
Tiga jam menuju waktu buka kafe.
Indah membiarkan tubuhnya terbaring di ranjang, kedua kakinya terangkat besandar ke arah tembok.
Bruk
Icha ikut terbaring di sisi Indah. Kedua lengannya merangkul tubuh Indah ke dalam pelukannya.
“Wahh gila kangen banget gue ndah” ujar Icha, seperti sudah jauh lama dari Indah.
"Apaan sih Cha” balas Indah merasa geli. Lengan Indah berusaha keras melepas pelukan Icha dari tubuhnya. Semakin kuat Indah melepas, semakin erat Icha memeluknya.
“Sebentaaaaaaar aja, ndah” pinta Icha, pelukan yang Icha brikan memiliki banyak arti.
“Kerja bagus Ndah. Apapun yang lagi lo hadapin sekarang gue harap lo tetap kuat dan bertahan. hingga semua masalah itu berhasil lo lewatin” gumam Icha dalam hatinya. Telapak lengannya mengusap-usap punggung Indah.
Indah membiarkannya, kali ini tak ada perlawanan yang Indah berikan untuk menolak Icha. Perlakuan yang Icha berikan terhadapnya membuat Indah kembali mengingat hal yang melukainya kemarin.
“Nggak ndah, jangan nangis sekarang” ucap Indah, menguatkan hatinya.
Beberapa menit kemudian.
Icha melepas pelukan, keduanya terlihat berbaring dengan bola mata yang menatap ke arah langit-langit.
“Ndah gue mau tanya ini, boleh?” ujar Icha.
Indah menoleh, lalu menganggukkan kepalanya.
“Soal Akbar” lanjut Icha, ia merasa penasaran.
“Dia, ngga nge distract kerjaan lo kan?” Icha mengajukan sebuah pertanyaan dengan hati-hati.
Indah menggelengkan kepalanya, kehadiran Akbar di rs sama sekali tidak mengganggunya. Di hadapan orang lain ia pandai menyembunyikan perasaannya. Sehingga tak ada seorang pun yang mengetahui hubungan yang pernah terjalin di antara keduanya.
“Ndah, lo denger gue kan?” tanya Icha memastikan.
Indah mengangguk, ia mendengarnya dengan jelas. Namun, ia tak tahu harus menjawabnya seperti apa.
“Dia professional banget Cha” ujar Indah terdengar seperti memuji Akbar.
“Ngga hanya gue, tapi dia juga pandai menyembunyikan segala rahasia tentang kehidupannya” lanjut Indah.
dahi Icha megernyit.
“Apa ini? apa perasaan Indah sekarang sudah berubah?” tanya Icha di dalam hatinya.
Indah kembali menoleh, ia melihat dengan jelas tatapan bingung yang tersorot dari mata sahabatnya.
“Ngga, dia ngga ganggu gue kok Cha” ujar Indah mempersingkat penjelasannya.
__ADS_1
“Entah kenapa, beberapa hari terakhir kayanya dia sengaja ngejauh dari gue” ujar Indah, ia tak bisa menahan hal yang Ingin di ucapkannya.
Icha masih mendengarkan, menyimak hal yang Indah ucapkan kepadanya.
“Kenapa, emangnya?” tanya Icha ebih penasaran.
Indah menggeleng, menolak menjawab atas pertanyaan yang Icha berikan kepadanya.
Semuanya terasa semakin rumit,
kedatangan Akbar tidak mengganggunya tapi mampu memanggil kenangan lama yang pernah terjalin di antara keduanya.
Melihat sikap Akbar yang seolah mengabaikannya, entah kenapa mengusik hati Indah dan membuatnya merasa kurang nyaman.
Beberapa hari terakhir, Indah tak pernah mendapat senyuman hangat yang selalu Akbar berikan kepadanya.
Tidak, itu terlalu jauh. Bahkan sekarang Akbar terlihat menghindari kontak mata yang ia berikan. Setiap keduanya bertemu di satu tempat akbar selalu pergi dengan cepat meninggalkan Indah di tempatnya.
Kali ini nalurinya bergerak, Indah tidak bisa menutupi perasaannya lagi.
“Cha kalau lo mau pulang-pulang aja” ujar Indah, tiba-tiba.
Dahi Icha mengernyit, tak mengerti maksud ucapan Indah yang terdengar acak di telinganya.
“Kenapa Indah menyuruhnya pulang? padahal ia belum se jam berada di tempat ini?” gumam Icha.
