Semesta 2

Semesta 2
Happier


__ADS_3

Indah kembali setelah beberapa saat ia meninggalkan Akbar. Di lengan kirinya terlihat satu kresek obat-obatan dan di lengan kanannya terlihat ia membawa cangkir yang berisi air hangat.


“Udan minum obat apa aja?” tanya Indah sembari kembali duduk di samping ranjang.


“Hanya obat dari apotik, tapi belum ada perubahan” balas Akbar. Ia masih menyembunyikan wajah diantara lengannya.


“Jika dengan ini belum membaik, sebaiknya pergi ke rumah sakit saja” ujar Indah memberi usulan.


Akbar menggeleng.


“Setelah tidur, pasti akan membaik” sanggah Akbar, kembali menolak ajakan Indah.


Indah mengangguk, ini sesuai dengan dugaan yang Indah buat sebelumnya. Untungnya, Indah sudah memikirkan plan lain. Saat di apotik tadi ia sengaja membeli tambahan suntikan jarum, agar ia bisa mengambil sampel darah Akbar dan mengirimnya ke lab terdekat.


Di kawasan ini, ia memiliki seorang teman yang bekerja di bidang analis. Dengan itu, Indah bisa meminta bantuannya untuk mengecek kandungan yang berada di dalam darah itu. Dan dari hasil yang akan keluar Indah berharap ia bisa memberi obat yang benar-benar tepat dan bisa membantu penyembuhan Akbar lebih cepat.


Lengan Indah bergerak menuangkan alcohol di atas kapas, kemudian mengusp-usapkannya di atas permukaan kulit Akbar.


Dingin, itu yang Akbar rasakan. Kali ini ia terlihat memindahkan lengan yang berada di wajahnya.


Pandangan Akbar menatap ke arah Indah yang terlihat tengah mengacungkan jarum suntikan ke arahnya.


“Mau ngapain Ndah?” tanya Akbar dengan matanya yang membelalak besar.


“Kan lo yang bilang mau gue rawat. Yaudah diem aja, ngga usah banyak tanya” tukas Indah.


Mendengar jawaban tegas yang Indah berikan membuat Akbar tak bisa berkutik.


“Lo ngga percaya, sama gue?” tanya Indah setelah merasakan ketegangan di sekitar tubuh Akbar.


Kepala Akbar bergerak menggeleng dan mengangguk secara bersamaan.


“Rileks aja, bar” ujar Indah, mencoba menenangkannya.


“Nih minum dulu” lanjutnya, Dengan menyodorkan cangkir yang ia bawa sebelumnya.

__ADS_1


Akbar menerima dengan lengan kirinya, ia mengalihkan pandangannya dari Indah yang terlihat akan melakukan sesuatu kepadanya.


Lima detik kemudian, dugaan Akbar benar. Dengan cepat lengan Indah terlihat mendorong jarum suntik ke dalam kulitnya. Kemudian menarik, membuat darahnya naik ke atas dan kurang dari satu menit, Indah berhasil menyelesaikan pekerjaannya.


Melihat sisi yang Indah tunjukkan saat ini, Membuat Akbar merasa takut dan takjub.


Kenapa, ia bisa bertindak sangat cepat dan tepat? bahkan semua tindakan yang Indah lakukan tak menunjukkan sedikit keraguan pun.


“Buat apalagi?” tanya Akbar, setelah melihat Indah yang kembali mengeluarkan jarum suntik baru.


“Kamu harus di infus bar, kalau ngga bakal dehidrasi” balas Indah, kesal dengan setiap pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.


“Mau kayak tadi lagi? atau bakal lebih parah lagi?” tanya Indah menggerutu.


Akbar menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan yang Indah ajukan. Rasanya ia tidak ingin mendapat rasa sakit yang sama, seluruh badannya terasa sakit, ia kehilangan tenagannya. Bahkan untuk berdiri saja rasanya terlalu sulit. Belum lagi rasa sesak yang terus mencekam tajam dadanya membuat ia benar-benar kesulitan bernafas.


“Yaudah, diem aja” tukas Indah, mengakhiri ucapannya.


“Huh” Akbar mengatur nafasnya, melepaskan ketegangan yang masih berada di tubuhnya. Lengan kirinya terlihat masih menggenggam cangkir minum yang Indah berikan. Isi air dalam gelas itu masih sama tak berkurang setetes pun.


