Semesta 2

Semesta 2
Rainy days


__ADS_3

5 jam berlalu.


Berkat obat yang Indah berikan, Akbar bisa tertidur lelap tanpa harus kembali bangun untuk bolak balik ke kamar mandi.


Kedua mata Akbar terbuka perlahan.


Kepalanya menoleh ke sebelah kanan, menatap ke arah jendela yang menunjukkan langit yang tertutupi dengan awan mendung.


“Indah” gumam Akbar dalam hatinya, mengingat ia meminta untuk Indah menunggunya.


tidak sesuai dugaannya, Akbar tidur terlalu lama.


“Jangan-jangan dia udah pulang?” tanya Akbar kepada dirinya sendiri.


Tap


telapak kaki Akbar menapak di lantai. Untuk beberapa saat ia terdiam, mengumpulkan seluruh tenaganya. Tak lama kemudian, terlihat ia yang memasangkan kupluk hoodie di kepala agar bisa menutupi rambutnya yang berantakan.


Lengannya kembali bergerak meraih kantung labu Infus, membawanya.


Trek


Langkah kaki Akbar terhenti tepat di hadapan pintu.


Sudut bibir Akbar tersenyum lebar, setelah melihat Indah yang masih berada di tempatnya. Perempuan itu terlihat berbaring meringkuk di sofa dengan wajah yang tertuju ke arah televisi.


Akbar mengalihkan pandangannya, melihat ke arah televise.


Ia penasaran, acara apa yang Indah tonton?


“Variety show?” gumam Akbar, setelah melihat cuplikan video yang tayang di tv menunjukkan tiga orang comedian yang tengah mengajukan celetukan secara bergantian.


“Kenapa, belum ganti Ndah?” gerutu Akbar melihat scrub rumah sakit yang masih terpasang di tubuh Indah.


Tubuh Akbar mematung, menyadari pergerakan yang Indah buat. Kedua lengannya terangkat, kemudian ia simpan di antara ketiaknya mengatasi rasa dingin yang menerpa tubuhnya.


Langkah kaki Akbar berputar, mengubah posisi tubuhnya. Lalu, ia kembali ke dalam kamarnya.


Kurang dari satu menit, ia kembali dengan lengan yang membawa satu kain berukuran panjang, juga sebuah selimut.


Akbar melangkahkan kakinya, mendekati Indah secara perlahan.


Brush


Ia membentangkan selimut, agar bisa membaluti tubuh Indah yang terlihat kedinginan.


Tak lama setelahnya, terlihat juga ia mengambil remote televisi untuk mengecilkan volumenya agar tidak terlalu berisik. Tak hanya itu, Akbar juga terlihat menaikkan suhu AC agar tidak terlalu dingin.

__ADS_1


Trek


Langkah selanjutnya, Akbar menekan panel yang membuat gorden tertutup menutupi derasnya rintikan hujan yang turun dari langit.


Untuk beberapa saat ia terdiam, dengan pandangan yang masih tertuju kepada Indah.


“Melihat kamu berbaring disini, Rasanya seperti mimpi” gumam Akbar. Melihat Indah ada di kediamannya, adalah hal yang mustahil yang isa Akbar harapkan.


“Sebenarnya, ada hal apa yang bawa kamu ke tempat ini?” lanjutnya, bertanya kepada dirinya sendiri.


“Apa karena kebijakan yang baru itu?”


“Lalu, apa kamu juga akan ikut menentangnya?” terusnya, sembari mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru yang terlintas di kepalanya.


“Huh” helaan nafas berat terdengar.


Akbar tidak mengerti, kenapa tubuhnya semakin mudah kelelahan. Ia berdiri kurang dari lima menit, namun detak jantung nya kembali berdetak dengan cepat, bagian belakang kepalanya terasa sangat berat, belum lagi rasa perih dan panas di perutnya yang menimbulkan rasa mual naik ke atas dadanya.


Bruk


Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dengan nafas yang terengah-engah ia berusaha menahan rasa sakit yang terus menyerangnya. Lengan Akbar bergerak menggantungkan kantung labu Infus di kenop pembuka laci yang berada di sampingnya.


satu menit kemudian, terlihat Akbar yang mengubah posisi tubuhnya.


Berbaring di sofa dengan sebuah kain yang ia pakai untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


“Ahhh” suara rintihan kembali terdengar, Akbar berusaha tak mengeluarkan sekecil apapun agar tidak membangunkan Indah yang terlihat begitu kelelahan.


