
Hening, suasana aula kembali hening tak ada yang berani membantah fakta yang Akbar berikan.
“Jika alasan bapak, adalah dana”
“Rasanya itu tidak mungkin, pendapatan kita di rumah sakit ini tiap harinya semakin meningkat”
“Bukankah penghasilan itu ada, juga karena ada campur tanga dari para oetugas medis yang selalu berjaga siang dan malam?” Akbar kembali menegaskan dengan suaranya yang lantang.
Adjie membalas ucapan yang Akbar berikan dengan tatapan matanya yang tajam.
“Tapi, jika memang itu alasannya” Akbar kembali meneruskan ucapannya.
“Saya tidak keberatan memberikan seluruh gaji dan tunjangan yang saya dapat tiap bulannya kepada anak-anak residen” lanjutnya diiringi sebuah saran.
Tama tak bisa berhenti berdecak kagum dengan tindakan yang Akbar berikan. Semua pertanyaan protes yang Akbar berikan namun diiringi sebuah solusi yang di luar jangkauannya.
Pandangannya beralih menatap ke arah Adjie. Tubuh pria itu terlihat mematung, bingung harus bereaksi apa dengan ucapan yang Akbar berikan.
“Mari berhenti disini” ujar Tama mengambil tindakannya.
Pandangannya kembali menatap ke arah Akbar. Lengannya terangkat, menunjukkan jam menandakan bahwa waktu yang di milikinya telah berakhir.
Akbar mengangguk, mengerti dengan semua gerakan yang tama berikan kepadanya.
Akbar bernafas lega, ia sudah melakukan satu dari daftar keinginannya, meskipun belum ada titik terang ia akan berhasil. Namun, ia tetap senang karena sudah mencobanya.
####
Huh
Helaan nafas kasar kembali keluar dari mulut Indah.
rasa nyaman yang di terimanya berkat treatment tadi tak bertahan lama di tubuh Indah, kakinya kembali merasa kelelahan karena harus berkeliling mengitari setiap toko mall agar bisa mendapat barang yang di butuhkannya.
keduanya berjalan memasuki sebuah toko yang menjual alat tulis beserta barang perintilan lainnya.
Indah berjalan menuju sebuah tempat di sudut paling kiri yang menyediakan berbagai buku dan bolpoin. Lengannya bergerak mengambil tiga bungkus refill kertas loose leap, satu dus bolpoin, satu paket stabile dengan enam warna yang berbeda, satu sticky notes, dan satu pack ikat rambut.
“Udah, Cuma itu aja Ndah?” tanya Vio, memastikan.
Indah mengangguk, ia sudah mengambil semua barang yang sudah ia list sebelumnya.
Langkah kaki Indah bergerak menuju kasir meninggalkan Vio yang terlihat masih memilih-milih barang yang akan di belinya. Padahal, kini di lengannya terlihat sudah penuh dengan barang belanjaan yang ia beli di toko-toko sebelumnya
__ADS_1
***
Bug
Adjie menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, Rasa kesal dan marah masih menumpuk di dalam hatinya. Sikap yang Akbar berikan benar-benar lancang dan merendahkan harga diri Adjie di depan banyak orang.
Ia tak mengerti dengan reaksi yang Tama berikan.
“Kenapa dia membiarkannya? dan memberikan ruang untuk Akbar berada dalam lingkungan keluarganya? bukankah ini hanya tipu daya Dharma untuk menjatuhkan usaha yang tengah di bangun Tama dan dirinya?” pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di pikirannya. Membuat rasa marahnya semakin menumpuk.
trek
pintu ruanga Adjie terbuka.
Dari ambang pintu terlihat Anton datang dengan pakaian yang masih mengenakan jas dokternya.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil posisi dan segera duduk berhadapan dengan ayahnya.
“Kenapa?” tanya Anton, lengannya terlihat memijat bagian kepalanya yang terasa pusing.
“Soal Akbar, kamu mengenalnya?” ucap Adjie mengajukan oertanyaan dan membahas kembali tentang Akbar.
Anton mengangguk, mengiyakan.
“Apakah kalian dekat?” tanya nya lagi.
“Bagaimana kalian bisa saling mengenal?” Adjie kembali bertanya.
Anton mengernyitkan dahinya.
“Kenapa?” balas Anton kembali bertanya, penasaran kenapa ayahnya ingin sekali mengetahui tentang Akbar.
“Apakah terjadi sesuatu?” lanjut Anton mengajukan pertanyaannya.
helaan nafas berat terdengar keluar dari mulut Adjie.
