Semesta 2

Semesta 2
ChaFa


__ADS_3

Di kafe Raksa


21.30 wib


Suasana kafe terasa ramai, namun ada kesepian yang merasuk ke dalam tubuh Icha.


Entah kenapa, rasa bersalah menggeluti hati dan pikirannya.


Tiga puluh menit sebelum waktunya kafe di tutup.


Ia tak tahu jika Akbar akan terpengaruh dengan ucapannya.


Hatinya terasa lega, mendengar Akbar yang menjauh dari Indah. Namun, disaat yang bersamaan terlihat Indah yang tidak menyukai hal yang Akbar lakukan.


Tanpa sadar, sikap abai yang Akbar berikan, melukai hati Indah.


“Kamu kenapa?” tanya Fadly bertanya.


Icha mengalihkan pandangannya, menatap ke arah Fadly.


Beberapa orang berlalu lalang di hadapannya berjalan menuju pintu keluar kafe.


“Aku bingung aja” ujar Icha mengatakan apa yang ada di pikirannya.


Dahi Fadly mengernyit, ia tak tahu hal apa yang di pikirkan Icha.


“Apakah kali ini ia kembali melakukan kesalahan?” tanya fadly dalam hatinya.


“Soal?” lanjut Fadly, bertanya penasaran.


“Mereka”


“Maksudnya, Akbar sama Indah?” ujar Fadly memberi kesimpulan.


Kepala Icha mengangguk, mengiyakan.


“Aku bingung banget, bi”


memanggil Fadly dengan nama panggilan yang ia buat.


“Rasanya lega banget, ngedengar Akbar mau nurutin perkataan aku buat jauhin Indah”


“Tapi, aku ngga tahu kalau ternyata tanpa sadar hal itu juga ngelukain hati Indah”


ucap Icha, berkeluh kesah.


"Apa mungkin, Indah masih punya perasaan buat Akbar?” tanya Icha.


Lengan Fadly bergerak, mengusap punggung tangan Icha menenenagkannya.


“Aku ngga tahu, harusnya yang paling tau tentang itu kamu bi” balas Fadly.


“Huh” helaan nafas kasar keluar dari mulut Icha.

__ADS_1


Entahlah, ia tidak tahu pasti perasaan yang kini di rasakan oleh Indah.


“Apa mungkin, Indah masih punya rasa buat Akbar?" Icha kembali mengajukan pertanyaannya.


Fadly menoleh, kemudian menganggukkan kepalanya.


“Hah?” Icha kaget, melihat reaksi yang Fadly berikan.


“Ya, bisa aja. kita juga tahu kan gimana perjalanan yang mereka lewatin? dan pastinya ngga mudah buat Indah bisa lupain semua itu” ucap fadly hanya mengatakan apa yang terlintas di kepalanya.


“cukup ya fad, berhenti bicara seolah kamu tahu segalanya” ujar Icha , meminta Fadly berhenti.


“Aku Cuma gamau Indah harus ngalamin rasa sakit yang sama. kamulupa, gimana perjuangan yang dia lakuin sampai bisa di titik ini?” tanya Icha balik bertanya.


“Sebaiknya, kita jangan terlalu ikut campur” ucap Fadly, mengatakan pendapatnya.


“Kita, ngga punya hak apa-apa atas hidup mereka”


“Jadi, biarkan naluri mereka yang bergerak” lanjutnya


Icha membalas ucapan fadly, dengan tatapan matanya yang tajam.


Tubuhnya beranjak, berdiri berhadapan langsung dengan Fadly.


“Emang salah yah, kalau aku mau hal yang terbaik buat sahabat aku?” tanya Icha tak terima dengan ucapan yang Fadly katakan.


“Nggak, bukan kaya gitu maksud aku” ucap Fadly, kedua lengannya bergerak merangkul Icha untuk menghentikan pergerakkan yang Icha buat. Lalu, memintanya kembali duduk.


“Seandainya, yang ada di posisi Akbar itu kamu”


“Indah, dia minta kamu buat jauhin kamu? kamu, mau lakuin itu?” tanya Fadly, membuat sebuah bayangan.


Icha menggeleng, pelan.


"Nggak lah, lagian kan situasi kita beda” balas Icha.


“Mana bisa disama-samain kayak mereka” lanjutnya, mengelak.


“Bukannya mau di sama-samain. tapi kan ini seandainya” balas Fadly.


