
Satu jam setelahnya, langkah kaki Akbar berjalan memasuki ruangannya.
Kali ini, terlihat jas yang ia bawa di pakainya dengan rapih menambah pesona dan wibawa yang terpancar dari tubuh Akbar.
bug
Akbar menjatuhkan tubuhnya, di kursi dengan cepat lengannya terlihat menyentuh panel computer menyalakannya.
kurang dari lima menit terlihat seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Mardi, pria itu terlihat menghampiri Akbar, berbeda dengan sebelumnya taka da sapaan hangat yang mardi keluarkan. Ia hanya menatap kea rah akbar dengan tatapan yang tajam.
“Jam 11 siang nanti temui pak Tama di ruangannya” ucap Mardi memberi tahu.
Akbar mengangguk, mengiyakan.
Mardi kembali setelah menucapkan sebuah kalimatnya untuk Akbar. Peristiwa yang terjadi tadi malam tentu saja membuat pandangan Mardi kepada Akbar.
“siapa dia? Kenapa berani menentang kebijakan yang sudah ada di rs sejak lama” tanya Mardi di dalam hatinya.
Sembari menunggu, ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Merevisi beberapa hal yang menurutnya kurang tepat.
tring
Ponselnya berdering.
Kali ini sebuah panggilan video masuk.
“Apa lagi?” tanya Akbar dalam hatinya, setelah melihat nama Jenny kembali terlihat di layar ponselnya.
“Kenapa?” ucap Akbar bertanya, setelah sambungan telponnya terhubung.
Dari dalam layar terlihat, Jenny yang masih berada di ranjangnya. Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk ia mencoba berbicara kepada Akbar.
“Semalam, pulang jam berapa?” lanjut Akbar kembali mengajukan pertanyaannya.
Lengan Jenny bergerak jari telunjuk dan tengahnya terangkat membentuk huruf v, Memberi tahu kalau ia pulang jam dua dini hari tadi.
Akbar membalasnya, dengan tatapan yang tajam. Bukankah tadi malam ia sudah mengingatkan? tapi kenapa Jenny malah mengabaikan nasihat yang Akbar berikan.
“Suasananya terlalu menyenangkan, jadi ngga enak kalau minta pulang duluan” ucap Jenny menjelaskan dengan nada suara yang terdengar bersemangat.
“Nanti jadi kan?” tanya Jenny memastikan setelah melihat muka masam yang Akbar tunjukkan kepadanya.
Akbar mengangguk, setuju. Meski masih kesal ia tidak mungkin membatalkan janjinya.
“Sebentar lagi aku berangkat, Sebelum kesana aku harus mampir dulu ke tempat karaoke buat ngambil mobil” lanjut Jenny, menjelaskan apa yang akan di lakukannya.
__ADS_1
Akbar mengernyitkan dahinya, jika sepeti itu berarti ia sengaja meninggalkan mobilnya.
“Terus lo pulang bareng siapa?” tanya Akbar, penasaran.
“Teman-teman, kita pulang barengan.
Sengaja panggil supir bayaran, karena kita ngga yakin bisa nyetir” jawabnya secara detail, malam tadi hampir semua teman-teman nya minum sehingga ia tak mungkin bisa mengendarai mobil.
Akbar menghela nafas lega, setelah mendengar jawaban yang Jenny berikan. Membuat rasa khawatir yang berada di dalam hatinya ikut menghilang.
“Lunch hari ini, kita ganti ke sore aja gimana?” tanya Akbar.
“Kenapa, lo marah? males ketemu gue?” jawab Jenny membalasnya dengan pertanyaan yang beruntun.
Kepala Akbar menggeleng.
“Pak Tama manggil gue, kayanya ada hal serius yang perlu di bicarain”
“Takutnya, Lo nunggu lama aja kalau datang kesini sekarang” jelas Akbar, memberitahu situasi yang tengah di hadapinya saat ini.
“Masih soal rapat kemarin?” tanya Jenny, penasaran kenapa semua hal itu masih belum selesai.
Akbar menganggukkan, kepalanya.
“Kenapa, belum selesai juga?” ujar Jenny, memastikan.
“HUH” ujar Indah menghela nafasnya.
Sudah tiga jam berlalu, namun ia masih terjebak di ruang operasi. Bola mata Indah ia usahakan agar tetap focus dan mengikuti arahan yang di berikan dokter bedah kepadanya.
Sebisa mungkin ia menghindari kesalahan sekecil apapun.
