Semesta 2

Semesta 2
Elevator


__ADS_3

Ujung sepatu Anton terlihat mengetuk-etuk lantai. Menunjukkan seberapa besar rasa gugup yang berada di dalam hatinya.


Tubuhnya bersandar di tembok dengan kepala yang menunduk, terlihat ia yang membawa dua kap kopi di masing-masing lengannya.


trek


Pintu terbuka.


Anton beranjak, mengambil sikap sempurna.


Akbar terdiam, ia berdiri di ambang pintu. Merasa aneh dengan kehadiran Anton yang tiba-tiba di hadapannya.


Tap


Lengan kanan Anton bergerak menyerahkan satu kap kopi ke arah Akbar.


Sebelah alis Akbar menaik, menanyakan maksud dari sikap Anton yang tiba-tiba berubah.


“Ambil aja” ucap Anton.


Akbar menerimanya, ragu.


“Ayo” ajak Anton, ingin berbicara dengan Akbar.


Akbar mengangguk, mengiyakan. Ia berjalan mengikuti Anton yang berada di depannya.


Selanjutnya, terlihat Anton yang memperlambat langkahnya. Membuat keduanya menjadi sejajar.


Lengan Akbar terangkat, ia mendekatkan sedotan ke ujung bibirnya. Lalu, menyeruput kopi yang Anton berikan kepadanya.


“Soal rapat kemarin, gue udah dengar semuanya” ujar Anton, mengawali percakapannya.


Akbar menoleh ke sebelah kanan, kedua matanya tertuju ke arah Anton yang terus berbicara kepadanya.


“Gue akuin lo emang hebat, berani ngebahas hal itu” ujar Anton, memuji keberanian yang Akbar miliki.


Apa yang Anton ucapkan, membuat langkah kaki Akbar terhenti. Entah kenapa, ia tak bisa menerima begitu saja pujian yang Anton berikan kepadanya.


Kepala Anton menoleh ke belakang, menyadari Akbar yang sudah tidak mengikutinya lagi.


“Gue duluan” ucap Anton, mengakhiri pembicaraannya.


“Huh” helaan nafas berat terdengar keluar dari mulut Akbar.


Ia tak tahu apakah ucapan yang Anton berikan benar-benar tulus atau hanya sekedar basa-basi saja.


Perasaan lain timbul di hatinya, ia merasa bersyukur bisa melihat Anton mau menemui dan berbicara lagi dengannya.


“Apa mungkin? sekarang Anton sudah memaafkannya” tanya Akbar dalam hatinya, disertai dengan sebuah harapan yang muncul. Bila mata Akbar terpaku, melihat ke arah punggung Anton yang perlahan hilang dari pandangannya.


###

__ADS_1


“please don’t being loved someone else


please don’t have somebody waiting on you”


penggalan lirik lagu enchanted dari taylor swift.


Lagu itu, kini terdengar menyala dari tape mobil. Jemari Jenny mengetuk-etuk bagian setir mobil, menikmati alunan lagu favoritnya. Mulutnya ikut terbuka, mengikuti setiap lirik yang tak asing di telinganya.


Sebuah kacamata berwarna terlihat berada di bagian bawah matanya. Sementara sebuah kupluk berwarna biru ia kenakan untuk melengkapi penampilannya.


Perasaan semangat menumpuk di dalam hatinya, membuat dada nya terasa berdebar dengan hebat.


**


17.00 Wib


Indah ia baru keluar dari ruang operasinya, lengan kanannya terlihat memijat-mijat lehernya yang teasa sakit dan kaku.


Sedangkan lengan kiri Indah berada di bagian perutnya, tak kuat menahan rasa lapar yang ikut menyerang tubuhnya.


Selanjutnya, helaan nafas berat terdengar keluar dari mulutnya.


tring


Pintu lift terbuka, seseorang tersenyum menyapa kehadirannya.


Indah mengalihkan pandangannya, menghindari kontak mata yang Akbar buat untuknya. Ia mengambil keberanian, mencoba melangkahkan kakinya berjalan memasuki lift.


Canggung, itu yang ia rasakan setelah kembali berada di ruangan yang sama dengan Akbar.


Akbar menatap bayangan tubuh Indah yang terpantul dari setiap sisi lift.


“Sebaiknya, kamu berhenti aja bar” ujar Indah, meminta Akbar untuk tidak mengganggunya.


