Semesta 2

Semesta 2
Lunx


__ADS_3

Prang


Indah meletakkan nampan secara kasar di atas meja. Raut wajahnya terlihat muram dan masam.


Tak bisa di pungkiri bahwa ada rasa malu yang menyelimuti hati Indah. Di lift tadi tidak seharusnya ia melontarkan kata-kata yang menyudutkan Akbar.


Pasti sekarang Akbar sedang menertawakannya


pikir Indah.


Mulut Indah terbuka, melahap tiap suap sendok yang masuk ke dalam mulutnya. Mau bagaimanapun perasannya, ia tetap harus mengisi ulang tenaganya. Jam jaganya masih panjang Indah perlu berada di rumah sakit hingga besok siang.


Selanjutnya, helaan nafas keluar dari mulutnya.


Glek


Indah meneguk segelas air mineral, membasahi tenggorakkannya yang terasa sangat kering.


Keadaan hati dan pikiran Indah berseberangan. Logikanya memeinta Indah agar terus focus pada apa yang harus di selesaikannya.


Sementara hati Indah merasa bingung, Kedatangan Jenny entah kenapa membuat hatinya terusik dan kembali mempertanyakan hubungannya dengan Akbar.


"Jika ia memiliki hubungan dengan Jenny, kenapa Akbar masih berusaha mendekatinya. Bahkan, ia terlihat seperti penguntit." ujar Indah bertanya kepada dirinya sendiri.


***


Tring


Suara dentingan dari piring dan garpu yang saling bertautan mengisi keheningan yang terjadi di antara keduanya.


Bola mata Jenny menatap ke arah Akbar, ia menahan perkataan yang sudah berada di ujung lidahnya.


Menurut jenny ini bukan waktu yang pas untuk ia membicarakannya.


Sejak tadi Akbar terlihat berusaha membangun mood nya agar tidak berantakkan, Padahal jauh sebelum itu Jenny sudah mengetahui kekacauan yang Akbar buat di rumah sakit.


Kini, Keduanya terlihat berada di sebuah restoran dengan nuansa barat. Sudah lebih dari satu jam keduanya menikmati pelayanan yang restoran berikan. Dan ini, menu ketiga yang tengah mereka santap.


Pandangan Jenny beralih, menatap ke arah sebuah buket bunga yang di penuhi dengan warna kuning dan ungu lilac, satu godie bag berukuran besar dan juga sebuah pancake secara bergantian.


Semua hadiah itu Akbar berikan kepadanya untuk menyelamati sidang Jenny yang telah selesai dan secara resmi ia telah menambahkan gelar magister di belakang namanya.


Jenny merasa bersyukur memiliki Akbar disisinya, ia bukan hanya seorang teman tapi ia juga seorang mentor dan disaat bersamaan ia juga menjadi pendukung pertama untuk Jenny. Berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, Akbar selalu menghargai keputusan yang Jenny ambil dan juga ia selalu membantunya.


Glek


Akbar membasuh tenggerokkannya dengan segelas air mineral.


“ Kamu baik-baik aja kan?” tanya Jenny, memastikan kondisi Akbar. Setelah menyadari, pria itu tidak menyentuh gelas wine nya.

__ADS_1


Akbar mengangguk, mengiyakan. Ia menyembunyikan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang perutnya.


Dahi Jenny mengernyit, menyadari ada yang aneh.


Sejak tadi Akbar terlihat terus menghela nafasnya, berbeda dari biasanya kali ini Akbar terlihat kesulitan menghabiskan makanannya. Tak ada omelan yang Akbar keluarkan untuk mengingatkannya. Hari ini, ia terlihat lebih diam sekaligus gelisah.


“Apa makanan disini tidak sesuai dengan seleranya?” tanya Jenny dalam hatinya.


Bola mata Jenny bergerak menghindar dari tatapan yang Akbar berikan kepadanya.


Drrrt drrrt


Ponsel Akbar bergetar.


Indah, nama itu tertera di ponselnya.


Sudut bibir Akbar tersenyum, ini panggilan pertama yang Indah lakukan untuknya setelah beberapa tahun.


“Sebentar” ujar Akbar, kemudian ia beranjak dari tempatnya dan menjauh.


“Sejak kapan Indah menyimpan nomor ponselnya?” tanya Akbar, bersemangat.


Ia terlihat mendekatkan ponsel ke telinganya.