“Fad kalau kamu mau terus ngebela Akbar. mending berhenti aja deh” Icha memotong ucapan Fadly.


“Aku ngga ngebela siapa-siapa cha”


Fadly menggeleng, ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.


Setiap ucapannya, tak bisa di tangkap dengan baik oleh Icha yang ada ia hanya semakin salah paham dan menuduhnya dengan aneh-aneh.


Ini yang Fadly harapkan, semoga setelah mendengar apa pendapatnya. Icha bisa berfikir logis, tenang dan lebih masuk akal. Tidak melulu mengikuti kata hatinya.


Sudah seharusnya, bukan. Ia melihat dari sisi Akbar, bagaimana pandangannya? apa yang di alaminya? kenapa ia bisa membuat keputusan bodoh itu, ia pergi dan menghilang dalam semalam.


Tujuh tahun lamanya.

__ADS_1


Ia lenyap dari pandangan siapaun, tak ada yang tahu tentang keberadaannya. Luka, hanya itu yang Akbar sisakan untuk orang-orang yang mengenalnya.


“Kemana dia pergi? siapa orang yang berada di belakang Akbar dan membuatnya seperti ini?”


Melihat kedatangan Akbar yang tiba-tiba, sempat membuat Fadly kehilangan cara berfikirnya


dan semakin penasaran.


“Jika Akbar berniat pergi dari Indah, dan menghilang dari orang-rang”


“Kenapa sekarang dia kembali? untuk apa kedatangannya? dan hal apa yang membuat Akbar berani?” gumam Fadly, dalam hatinya.


“Pikirin ini baik-baik. Pasti ada alasan kenapa Akbar ninggalin Indah malam itu” tegas, Fadly mencoba meyakinkan Icha.


“Apapun alasannya, aku ngga akan pernah bisa maklumin hal itu fad” tukas Icha, menghentikan pembicaraaannya dengan Fadly.


##


Lengan Akbar terlhat mengusap bagian lehernya dengan tisu mengelap keringat yang muncul dari permukaan kulitnya.


Udaranya sangat panas ditambah dengan hawa panas yang timbul dari kompor.


"Huh” akbar menghela nafasnya, lelah.


Setelah jam kerjanya selesai di rumah sakit, Akbar langsung bergegas ke lokasi tempatnya berjualan. Karena tidak mempunyai banyak waktu yang tersisa. Akbar lebih memilih mengganti bajunya di mobil daripada harus kembali ke apartemen.


Sama seperti sebelumnya, kaos merah berlengan pendek di pakainya. di bagian atas dada sebelah kanannya terlihat sebuah tanda yang menunjukkan “Luby’s food” sebuah nama yang akbar pilih untuk memberi identitas makanannya.


berbeda dari hari sebelumnya, kali ini Akbar membuka toko hanya berdua dengan Defa. Jenny, ia tengah sibuk mempersiapkan diri untuk sidang.


srrrt


Suara desisan minyak di atas wajan, tak lama setelahnya Akbar menambahkan seperempat bawang bombay yang telah di iris tipis olehnya, mengaduknya sebentar. Lalu, menambahkan potongan ayam yang sudah di marinasinya


Beberapa jam yang lalu.


Lengan kanan Akbar terlihat lihai, menggerakkan wajan secara maju mundur agar semua daging matang secara merata.


Tubuh Akbar kembali bergerak menyiapkan dua mangkuk nasi.


Tak lupa, ia menambahkan dua butir telur di atas daging. Lalu mengaduknya sebentar, sebelum menuangkannya di seluruh bagian atas nasi.


Sebagai pelengkap, Akbar juga menambahkan biji wijen dan bubuk parsley. untuk menambah cantik tampilan visual hidangannya.


Tring


Akbar menekan bel memberi tahu Defa bahwa hidanganya sudah matang dan siap untuk di antarkan kepada pelanggan.


“Meja no lima, dua porsi ricebowl oyakadon di tambah dua kaleng cola” ucap Akbar memeriksa kembali pesaanan sebelum di antarkan.


Defa mengangguk, kedua lengannya mengambil alih nampan berjalan dengan hati-hati dan segera mengatarnya kepada pelanggan.


Hari ini, terasa sangat melelahkan untuknya. Ia harus bolak-balik dari mesin kasir untuk mencatat pesanan dan disaat bersamaan, ia harus pergi untuk mengantarkan pesanan yang sudah siap. Memastikan semuanya sampai dalam keadaan masih hangat.

__ADS_1


__ADS_2