Anton menatapnya, semakin oenasaran dengan apa yang terjadi. Kenapa ayahnya telihat sangat khawatir, gelisah dan marah?
“Di rapat tadi, dia mengajukan permintaan agar RS mau menggaji pada residen dan anak-anak yang masih magang.” jelas Adjie.
mata Anton membelalak, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Gila, dia memang gila. Belum sebulan bekerja tapi sudah memikirkan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal” gumam Anton dalam hatinya.
__ADS_1
“Terus? Kakek menyetujuinya?” tanya Anton.
Adjie menggeleng.
“Ayah ngga tahu, tapi sepertinya kakek mulai tertarik dengan apa yang Akbar berikan. Bisa saja, dia juga menyetujuinya” balas Adjie berbicara dengan menyimpulkan apa yang di lihatnya.
Di Aula tadi tak ada sepatah kata penolakan atau bantahan yang di berikan pria tua itu kepada Akbar. Yang bisa dilihanya hanyalah sorot matanya yang terus berbinar.
Pandangannya beralih, menatap ke arah Anton. Sebenarnya, ia tidak menyukai profesi yang Anton pilih.
Menurut Adjie, seharusnya Anton berada bersamanya mengurus semua hal yang berkaitan dengan perusahaan. Bukan seperti ini, menghabiskan waktunya dengan melayani orang lain.
“Apakah pekerjaan kamu saat ini menyenangkan?” tanya Adjie.
Anton kembali menganguk, mengiyakan.
“Sampai kapan kamu akan melakukannya?” lanjutnya, bertanya.
Kening anton mengernyit, selanjutnya helaan nafas terdengar. Ia mengerti dengan apa yang Adjie bicarakan kepadanya, pria paruh baya itu selalu membahas yang sama. Dan berusaha membuat Anton berhenti dari pekerjaannya.
“Berhenti, dan kembali ke perusahaan!” tegas Adjie, meminta Anton agar tidak menyia-nyiakan waktunya.
Sudut bibir Anton terangkat.
“Benar, ini sesuai dugaannya. Pasti ayah akan mengungkit hal yang sama”
“Jika kamu sangat menyukai tempat ini, Silahkan. Tapi, bekerja sebagai WaDir bukan Dokter” lanjut Adjie menegaskan agar Anton berada di tempat yang seharusnya.
Anton menggelengkan kepalanya, ia tak tertarik dengan saran yang Adjie coba tawarkan kepadanya.
Menurutnya, pekerjaan itu hanya akan membuat hidupnya semakin rumit. Menerima hal itu, sama saja dengan ia yang mempersiapkan kuburannya sendiri.
Dan di satu sisi, Ia juga senang karena bisa terus berdekatan dengan Indah. Penampilan dan kepribadian Indah mampu meluluhkan hatinya. Berbeda dengan orang lain, Indah memperlakukannya seperti manusia biasa. Meskipun, Indah tahu kalau Anton memiliki hak suara penting di RS. Indah tidak pernah memberi perlakuan istimewa terhadapnya justru Ia tetap memperlakukannya seperti biasa memerintah sebagai atasan kepada bawahan, membimbing layaknya seorang kakak dan tetap menegurnya dengan berani jika Anton melakukan kesalahan.
Padahal sebelum-sebelumnya Anton selalu di eluh-eluhkan dan di hormati, Jika, ia sengaja melakukan kesalahan tak ada yang berani menegurnya. Tanpa Anton minta pun mereka pasti menutup-nutupi kesalahan yang Anton buat dengan sengaja.
Hal itu benar-benar membuatnya muak. Dan ingin pergi ke tempat yang sangat jauh, Dimana tak ada satupun orang yang mengenalnya.
Mereka yang akan membiarkannya hidup tanpa pengecualian.
Dan semua hal itu, ia dapat etelah bertemu dengan Indah. Seorang perempuan yang memiliki kepribadian unik, tekad yang kuat, si pemberani dalam mengambil keputusan.
Semua hal yang ia lihat dari dalam diri Indah, membuat perempuan itu terlihat sangat sempurna di matanya. Tak ada sedikit keraguan pun yang ia perlihatkan di setiap keputusan yang di ambilnya.
__ADS_1
Namun, tak bisa di pungkiri oleh Anton Bisa mendapatkan hati Indah adalah sebuah pekerjaan yang sulit dan sampai saat ini ia masih mengusahakannya.
Walaupun, tak terlihat sedikit celah harapan yang Indah berikan. Namun, Anton akan tetap mencobanya.