“Maaf, ini dengan siapa ya?” tanya Akbar, setelah sambungan telpon tersambung.


Kurang dari tiga detik, terdengar suara Indah yang berdecak kesal.


“Ini gue Indah” ujar Indah, memperkenalkan dirinya.


Akbar mengangguk, mengerti. Jelas ia sudah tahu itu panggilan dari Indah dan sudah sejak lama, ia menyimpan nomor perempuan itu di ponselnya.


“Kunci mobil lo, masih gue pegang” ucap Indah, mengingatkan.


“Mau gue taruh di meja kerja lo?” lanjut Indah, memberi saran.


Akbar menggeleng, tak setuju dengan saran yang INdha berikan kepadanya.


“Ngga usah, simpan aja di kamu” balas Akbar dengan cepat dan meminta Indah agar tetap menyimpannya.


“Kamu jaga sampai besok siang kan?” tanya Akbar, memastikan.


Indah mengangguk, mengiyakan dengan perasaan yang terlihat penasaran kenapa Akbar mengetahui jadwalnya?.


“Apa ia sengaja mengingat setiap jadwalnya?” tanya Indah dalam hatinya.


"Tidak mungkin, bukan? rasanya terdengar sangat berlebihan.” lanjut Indah bergumam.


“Yaudah, kamu simpan aja”

__ADS_1


“Lagian aku juga udah di perjalanan pulang dan besok aku bisa berangkat pakai taxi” lanjut Akbar menjelaskan rencananya.


Indah terdiam, ia tak tertarik dan tak ingin tahu apa yang akan di lakukan pria itu. Hanya saja masih menyimpan barang dan menerima bantuannya, entah kenapa membuat Indah sangat terganggu.


Setelah panggilannya terputus, Akbar segera memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


Senang, itu yang kini ia rasakan. Setidaknya sekarang Indah sudah mau menghubunginya.


“Sudah selesai?” tanya Akbar, melihat Jenny yang terlihat sibuk memainkan ponselnya.


“Iya, Mau berangkat sekarang?” tanya Jenny.


Akbar mengangguk, mengiyakan.


Waktu yang ia miliki dengan Jenny sangat sedikit, ia sengaja menyempatkan untuk menikmati makan bersama sebelum kembali membuka usahanya.


Lengan Akbar bergerak meraih buket dan godie bag yang di berikannya.


“Mau gue yang bawa?” tanya Jenny, menawarkan diri.


Akbar menggeleng, dan tak mengindahkan tawaran yang Jenny berikan.


Dengan senang hati, Jenny menerima perlakuan istimewa yang Akbar berikan kepadanya hari ini.


##


Tap


Langkah kaki Jenny terhenti, mulutnya terperangah setelah menyadari kehadiran Defa yang terlihat berdiri di lobi.


Bruk


Lengan Akbar menutup pintu mobil tepat setelah ia selesai memasukkan barang milik Jenny ke dalam mobilnya.


Jenny menoleh ke arah Akbar yang terlihat berjalan mendekat kepadanya.


Dari sorot matanya terlihat Jenny yang menanyakan keberadaan Defa.


“Gue sengaja panggil Defa, biar ada yang nyetir” ujar Akbar menjelaskan.


Setelah menikmati segelas wine, sudah di pastikan Jenny tak bisa menyetir. Kondisi fisik yang tengah Akbar rasakan juga tak memungkinkan ia bisa mengendarai mobil. Maka dari itu, Akbar memilih untuk memanggil Defa dan memintanya agar menggantikannya.


Dahi Jenny mengernyit, mencoba membaca situasi yang tengah di alaminya.


“Akbar, dia tidak mungkin akan meninggalkannya, kan?” tanya Jenny dalam hatinya.


Mengapa Akbar meminta Defa datang? bukankah ia tak meminum setetes wine pun. Pikir Jenny.


“Lo sakit?” tanya Jenny, lengannya terlihat meraih dahi Akbar memeriksanya. Selanjutnya, terlihat lengannya bergerak turun menyentuh bagian leher Akbar untuk memeriksa suhu tubuhnya.

__ADS_1


Akbar menggelengkan kepalanya dengan lengan yang telihat menurunkan lngan Jenny dari dahinya.


Bola mata Defa bergerak menatap ke arah Akbar dan Jenny secara bergantian. Canggug itu yang ia rasakan ketika melihat kedekatan yang terjalin di antara keduanya.


__ADS_2