Meskipun bukan untuk pertama kalinya, Tetap saja rasa gugup masih sering menyerang tubuh Indah. Apalagi ini berkaitan dengan nyawa pasien, reputasi rumah sakit, juga jam erbangnya sebagai seorang dokter.
**8
“Siang pak” ujar Akbar menyapa Tama.
Tama menoleh, pria tua itu terlihat berdiri menghadap kea rah jendela.
“Duduk” perintahnya.
Udara dingin menyeruak ke dalam tubuh Akbar, ia bergerak mengikuti perintah yang Tama berikan kepadanya.
“Soal kejadian kemarin, Saya meminta maaf karena tidak mendiskusikannya terlebih dahulu” ucap Akbar, mengawali percakapannya dengan sebuah kata maaf.
“Jadi kamu sudah tahu, bahwa apa yang kamu lakukan kemain salah?” tanya Tama.
__ADS_1
Akbar diam, tak menjawab. ia tidak bisa mengiakan pernyataan yang Tama berikan kepadanya.
“Lantas kenapa kamu tidak mendiskusikannya terlebih dahulu?” ujar Tama kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Saya tidak melakukannya, karena takut jika bapak akan menghalangi saya” balas Akbar, cepat.
“Tapi, kamu melihatnya bukan. Saya tidak melakukan hal apapun untuk menghentikan kamu” ujar Tama merasa tersinggung dengan ucapan yang Akbar berikan kepadanya.
Akbar mengangguk, ia setuju dengan ucapan yang Tama berikan.
“Mungkin bapak tidak menentangnya. Tapi pak aydjie beserta para atasas lain sepertinya sangat tidak menyukai saran yang saya ajukan” ujar Akbar mengatakan apa yang ada di pikirannya diiringi dengan helaan nafas seteahnya.
“Sebagai seorang wakil direktur. Seharusnya, kamu tidak memikirkan hal tentang itu.”
“Jika menurut kamu apa yang akan kamu lakukan akan memberi dampak baik kepada rumah sakit dan perusahaan dan membantu para pekerja. Silahkan, lakukan” ucap Tama, menyetujui saran Akbar dan memberinya pilihan untuk terus melanjutkan.
Akbar menatap heran, kaget dengan ucapan yang di dengarnya.
“Jika itu terjadi, kamu yakin? tidak akan menerima gaji yang seharusnya kamu dapat?” tanya Tama.
Akbar mengangguk yakin.
“Sebagai gantinya, saya akan tetap bekerja secara sukarela dan professional” balas Akbar, tegas.
Tama mengangguk mengerti, ia menyukai sikap tegas yang Akbar miliki.
“Nanti, saya bicarakan lagi dengan mereka. Saya tidak bisa menjanjikan ini akan berhasil atau tiidak”
“Tapi saya akan mencoba membahasnya”
“Berapa anggaran yang kamu minta?” tama Mengakhiri, dengan mengajukan sebuah pertanyaan.
“Di atas UMR” ujar Akbar, yakin.
“Kamu g*la. Mana mungkin gaji kamu bisa membayar mereka semua” bantah Tama.
“Kenapa? Bapak hanya mengandalkan dari gaji saya? Bukankah bapak bisa memotong sepuluh persen dari tunjangan yang para atasan dapat” ujar Akbar mengajukan solusi.
Tama menatap tak percaya ke arah Akbar, Ia tidak tahu kalau Akbar bisa bertindak sejauh ini.
“Atau bapak juga bisa menyisakan dari pendapatan rumah sakit. Lagi pula jumlahnya tidak akan mengurangi pendapatan rumah sakit lebih dari lima persen” lanjut Akbar terus mengatakan jalan keluar yang ia pikirkan setelah melakukan berbagai analisis yang di laluinya.
Jawaban-jawaban yang Akbar berikan membuat Tama tak bisa berkutik. Sepertinya ia telah melakukan kesalahan.
Ia pikir Akbar akan tunduk dan patuh pada apa yang di perintahkannya. Tapi ini sangat berbeda, kali ini ia terlihat memiliki arah yang jelas, berani dalam mengambil setiap keputusan, cepat dalam mengambil tindakan bahkan ia juga pandai memikirkan solusi dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Akbar membalas tatapan yang Tama berikan. Dengan tatapannya Akbar menjelaskan bahwa Pria tua itu salah, dalam menilainya. Ia bukan lagi Akbar yang di temuinya tujuh tahun lalu.
__ADS_1
Dimana semua tindakan yang Akbar keluarkan berasal dari kendali kakeknya, Shakti.