Ia tahu semua hal yang di alaminya tadi bukan hanya sebuah kebetulan melainkan kesengajaan yang Akbar sengaja siapkan untuknya.


Akbar mengernyitkan dahinya, mencoba mengartikan setiap kata yang Indah keluarkan untuknya.


“Apapun yang kamu lakukan aku udah tertarik lagi”ujar Indah kembali mengulang-ulangi ucapannya.


“AKu benar-benar muak ngelihat sikap kamu yang sok perhatian kaya gini” lanjut Indah, terus mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


Akbar diam, tak membalas apa yang Indah utarakan kepadanya.


Ia hanya akan membiarkannya, mempersilahkan Indah menyerangnya dengan setiap kata kasar atau umpatan yang tepat mengenai dan melukai harga diri Akbar.


Indah menoleh ke samping kirinya, melihat ke arah Akbar.


“Kenapa, diam aja?” tanya Indah, ia mendesak Akbar agar mau melawan dan membantah setiap perkatannya. Karena dengan cara itu ia bisa mengetahui apa yang kini tengah Akbar pikirkan.


Akbar menggeleng, enggan menanggapi perempuan itu dan berusaha memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Kenapa? apa perkataan gue tadi bikin hati lo sakit?” tanya Indah, penasaran.


Sebuah angka yang tertera di bagian atas pintu lift terlihat berubah menunjukkan nomor satu. Menandakan bahwa keduanya sudah sampai di lantai pertama.


Tujuan Indah, kali ini pergi menuju kantin untuk memuaskan rasa dahaga dan lapar yang menyerang tubuhnya. Sedangkan, Akbar telah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit.


Srrrt


Pintu lift terbuka.


Seorang perempuan dengan tubuh tinggi, dan berisi terlihat berdiri di ambang pintu lift. Bagian bawah tubuhnya terlihat ia mengenakan rok berbahan kurduroy berwarna coklat, atasan dengan bahan rajut berwarna ungu lilac, kupluk berwarna biru masih terpasang di kepalanya, tak lupa ia juga memakai kaus kaki yang memiliki panjang di atas tumitnya, melengkapi bagian kakinya yang terlihat memakai sepatu kanvas.


Ia tersenyum, menyapa kehadiran Akbar.


Sudut bibir Akbar terangkat, membalasnya. Ia melangkahkan kakinya, berjalan keluar mendahului Indah.


Indah berdecak kesal, melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


“Mau sekalian ketemu pak Tama?” tanya Akbar, meledek.


Indah melangkahkan kakinya, berjalan keluar dari dalam lift.


Jenny menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Ia sengaja datang hanya untuk menjemput Akbar agar keduanya bisa pergi bersama ke tempat yang sudah di janjikan.


“Gimana? udah reservasi?” tanya Jenny, memastikan.


Akbar mengangguk, mengiyakan. Sejak kemarin ia sudah memesan tempat untuk bisa menikmati makan siang dengan Jenny. Meskipun, pada kenyataannya ia harus mengatur ulang jadwalnya kembali.


“Eh Indah, kan?” ujar Jenny menyadari kehadiran Indah yang berjalan melewati keduanya.


hal itu, sontak membuat Indah menghentikan langkahnya. Dan menoleh kea rah keduanya secara bergantian.


“Hai” sapa Indah dengan canggung.


“Mau kemana mereka? Apa Jenny juga menjadi alasan untuk Akbar, kenapa dia pulang lebih awal?” tanya Indah dalam hatinya.


Tanpa sadar, ia menatap tajam ke arah Akbar.


“Dasar, licik” gumam Indah merasa kesal.


“Eh gue duluan yah” pamit Indah, enggan berdiam lebih lama lagi.


Jenny mengangguk, mengiyakan. Berbeda dengan Akbar yang berada di samping Jenny ia terlihat mengabaikan dan tertarik dengan kehadiran Indah sama sekali.


“ Ayo, Cepat” ajak Jenny, meminta Akbar segera bergegas.


“Sebentar” ujar Akbar, meminta sedikit waktunya. Lengannya, terlihat meraba-raba tubuhnya, mencari kunci mobil.


“Kunci mobilnya ketinggalan” ucap Akbar.

__ADS_1


“Yaudah pake mobil gue aja” Balas Jenny, memberi saran.


Akbar mengangguk setuju, ia menyesal karena harus membohongi Jenny. sebenarnya, kunci mobil miliknya masih berada di tangan Indah dan rasanya terlalu aneh untuk memintanya sekarang.


__ADS_2