Semesta 2

Semesta 2
IFeel


__ADS_3

Degup jantung Akbar berdetak dengan hebat. Ia kembali merasakan sebuah perasaan yang sulit di artikan. Seluruh emosi yang berada di tubuhnya meluap-luap.


Ia sangat menyukainya, pekerjaan ini lah yang Akbar inginkan. Mengenakan baju santai, headband, juga celemek di tubuhnya. Mendengar pujian dan melihat orang-orang menikmati makanan yang di buatnya.


Bukan, berdiam diri di sebuah ruangan selama berjam-jam dan hanya menatap layar computer.


Lengan Akbar bergerak mengambil tiga lembar roti, meletakkannya sejajar dalam satu baris. Selanjutnya ia mengoles tipis krim di setiap helai roti masing-masing satu bagian. Ia juga menambahkan dua lembar selada yang ia lipat di atas roti yang ia letakkan di tengah, segenggam wortel dan bawang Bombay yang sudah di iris tipis di tambahkan, empat potong acar, 2 potong tomat, dan satu potong pinggiran paprika, menumpuknya secara berurutan lalu ia menutupnya dengan selembar roti. Di tumpukkan roti kedua Akbar menambahkan selembar smoke beef, selembar keju, dan satu lembar smookebeef lagi, 2 lembar kol di tambahkan sebelum ia menutupnya dengan potongan roti yang ketiga.


Setelah itu, Akbar membungkusnya dengan paper wrap yang aman untuk makanan.


Krek


Akbar membelah sandwich menjadi dua bagian dengan satu tekanan pisau.


“Satu master sandwich” ujar Akbar sebari menyerahkan pesanan ke arah Jenny.


“Wah” Jenny berdecak kagum melihat tampilan visual yang menggugah selera makannya.


“Gamau tahu, pokoknya bikinin gue yang kaya gini” ucap Jenny, memohon.


“Ok” balas Akbar, mengiyakan.


Lengan Jenny bergerak menerima nampan yang Akbar berikan kepadanya. Lalu meletakkannya di atas meja yang bersebelahan dengan computer.


Tring


Mendengar suara bel, membuat Defa memutar tubuhnya secara spontan. Ia bergerak maju mengambil pesanan.


“Meja no 3, di tambah satu kaleng soda” ucap Jenny, mengingatkan.


Defa mengangguk mengiyakan, ia mengambil nampan dengan lengan kanannya. Lalu mengambil satu kaleng cola dan meletakkannya di nampan.


Ia berjalan dengan kedua lengan yang membawa nampan secara hati-hati.


**


“Aishh” Indah berdecak kesal.


Ia tidak mengerti kenapa di hari libur seperti ini, matanya sulit sekali terpejam. Berbeda dengan saat ia jaga di rs matanya pasti selalu terkantuk-kantuk.


Bug


Indah beranjak dari tempatnya, satu perasatu kakinya menuruni ranjang secara bergantian.


“Ahhh” suara erangan keluar dari mulutnya.


Selanjutnya, suara hentakan telapak kaki terdengar berjalan ke arah luar kamarnya.


Indah mengarahkan tubuhnya, bergerak menuju dapur.


Tap

__ADS_1


Lengannya membuka kulkas dengan pandangan yang terlihat tidak focus. Kurang dari lima detik, Indah kembali menutup pintu kulkas lupa dengan apa yang akan di ambilnya.


Indah terdiam, melamun di depan kulkas.


Lima menit berlalu, lengannya kembali membuka kulkas. Kali ini, ia tahu apa yang akan di ambilnya. Indah mengeluarkan satu botol air mineral, membuka tutupnya dengan cepat ia meneguk seperempat air dari dalamnya membasahi tenggorokkannya yang kering.


Bola mata Indah bergerak menatap ke arah kulkas. Memeriksanya dan menyadari bahwa seluruh isi kulkasnya terlihat kosong dan tidak banyak menyisakkan persediaan.


“Ok, mari berbelanja” ucap Indah berbicara sendiri, nada suaranya terdengar malas.


Tubuh Indah kembali berpindah, kali ini ia duduk di depan meja kasir.


Srrtt


Indah membukanya, dari dalam terlihat beberapa tumpukan amplop yang belum di bukanya.


Satu minggu terakhir Indah belum sempat memeriksa pendapatan hariannya dari kafe.


