Semesta 2

Semesta 2
Den


__ADS_3

“Ndah” panggil Vio, setelah melihat Indah yang terngah berjalan di lorong rumah saki sendirian.


Sudut bibir Indah tersenyum, melihat kehadiran Vio yang tengah melambai-lambaikan lengan ke arahnya. Di sebelah kanan dan kirinya terlihat Dian dan Vina yang juga merupakan teman satu stasenya.


Indah mempercepat langkahnya, menghampiri ketiganya dengan perasaan yang bergembira.


Sebentar lagi, ia akan kembali di pindah tugaskan ke stase yang lain. Hal itu pula menjadi tanda bahwa ada kemungkinan besar kalau mereka akan berpisah dan jarang bertemu karena jadwal yang tidak sesuai.


Tring


tring tring


Suara ponsel bordering, sebuh notifikasi pesan masuk secara berurutan.


Indah mengernyitkan dahinya, melihat ketiga temannya yang serempak berhenti dan dengan kompak menatap kearah layar ponsel.


“Liat apaan sih?’ tanya Indah dalam hatinya.


“Wahhh daebak” ujar Vina berseru kagum.


Indah diam, semakin tak mengerti dengan reaksi berlebihan yang Vina berikan.


“Lo nggak bawa hp Ndah?” tanya Vio.


Indah mengangguk, mengangguk mengiyakan.


“Ada apa sih?” balas Indah dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Lengannya terlihat meraih ponsel milik Vio.


Dug


Satu pukulan tepat mengenai hati Indah dan membuatnya tak bisa berkata-kata, setelah melihat gambar yang menunjukkan kedekatan antara Jenny dengan Akbar di sampingnya. Laki-laki itu terlihat memberinya sebuah buket bunga juga beberapa hadiah dari brand ternama.


Dari sudut matanya, Vio bisa melihat Indah yang terlihat kurang nyaman dan terus mengeluarkan helaan nafas kasar dari mulutnya.


Seolah memberi tahu, bahwa ada perasaan yang mengusiknya.


Indah menggeleng pelan, entah kenapa ia tidak bisa menerima realita yang menyapanya.


“Kira-kira mereka ada hubungan apa yah?” tanya Dian, polos.


“Emangnya lo tahu dia siapa?” balas Vio.


“Lo ngga tahu Vi?” tanya Vina memotong ucapan Vio.


Vio mengangguk, mengiyakan.


“Dia pak Akbar, wadir yang baru” balas Dian, menjelaskan.


Vio mendengus kesal, bukan itu yang ingin di ketahuinya, Melainkan seorang perempuan yang kini tengah bersama dengan Akbar.


“Kalau yang ceweknya, dia salah satu cucu pemilik RS ini” jawab Vina, memberikan jawaban atas pertanyaan yang tersirat dari sorot mata Vio.

__ADS_1


Mulut Dian menganga, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Vio kembali menatap ke arah Indah, entah kenapa perasaannya mengkhwatirkan keadaan Indah.


“Mereka ngapain yah? propose?” lanjut Dian bertanya semakin penasaran.


Indah menelan ludahnya, membasahi tenggorokkan yang terasa sangat kering.


“Mungkin aja” balas Vina, santai.


Indah kembali menggelengkan kepalanya, pelan. Ia berharap itu tidak benar.


Kali ini, indah benar-benar tidak mengerti dengan pikiran yang Akbar tuju. Setiap perkataan dan tindakan yang Akbar berika selalu mengaisyaratkan kalau semua itu benar, dan tidak seharusnya Indah merasa ragu.


Tapi, sekarang apa lagi?


Kenapa Akbar selalu memberi kejutan-kejutan yang tidak masuk akal dan tidak mudah di mengerti oleh Indah.


Perasaan yang kini Indah rasakan, berantakan.


Ia tidak tahu harus mengendalikannya seperti apa


.


Apa yang Akbar lakukan beberapa tahun lalu masih menyisakan rasa marah dan kesal yang menumpuk di hati Indah dan membuat ia tidak bisa menerimanya dengan mudah.


Ada banyak ketakutan yang Indah rasakan. Setiap kali ia bersama dengan Akbar ada perasaan yang mengatkan bahwa ini tidak benar dan Akbar pasti akan kembali meninggalkannya.


Namun, mendengar Akbar bersama dengan wanita lain juga tetap menggoreskan luka dan mengusik hati Indah. Seolah, ia tidak siap untuk menerimanya.


Bola mata Jenny terus bergerak memperhatikan setiap pergerakan kecil yang Akbar buat.


Dua jam setelah foodtruck buka, pria itu terlihat banyak kehilangan tenaganya. Biasanya setelah menyelesaikan pesanannya Akbar selalu berkeliling untuk meminta pendapat dari para pengunjung. Namun, malam ini ia terlihat sangat kelelahan.


