melangkah besar, berpindah dari jok penumpang ke jok supir.


Lengannya bergerak menyentuh pinggir jok, mencari posisi yang tepat untuknya. Selanjutnya, terlihat ia memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. Diikuti dengan lengan kirinya yang melepas rem tangan.


Akbar memperhatikannya, membiarkan mobil itu berjalan melewatinya.


“Benar-benar ngga punya perasaan” gumam Akbar, melihat Indah yang pergi tanpa melihat ke arahnya.


Pertemuannya dengan Indah hari ini bukan hanya sebuah kebetulan, melainkan sebuah kesengajaan yang Akbar buat dari awal hingga akhir. Ia juga menyiapkan sarapan lebih awal dan menunggu kedatangan Indah ke halte.


Termasuk, dengan ini Akbar juga sengaja turun di tempat yang lebih jauh agar tidak ada rumor yang menyebar dan membuat Indah terganggu dan kehilangan focus saat bekerja.


Keinginan Akbar untuk terus berada disisi Idah sangat besar. Namun, ia juga tetap harus berada di posisinya dan harus pandai mengendalikan jarak maupun perasaanya terhadap Indah.


Indah memperhatikan Akbar dari spion belakang mobil Memastikan keadaan pria itu sebelum ia jauh dari pandangannya.


Setidaknya, dengan apa yang Akbar lakukan Indah bisa lebih banyak menghemat waktu dan tenaganya.


Indah tidak bisa menyembunyikan perasaannya, keberadaan Akbar di sisinya, membuat rasa sesak kembali muncul di dadanya.

__ADS_1


Entah kenapa, setiap melihatnya selalu ada prasangka buruk yang muncul di kepalanya yang mengatakan bahwa Akbar adalah satu hal yang tidak nyata untuknya. Dan sama seperti biasanya Akbar akan terus meninggalkannya.


Karena itu pula, Indah menguatkan tekadnya untuk benar-benar menghapus ingatannya tentang Akbar dan menghapus semua kenangan yang berkaitan dengan pria itu.


__ADS_2