Semesta 2

Semesta 2
Dalih


__ADS_3

21.00 wib


Akbar terlihat masih menatap layar computer miliknya.


Seusai mengantarkan Tama. Ia kembali datang ke rumah sakit untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terhenti.


“Benar, Icha” ujar AKbar mngingat janjinya dengan Icha.


Tubuhnya terihat bersandar ke arah kursi dengan jemari yang terlihat sibuk mengusap-usap layar ponselnya.


“Halo” ucap Akbar setelah sampungan temponnya terhubung.


“Bisa ketemu sekarang? mau dimana?” lanjut Akbar bertanya to the point.


“Di kafe Indah. gue tunggu lo disini” balas Icha.


Akbar mengangguk mengerti.


###


tring


Akbar berjalan memasuki kafe Indah untuk ke sekian kalinya.


Di bagian ujung terlihat Icha yang menyambutnya dengan tatapan yang tajam.


“Kamu beneran ngga mau aku temenin?” tanya Fadly yang muncul dari belakang dengan menggendong anaknya.


Icha mengangguk yakin.


“Gue duluan ya bar” ujar Fadly berpamitan sebelum melewati Akbar.


“Lo tenang aja. Tar, gue yang anterin Icha pulang” ujar Akbar, memberitahu fadly.


Fadly mengangguk, mengiyakan.


Jika ia terus berdiam disana, situasinya akan menjadi sulit untuk Fadly. Ia tak tahu harus berdiri di pihak mana.


Di satu sisi Icha adalah istrinya dan Akbar juga temannya.


ia berjalan meninggalkan kafe, dengan perasaan yang berat.


“Huh” helaan nafas terdengar keluar dari mulut Fadly.


ia bergerak memindahkan anaknya dari pangkuan ke car seat dan aklupa memasangkan seatbelt.


Fadly menoleh, kembali menatap gedung.


***


“Duduk” ujar Icha memberi perintah.


Akbar menuruti perintah yang Icha berikan kepadanya. Bola mata Akbar memperhatikan setiap pergerakan yang Icha buat.


Ia berjalan ke arahnya dengan lenan yang membawa segelas air putih.


Melihat itu, Akbar beranjak dengan lengan terangkat mencoba mengambil alih gelas dari Icha.


Bruss


Icha menyiramkan air dari dalam gelas secara cepat dan kasar, tepat ke wajah Akbar.


“Wahhh” ucap Akbar merintih.


Lengannya bergerak mengusap seluruh bagian wajah dan rambutnya.

__ADS_1


“Lo apa-apan sih cha?” tanya Akbar, heran.


tak hanya wajahnya, air juga ikut membasahi kemeja yang Akbar kenakan.


“Lo yang apa-apaan? kan gue udah bilang jauhin Indah”


“Tapi, apa sekarang lo malah ikutin dia ke tempat kerjanya” ujar Icha mengungkapkan seluruh hal yang ingin di katakannya sejak pagi.


srrt


Akbar meraih beberapa lembar tisu untuk mengelap wajahnya.


“Lo pikir dengan cara lo yang ini, bisa buat Indah balik lagi sama lo?” tanya Icha menekankan nada suaranya.


Akbar membalas tatapan tajam yang Icha berikan kepadanya.


“Mengapa dia harus bertindak sejauh ini?” tanya Akbar dalam hatinya.


sreekkk


Kali ini, terlihat Icha yang merobek-robek kecil surat perjanjian antara dirinya dengan Akbar.


Akbar memejamkan matanya dan kedua lengannya terlihat mengepal dengan kuat. Tentu saja, apa yang Icha lakukan terhadapnya sangat melukai harga diri Akbar.


Icha melangkahkan kakinya, berjalan menghampiri Akbar.


Lengan kanannya terangkat, kemudian memukul-mukul keras bagian dada Akbar.


“Gue mohon bar, jauhin Indah” ucap Icha, memohon.


“Biarin dia hidup bahagia” lanjutnya lagi.


dahi Akbar mengernyit.


Icha semakin memperkuat kepala tangannya, memberi pukulan-pukulan secara bergantian kea rah pria itu. Namun, tak ada sedikit pergerakan yang Akbar berikan untuk melawan tubuh wanita kecil itu.


“Cukup Cha” ucap Akbar tegas. kedua lengannya menghadang kedua lengan Icha yang masih mengarah ke tubuhnya.


