Semesta 2

Semesta 2
Fall


__ADS_3

Antrian panjang terlihat memenuhi bagian kasir super market. Akbar berdiri di bagian paling belakang dengan lengan yang terlihat mendorong troli penuh yang berisikan barang belanjaannya.


Setelah jam kerja di rumah sakit Akbar langsung memutuskan untuk pergi berbelanja di sebuah mall yang juga menyediakan peralatan rumah tangga. Mengisi troli dengan daftar isi yang sudah ia buat sebelumnya. Dengan setelan jas masih terpasang di tubuhnya dengan rapi.


Belakangan ini, banyak hal yang Akbar kerjakan secara bersamaan agar tidak melenceng dari targetnya.


Tiga puluh menit berlalu.


sebuah kartu atm terlihat akbar eluarkan dari dalam dompet miliknya. seperkian detik kemudian ia langsung menyerahkannya kepada kasir untuk membayar barang belanjaannya.


###


Tir


pintu bagasi mobil terbuka.


Tubuh Akbar bergerak memindahkan satu persatu barang belanjaannya secara bergantian. Menatanya dengan rapi di kursi bagian paling belakang.


bruk


Dengan cepat ia kembali menutup pintu bagasi secara rapat.


Tak alama setelahnya, terlihat ia memasuki mobil duduk di kursi supir.


“Huh” suara nafas Akbar terengah-engah, lelah.


Ia mencoba mengatur nafasnya,


Lengan Akbar bergerak meraih beberapa lembar tisu untuk menyeka keringat dari kulitnya.


Udaranya terasa sangat panas, pakaiannya terasa basah membuat Akbar segera bergegas melepas jas dan kemeja yang masih ia kenakan.


Tak lama setelahnya, sehelai kaos putih terpasang menutupi lekuk tubuh Akbar.


Sementara, bagian bawahnya terus bergerak, mencoba melepaskan sepatu yang masih terpasang di kakinya dan menggantinya dengan sepasang sandal jepit.


Sruuup


Ia kembali menyeruput es amerikano miliknya.


Sejenak, Akbar membiarkan tubuhnya beristirahat. Menikmati udara dingin dari lubang AC keluarkan berhasil menormalkan suhu tubuhnya.


Lengannya kembali bergerak meraih satu paket big mac yang ia beli di restoran cepat saji tadi. Sejak makan siang tadi Akbar belum sempat mengisi perutnya lagi.


Makanannya sudah dingin, namun Akbar tetap menikmatinya hingga gigitan yang terakhir. Akbar meraih satu kaleng kola menghabiskannya dalam sekali tegukan menghilangkan minyak yang berada di seluruh bagian dalam mulutnya.


Lima belas menit berlalu.


“Ahhh” Akbar kembali mengeluh melihat antrian mobil yang akan melewati pos parkir.


Ia tak mengerti kenapa banyak sekali orang-orang yang datang ke tempat ini di akhir pekan.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan? apakah berbelanja sepertinya? menonton atau hanya sekedar nongkrong?" pikir Akbar.


Dahi Akbar mengernyit.


Indah, perempuan itu berjalan sendiri memasuki pekarangan mall, sebuah tas berisi penuh terlihat masih berada di punggungnya.


“Kamu belum pulang ndah?” tanya Akbar sendirian.


“Ngapain kesini? ini udah larut” gerutunya, kemudian ia melihat kea rah jam yang menunjukkan jam Sembilan malam.


"Bentar lagi, mallnya juga tutup" gumam Akbar.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi bukan?” lanjut Akbar terus mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri.


srrrt


Akbar membuka jendela mobilnya, lengannya melambai meminta jarak ke arah mobil yang ada di belakangnya. Tanpa pikir panjang ia langsung memutar setir mobil mengarahkannya kembali ke parkiran dan berusaha mengikuti Indah.


****


Berdiam diri di tengah keramaian, yang tidak mengenalnya. salah satu hal yang Indah sukai.


Dengan cara itu, ia bisa menghilangkan sedikit demi sedikit rasa sedih yang menyerangnya.


Ia tak tahu hal apa yang kini tengah menyerangnya. Sedih, marah dan bahagia semuanya bercampur aduk menguasai hatinya.


Saat ini, Indah tak tahu rumah mana yang bisa menerimanya. Keduanya tampak tidak meyakinkan Indah.