“Sekalian ajak Fadly sama Dira. Hari ini, mending kalian jalan-jalan atau istirahat aja” lanjut Indah menambahkan.
“Gapapa, lo ngga usah khawatirin soal kafe. Kayanya hari ini gue, mau tutup dulu aja” ujar Indah meyakinkan.
“Lo yakin ndah?” tanya Icha, ia merasa kurang yakin. Bukankah, saat ini Indah juga sedang membutuhkan banyak uang? kenapa ia harus menutup kafenya? padahal omset di hari minggu biasanya lebih tinggi dari hari-hari biasa.
Indah mengangguk, yakin.
“Beneran nih?” tanya Icha, kembali memastikan.
“Iya, cepat sana” ujar Indah membujuk Icha agar pergi lebih cepat dari kafenya.
Icha beranjak dari tempatnya, berjalan keluar dari kamar Indah.
Kurang dari lima detik, ia kembali membuka menatap Indah dari ambang pintu. Lewat tatapannya, ia kembali memastikan keadaan Indah.
Indah tersenyum, setiap pergerakan kecil dari Icha terlihat lucu.
“Pulang yuk Fad” ajak Icha kepada suaminya.
“Hari ini kafe tutup” lanjut Icha menjelaskan.
Fadly membalasnya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
Lengannya bergerak menahan lengan Iha yang berjalan melewatinya.
“Dia kenapa? ada masalah baru lagi?” tanya Fadly, membuat sebuah asumsi.
icha menggeleng pelan.
“Biarkan dia beritirahat” ucap Icha mengakhiri perbincangannya dengan Fadly. Ia tak ingin bicara lebih lama di tempat itu karena takut jika Indah akan mendengarnya.
**
trek
Pintu kamar Indah kembali terbuka.
Indah menoleh, dari tempatnya terlihat bagian atas tubuh Fadly muncul dari belakang pintu.
“Gue pulang ya?” ucap Fadly, berpamitan.
Kepala Indah mengangguk, mengiyakan.
“Kalau lo butuh bantuan, langsung telpon aja!” lanjutnya, memberi catatan.
Indah kembali menganggukkan kepalanya, membalas ucapan Fadly.
“Ndah” panggil Fadly, lembut.
Indah menatapnya, ia tahu bahwa kedua sahabatnya merasa khawatir. Namun, kali ini Indah benra-benar ingin sendiri.
“Jangan lupa kunci pintunya!!” tegas Fadly, mengingatkan.
“Iya fad, iya!!” jawab Indah dengan mengacungkan jempol kea rah Fadly.
Tak lama setelahnya, Fadly berjalan keluar meninggalkan Indah di kamarnya.
Sama seperti yang Icha rasakan, Fadly juga merasa khawatir dengan keadaan Indah. Dia bukan hanya sekedar atasan untuk Fadly. Lebih dari itu, ia sudah menganggapnya seperti kakaknya.
Indah juga salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya. Di tengah tuntutan kehidupan yang tengah Fadly alami, Indah membantunya menawarkan pekerjaan di kafe. Di tempat ini ia bertemu dengan Icha, Indah dan Akbar berhasil membuat Fadly yakin untuk memilih Icha sebagai pelabuhan terakhirnya, di tengah perasaan Indah yang tengah terluka saat itu. Indah tetap membantunya menyiapkan sebuah pesta pernikahan antara ia dengan Icha.
Bahkan, Indah mendanai sebagian biaya pernikahannya.
Melihat Indah yang tengah kesulitan, membuat Fadly ingin membantu dan meringankan bebasnya. Meskipun, ia tak tahu bagaimana caranya?
“Huh” helaan nafas terdengar keluar dari mulut Indah.
Ia memejamkan matanya, berusaha tertidur agar semua pikiran-pikiran aneh yang ada di dalam kepalanya ikut hilang.
Hari ini, hari pemulihan untuk Indah.
Ia akan membiarkan tubuhnya beristirahat tanpa perlu terpaku pada hal yang jauh dari kendalinya.
__ADS_1
Semua masalah yang menghampirinya, untuk sebentar saja Indah akan membiarkannya. dan fokus membahagiakan dirinya sendiri. Dengan memakan makanan favoritnya, menonton marathon setiap episode drama yang tertinggal atau sekedar memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terjaga beberapa hari terakhir.
“Hanya untuk hari ini, ia akan melakukan apa yang membuatnya bahagia” setidaknya, itu hal yang terpikir oleh Indah.