Setelah menyelesaikan pesanan, terlihat ia yang langsung duduk dan terus meneguk air mineral miliknya. Pandangan matanya juga terlihat kosong, beberapa kali lengannya terlihat menekan bagian perutnya.


“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Jenny dengan langkah yang terlihat mendekat ke arah Akbar.


Akbar mengangguk, dengan mengacungkan ibu jari lengannya. memberi tanda bahwa ia baik-baik saja.


Jenny menggeleng, tak percaya dengan jawaban yang Akbar berikan kepadanya. Jelas ada hal yang di sembunyikan oleh pria itu.


kantung matanya terlihat begitu gelap, bagian bibirnya yang kering pecah-pecah juga wajahnya yang semakin pucat.


“ Ayo, ke rumah sakit” ajak Jenny, mengusulkan.


Akbar berdeccak kesal, tak suka dengan usulan yang Jenny berikan kepadanya.


“Gue baik-baik aja, OK?” jawab Akbar, menolak dengan tegas.


Tak lama setekahnya, terlihat Akbar beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


“Duduk” ujar Akbar memberi Perintah agar Jenny duduk di kursinya.


“Sekarang giliran aku, yang tanya!” lanjut Akbar, menekan nada suaranya.


“Soal Bisnis yang udah kamu buat kemarin. Udah sampai sejauh mana?” tanya Akbar.


Jenny terdiam, ia tak bisa menjawab. Setelah menyelesaikan sidangnya, entah kenapa ia merasa buntu dan tak tahu harus memulai dari mana.


“I don’t have idea…” balas Jenny, singkat.


Selanjutnya, helaan nafas terdengar keluar dari mulutnya.


“Why?” tanya Akbar.


“Gak tahu, Stuck aja” balas Jenny menjawab pertanyaan Akbar tanpa banyak berfikir.


Dahi Akbar mengernyit.


“Bukannya kemarin tinggal jalan aja? kenapa sekarang tiba-tiba stuck gini?” ujar Akbar, kesal.


“Ya aku juga ngga tahu, bar” balas Jenny, menekan nada suaranya.


“Kamu pikir mulai bisnis itu gampang. Nggak kan?” lanjutnya.


Akbar mengangguk setuju dengan ucapan yang Jenny berikan.


“Ya emang nggak gampang, tapi kan bisa di mulai dulu”


“Biar nanti tahu, dimana kurangnya apa yang harus di benahin lagi” ucap Akbar mengatakan apa yang ada di pikirannya.


Jenny menghela nafasnya, ia benar-benar tidak suka dengan topic pembicaraan yang Akbar bahas. Tentu saja ada rasa takut gagal yang di miliki Jenny. Apalagi hasil kerjanya tidak hanya akan di lihat olehnya, melainkan oleh keluarga besarnya juga. Orang-orang yang sangat tertarik mendengar cerita tentang kegagalan dan mudah iri jika mendengar cerita tentang kesuksesan.


“Yaudah santai aja sih.” balas Jenny.


“Lagian aku juga baru selesai sidang, wajar aja kan kalau mau istirahat dulu” lanjutnya menggerutu.


Akbar mengusap wajah dengan kedua lengannya, ia tak habis fikir kenapa Jenny masih ingin bermain-main, padahal usianya juga sudah tidak muda lagi.


“Mau sampai kapan? kamu kan ngga bisa terus-terusan kaya gini?” tanya Akbar.


Bola mata Jenny membelalak, pertanyaan yang Akbar berikan melukai hatinya.


“Kamu tuh kenapa sih? kayaknya ke ganggu banget sama kehadiran aku?” balas Jenny, merasa penasaran.


“Bukan gitu” ucap Akbar, memotong.


“Makasih Jen atas semua bantuan yang kamu kasih. Tapi aku juga mau liat kamu berkembang terus sampai kamu bisa berdiri di mimpi kamu” lanjut Akbar menjelaskan.


“Aku cuma ngga suka aja, liat kamu stuck disini. Padahal, kamu bisa buat hal yang lebih baik, bagus dan keren dari ini” ujarnya, dengan lengan yang terlihat menyentuh kea rah celemek yang Jenny pakai.


“Denger ya bar, ini hidupku.

__ADS_1


Dan kamu ngga ada sedikit hak pun buat terlibat di setiap keputusan yang aku ambil, Jadi terserah aku mau ngelakuin apa aja.


Selama itu ngga nyakitin orang, aku akan tetap di atas keputusan yang aku buat.” ujar Jenny mengakhiri pembicaraannya dengan Akbar.


__ADS_2