"Di saat seperti ini, kenapa ia masih bisa membeli barang-barang yang tidak perlu? Di bending membelinya, kenapa tidak ia gunakan untuk pengobatannya?" tanya Indah dalam hatinya.


Bahkan, sampai sekarang pun Indah tidak mengetahui apa-apa tentangnya.


Indah juga merasa marah kepada dirinya endiri karena tak bisa menunjukkan perasaannya kepada siapapun. Yang bisa ia lakukan, hanyalah memendam dan menahan rasa sakitnya sendirian dan dengan sendirinya luka-luka itu tenggelam dalam tubuh Indah sendiri.


Tanpa, menemukan obat yang pasti untuk menyembuhkannya.


“Isi lima puluh ya mbak” ujar Indah suaranya terdengar bergetar, lengannya bergerak menyerahkan selembar kartu dan uang bernilai lima puluh ribu rupiah.


Kurang dari semenit, Indah menerima kembali kartunya.


Dengan langkah gusar, ia berjalan menuju pintu bilik karaoke dan menutup pintunya dengan sangat rapat.


Lengannya bergerak menggesek kartu, lalu memilih lagu yang ingin di putarnya. Indah mengencangkan volumenya sangat keras.


Namun, setelah lagu berjalan lebih dari satu menit, tak satu bait pun yang Indah nyanyikan.


Ia hanya terlihat menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang tak bisa di bendungnya.


“Ini ndah, hal yang selalu kamu lakuin?” tanya Akbar, ia berdiam di balik pintu melihat Indah lewat celah kaca kecil.


Tubuh perempuan itu bergetar hebat, semakin lama terdengar suara isakkan tangis yang berusaha di sembunyikannya.

__ADS_1


Langkah kaki Akbar berjalan mundur, kedua lengannya mengusap seluruh bagian wajahnya.


Saat ini besar keinginan Akbar untuk menerobos masuk ke dalam ruangan dan berusaha menenangkannya, meredakan semua rasa marah yang membelenggu Indah dan menemaninya dalam berbagai situasi apapun.


Sekarang, bagaimana bisa ia melakukannya karena Akbar juga merupakan bagian dari penderitaan yang Indah alami.


Hal itu, membuat Akbar mengurungkan niatnya.


*


“Huh” helaan nafas tersenggal-senggal keluar dari mulutnya. Indah menata ke arah layar led yang menunjukkan lagunya telah selesai.


Indah beranjak dari tempatnya, menggesek kartu, memilih lagu dan memutarnya secara acak.


Setelah itu, ia kembali larut dalam rasa sedihnya.


Entah, sudah berapa kali ia mengulangi hal yang sama. Tapi, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk meredakan perasaan yang tengah menguasai hatinya.


"Di tempat ini tak ada satu orang pun yang mengetahui atau melihat hal yang tengah di rasakannya" pikir Indah.


Sama seperti biasanya, Indah pasti bisa melewati semua hal sendirian.


#


“Bagaimana? apa tunjangan bulan ini sudah di berikan?” tanya Akbar kepada salah satu bawahannya lewat sambungan telpon.


“Sudah pak” balas pria itu. “Seperti yang bapa perintahkan kali ini saya mengikutinya” balas pria itu menjelaskan.


“Apa yang di lakukannya?” tanya Akbar ingin tahu aktivitas apa yang Atma kerjakan.


"Saya melihatnya, berbelanja di beberapa toko pakaian.”


Mendengar itu, membuat Akbar berdecak kesal. Kurang puas, dengan jawaban yang di terimanya.


“Ia juga sempat makan di salah satu restoran” menambahkan


"Hanya itu saja?" tanya Akbar, memastikan.


“Iya saya mengikutinya hingga apartemen. Beberapa menit setelah ia masuk, seorang wanita muda keluar dari kediaman yang sama” lanjutnya, menjelaskan secara detail.


tit


Akbar memutus sambungan telpon. Pandangannya kembali jatuh, menatap ruangan yang berisi Indah di dalamnya.


Dari apa yang di dengarnya Akbar bisa mengetahui kalau keduanya memang bertemu.


Akbar tak tahu harus bertindak bagaimana,


Melihat Indah seperti ini tentu saja juga melukai hatinya.


“Apa yang Atma lakukan? hal apa yang ia katakan kepada Indah?”

__ADS_1


“kenapa, ia terlihat sangat terluka?” tanya Akbar dalam hatinya


__ADS_2