“Lihat gue” ujar Indah memerintah.


Akbar terdiam, tak mengerti kenapa Indah menyuruhnya melakukan itu.


Bukankah sudah jelas sejak tadi tatapannya hanya tertuju kepada Indah.


Dahi akbar mengernyit, ia kembari merasakan rasa menyengat yang menyerang tubuhnya. Indah berhasil mengalihkan perhatian Akbar, dan dengan itu ia bisa dengan mudah menusukkan jarum suntik ke dalam jaringan kulitnya.


Tak lama setelahnya, terlihat Indah yang menggantungkan kantung labu cairan infus di tiang lampu tidur.


Sudut bibir Akbar tersenyum, dan pandangannya tak bisa beralih dari Indah yang masih berada di sisinya. Perempuan itu melakukan pemeriksaan secara detail di setiap inchi tubuhnya. Apa yang Indah lakukan membuat memori ingatannya terputar kembali di kepalanya.


Setekah kecelakaan yang Indra (mantan Indah) buat. Indah merasa bertanggung jawab dan memutuskan untuk merawat Akbar hingga ia pulih kembali.


Semenjak itu, Indah selalu membantu Akbar merawat lukanya, mengganti perban secara berkala, membantu Akbar melakukan latihan-latihan kecil yang membuat lengannya yang bisa bergerak seperti semula. Ia juga memenuhi semua kebutuhan yang Akbar perlukan untuk pemulihannya.

__ADS_1


Perasaan Akbar kini di liputi rasa bahagia dan syukur yang luar biasa. Entah kenapa, sampai saat ini semesta selalu membantu dan memberikan waktu yang terbaik untuknya. Sama, seperti hari ini ia bisa kembali merasakan hal yang sama dengan orang yang sama pula.


Semua gerak-gerik yang Indah lakukan selalu membuat Akbar kembali merasa jatuh hati kepadanya secara terus menerus dan mengalami pengulangan yang sama dan Rasa itu hadir beriringan dengan rasa penyesalan yang ikut muncul juga.


“Malam itu, seharusnya dengan berani aku katakan apa pilihan aku. Bukannnya merasa takut dan malah pergi ninggalin kamu, Ndah” gumam Akbar dalam hatinya.


Pikiran Akbar kembali tenggelam, ke sebuah waktu Dimana ia masih menjadi anak penurut dan penuh dengan ketakutan.


Dengan jelas Akbar mengetahui jika orang-orang yang ada di sekitarnya bukan orang-orang baik. Dan mereka akan melakukan segara cara untuk mendapatkan hal yang mereka inginkan. Meskipun, dengan cara yang paling kotor.


“Terus berada di samping Indah, hanya akan melukainya saja” sebuah pemikiran yang Akbar miliki saat itu. Dan atas dasar itu Akbar memilih meninggalkan kehidupannya di tempat ini. Termasuk menghilang dari Indah dan juga teman-temannya.


“Minum ini, seenggaknya rasa mual kamu bisa mereda” ujar Indah memberikan dua pil obat.


Tanpa banyak pertanyaan, Akbar menurutinya.


“Kalau ada apa-apa panggil aja, aku tunggu kamu di luar” ucap Indah sebelum meninggalkan Akbar.


Tap


Lengan Akbar terlihat menahan pergelangan lengan Indah, menahannnya.


“Kamu ngga gerah Ndah?” tanya Akbar melihat Indah yang masih megenakan baju kerjanya.


“Kerjaan kamu udah selesai kan?” lanjut Akbar kembali mengajukan pertanyaan.


Indah mengangguk, mengiyakan.


“Kamu juga harus istirahat, ndah” ucap Akbar dengan lengan yang masih berada di antara lengan Indah.


“Di sebelah kiri pintu masuk, ada sebuah kamar. Kamu, bisa istirahat disana” lanjut Akbar, mengusulkan.


Lengan Indah bergerak, melepaskan lengan Akbar dari tangannya.


“Disana juga ada bebeapa pakaian, kamu bisa memakainya” timpal Akbar.

__ADS_1


Indah terdiam, “Maksud kamu, pakaian Jenny? kamu harap aku mau pakai barang-barang dia, gitu?” ucap Indah menggerutu dalam hatinya.


__ADS_2