Semesta 2

Semesta 2
Shoume


__ADS_3

“Udah Semua kan Ndah?” tanya Vio.


Indah mengangguk mengiyakan.


Keduanya terlihat berdiri di depan lobby dengan lengan yang membawa belanjaan masing-masing.


Suara gemerisik terdengar, lengan vio terlihat sibuk kembali memeriksa barang miliknya.


“Gue langsung pulang aja ya vi” ujar Indah, berpamitan. Ia ingin segera pergi ke kafe agar bisa beristirahat.


“Nggak” tolak Vio, tegas.


“Kan kita belum makan” lanjutnya.


“Gapapa, gue bisa makan di kafe kok” balas Indah kembali menolak. Energinya benar-benar habis.


“Ngga boleh. Pokoknya lo harus ikut gue!” bantah Vio dengan cepat.


“Ya kenapa? kan sama aja?” ujar Indah.


“Nggak, Ini beda Ndah Lo harus coba, Di depan mall ini ada resto baru dan lagi hype banget”


“Kita kesana ya, Please” ucap Vio terus merengek agar indah mau menurutinya.


Indah hanya bisa menghela nafasnya, gelisah itu yang kini ia rasakan dalam hatinya.


Rasanya, aneh saja bisa menghabiskan waktu berjam-jam di mall. Sementara tugas Intern masih menumpuk, belum lagi ia harus kembali mengurus bisnis kecilnya.


Namun, di sisi lain ia tak bisa terus menolak ajakan Viona yang sudah menyenggangkan waktu untuknya.


“Lo mikirin apa sih Ndah?” tanya Vio, melihat tatapan kosong yang terpancar dari raut waah sahabatnya.


“Udahlah ngga usah kebanyakan mikir” lanjutnya dengan lengan yang terlihat menyeret tubuh Indah.


***


Akbar masih berdiam di ruangannya.


Matanya terpejam, menenangkan rasa gemuruh yang berada di kepala dan hatinya.


Bimbang itu yang Akbar rasakan, Ia ada di ujung jalan antara benar dan salah. Rasanya lega karena ia bisa sedikit meluruskan hal yang sudah sewajarnya. Namun, disisi lain ada rasa resah yang membebaninya.


Setelah kejadian tadi Akbar tak tahu pandangan Tama terhadapnya apakah berubah arah menjadi membencinya atau masih sama seperti sebelumnya.


Di aula tadi, Tama hanya mendiami dan membiarkannya. membuat Akbar tidak tahu harus mengartikan reaksi itu seperti apa.


Akbar juga tidak tahu apakah ia masih bisa menghadapi Tama atau tidak.


Lebih tepatnya, Apakah Tama masih mau menerimanya? dan membiarkan ia kembali bekerja di rumah sakit.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Akbar. Ia tak bisa menghentikan prasangka buruk yang terus memenuhi isi kepalanya.


tring


Suara ponsel berbunyi, membuat Akbar terbangun.

__ADS_1


Jenny


Nama itu tertera di layar ponselnya.


Sudut bibir Akbar tersenyum, melihat tumpukan pesan yang Jenny berikan kepadanya.


Jari telunjuk Akbar menyentuh layar, membuka pesan.


Beberapa gambar terlihat Jenny kirimkan, sebuah gambar yang menunjukkan ia tengah di ruang sidang berdiri menyampaikan hasil tesisnya dengan berani dan lantang.


“Kerja bagus” ujar Akbar memuji perempuan itu.


Lengannya mengusap ponsel, Layar yang menunjukkan sebuah gambar berganti dan memutar sebuah Video.


Isi rekaman Video.


Jenny berjalan keluar dari pintu.


“Congrats ya Jen” ujar seseorang terdengar dari dalam rekaman.


Selanjutnya, terlihat beberapa orang datang dan memberikan buket bunga juga hadiah kepada Jenny secara bergantian.


Akbar tersenyum, ikut merasa senang karena Jenny memiliki teman-teman yang bisa di andalkan.


“Maaf” lanjutnya bergumam, merasa bersalah karena tidak bisa menemani Jenny.


“Kamu sudah membacanya?” sebuah pesan kembali muncul, saat Akbar tengah melihat gambar-gambar yang Jenny berikan.


“Kenapa, lambat sekali membalas?” satu pesan masuk.


“Apakah kamu tidak ikut senang?” Jenny terus mengirimkan pesan kepada Akbar secara beruntun.


Ekspresi jujur yang Jenny berikan membuat Akbar merasa terhibur. Melihat ia yang tengah kepanasan dan terburu-buru sendiri sungguh menggemaskan.


