Semesta 2

Semesta 2
Gum


__ADS_3

Akbar tenggelam dalam rasa bersalahnya, kakinya melangkah dengan gusar menuju ke arah dapur untuk mengambil segelas air agar bisa menyejukkan tubuhnya.


trek


Akbar menoleh ke sumber suara. Matanya membelalak melihat kehadiran Indah yang muncul dari ambang pintu kamarnya.


Perempuan itu terlihat berjalan keluar dengan santai, tidak menyadari hal yang tengah mengganggu Akbar.


“Nanti, gue kembaliin” ujar Indah menunjuk ke arah baju yang kini di kenakannya. Indah berjalan menghampiri Akbar dengan rambut yang masih di baluti oleh handuk, bagian atas bajunya terlihat ia mengenakan crewneck berwarna hitam milik Akbar, dan bawahanya ia mengenakan training jogger berwarna navy.


Akbar melipat bibirnya, menyembunyikan perubahan perasaan yang teng ada di hatinya. Ia senang sekaligus bersyukur melihat Indah masih berada di sini.


“Bahkan dengan baju yang kebesaran, kamu masih terlihat cantik Ndah” pikir Akbar dalam hatinya.


flashback on


1 jam yang lalu.


19.35 wib


Indah terbangun, lalu beranjak dari posisinya. Perlahan ia membuka kedua matanya, pandangannya bergerak melihat ke arah selimut yang menyelimuti tubuhnya.


Kemudian pandangannya beralih menatap ke arah Akbar yang ikut berbaring di seberang kursinya.


“Huh” helaan nafas keluar dari mulut Indah. Ia tak percaya bisa tertidur begitu lelap di tempat yang asing ini.


selanjutnya, Indah mengusap-usap wajah dengan kedua lengannya, berusaha agar membuatnya kembali terjaga.


Dengan langkah gusar, kaki Indah berjalan mendekat ke arah Akbar.


Tap


Telapak lengannya menyentuh dahi Akbar, memeriksa suhu tubuhnya. Indah tersenyum kecil, merasakan suhu tubuh Akbar yang kini terasa sudah kembali normal.


Selanjutnya pandangannya menoleh ke sebelah kanan memperhatikan labu Infus yang menggantung di kenop laci.


Isi dari kantung labu Infus perlahan menurun, di alaminya terdapat sepuluh persen lagi cairan yang masih tersisa.


"Hanya perlu menunggu setengah jam lagi, habis itu langsung pulang deh." bergumam, mengatakan apa yang harus di lakukan di dalam hatinya.


tring tring


Suara ponselnya berbunyi, membuat Indah beranjak dari tempatnya dan menjauh dari Akbar.


“Kenapa?” tanya Indah berbicara dengan seseorang yang berada di sambungan telpon.


“Lo dari mana aja? kenapa susah banget di hubungin” ujar orang itu menggerutu.


“Udah lihat hasil lab nya?” lanjut perempuan itu mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


Indah menjauhkan ponsel dari telinganya, kemudian bola matanya membaca nama yang tertera di ponselnya.


Desi LAB, nama itu tertera di layar ponselnya.


“Sorry gue ketiduran” balas Indah, meminta maaf.


“Katanya urgent, tapi malah ketiduran. GImana,sih?” protes desi.


“Ya maaf” ujar Indah kembali meminta maaf.


“Des, gue cek dulu ya! udah itu gue kirimin resep obatnya ke elo” ujar Indah.


Desi mengangguk, mengiyakan.


“Jangan kelamaan, gue mau pulang!” ujar Desi memperingtkan Indah kembali.


Langkah Indah bergerak membawa tubuhnya pindah ke dalam kamar Akbar. Ia sengaja pergi ke tempat itu agar bisa mendapat kertas dan bolpoin.


Bug


Indah duduk di kursi kerja milik Akbar tepat setelah menyiapkan barang yang di carinya.


Punggungnya bersandar di tumpuan kursi, Lengan kanannya terlihat memegang erat bolpoin, dan di lengan kirinya ia masih memegang ponselnya. Bola matanya bergerak sibuk membaca setiap huruf yang muncul di lembar halaman yang menunjukkan hasil lab darah milik Akbar.