Lengannya bergerak membuka satu persatu amplop yang berisi uang dengan laporan struk harian dari penjualan kafenya.


Bagian mata, mulut dan lengannya bergerak secara bersamaan memeriksa setiap lembar uang. Memastikannya sama dengan laporan akhir keuangan dan memindahkannya ke dalam buku besar yang Indah siapkan untuk mencatat keuangannya.


Tak lama setelahnya, terlihat Indah kembali memisahkan satu persatu uang menyamakan dengan nilai rupiah agar lebih mudah saat melakukan pembayaran.


Indah juga memeriksa uang yang masuk ke dompet digital kafe. Di era teknologi yang maju ini, tak ayal banyak sekali pelanggan yang membayar menggunakan dompet digital, mentransfer dan memindai barcode dengan mudah.


Memindahkan penghasilan dari dompet digital, ke akun rekening bank miliknya agar ia bisa berbelanja mengisi ulang beberapa persediaan yang sudah dan hampir habis.


Tubuhnya kembali beranjak, berjalan menuju gudang. Mencatat beberapa barang yang harus di belinya.


Kehidupan yang Indah jalani benar-benar sibuk, hingga tak ada waktu untuk meratapi nasibnya.


##


Suasana hati Akbar benar-benar baik. Sejak tadi senyumnya terlihat semakin mengembang.


Dengan cepat ia membuat pesanan demi pesanan yang masuk ke dapurnya menyelesaikannya secara tepat sesuai dengan resep yang sudah di buatnya.


Baru dua jam ia buka, tapi dua menu sandwichnya sudah terjual habis.


“Habis?” tanya Jenny.


Akbar menganguk, mengiyakan.


“Hanya tinggal sandwich ori sekitar lima porsi lagi” ujar Akbar, memberitahu situasinya saat ini.


“Lima lagi?” tanya Jenny, memastikan.


Akbar mengangguk dengan cepat.


“Wahhh” Jenny kembali berdecak kagum. Tak percaya dengan hal yang di alaminya. Kurang dari empat jam ia sudah menjual hampir 150 porsi sandwich club.

__ADS_1


“Kalau begitu, saya pesan semua menu yang masih tersedia” ujar seorang pelanggan yang mendengar percakapan mereka.


Mata Jenny membelalak, ia tak bisa menyembunyikan perasaannya.


“Lima porsi sandwich ori?” ucap Jenny mengulang pesanan.


Pria itu mengangguk mengiyakan.


“Tambahan minumannya pak?” tanya Jenny berbicara sopan.


“Lima kaleng minuman soda putih” ujar pria itu menambahkan pesanannya.


“Baik, silahkan di tunggu pesanannya.” balas Jenny.


##


Bug


Defa menjatuhkan tubuhnya di kursi, bagian kakinya terasa sangat pegal karena harus berjalan bolak-balik untuk mengantarkan pesanan.


Bagian belakang bajunya terliihat basah, karena keringat.


“Aaah” ujar Defa mengerang.


Beberapa detik kemudian, Jenny ikut duduk di sebuah meja yang berhadapan dengan Defa. Sama seperti yang Defa rasakan, kaki Jenny juga terasa pegal karena harus berdiri dalam waktu yang lama.


Akbar memerhatikan keduanya, kedua mata mereka terpejam dengan kepala yang mereka sandarkan di atas meja.


Sepuluh menit kemudian


Tap


Akbar


meletakkan nampan di atas meja. Hal itu, membuat keduanya beranjak.


“Waaah” seru Defa dan Jenny bersamaan. setelah melihat enam potongan sandwich yang akbar siapkan untuk keduanya.


“Bukannya udah habis?” tanya Jenny.


Akbar menggeleng, ia sengaja menyisakan 3 porsi sandwich dengan masing-masing satu menu.


“Ini beneran ngga papa? yang jual makanan, makan yang di jualnya?” tanya Defa polos.


Akbar mengangguk, mengiyakan.


Tring


Akbar, Defa dan Jenny terlihat bersulang dengan satu kaleng minuman bersoda yang berada di masing-masing lengannya.


Ketiganya terlihat meneguknya secara bersamaan, diikuti dengan satu suapan sandwich gang masuk ke dalam mulutnya. Menikmati waktu senggang mereka dengan mencicipi makanan yang Akbar siapkan.

__ADS_1


__ADS_2