Semesta 2

Semesta 2
Quest


__ADS_3

Indah menghela nafas lega, melihat seorang kurir yang muncul di ambang pintu.


Lengan Akbar bergerak menerima paper bag yang di serahkan kurir.


Indah memperhatikan dengan sudut matanya.


Tak lama kemudian terlihat langkah kaki Akbar berjalan menuju dapur.


Tap


Lengan Indah mengambil alih paper bag, pergerakan yang Indah buat secara tiba-tiba membuat tubuh Akbar mematung.


“Tunggulah disana” ujar Indah memberi perintah kepada Akbar.


Akbar mengangguk, mengiyakan. Dengan langkah gusar ia duduk di kursi meja makan.


Pandangannya tak berhenti menatap ke arah Indah yang tengah menyiapkan makanan untuknya.


Tring


Lengan Indah meletakkan mangkuk berisi bubur di meja.


“Cepat makan” ujar Indah kembali memerintah.


"Sebentar" ujar Indah menahan Akbar. tubuhnya bergerak mengambil wadah obat lalu mengeluarkan dua pil obat, lalu menyerahkannha kepada Akbar.


“Minum dulu obat ini” Jelas Indah.


Akbar kembali mengiyakan tanpa banyak protes.


Indah mengernyitkan dahinya, merasa ada yang aneh.


“Kenpa dia, tiba-tiba menjadi penurut?" gumam Indah dalam hatinya.


Melihat sikap Akbar yang pendiam dan penurut seperti ini membuat Indah bertanya-tanya.


“Disini ada hairdryer?” Indah mengajukan pertanyaan, mencoba mencairkan suasana agar lebih larut.


“Ada” balas Akbar cepat.


“Di kamar..” Pria itu menghentikan ucapannya, takut akan membuat kesalahan.


“Sebentar, aku akan mebawakannya” ucap Akbar meralat ucapannya.


Dengan cepat pria itu beranjak dari tempatnya, berjalan menuju bilik kamar Jenny. Dan kurang dari satu menit ia kembali dengan hairdryer di lengannya.


“Ini” menyerahkannya kepada Indah.


Indah menerimanya, tak lama kemudian wanita itu beranjak dan kembali ke kamar Akbar untuk mengeringkan rambutnya.


###

__ADS_1


Lima belas menit kemudian


Suara mesin hairdryer perlahan menghilang dan senyap. Lengan Indah bergerak menggulung kabel dan meletakkannya di atas meja.


Tak berhenti disitu, lengan Indah kembali bergerak merapihkan rambutnya membiarkannya tergerai.


Lima menit kmudian, Indah berjalan keluar dari kamar mandi. Di lengannya terlihat ia menenteng paper bag berisi baju kotor miliknya. Tak lupa ia juga memasukkan id card, termometer, juga stetoskop ke dalamnya.


Bruk


Pintu kamar tertutup beriringan dengan tubuh Indah yang melewatinya.


Dahinya mengernyit, menyadari aroma wangi yang menusuk ke dalam hidungnya.


Pandangannya menatap ke arah punggung Akbar yang terlihat menghadap ke alat masak.


“Udah selesai?" tanya Indah, memastikan Akbar sudah menghabiskan makanannya.


Akbar memutar tubuhnya, menghadao ke arah Indah di sertai sebuah gelengan kepala yang di buatnya.


“Ayo, makan bareng” ajak Akbar, dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Ajakan itu membuat langkah kaki Indah terhenti. Pandangannya menatap ke arah Akbar yang tengah berjalan dengan lengan yang terlihat membawa sebuah mangkuk.


"Ayo" ajak Akbar, membuyarkan lamunan Indah.


Tring


Akbar meletakkan sebuah mangkuk yang berisi tumpukan daging wagyu yang di letakkan di atas nasi hangat, telor setengah matang juga beberapa kacang-kacangan.


Kemudian pandangannya beralih menatap ke arah mangkok milik Akbar yang masih terisi penuh dengan bubur yang di siapkannya tadi.


“Ngga mungkin, dia buat sendiri kan?” lanjut Indah, menyimpulkan apa yang tersirat di pikirannya.


“Ayo” ucap Akbar kembali mengulangi ajakannya.


Tap


Ia meletakkan paper bag di lantai tepat di samping kursinya. Selanjutnya, Indah mengambil posisinya duduk berhadapan dengan Akbar.