Kurang dari lima menit, sebuah bolpoin terlihat menari dengan mengagumkan di atas kertas putih kosong yang di kendalikan Indah secara cepat, lihai, dan cantik. Selanjutnya terlihat Indah memotret resep yang usai dibuatnya, di sertai dengan id card yang ia letakkan di sampingnya.


Indah sudah selesai, namun tubuhnya tak beranjak. Ia masih duduk dengan menggiyang-giyangkan kursi kerja, membuatnya perlahan dalam pikirannya sendiri.


Indah tidak tahu apa yang benar-benar di alaminya, masih berada di tempat ini terasa tidak nyata untuknya. Semakin lama ia berada disini membuat Indah kembali mempertanyakan hubungan antara Jenny dengan Akbar.


“Kenapa tempat ini di dominasi dengan barang-barang milik Jenny. Tempat siapa ini sebenarnya? kenapa barang-barang Akbar masih terlihat berserakan?” ujar Indah mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri dengan bola mata yang terlihat tertuju kea rah tiga koper Akbar yang berada di hadapannya. Satu koper bersandar di tembok, sementara dua koper lainnya terlihat terbuka secara acak.


###


Sepuluh menit selanjutnya.


Indah kini ia tengah berada di dapur, dengan tubuh yang terlihat berada di depan lemari es


Trak


Kedua lengan Indah bergerak membuka penutup lemari es.


Dahi indah mengernyit, melihat ke dalam lemari es yang tidak banyak menyimpan barang. Di tempat itu hanya tersisa satu potong daging wagyu, dua butir telur, dua bungkus nasi istan juga beberapa kotak mie instan.


“Aiisssh” Indah berdecak kesal. tak mengerti kenapa Akbar tidak memperhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.


“Pantes aja infeksi, orang yang di makannya beginian” lanjut Indah, menggerutu kesal.


Bug

__ADS_1


Indah meluapkan rasa amarahnya dengan menutup pintu lemari es dengan keras.


Tak peduli dengan suara sebesar apapun yang Indah keluarkan, Akbar masih terlelap di tempatnya.


“Apa susahnya sih jaga kesehatan bar?" ujar Indah kembali bergumam.


Sementara itu terlihat ia yang kembali mengeluarkan ponsel dari dalam dakunya. Membuka layar ponsel da mengarahkannya ke aplikasi ojek online untuk memesan beberapa makanan.


Indah melakukannya, agar ia bisa pergi dengan tenang setelah melihat Akbar memakan makanan yang layak.


Sembari menunggu pesanannya datang, Indah memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Membasuh setiap keringat yang kini terasa lengket.


Kring Kring


Suara onsel kembali berbunyi, membuat Indah menghentikan langkah kakinya dan mengurungkan niatnya untuk sementara. Tubuhnya berbalik, menuju ke sumber suara.


PAndangannya menatap ke arah ponsel yang menunjukkan nama Jenny di layar ponselnya.


Indah terdiam, tak tahu harus menjawabnya atau tidak.


“Jika Jenny tahu, gue masih disini. dia bakal salah paham ngga ya?” tanya Indah dalam hatinya.


Kriing


suara notif kembali masuk, kali ini sebuah pesan muncul.


“Kamu gimana? masih sakit?”


“Kalau dah bangun, kabarin ya” isi pesan.


Tanpa di sengaja Indah membacanya. Isi pesan itu terlihat muncul di layar atas ponsel Akbar.


Meskipun tahu keduanya bersahabat sejak lama, tetap saja ada rasa yang kurang nyaman yang mengusik hati Indah.


Ia kembali terdiam, tak tahu harus bagaimana. Semuanya terasa terlalu membingungkan untuk Indah.


“Semua perkataan yang kamu ucapin kemarin, Apa aku bisa mempercayainya?” tanya Indah sambil melihat ke arah Akbar yang masih tertidur.


flashback off


Dahi Indah mengernyit, menyadari Akbar yang menatap ke arahnya dengan tubuh yang mematung.


Ting tong


Suara bel kembali berbunyi menyadarkan keduanya.


Indah memalingkan wajahnya, dengan kedua bola matanya yang menatap ke arah pintu.


“Siapa itu? apa Jenny sudah pulang?” ujar Indah kembali bertanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2