“Kayanya, gue ngga perlu persetujuan dari siapapun untuk bisa kembali kesini” ujar Akbar nada suaranya terdengar tenang dan yakin.


Lengan Icha melemas, ia melepaskan pegangan tangan Akbar dari pergelangan tangannya.


“Dan gue juga ngga ngelakuin hal yang ngelanggar norma hokum atau agama”


“Jadi, lo ngga usah berlebihan”


“Sebaiknya, kita focus sama kehidupan kita masing-masing” lanjut Akbar.


Plak


Icha melayangkan tampaan keras di pipi kanan Akbar.


Sontak hal itu, membuat pembicaraan yang Akbar akan ucapkan terhenti.


Sorot mata Akbar melebar, tak terima dengan perlakuan yang terus di dapatnya.


“Kenapa ngga suka? sakit?” tanya Icha.


Akbar diam, tak menjawab.


“Bar rasa sakit ini tuh ngga sebanding sama penderitaan yang Indah rasain” ucap Icha menaikkan nada suaranya.


“Jangan egois. sebaiknya lo balik lagi deh ke Negara lo?” lanjut Icha, meminta Akbar kembali meninggalkan Indonesia.


Akbar mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“Kenapa gue harus balik lagi? kan rumah gue disini” balas Akbar polos.


icyha menghela nafas. kesal.


“Lo tuh bener-bener ngga ngerti atau cuma pura-pura aja?" tanya Icha.


Akbar tak membalas pertanyaan yang Icha berikan kepadanya.


Ia tahu apa yang sudah di lakukannya sangat melukai hati Indah. Namun, hal itu terjadi di masa mudanya. dimana ia masih hidup dengan kendali dari kakeknya, Shakti.


Saat itu, Akbar pergi dengan perintah yang Shakti berikan kepadanya. Akbar pikir dengan kepergiannya hidup Indah akan jauh lebih bahagia.


Tapi ala yang Akbar pikirkan tak sesuai dengan hal yang terjadi.


Sama seperti yang Indah rasakan. Akbar juga kesulitan hidup jauh dari wanita itu. Setiap hari yang ia rasakan hanya sesak karena terlalu merindukan Indah.


Akbar juga tak mengerti mengapa kedatangannya tidak pernah di terima baik oleh-oleh orang terdekatnya.


Apa hal yang sudah dilakukannya, sehingga mereka bisa berfikir seperti itu?


kenapa tidak ada satu orang pun yang mengerti perasaannya.


“Cha gue tahu, mungkin apa yang gue lakuin dulu ke Indah ngelukain dia”


“Tapi itu dulu, dan saat itu gue ngga punya pilihan lain selain nurutin apa yang kakek mau” ucap Akbar nada suaranya bergetar.


“Jadi, gue juga mohon kasih gue kesempatan lain”


“Gue ngga bisa buat jauh lagi dari Indah.”


“Gue ngga mau ngulangin kesalahan yang sama” jelas Akbar.


“Ngga, ngga ada kesempatan lain bar”


“Sejak tujuh tahun lalu, kisah kalian itu udah berakhir”


“Indah dia udah ngga punya urusan lagi sama lo” tegas Icha. kali ini ia terlihat beranjak dari tempatnya meninggalkan Akbar.


“Issh” amAkbar kembali berdecak kesal.


“Iya. tapi, itu menurut lo kan” ujar Akbar menyanggah ucapan yang Icha berikan.


Icha memutar tubuhnya, matanya membelalak menatap ke arah Akbar mengancamnya.


“Dan menurut gue. kisah kita belum benar-benar berakhir” lanjut Akbar.


“Belum" ujar Icha mengulangi ucapan Akbar.


"Bar, lo sendiri yang ngakhirin hubungan lo sama Indah di surat” mengingatkannya.


“Dan, sekarang dengan entengnya. Lo balik lagi kesini, ngerengek berharap Indah lupa sama hal itu dan bisa nerima lo lagi?”


“Jangan ngaco deh!!!” tegas Icha, ia kehilangan kesabarannya.


“Semua yang gue tulis malam itu. bukan sepenuhnya dari gue” ujar Akbar mencoba berterus terang.


Icha mengernyitkan dahinya.


“Terlalu banyak hal yang nekan gue. sampai akhirnya gue bisa ngelakuin hal bodoh itu” jelas Akbar.


“Bac*t”


“Ngga usah banyak alasan” timpal Icha, memotong ucapan Akbar.


“Gue tahu semuanya” lanjutnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2