Sudut bibir Akbar tersenyum, senang karena Indah mau mengikuti kemauannya.


Berlainan dengan rasa senang yang kini berada di hati Akbar, perasaan Indah mengarah ke hal lain.


Selanjutnya, helaan nafas berat keluar dari mulut Indah.


Suara itu membuat susana lebih canggung dan dingin. Tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya. Mereka fokus mnyantap makanan dan tenggelam di pikirannya masing-masing.


“Dasar bodoh. Kenapa harus repot-repot mnyiapkan makanan untuk orang lain?”


“Lihat, sekarang makanan lo sendiri dingin kan?”

__ADS_1


“Jangan lakukan apapun, cepat makan dan pulihlah” lanjut Indah menggerutu, kesal.


Dari tatapan matanya yang tajam terlihat ia yang tengah berusaha menahan kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya.


Melihat kondisi Akbar, entah kenapa membuat Indah tak bisa berkutik.


Semua pertanyaan yang sebelumnya memenuhi kepalanya, tiba-tiba menghilang begitu saja. Dan secara naluri tubuhnya bergerak membantu Akbar.


Lengan Akbar bergerak menyentuh dadanya, lewat telapak lenganna ia bisa merasakan detak jantungnya yang terus bedegub dengan kencang.


Saat ini ia tengah duduk berhadapan dengan perempuan itu. Seorang perempuan yang sangat di rindukannya. Kesalahan yang ia buat beberapa tahun lalu, membuat hubungan keduanya semakin berjarak.


Indah, Tatapan matanya terlihat begitu tajam hingga berhasil membuat hati Akbar kembali bergetar. Setiap kata yang di keluarkan mulutnya sangat sedikit, namun mampu membuat Akbar ingin mendengarnya lagi dan lagi.


“Aku akan menjawabnya” ucap Akbar secara acak.


Dahi Indah mengernyit, tak mengerti.


“Semua pertanyaan yang membawa kamu kesini, aku akan menjawabnya?” ujar Akbar, memperjelas maksud dari ucapannya.


Indah terdiam.


“Apa ini? Kenapa Akbar bisa mengetahui maksud kedatangannya?” Indah berbicara sendiri di dalam hatinya.


“Jika tidak ada yang ingin di katakan, berhenti mengumpat aku dengan tatapan mata kamu, Ndah” ujar Akbar, suaranya terdengar bergetar.


Hening, tak ada jawaban yang Indah berikan.


Tak ada satu kataun yang ingin Indah sampaikan kepada pria itu. Kali ini ia hanya ingin segera menyelesaikan apa yang harus di selesaikannya dan segera pulang.


“Serius, ngga ada satu hal pun yang ingin kamu katakan?” tanya Akbar, terus mendesak Indah yang hanya mendiami nya saja.


“Makan saja” ujar Indah mengeluarkan satu kalimat perintah agar Akbar fokus menikmati makanannya.


“Huh” helaan nafas keluar dari mulut Akbar.


Kali ini ia merasa terganggu dengan sikap dingin yang Indah berikan kepadanya.


Mengapa? Sejak tadi Indah terus menghindar dari tatapannya? Kenapa Indah selalu mengabaikan setiap perkataannya? Apa se dalam itu ia membencinya? Jika semua itu datang karena rasa benci yang Indah miliki, kenapa ia tidak langsung mengumpat atau memukulinya saja?


DI banding dengan di abaikan, Akbar lebih memilih di pukuli saja. Setidaknya, dengan cara itu ia merasa lebih baik.


“Sial, pria brengsek ini datang lagi?” ujar Akbar mengumpat kepada dirinya sendiri.


Indah menatap, heran. Terkejut dengan apa yang keluar dari mulut Akbar.


“Apa yang di rencanakan pria ini? Setelah menghilang, kenapa dia kembali? Apa semua hal yang di lakukannya dulu, belum cukup?” terus Akbar, melanjutkan ucapannya.


“Setidaknya, pasti ada salah satu hal yang terlintas di benak kamu” lanjut Akbar, mengatakan pendapatnya.


“Berhenti, bicara omong kosong” balas Indah meminta Akbar berhenti.

__ADS_1


Akbar menyandarkan punggungnya ke belakang, Pandangan matanya bergerak membalas tatapan tajam yang Indah berikan.


Akbar mengatur nafasnya, menumpulkan keberanian untuk menyampaikan semua hal yang ingin di katakan nya.


__ADS_2