Semesta 2

Semesta 2
Heal


__ADS_3

"PEMBERIAN GAJI TERHADAP PARA RESIDEN” sebuah judul yang Akbar angkat untuk meeting kali ini.


Suara gemuruh terdengar keluar dari beberapa orang yang bergunjing tak setuju dengan topik pembicaraan yang Akbar berikan.


Lengan Tama terangkat, memberi perintah kepada Mardi agar segera mengambil tindakan.


Tap


Layar proyektor meredup.


Akbar menelan ludahnya membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.


“Rapat kali ini, selesai sampai disini.


Untuk para staff, dan hadirin yang hadir di persilahkan untuk meninggalkan ruangan” ucap Mardi, menyela Akbar.


“HUH” helaan nafas keluar dari mulut Akbar, tak percaya dengan sikap yang di terimanya.


“Pada akhirnya, ia di perlakukan seperti ini juga?” tanya Akbar dalam hatinya.


Antisipasi yang Tama buat tak bisa membuatnya berkutik. Akbar hanya terdiam dengan pandangan yang tertuju kepada orang-orang yang bergerak keluar dari ruangan.


Lengan Akbar terlihat mengepal, menahan seluruh rasa amarahnya.


Ia memutar tubuhnya, ke arah Tama yang berada di sisi kirinya dengan jarak lebih dari lima meter.


Ia menelan harga dirinya, dengan sorot mata yang nanar ia menatap pria itu. Memohon meminta bantuan kepadanya.


“Hanya sebentar” ucap Akbar tanpa mengeluarkan suara, meminta Atma membiarkannya sekali ini saja.


Tama melihatnya, ia membiarkan Akbar agar terus memohon kepadanya.


Lengan Tama bergerak, mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. Kepalanya terlihat menunduk, melihat layar ponsel.


tring


Sebuah pesan masuk bersamaan.


Adjie, Mardi, dan Wadir yang masih duduk di tempat terlihat membukanya secara bersamaan.


“Tinggallah sebentar lagi, dan beri kesempatan Akbar berbicara” isi pesan Tama yag ia siarkan di grup.


Mardi mengangguk, mengerti. Sementara Adjie terlihat menatap tak percaya kea rah Tama.


“Apa yang di lakukannya, kenapa ia menyia-nyiakan waktunya seperti ini?” gumam Adjie dalam hatinya.


Semua orang yang mendapat pesan dari Tama mengikuti perintah dari pria tua itu.


Sudut bibir Akbar tersenyum, melihat para atasan masih duduk di bangku, itu berartia ia masih memiliki satu kesempatan lagi.


“Lima belas menit” ujar Adjie.

__ADS_1


“Kami akan memberikan waktu lima belas menit, setelah itu sepakat atau tidak semua yang berada di ruangan ini boleh meninggalkan ruangan” lanjutnya, menegaskan.


Tama membiarkannya, ia tak menghentikan Adjie maupun Akbar.


***


Semerbak aroma harum memenuhi seisi ruangan, Indah dan Vio kini tengah berada di rangan spa yang sama. Tubuh keduanya terlihat terbaring dengan menelungkup, menerima setiap sentuhan pijatan yang di berikan oleh para pelayannya.


Sudut bibir Vio tersenyum, setelah melihat mata Indah yang terpejam. Perempuan itu, tak bisa menutupi rasa lelah dan kantuk yang menimpanya.


Ia sengaja mengajak Indah ke tempat ini agar rasa stress dan lelah yang menimpa sahabatnya bisa hilang walaupun hanya sedikit.


Kedua orang yang melayani Indah dan Vio terlihat saling melempar pandangan. Mereka sudah melakukan semua treatment sesuai dengan prosedur. Dan seharusnya sejak sempuluh menit yang lalu semuanya sudah selesai.


“Mbak, saya minta tambahan waktunya ya” ujar Vio.


keduanya semakin kebingungan dengan permintaan yang vio berikan.


“Kalian, istiraha juga aja. Saya cuman minjem tempatnya aja, kasian teman saya kayanya kecapean” lanjut Vio.


“Tolong sampaikan, Nanti saya bayar double” terusnya menjelaskan.


Keduanya mengiyakan permintaan yang Vio berikan, dan segera pergi meninggalkan ruangan.


****


Akbar menghela nafasnya, ini sulit dan jauh dari bayangannya.


Tatapan yang mereka berikan, jelas menentang keras saran yang di berikan Akbar.


Lengan Akbar mengepal, kali ini tak mungkin ia bisa mundur. Pilihannya hanya satu, maju dan terus meneruskan apa yang sudah di rencanakannya.


