Semesta 2

Semesta 2
Home


__ADS_3

11.10 wib


Indah mengetuk-etuk kakinya di lantai dengan perasaan yang di penuhi dengan rasa gugup.


Ia tidak mengerti kenapa bisa seberani ini menemui Akbar.


Trek


Pintu terbuka.


Jenny, perempuan itu muncul di ambang pintu.


Melihat Jenny, membuat tubuh Indah mematung dan ia tak bisa berkata-kata.


“Kenapa dia disini? apa mungkin gue salah unit?” tanya Indah dalam hatinya.


Sama seperti yang Indah rasakan, Jenny juga tenggelam dalam pikirannya. Menanyakan keberadaan Indah yang tiba-tiba ada di depan apartemennya dengan tubuh yang masih menggunakan baju kerjanya.


Flashback On


Sepuluh menit yang lalu.


Trek


Akbar berjalan melewati pintu apartemen milik Jenny, Akbar yang tidak memiliki tempat pulang pada akhirnya harus tinggal di sebuah apartemen yang Jenny punya. Sementara permpuan itu kembali tinggal di rumah orangtuanya.


Pandangan Akbar terhenti, menatap ke arah perempuan yang tengah duduk di sofa.


Sejak kejadian yang terjadi dua malam yang lalu, keduanya belum berinteraksi sedikitpun.


Melihat keberadaan Jenny, membuat Akbar kembali menghela nafasnya. Kali ini ia benar-benar kehabisan tenaga, dan tidak sanggup untuk meladeni rengekan atau keluhan yang Jenny berikan kepadanya.


“Dari tadi? ” tanya Akbar. melemparkan pertanyaan secara acak.


Jenny menggeleng, memberi tahu ia baru datang.


Akbar melangkahkan kakinya, berjalan menuju bagian dapur.


Tap


Lengannya meletakkan tas di bagian kursi, Selenjutnya terlihat ia melepas jas yang membaluti tubuhnya dan kembali meletakkannya di bagian sandaran kursi.


Crrrrrt


Suara tetesan kopi yang mengenai cangkir.


Lengan Akbar kembali bergerak melonggarkan dasi yang masih terpasang di bawah lehernya.


Tap


Tak lama setelahnya, Akbar menyuguhkan secangkir kopi untuk Jenny dan meletakkannya di meja.


“Udah makan?” tanya Akbar, kembali bertanya untuk mencairkan suasana yang terasa sangat dingin mencekam.


Jenny mengangguk, mengiyakan.


Bola matanya bergerak melihat kea rah cangkir milik Akbar yang diisi oleh air mineral.

__ADS_1


“Kamu tuh kalau sakit, periksa. Bukannya uring-uringan sendiri” gerutu Jenny, membahas dua malam sebelumnya.


Akbar diam, ia tak memiliki tenaga untuk menanggapi ucapan Jenny.


“Ayo ke rumah sakit” ajak Jenny, ia bisa melihat jelas bahwa keadaan Akbar benar-benar buruk.


Akbar menggeleng.


“Ngga usah, istirahat aja udah cukup kok” balasnya dengan suara yang bergetar.


“Kamu mau kemana, rapih gini?” tanya Akbar melihat penampilan Jenny yang terlihat begitu formal.


“Aku ada meeting sama beberapa vendor” balasnya singkat.


“Maaf, aku ngga bisa antar” ujar Akbar langsung meminta maaf. Kali ini ia tak bisa menepati janjinya.


Jenny mengangguk, mengerti.


Melihat kondisi Akbar yang mengkhawatirkan, membuat ia tak bisa memaksanya.


Jenny ia juga tidak bisa membatalkan pertemuannya begitu saja.


“Mau aku telpon Defa, biar ada teman” tanya Akbar menawarkan.


Jenny menggeleng, menolak. “Aku bisa sendiri, abis ini kita langsung ke RS. OK!” balas Jenny, tegas.


“Ngga usah khawatir, aku baik-baik aja” jawab Akbar, mencoba terlihat baik-baik saja dan menyembunyikan rasa sakit yang terus menyerang tubuhnya.


Jenny beranjak dari tempatnya.


“Agar bisa pulang cepat, gue harus datang lebih awal” pikirnya.


“Ambil, pakai ini buat traktir mereka. Kasih mereka kesan yang baik sejak awal!” ujar Akbar memberi saran.


“Juga pakai ini untuk beli kebutuhan yang masih kurang” lanjutnya, ia akan mendukung secara penuh jalan yang Jenny pilih. Begitupun dengan Jenny ia juga melakukan hal yang sama kepada Akbar. Di tempat ini, hanya Jenny yang banyak membantu dan mendukungnya.