****


Suara rintikan hujan yang mengenai kap mesin mobil milik Jenny yang kini terhenti di pertigaan lampu merah. Jari jemarinya terlihat mengetuk-etuk setir mobil, menunjukkan betapa gugupnya dia.


Kurang dari lima jam, ia telah menyelesaikan dua pertemuan pentingnya. Meskipun begitu, rasa gugup dan cemas masih datang menghantui Jenny apalagi kali ini ia melakukannya tanpa bantuan dari Akbar.


“Huh” helaan nafas terdengar keluar.


Pandangannnya beralih menatap ke arah jendela mobil, rintikan deras hujan masih bercucuran dari langit yang sudah berubah menjadi warna hitam pekat.


Rasanya sulit menghadapi beberapa orang tanpa bantuan Akbar. Biasanya dia selalu berada di samping Jenny dan memperhatikannya agar tidak membuat kesalahan se kecil apapun. Namun, kali ini terasa berbeda.


Setelah kejadian beberapa malam yang lalu, rasanya terlalu canggung untuk Jenny kembali meminta bantuannya. Tidak hanya itu, sakit yang Akbar derita juga membuat Jenny memutuskan untuk melakukan semuanya sendiri.


Saat ini ia sedang menuju ke tempat lain untuk bertemu seorang vendor lagi. Ia harus bekerja lebih keras untuk bisa memenangkan tender. Dengan itu, ia tidak perlu meminta bantuan dari ayah maupun kakeknya.


Ia tidak ingin terlalu menggantungkan hidupnya di antara kakek maupun ayahnya itu yang Jenny pikirkan.


Baik atau buruk hasil yang ia usahakan, Keluarganya pasti akan terus memberi pujian tanpa membuat penilaian yang lebih objektip. Karena itu pula, Jenny tidak ingin melibatkan keduanya di sebuah pilihan yang dia ambil.

__ADS_1


###


20.17 wib


“Ahhh” suara erangan kembali terdengar keluar dari mulut Akbar.


Perlahan ia merubah posisinya menjadi duduk dengan keadaan yang masih belum sadar sepenuhnya.


Setelah tiga jam tertidur, rasa sakit yang menyerangnya kini mulai mereda dan berangsur membaik.


Dahi Akbar mengernyit, menyadari ada sesuatu yang aneh.


Bola matanya bergerak menyusuri bagian lengannya.


“Sudah selesai?” tanya Akbar dalam hatinya, melihat infusan yang sudah tidak berada di lengannya lagi. Di bagian punggung lengannya terlihat selembar plester menutupi lubang bekas jarum.


Tiga detik kemudian, Akbar menoleh ke sebelah kiri ke arah sofa.


“Kemana dia?” tanya Akbar di dalam hatinya, menyadari Indah yang sudah tidak berada di tempat ini.


Tap


Akbar beranjak, bola matanya mengitari setiap sudut ruangan mencari jejak Indah.


“Belum pulang kan?” terus Akbar bertanya kepada dirinya sendiri.


Kaki Akbar melangkah dengan cepat berjalan menuju ke sebelah kiri dari pintu masuk apartemen yang menunjukkan pintu kamar Jenny berada disana.


Langkah kakinya terhenti, tepat di depan pintu.


tuk tuk


Akbar mengetuk pintu, berjaga-jaga jika Indah berada disana.


Namun, nihil tak ada sautan yang terdengar dari dalam.


Selanjutnya, terlihat Akbar yang menelan ludahnya bersamaan dengan lengannya yang menyentuh kenop pintu.


Trek


Pintu terbuka, Tubuh bagian atas Akbar terlihat condong masuk, bola matanya bergerak memperhatikan setiap sudut kamar yang terlihat masih sama seperti belum tersentuh.


Pandangannya beralih menuju ke arah kamar mandi yang terletak di paling ujung. Hening tak ada suara kehidupan pun disana.


Akbar menggeleng, merasa kecewa karena Indah pergi begitu saja tanpa memberi tahunya.


Trek

__ADS_1


Lengan Akbar bergerak menutup pintu kamar dengan berhati-hati. Tak bisa di pungkiri ada rasa sedih yang menggeluti hatinya. Seharusnya ia tidak tertidur nyenyak, dengan itu setidaknya ia bisa menyiapkan makan malam untuk Indah sebelum ia benar-benar pergi.


__ADS_2