“Buat singkat, saja” ucap Adjie menekan Akbar.


Akbar mengangguk, mengiyakan.


Langkahnya bergerak maju, berdiri dengan yakin di bagian paling tengah.


“Terimakasih atas kesempatannya, pak” ujar Akbar berterimakasih kepada Adjie dengan membungkukkan sedikit badannya.


Adjie mengangguk, kemudian mempersilahkan Akbar untuk meneruskan ucapannya.


##


“Kok lo ngga ngebangunin gue sih vi?” tanya Indah menggerutu.


Ia segera bergegas menuruni ranjang, dengan kimono yang masih terpasang di bajunya. Sementara di sisi lain terlihat Vio tengah duduk dengan memainkan ponselnha.


Lima belas menit yang lalu ia telah mengganti pakaiannya. Selanjutnya, lengannya terlihat memainkan ponsel sembari menunggu Indah yang masih tertidur.


Vio diam, tak meladeni gerutuan yang Indah berikan kepadanya.

__ADS_1


Kurang dari lima menit, Indah kembali menghampiri Vio dengan bawahan memakai celana jeans dan atasan sweater oversized.


“Ayo” ajaknya, dengan lengan yang terlihat mengambil alih tas di kursi. Lalu segera memakaikannya di belakang punggungnya.


“Abis ini mau kemana?” tanya Indah, lengannya masih terlihat sibuk merapihkan rambutnya.


“Ke toko buku, apotik terus makan” jawab Vio, menjelaskan rentetan kegiatan yang akan di lakukan keduanya.


***


Hening, suasana aula terasa sangat hening. Dalam waktu sepuluh menit Akbar telah selesai memaparkan pendapatnya. Dan kini, ia masih memiliki waktu lima menit lagi.


“Apa ada pertanyaan?” tanya Akbar, mengisi sisa waktunya.


Adjie ia melambaikan lengannya, ia sangat penasaran dengan apa yang di pikirkan Akbar.Kenapa, dia sangat berani menentang para atasannya.


“Ini bukan pertanyaan, tapi sebuah klarifikasi” ujar Adjie, mematahkan semua pendapat yang Akbar berikan.


“Apakah kamu tidak mengetahuinya? Semua staff termasuk dokter residen anak-anak magang. Kami memberikan ijin mereka masuk ke kanting 24 jam”


“Bukankan itu sudah cukup? Bahkan, di tempat ini tersedia asrama.”


“Terus kenapa kamu masih meminta lebih? dan membuat kami harus membayar mereka bukankah semua fasilitas yang sudah kami berikan lebih dari cukup?” Adjie mengakhiri ucapannya dengan sebuah pertanyaan.


Seisi ruangan kembali gaduh, berbisik menyetujui pendapat yang Adjie berikan.


“Saya tahu, tapi bukankah mereka juga memiliki kebutuhan lain?” ujar Akbar, membalas ucapan Adjie.


“Seperti Internet, transportasi dan kebutuhan untuk keluarganya” lanjut Akbar.


“Internet? di setiap sudut ruangan gedung ini sudah tersedia wifi” jawab Adjie, cepat.


“Transportasi? Kami sengaja membagun gedung asrama yang dekat dengan rumah sakit. Sehingga, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi” lanjutnya.


Akbar menghela nafasnya, rasanya buntu tapi ia juga harus tetap berfikir.


“Berhenti Akbar, tidak usah di lanjutkan lagi” tegas Adjie.


Akbar menggeleng, ia masih perlu lebih banyak waktu agar bisa berbicara dan meyakinkan pendapatnya lagi.


Adjie, beranjak dari tempatnya enggan diam lebih lama lagi.


Lengan Akbar kempali mengepal dengan kuat.


“Saya tidak mengerti kenapa, bapak sangat menentangnya” ucap Akbar.


Perkataan itu, berhasil menahan ,langkah Adjie.


Sementara orang-orang yang masih berada di ruangan menyimak, begitupun dengan Tama yang semakin tertarik dengan perdebatan yang terjadi di antara Akbar dan Adjie.


“Bukankah di Negara lain seperti singapura, swiss, Malaysia itu sudah lumrah memberikan gaji kepada para residen”

__ADS_1


“Bahkan, UU di Negara kita juga sudah menyetujui dan mengsahkannya”


“Lantas kenapa, di rumah sakit sebesar ini belum melakukannya?" Lanjut Akbar, kali ini ia mengajukan pertanyaannya dan memberi beberapa fakta.


__ADS_2