Trek


Akbar mengambil gambar ruangan, mengirim sebuah pap kepada Jenny untuk, menjawab semua rasa penasaran yang tengah menggeluti perasaan perempuan itu.


###


“Yah ko tutup sih” gerutu Viona, merasa kesal setelah melihat foodtruck yang di tujunya dengan Indah tutup.


“Disini?” tanya Indah, kembali memastikan.


Viona Mengangguk, mengiyakan.


“Aneh banget baru opening masa udah tutup-tutup aja. Padahal disini kan rame” ujarnya, terus menggerutu.


“Yaudah, kita coba lagi nanti aja” ucap Indah memberi saran.


“Bentar-bentar” balas Viona menghentikan ucapan Indah.


Indah mengernyitkan dahinya, pandangannya tak bisa beralih melihat setiap tingkah ajaib yang sahabatnya keluarkan.


Viona meraih ponselnya, membuka aplikasi stargram. Lalu, melihat akun foodtruck memastikannya sekali lagi.

__ADS_1


“Gue cek dulu ya, siapa tahu kita salah tempat” ujar Vio masih berpikir positif.


Indah menggeleng, tak mengerti.


“Apa yang menarik dari tempat ini? seberapa enak makanan yang di sajikan? Hingga membuat Vio seperti ini?” gumam Indah dalam hatinya.


Pandangan Indah terhenti, papan nama bertuliskan “Luby’s food” menarik perhatiannya. Entah bagaimana rasanya tidak asing membaca nama itu.


“Yah, beneran tutup dong Ndah” ujar Viona, setelah membaca pengumuman di laman media social.


“Yaudah. Kita makan di tempat lain aja, OK!” ajak Indah, tegas.


^^^


Jenny, kini ia tengah berada di sebuah tempat karaoke bersama dengan teman-temannya untuk merayakan sebuah pencapaian yang ia raih hari ini.


Berbeda dengan teman-temannya yang terlihat asik menikmati setiap ketukan music. Jenny terlihat lebih diam dan hanya duduuk di bangku, menyimak dan memperhatikan. Berulang kali pandangannya melihat ke arah ponselnya, menunggu balasan dari sesorang.


“Apa yang di lakukannya?” tanya Jenny, menunggu balasan pesan dari Akbar.


Kenapa, ia belum memberi ucapan selamat kepadanya. Apa kesibukannya sangat luar biasa? atau apakah memang Akbar lupa kalau ini hari penting untuk Jenny?


Tidak bukan, mana mungkin ia lupa. BUkankan tadi pagi keduanya sempat berkomunikasi?


Tring


Sebuah balasan yang Jenny tunggu, akhirnya muncul. Ia tersenyum gembira, melihat balasan pesan yang Akbar berikan. Hanya satu pesan, tapi berhasil membuat Jenny menghentikan prasangka-prasangka yang muncul di kepalanya.


“Masih Di rs?” tanya Jenny, sendiri. Setelah melihat gambar ruangan yang Akbar berikan.


Tubuhnya beranjak, meninggalkan ruangan. Mencari tempat yang lebih sepi agar bisa menelpon pria itu.


“Kamu masih disana? Ngapain? Belum selesai?” tanya Jenny beruntun, usai sambungan telponnya terhubung.


Hening, taka da jawaban yang Akbar berikan.


“Kenapa, malah diam?” ucap Jenny. memprotes.


“Kirain masih mau nanya” balas Akbar, ia sengaja diam menunggu Jenny menyelesaikan ucapannya.


“Aissh” Jenny berdecak kesal, menyadari reaksi Akbar yang lamban.


“Jadi, kenapa masih disana?” lanjutnya, mengulangi pertanyaan yang sama.


“Baru selesai. Lagi siap-siap, mau pulang” jawab Akbar singkat.


Jenny mengangguk, mengerti.


“Kamu dimana? kayanya rame banget. ” lanjut Akbar, menanyakan keberadaan Jenny.


“Di tempat karaoke, bareng teman-teman” balas Jenny,menjelaskan.


Hening, tak seperti biasanya percakapannya dengan Akbar kali ini tak berjalan mulus. Menyadari hal itu, Akhirnya Jenny mengurungkan niatnya untuk meminta Akbar datang ke tempat ini menemaninya. kali ini ia akan membiarkannya memberi ruang untuk Akbar agar ia bisa beristirahat.


“Mereka, memanggil” ucap Jenny, memecah keheningan.

__ADS_1


“Oke, Have fun ya!” balas Akbar.


“Jangan, pulang terlalu larut malam” lanjutnya, mengingatkan.


__ADS_2