Flashback Off


Lebih dari satu menit keduanya saling menatap, dengan memiliki pertanyaan yang sama namun tidak bisa mengungkapkannya.


“Sepertinya kita sering bertemu” gumam Jenny dalam hatinya.


Indah membalas tatapan yang Jenny berikan, Ia semakin penasaran dengan hubungan yang berada di antara Jenny dan Akbar.


“Siapa?” tanya Akbar dari dalam.


Mendengar suara yang familiar membuat Indah ingin segera menghilang dan berpura-pura jika ia tidak pernah datang ke tempat ini. Membayangkan keduanya tinggal di tempat yang sama, membuat Indah kehabisan kata.


“Indah” balas Jenny, membalas pertanyaan yang Akbar berikan.


Hening tak ada jawaban yang Akbar berikan dari dalam. Membuat Indah merasa sangat canggung dan bingung harus memberi alasan apa. rasanya, ia datang di waktu yang kurang tepat.


“Sudah datang, tadi aku memanggilnya” lanjut Akbar, berdiri di belakang Jenny.


“Ayo, masuk” ajak Akbar kepada Indah, dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Indah melangkah kakinya masuk ke dalam apartemen, dengan pikiran yang di penuhi banyak pertanyaan.

__ADS_1


“Kenapa Akbar, menjawab seperti itu? apa harus, ia berbohong?” tanya Indah dalam hatinya, meskipun begitu ia tetap merasa bersyukur. Setidaknya, ia tidak akan menanggung rasa malu jika terus kembali bertemu dengan Jenny.


“Duduk” ujar Akbar mempersilahkan.


Indah mengangguk, mengiyakan. Pandangannya beralih menatap ke arah dua cangkir yang masih berada di atas meja.


“Apa yang mereka lakukan sebelumnya?” tanya Indah dalam hatinya, semakin penasaran.


“Sebentar” ujar Akbar berpamitan, ia harus segera ke kamar mandi. Rasanya ia tidak bisa menahan rasa mual yang berusaha keluar dari ujung mulutnya.


“Mau minum apa? Jus, kopi?” tanya Jenny, menawarkan.


“Air putih aja” balas Indah.


Lima belas menit berlalu.


Namun, Akbar belum kembali. Ia perlu menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk menyelesaikan hajatnya.


Suasana di ruang tengah terasa sangat hening, setiap percakapan antara keduanya tak berjalan mulus.


Sejak tadi yang terdengar hanya tegukan segelas air putih dan juga suara kopi yang di sesap secara perlahan.


“Sejak kapan?” tanya Indah tiba-tiba.


Jenny menatap heran, mendengar pertanyaan yang Indah ajukan.


“Sakitnya, sejak kapan?” tanya Indah kembali mengulangi perkataannya.


Kali ini Jenny mengerti.


“Dua hari yang lalu” jawab Jenny.


“Tapi kayanya sekarang makin parah” lanjut Jenny, menjelaskan sesuai dengan apa yang di lihatnya.


“Udah coba di periksa?” Indah kembali mengajukan pertanyaan.


“Kayanya belum, dia terlalu hati-hati buat periksa di RS. Mungkin itu juga jadi alasannya kenapa dia manggil lo kesini” jelas Jenny.


Indah mengangguk, mengerti. Padahal niat kedatangannya kesini untuk meminta penjelasan kepada Akbar, juga berharap ia mau berhenti dari pemikirannya yang sulit di tebak.


Namun, melihat kondisinya hari ini Indah tidak yakin bisa menanyakannya sekarang atau tidak.


Pukul 11.35 wib


“Sorry gue harus pergi” ujar Jenny, berpamitan setelah melihat kea rah jarum jam.


“Gue, titip dia.” lanjutnya, ia beranjak dengan lengan yang terlihat meraih sebuah kartu yang masih berada di meja yang sebelumnya Akbar beriikan kepadanya.


“Oke, take Care” balas Indah menanggapi ucapan Jenny.


Ia berjalan keluar dengan langkah yang tergesa-gesa.


Trek


Pintu apartemen tertutup.


Bola mata Indah bergerak menatap ke arah kamar yang sebelumnya di masuki Akbar.

__ADS_1


“Kenapa dia belum datang?” tanya Indah dalam hatinya.


Suasana dingin, canggung dan mencekam kembali di rasakan Indah. Ia tidak tahu harus memulai perkataannya dari mana atau bertindak seperti apa. Ia takut jika kedatangannya ke tempat ini membuat Akbar salah mengartikan niatnya.


__ADS_2